
-Vila Bambu, Kediaman Ketua Klan-
Hanbei telah sampai bersama Kimura di gerbang kediaman Ketua Klan Uesugi.
"Salam...Tetua Hanbei," kedua samurai yang menjaga gerbang, memberi salam sembari memberi hormat.
"Salam balik Tuan-tuan... Bolehkah aku masuk ke dalam," balas Hanbei, tetap dengan senyum ramahnya.
"Silahkan, Tetua. Gerbang ini senantiasa terbuka untuk tetua. Tapi..." salah satu samurai yang menjaga gerbang berkata, dengan nada ragu-ragu.
"Ini..." ucap Hanbei, seraya memberikan katananya.
Itu sudah menjadi adat bagi seorang samurai yang ingin masuk ke dalam suatu tempat yang mempunyai nilai lebih, misalnya, Banguna Suci, Istana, dll. Seorang samurai harus menyimpan katananya kepada para pengawal yang berjaga pada pintu masuk. Dan hanya di perbolehkan membawa Wakazashi saja.
"Mohon maaf atas ketidaksopanan saya, Tetua," setelah berkata ia langsung membuka gerbang.
Hanbei dan Kimura kemudian melangkah masuk.
"Apakah ini Katana yang terkenal dengan ketajamannya yang luar biasa itu," kedua samurai itu terlihat antusias.
Dari kejauhan Hanbei masih bisa mendengar pembicaraan antara keduanya. Ia hanya tersenyum dan berjalan ke pintu masuk Vila Bambu kediaman Ketuanya.
**
Di dalam ruangan terlihat dua orang lelaki yang berbeda usia, sedang duduk sambil berbincang dengan masing-masing secangkir teh tersaji di depan mereka.
"Uesugi Hanbei memberi hormat kepada Ketua!" Hanbei membungkukkan badan memberi hormat.
Lelaki yang terlihat sudah berusia sepuh dengan rambut yang hampir seluruhnya sudah memutih menoleh ke sumber suara.
"Ah, kau sudah datang rupanya Hanbei. Silahkan duduk, silahkan..." Goto Matabei menginstruksikan Hanbei untuk duduk.
Lelaki sepuh tersebut adalah Uesugi Goto Matabei Ketua dari Klan Uesugi, Sedangkan di samping adalah Kansuke, yang sebelumnya bertemu dengannya di jalan.
Hanbei kemudian duduk di hadapan kedua lelaki yang berbeda usia tersebut. Dan satu yang membuatnya berfikir, mengapa Kansuke berada disini, padahal dia tadi mengatakan bahwa sedang mempunyai urusan penting.
"Tetua...Aku tahu anda pasti bingung atas keberadaan saya disini, tetapi memang Inilah urusan penting yang saya tadi katakan," ucap Kansuke dengan wajah terlihat menjadi serius.
"Kalau begitu, kita langsung saja ke topik pembahasan..." Goto Matabei mengambil alih pembicaraan.
"Nak, bisakah kamu bermain sebentar di luar," Goto Matabei berkata kepada Kimura.
"Lebih baik kamu bermain sama kedua paman berjaga di gerbang," ucap Hanbei sembari mengelus kepala Kimura.
Kimura mengangguk, lalu memberi hormat dan kemudian berjalan keluar.
**
"Tuan kecil, mengapa anda ingin keluar?" Salah seorang samurai yang berjaga berkata, lewat lubang kecil yang berada di gerbang.
"Aku di suruh ketua untuk bermain dengan kalian," Kimura berkata sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Hehe begitu yah, silahkan Tuan kecil," balas kedua Samurai itu, sedikir terlihat malu-malu.
__ADS_1
Mereka kemudian membukakan gerbang.
"Apakah Tetua Hanbei, tidak melarang Tuan kecil bermain dengan kami? Yang hanya seorang samurai tidak bergelar," Samurai tersebut berkata dengan ikuti anggukan oleh Samurai yang satunya.
Setiap Klan pasti mengalami kesenjangan sosial. Itu tidak akan hilang sampai kapan pun.
