Legend Of Samurai

Legend Of Samurai
Ch 18 : Kemampuan Kakek Akuma


__ADS_3

Darah, tubuh, dan para jiwa yang telah pergi memenuhi tanah kampung. Namun, itu bukanlah tubuh dari para warga, tetapi para siluman kera yang telah di habisi, agar tidak berbuat mengacau kampung dan menyerang para warga.


Damato beserta sebagian para warga yang masih mempunyai naluri seorang pemburu, sekarang sedang duduk di tanah dengan nafas yang terlihat kelelahan. Sedangkan, Ohori bertugas menjaga para warga yang sekarang berada di tempat evakuasi.


Tidak ada yang kehilangan nyawa dari serangan para siluman kera. Namun, tetap saja pasti ada yang terluka, beberapa warga yang bersama Damato mengalami luka ringan karena terkena cakaran dari para siluman kera.


"Huh...." Damato menghembuskan nafas.


"Ayo semuanya bangkit, kita beritahu para warga yang berada di tempat pengungsian, untuk menginformasikan bahwa kampung sudah aman." Kata Damato sembari berdiri.


"Tapi...Tuan Akuma..." Ucap salah seorang warga lelaki yang terlihat masih muda.


Warga yang mendengar itu juga, terlihat setuju dengan ucapannya.


Damato menatap dingin lelaki itu ketika mendengarnya menyebut nama Akuma. Sebelum kemudian berkata, "Kau pikir dia lemah." Katanya. Kedua alisnya terangkat.


"Asal kau tahu." Lanjut Damato.


"Dia itu lebih kuat jika di bandingkan dengan kita semua, apalagi Tuan Yamaguchi ikut membantunya. Menghabisi para siluman kera, bagi mereka berdua hanya semudah membalikkan telapak tangan saja." Jelasnya.


**


Bukk..


Akuma meninju siluman kera hingga terlempar le belakang jauh dengan perut yang hancur. Itu adalah siluman kera yang terakhir.


Pakaian Akuma di penuhi oleh darah para siluman. Membersihkan pakaiannya bukan menjadi fokusnya sekarang, tetapi yang menjadi proritas pertamanya saat ini adalah membantu Yamaguchi.


Srassh...


Yamaguchi sekarang sedang berhadapan langsung dengan lima ekor siluman kera. Kelima siluman yang tersisa itu mengelilinya.


Kikikk, kikikk....

__ADS_1


"Aahh." Lirih Yamaguchi, punggungnya terkena cakaran salah satu siluman kera yang menyerangnya dari arah belakang.


Yanaguchi bersusah payah bertahan, tenaga dalamnya terlihat sudah hampir mencapai batasnya. Tersisa hanya sedikit saja, itu dia pake untuk sesekali memberikan serangan kejutan.


Satu ekor siluman kera terlihat menyerang dari arah samping kiri, kukunya yang panjang berniat merobek kulit lawannya. Yamaguchi tidak melihatnya karena sedang di fokuskan oleh siluman yang berada di kanannya.


Cakkk...


Siluman kera itu berteriak, sambil tangan kanannya bergerak menyerang wajah Yamaguchi.


Yamaguchi baru menyadari serangan itu, dia menoleh ke kiri berniat menghindari, tetapi sepertinya sudah tidak bisa lagi untuk ia hindari karena cakaran siluman kera itu tinggal beberapa centi lagi akan sampai dan merobek wajahnya.


1 centi sebelum cakaran siluman kera itu mengenai wajahnya, Akuma telah berada di depannya dan memberikan tinjuan ke rahang siluman itu hingga membuatnya terbang ke udara dengan tubuh yang sudah kehilangan nyawa.


Yamaguchi menatap Akuma dengan cahaya mata tersirat yang menandakan kekaguman. Sebelumnya dia melihat Akuma berada jauh darinya sekita beberapa puluh meter, tetapi dalam sekejap saja Akuma sudah berada di hadapannya dan menyelamatkannya dari serangan siluman kera itu.


Setelah menghabisi salah satu dari kelima siluman kera yang tersisa, Akuma kembali bergerak cepat menyerang ke empatnya.


Ke empat siluman kera itu terlihat ingin melarikan diri melompat ke atas pohon. Namun, Akuma tidak memberikan mereka kesempatan untuk bergerak.


Beberapa saat setelah Akuma menyerukan jurusnya, dalam sekejap ke empat siluman tersebut sudah terlempar menjauh, ada yang menabrak batang pohon dengan sebagian tubuh yang hancur, ada juga yang terlempar le atas. Ke empat siluman kera itu tidak tahu apa yang menyerangnya, tiba-tiba saja para siluman terlempar seperti ada yang meninjunya.


