
-Aula Utama Klan-
Buamm....
Semua murid dan Tetua yang mengajar di dalam Aula di kagetkan oleh suara ledakan itu.
Setelah ledakan itu berhenti, mulai terlihat suara tembok Aula roboh hingga menciptakan lubang yang berdiameter agar lebar. Semua guru dan murid Klan Uesugi melihat ke arah tembok yang hancur.
Tiba-tiba aura yang mengerikan menekan seluruh murid di dalam Aula ini. Yoshi dan Tetua lainnya yang berada di dalam aula segera menenangkan muridnya.
Berselang beberapa waktu, setelah hancurnya tembok, terlihat siluet seorang lelaki berambut hitam keluar dari kepulan debu retuntuhan. Lelaki tersebut memegang sebuah katana berwarna hitam yang di aliri aura berwarna biru. Sedangkan wakizashi nya masih bersarung di pinggang.
"Yoshi! Aku menginginkan nyawamu-!" Hanbei berseru lantang sembari mengacungkan katananya. Hanbei semakin menekan semua orang yang berada di aula ini dengan auranya.
Semua Tetua, dan murid menoleh ke arah Tanaka Yoshi.
Mengetahui dirinya menjadi pusat perhatian membuat dirinya seketika geram, ia sudah mengetahui situasi ini akan terjadi. Ia lantas berlari sambil mencabut katana dari sarungnya dan berhenri tepat di hadapan Hanbei.
"Lebih baik kita selesaikan ini di de-" belum selesai berbicara Hanbei langsung memotongnya.
"Tidak perlu basa-basi, dasar lelaki biadab!" Hanbei langsung menyerang dengan sebuah tebasan yang mengarah ke bahu kiri.
Tanaka Yoshi sama sekali tidak terkejut ia sudah membaca serangannya, dia mengangkat katananya lalu menangkis tebasan itu.
Yoshi melompat mundur, setelah menangkis serangan Hanbei.
"Mengapa kekuatannya semakin bertambah," gumam Tanaka Yoshi pelan.
Hanbei tidak mengendorkan serangannya ia bergerak maju memberikan serangan beruntun.
Tanaka Yoshi hanya bisa menangkis sambil melompat mundur. Namun, Hanbei tetap menyerang dengan beringas. Pertarungan sekarang terlihat seperti berat sebelah.
Tetua yang berada di sekitar area pertarungan, hanya menonton, mereka tidak ingin membantu Yoshi yang sedang terdesak. Menurut mereka, ini masalah pribadi antara kedua Tetua tersebut.
Yoshi yang semakin terdesak, masih belum menyerah, dia terus menangkis serangan Hanbei yang semakin lama semakin mematikan.
Beberapa waktu pun berlalu, hasil pertarungan pun samar-samar sudah terlihat.
Yoshi yang terlihat sangat kelelahan melompat mundur menghindari serangan Hanbei.
"Tunggu..." Yoshi berkata dengan nafas yang terputus-putus.
"Aku tahu ini kesalahanku, tapi apakah ini berlebihan kalau kau berniat membunuhku di sini." ucapnya.
__ADS_1
Hanbei yang mendengar itu meludah ke arah wajahnya, lalu kembali bergerak menyerang, "Nyawa harus di bayar dengan nyawa!"
Yoshi yang badannya sudah di penuhi luka sayatan, lantas membuat gerakannya semakin melambat, hanya bertahan saja.
"Apa maksud ucapan mu itu?" Yoshi berkata sambil berusaha menangkis - nangkis serangan demi serangan yang Hanbei layangkan.
Retakan kecil terlihat di katana milik Yoshi, setelah bertukar beberapa belas jurus.
"Aku mengakui kesalahanku Hanbei-Sama, tapi aku bersumpah tidak mem..." ucapannya terputus, karena dirinya memuntahkan darah.
Uhuk...uhuk...uhuk.
Yoshi muntah darah. Dalam posisi katananya menumpu di lantai Aula, "Ayo kita selesaikan ini dengan cara ksatria saudara seperguruanku!" ucapnya sembari berusaha berdiri.
Yoshi berniat memakai jurus terhebat yang telah ia kuasai selama menjadi seorang samurai.
"Langkah bayangan!" Tanaka Yoshi berseru lantang, seraya mencabut wakizashi (pedang pendek) yang berada di pinggangnya, lalu melemparkan wakizashinya ke arah tepat ulu hati Hanbei dan bergerak cepat ke arah belakang berniat menebaskan katananya ke arah ke leher Hanbei.