"Ah tidak Sensei, malahan ayahku yang menyuruh aku bermain dengan kalian," jawab Kimura.
Hati kedua penjaga tersebut bergetar mendegar dirinya di panggil dengan gelar kehormatan. Ini pertama kali dalam seumur hidup mereka, di panggil dengan sebutan Sensei.
"Tuan kecil, tidak perlu memanggil kami dengan sebutan Sensei. Lebih baik paman saja," ucap salah satu dari keduanya.
Kimura hanya mengangguk, ia pun tidak mempermasalahkan hal itu. Dengan usia yang masih begitu belia, dia memang sangat berbeda dari kebanyakan murid di Klan ini.
"Kalau begitu, kita ingin bermain apa paman?" tanya Kimura kepada kedua samurai tersebut.
"Apa yah...?" keduanya memasang pose berfikir.
Beberapa saat berfikir mereka akhirnya telah dapat ide tentang permainan yang akan di mainkan bersama Kimura. Ketika menoleh ke tempat Kimura tadi berdiri.
"Oh, kita main ini saja..."
Kimura sudah tidak ada di tempatnya tadi berada, malahan ia terlihat berjalan kembali dari arah berbeda dengan membawa seekor Ayam. Kegiatan selain berlari, saat awal pagi tiba dan Ayah, Ibunya masih tertidur, dia sering keluar untuk menangkap dan kejar-kejaran dengan Ayam. Menurutnya itu sebuah permainan yang sangat mengasyikkan.
Kedua penjaga tersebut mematung saling memandang. Sementara, Kimura sudah berada di depan mereka berdua.
"Paman! Hei paman!" Kimura menarik lengan Jubah pakaian mereka.
"Ma...maaf, Tuan kecil," jawab mereka berdua bersamaan.
Bukan tanpa alasan, kedua samurai tersebut bersikap demikian. Ayam yang Kimura tangkap. Sbelumnya, berada di salah satu atap Vila yang tidak jauh dari posisi keduanya sekarang berdiri.
Namun demikian, yang lebih membuat mereka berdua bertanya-tanya adalah bagaimana seorang anak yang belum genap 10 tahun bisa menangkap seekor Ayam di ketinggian seperti itu.
"Aku jadi lupa mau bermain apa Tuan kecil," kedua samurai tersebut menjawab sembari menggaruk-garuk kepalanya.
Kimura seketika menjadi cemberut mendengar perkataan keduanya.
Di sisi lain kedua samurai itu juga merasa bersalah.
Tiba-tiba, raut wajah Kimura menjadi semangat, "Bagaimana kalau paman menunjukkan cara memainkan katana, dengan menggunakan jurus yang paman kuasai!"
"Paman tidak berani, Tuan kecil!" kedua samurai tersebut berkata serentak bersamaan dengan rona wajah sedikit ketakutan.
Mengajari anak yang mempunyai Ayah seorang tetua, merupakan bentuk penghinaan bagi sang Tetua sendiri.
"Ohh... paman tidak mau yah?! Kalau begitu aku akan mengadu ke ayah dengan alasan paman berdua memarahiku," Kimura berjalan ke arah gerbang berpura-pura ingin mengadu.
Keduanya terpaksa mengalah, karena tidak ingin memperpanjang masalah, salah satu dari mereka kemudian menunjukkan jurus khas yang mereka pelajari sejak kecil di Klan Uesugi.
"Wah, keren sekali paman!" Kimura berkata dengan nada kagum.
"Kimura..Kimura," terdengar suara seseorang memanggil namanya, yang tak lain itu adalah suara Ayahnya.
__ADS_1
"Sepertinya Tetua Hanbei mencari anda Tuan kecil," ucap Samurai yang menjaga gerbang itu.
Kimura mengangguk dan mengucapkan terima kasih, lalu melangkah masuk.
Hanbei, Goto Matabei, dan Kansuke sudah berada di teras Vila. Selesai berdiskusi, Hanbei meminta diri untuk pulang. Hanbei sebenarnya masih syok mendengar perkataan Ketuanya, bahwa Keluarga Bangsawan Tanaka beserta wakil Ketua Klan yaitu, Tang Ryu berniat mengambil alih Klan ini.