Yamaguchi menelan ludah melihat para siluman kera itu telah mati, "Serangan apa yang membuat para siluman itu-" Gumam Yamaguchi, lalu menoleh ke tempat berdirinya Akuma.


Akuma berdiri tidak jauh dari Yamaguchi, aura berwarna kuning ke emasan yang awalnya hanya menyelimuti kedua tangannya, kini telah menyelimuti sebagian tubuhnya yang membuat rambut berwarna putih keperakan yang panjangnya hampir sepunggung kini, terlihat sedikit berdiri tegang seperti ada aliran listrik yang mengaliri. Dan separuh matanya menghitam


Perlahan-lahan aura berwarna kuning ke emasan itu masuk kembali ke dalam tubuhnya, matanya yang separuh menghitam kini terlihat sudah kembali normal.


Akuma menoleh ke Yamaguchi sembari berkata, "Ayo kita temui para warga, Tuan." Ucapnya sembari tersenyum tipis.


**


-Di Tempat Evakuasi-

__ADS_1


Di salah gubuk paling besar dari yang lainnya. Gubuk ini jika di lihat memiliki ukuran belasan kali lebih besar dari gubuk para warga.


Di dalamnya terlihat puluhan bahkan hampir ratusan warga yang teridiri dari beberapa jenis kelamin lelaki, wanita, dan anak-anak sedang berkumpul dengan keadaan yang sesak.


Raut wajah yang sedari tadi menunjukkan ke cemasan. Kini berubah menjadi kesenangan karena melihat kedatangan Damato membawa kabar baik tentang para siluman kera yang telah tiada. Namun demikian, masih ada juga sebagian warga yang masih cemas, karena memikirkan perkebunan mereka yang berada dekat dengan sungai itu.


Di sudut gubuk terlihat Kimura juga sedang berdiri dengan raut wajah cemas. Pikirannya saat ini hanya memikirkan Kakeknya saja.


"Kamu tidak usah cemas, Nak. Kakekmu pasti akan kembali." Ucap Ohori yang melihat wajah Kimura terlihat sangat cemas.


Kimura hanya mengangguk, tetapi masih terlihat jelas bahwa dia sedang cemas. Entah apa yang membuatnya begitu cemas. Mungkin, karena dia telah merasa memiliki kedekatan dengan Akuma, karena selama beberapa hari selalu bersama.


Kecemasan, kesedihan, kemarahan, atau perasaan yang hati seorang manusia rasakan. Pasti akan mereka rasakan ketika memiliki sebuah hubungan terhadap seseorang, mau itu, teman, saudara, hewan, atau apapun itu pasti perasaan tersebut akan di alami oleh masing-masing individu yang berada di dunia ini ketika memiliki hubungan.


Dalam kecemasan itu, Kimura terus memandangi pintu masuk gubuk. Berharap Kakeknya akan datang. Tanpa Kimura sadari, seorang gadis kecil yang imut terlihat berusia 7 tahun sedang berjalan ke arahnya.


"Aku baru melihat kamu di sini." Ucap gadis itu setelah berdiri di samping Kimura.


Kimura hanya menoleh sekali, lalu kembali memandang ke depan.


Gadis kecil itu masih tersenyum. Dan kembali membuka suara, "Perkenalkan namaku, Nozomi Okuhara." Ucapnya sembari mengulurkan tangan mungilnya ingin bersalaman.


Namun, Kimura sama sekali tidak meresponsnya. Nozomi menggebumkan pipinya sedikit kesal melihat ucapan perkenalannya tidak di balas.


Ohori yang melihat tingkahnya hanya tersenyum tipis berusaha menahan untuk tidak tertawa. Dia mengingat sewaktu kecil, sifatnya tak terlalu berbeda dengannya.


"Hu..." Nozomi mendengus pelan, lalu berbalik memeluk Ohori.


"Nenek menertawaiku ya?" Tanya Nozomi sedikit kesal melihat Ohori seperti menertawakannya.


"Mmm... Nenek tidak sama sekali menertawaimu." Ucap Ohori berpura-pura tidak mengerti.


Beberapa waktu berlalu, akhirnya Akuma dan Yamaguchi telah sampai. Dia membutuhkan waktu lama karena harus singgah terlebih dahulu di gubuknya untuk mengganti pakaian yang telah di penuhi darah. Jelas ia tidak mau menunjukan itu pada anak-anak kecil yang sekarang sudah ramai menyerukan namanya.

__ADS_1


"Kakek Akuma! Kakek Akuma!..."


__ADS_2