Legend Of Samurai

Legend Of Samurai
Ch 23 : Satu Tahun


__ADS_3

Pandangan mata Kimura pertama kali jatuh, ke individu kecil yang sekarang tengah menghadangnya dari ingin masuk.


Nozomi terlihat memasang raut wajah kesal sambil menatapnya.


"Mengapa kamu kesini?!" tanyanya menaikkan alis sambil berkacak pinggang di depan Kimura.


Dalam satu tahun ini, Nozomi tumbuh dengan normal. Namun, wajahnya tak terlihat seperti garis wajah dari seorang anak kecil yang seumurannya. Ketika seseorang melihatnya, pasti mereka akan berasumsi bahwa Nozomi adalah gadis yang telah berusia 12 tahun ke atas.


Sebab, ciri khas dari seorang anak kecil yang baru berusia 9 tahun, sama sekali tak terlihat di wajahnya. Hanya kecantikan khas seorang remaja, yang terlihat dari wajahnya.


"Aku mau bertemu, Kakekku..." jawab Kimura, seadanya. Ia tak mau meladeni gadis di depannya terlalu jauh.


"Tidak boleh!" teriak Nozomi.


Namun, ketika mendengar dan melihat tingkah dari Nozomi. Seseorang mengubah pikiran tentangnya yang menyatakan bahwa dia adalah seorang remaja yang sifatnya seperti seorang anak kecil.


"Mengapa tidak boleh?" ucap Kimura dengan nada bertanya. Ia heran mengapa gadis kecil di depannya ini, selalu mencari masalah dengannya. Padahal dia merasa tidak pernah berbuat kesalahan dengannnya.


"Meskipun sudah setahun berlalu... Aku masih mengingat itu, pada saat kamu men-"


"Nozomi... Awas, Nak. Biarkan kakakmu ini lewat...."


Ucapan Nozomi terputus, oleh Kakeknya yaitu Yamaguchi, yang telah datang menghampirinya, dan lalu menggendongnya.


Kimura kemudian langkahnya untuk berkumpul dengan yang lain, atau lebih tepatnya, menemui Kakeknya.


**


Semua yang berada di dalam gubuk ini yang tengah berbincang dengan Akuma di depan sebuah meja bundar yang melingkar, terlihat terkejut saat merasakan kekuatan dari Kimura yang telah berjalan masuk dan berada di sekitarnya.


Seluruh warga di kampung ini, bisa merasakan kekuatan yang teroancar dari tubuh Kimura. Karena, walaupun sedikit, tetapi kakek dan nenek mereka dahulu pernah di ajari oleh Akuma cara membela diri, lalu kemudian secara turun temurun di teruskan ke generasi selanjutnya.


Kimura, yang merasa menjadi pusat perhatian, segera menoleh dan menatap Kakeknya dengan keheranan.


Seolah mengetahui itu, Akuma memberi sebuah kode untuk tidak terlalu berlebihan.

__ADS_1


"Ehemm!" batuk Akuma.


Mereka semua yang mendengar itu, lantas mengembalikan situasi kembali pada normalnya, untuk tak terlalu memandangi Kimura.


"Apa badanmu masih sakit, Nak."


Akuma bertanya memastikan kondisi tubuh cucunya. Karena kemarin telah menjalani dan melewati latihan yang sulit nan menguras tenaga untuk melatih ketahanan fisik.


"Sedikit sudah membaik, Kek. Dan ini atas ramuan yang diberikan oleh Kakek benar-benar mempunyai khasiat bagi tubuhku."


Akuma membuat telah mengetahui bahwa latihan terakhir yang akan di jalanin oleh cucunya akan menyakitkan. Maka dengan itu, ia membuat sebuah ramuan agar membantu menyembuhkan luka setelah selesai melakukan latihan itu.


"Baiklah...Syukur kamu sudah membaik. Jika kamu lapar, silahkan pergi kesana untuk mengambil makanan," ucap Akuma sembari telunjuk tangannya ke arah tempat makanan tersedia.


"Makasih, Kek. Namun, aku merasa belum lapar," balas sopan Kimura.


Mendengar ucapan menolak halus darin cucunya. Akuma segera mempersilahkan anak yang telah ia anggap sebagai cucunya itu untuk duduk di kursi kosong yang berada disampingnya.


Kimura lantas duduk dengan tata krama yang sopan. Dengan membungkuk terlebih dahulu memberi hormat kepada mereka yang lebih tua darinya, lalu kemudian duduk.