Namun, karena firasat buruk yang tiba-tiba ia rasakan. Hanbei berniat kembali ke kediamannya.
Kimura sudah berdiri di sampingnya sambil membawa Katana miliknya.
"Saya mohon pamit, Ketua," ucap Hanbei sembari memberi hormat.
**
Hanbei yang menggendong Kimura, beberapa mil lagi akan sampai di Vila bambunya. Sepanjang perjalanan, firasat buruk yang ia rasakan itu semakin menjadi-jadi.
"Firasat apa ini," batin Hanbei, sambil terus berlari.
Namun, Hanbei menghiraukan firasat yang sedari tadi sudah menghantuinya, dia hanya meningkatkan kecepatan larinya.
Dari kejauhan samar-samar sudah terlihat Vila Nambu kediamannya, tetapi dia tiba-tiba menghentikan larinya, ketika melihat seseorang berpakain serba hitam keluar dari Vilanya.
"Siapa orang itu?" Hanbei bergumam pelan, sambil mengerutkan dahi.
Hanbei yang sambil menggendong Kimura, segera berlari cepat agar sampai di kediamannya.
Akhirnya Hanbei dan Kimura sampai di depan gerbang Vila Bambunya. Sebenarnya, dia berniat mengejar dan mengetahui identitas orang yang keluar dari tempat tinggalnya itu. Namun, kakinya seperti memaksa ia untuk berjalan masuk ke dalam Vilanya.
Dia lantas mengikuti arahan kakinya melangkah, hal yang pertama ia lihat, ketika memasuki halaman sampai ruang tamu Vilanya adalah "darah".
Tapi, dia memaksa pikirannya agar tetap berfikir positif. Dan tetap berjalan masuk.
"Adik-Chan, apa kau sedang berada di dalam," ucap Hanbei yang sudah berada di depan kamarnya sembari mengetuk-ngetuk pintu.
"Ibu, apa ibu sedang berada di dalam," Kimura ikut memanggil.
Hanbei yang mulai cemas akan perasaan yang menimpanya, berniat mendobrak pintu kamarnya.
Buk...Buk...Bukkk......
Firasat buruk yang tadi ia rasakan seakan menjadi kenyataan, mental ksatria yang ada dalam dirinya selama ini, seketika hilang. Ketika melihat seorang wanita tanpa memakai busana sedang di ikat di besi ranjang dan yang lebih parahnya darah semakin merembes keluar dari sebuah tebasan di lehernya, wanita yang barnasib malang tersebut tak lain adalah Azumi.
Hanbei roboh ke lantai dalam posisi mematung memandang seorang wanita yang ia sangat cintai kini telah pergi meninggalkannya, sedangkan Kimura langsung berlari memeluk ibunya.
"Siapa yang melakukan hal sekeji ini padamu sayang," Hanbei berkata seraya melepaskan tali yang mengikat tangan istrinya.
Saat ingin mengangkat Azumi, untuk ia bawa ke Ketuanya. Tak sengaja ia melihat sedikit kain sobekan berwarna hitam jatuh ke lantai dari badan istrinya. Jenis kain dan warnanya tersebut sangat dia kenali, itu adalah kain dari Jubah yang khas dan berbeda dari para Samurai yang berada di sini. Tak ada yang memakai Jubah dengan jenis kain tersebut selain, Tanaka Yoshi.
Hanbei kemudian berfikir bahwa seorang yang keluar dari Vilanya tadi adalah...
"Dasar biadab kau Yoshi! Tunggu pembalasanku!" kedua tangan Hanbei terkepal keras. Aura berwarna biru merembes keluar dari tubuhnya.
Kimura yang melihat itu tiba-tiba merasa sedikit ketakutan, "Ayah..." ucap Kimura pelan.
__ADS_1
Hanbei seketika sadar bahwa Kimura sedang merasa ketakutan, "Nak, tolong kamu menunggu di sini sampai Ayah kembali, ya." Hanbei terdengar tenang namun suaranya mengandung kemarahan.
Kimura hanya memberi respons mengangguk.