"Aku tidak menyangka, cucu dari Tuan Akuma memiliki bakat yang luar biasa."


"Setuju! Semoga kelak ia nanti bisa menjadi penerus dari, Tuan Akuma."


Respon dari Kimura hanya membalas dengan menganggukkan kepala pelan sembari tersenyum terima kasih.


"Memang benar. Anak ini akan menjadi penerus dari, Tuan Akuma."


Ohori tiba-tiba muncul dari belakang Kimura. Tangannya sekarang berada di atas kepala Kimura.


"Kalian semua, tak perlu memuji seperti itu. Proses yang harus di lalui oleh cucuku ini masih sangat panjang," Akuma berucap merendah, supaya tak terlalu membuat cucunya mendapat pujian yang berlebihan. Sehingga beresiko membuatnya lupa diri.


"Sebenarnya aku juga tak menyangka, bahwa ia bisa berkembang sepesat ini," batin Akuma sambil memandang Kimura.


Akuma berbatin seperti itu, bukan tanpa alasan. Karena ia melihat dan merasakan sendiri bahwa, cucunya itu telah berada di tingkat angin.

__ADS_1


Meskipun tingkat angin menjadi tingkat terendah dari seorang pendekar samurai.


Namun, normalnya seseorang mencapai tingkat tersebut pada saat berusia 16 tahun dan lalu berhak di adakan upacara pengangkatan menjadi samurai resmi, tetapi bagi yang memiliki tubuh bagus atau bisa di katakan jenius, ia bisa mencapat tingkat angin pada saat berusia 15 tahun.


"Apa mungkin, ia telah di takdirkan menjadi terkuat..." ucap Akuma dalam hati, matanya terus fokus memandang cucunya yang saat ini tengah di goda - goda oleh yang lainnya.


Sementara Damato dan Yamaguchi yang duduk berdampingan tak jauh dari Akuma, hanya tersenyum memandang itu. Dia telah mengetahui bakat terpendam dari anak ia latih selama setahun ini.


"Aku merasa bangga telah melatihnya, Tuan," ucap Damato, tersenyum bangga.


"Sama. Aku juga merasakan perasaan itu. Namun, sepenuhnya itu bukan dari latihan yang kita berikan, tetapi bakat yang ia punyai benar-benar menakjubkan."


Perkataan Yamaguchi hanya di balas oleh anggukan kepala pelan dari Damato.


Pikiran Damato saat ini kembali pada kenangan usia mudanya. Dia mengingat saat itu, jika di bandingkan dengan diri anak itu pada saat seusianya ia masih menjadi bocah ingusan. Perasaan kagum ia tempatkan ke anak itu, meskipun dia masih membenci Kakeknya.


**


"Aku jadi tidak enak. Bilang nenek memperlakukanku seperti ini," ucap Kimura sedikit tertawa kecil.


Ohori sedari tadi berdiri di belakang Kimura dengan tangan memijat pundaknya.


"Tidak apa-apa, Nak. Aku juga ingin sekali-sekali memijat calon pemimpin kampung ini."


Sebuah bercandaan yang sangat harmonis, terjadi antara mereka berdua yang terlihat seperti seorang Nenek dan cucu. Ohori sangat menyayangi Kimura, ia tidak tahu mengapa, saat bertemu dengannya perasaan yang dalam seperti sudah saling terkait antara batin mereka berdua.


Tertawa dan berbincang bersama-sama menjadi kebahagiaan sendiri merayakan hari pergantian tahun.


Namun, karena keributan yang tercipta di dalam gubuk itu, mereka tidak tahu bahwa di luar seperti sedang terjadi sesuatu.


"Aaahh!!!" anak - anak yang sedang bermain di luar, berteriak bersamaan.


Tidak ada yang tahu mengapa anak-anak itu berteriak ketakutan.


Akuma yang mempunyai indra pendengara yang baik. Lantas berdiri dan bergegas ingin keluar mengecek yang terjadi, tetapi sebelum ia melangkah keluar. Salah seorang anak kecil datang menghampirinya dengan nada terlihat ketakutan.

__ADS_1


Para warga yang berada di dalam segera menyadari itu, saat melihat anak kecil yang sekarang telah berada dalam dekapan pelukan orang tuanya. Wajahnya terlihat ketakutan ingin menangis.


__ADS_2