"Naga menerkam langit," ucap Hanbei pelan, dengan nada monoton.
Mata Yoshi tiba-tiba terbelalak tidak yakin hanya menebas angin kosong saja.
Sementara Hanbei sudah menghilang dari hadapannya dan dalam satu tarikan nafas ia sudah berada di belakang Yoshi (mereka seperti bertukar tempat) mengambil ancang- ancang untuk menebas kepalanya.
"Mati Kau-!" seru Hanbei.
Kepalanya bergelinding jatuh ke lantai dengan mata yang masih melotot, di tambah lagi dengan wakizashinya yang tidak mengenai Hanbei tepat menusuk ulu hatinya sendiri. Badan yang sudah tidak memiliki nyawa tersebut ikut jatuh ke lantai aula menyusul kepalanya.
Aula utama ini menjadi saksi pertarungan dahsyat kedua orang Samurai tersebut.
Hanbei kembali memasukkan katananya. Dan bergegas kembali mengurus pemakaman untuk istinya.
**
"Siapa kau?!" Kimura berkata setelah melihat seseorang tiba-tiba muncul di hadapannya.
Awalnya hanya asap hitam saja yang muncul. Namun, tiba-tiba beberapa waktu kemudian asap hitam itu hilang, lalu menunjukkan seorang individu berpakaian serba hitam lengkap dengan topeng putih polos menutupi wajahnya.
"Tujuan ku kesini bukan untuk memperkenalkan diri," ucap individu tersebut sembari berjalan mendekati Kimura lalu berjongkok di hadapannya, "Ada urusan yang lebih penting dari sekedar berkenalan saja."
Kimura seketika menjadi waspada setelah mendengar perkataan individu misterius tersebut.
"Katakan apa niat kau sebenarnya datang kesini!" Kimura berteriak lantang di depan wajah individu misterius itu, ia sama sekali tidak merasa ketakutan.
__ADS_1
Individu berpakain serba hitam tersebut hanya tersenyum tipis di balik topengnya.
"Mungkin kau tidak akan sanggup mendengar niat aku yang sebenarnya," individu bertopeng itu berkata sembari memegang gagang katananya dan berniat mencabut dari sarungnya.
Kimura semakin waspada.
"Aku ingin melenyapkan seseorang yang memiliki hubungan dengan Uesugi Hanbei Maeda!" serunya, sembari mengangkat katananya yang sudah di selimuti aura berwarna hitam, berniat memotong tubuh Kimura menjadi dua bagian.
Kimura lantas refleks melompat ke samping menghindari serangan itu.
Meskipun ia menutupi wajahnya dengan topeng, masih terlihat jelas dari gestur tubuhnya bahwa ia kaget melihat anak itu berhasil menghindari serangannya dalam jarak sedekat itu. Padahal, dia sudah mengalirkan seperempat tenaga dalam ke katananya.
Kemampuannya lumayan juga, bagi anak seusianya, batin individu tersebut sembari menoleh ke samping kanan, tempat Kimura sekarang berdiri, dan menatapnya dengan tatapan geram.
"Sekarang aku sudah mengetahui penyebab kematian ibuku dan itu pasti karena ulahmu-!" Kimura berteriak lantang.
Benda-benda yang berada di sekitarnya berterbangan kemana-mana.
Kimura terlihat berbeda dari yang tadi, aura berwarna merah menyelimuti seluruh tubuhnya. Rambut yang awalnya panjang jatuh terjuntai kini terangkat naik seperti sedang di aliri listrik. Dan anehnya suhu di sekitarnya menjadi sedikit panas.
"Aku akan membunuhmu..." ucap Kimura dengan nada yang sangat dingin.
"Oho arogan sekali, kau mau membunuhku yah? Kamu harus berlatih beberapa tahun lagi untuk sekedar menyentuhku." individu bertopeng itu berkata seraya membentuk kuda-kuda bersiap untuk kembali menyerang, "Kali ini aku tidak akan meremehkanmu lagi."
Ketika sedang bersiap untuk mengambil ancang-ancang, dia merasakan ada seseorang yang sedang mendekat ke arahnya. Dan dari aura keberadaannya orang itu adalah seseorang yang paling di takutinya untuk sekedar bertarung lawan satu, karena dia tahu, pasti dirinya yang akan kalah.
Ia lantas bergerak cepat berniat menyerang Kimura.
Kimura yang melihat serangan itu mengarah ke lehernya, segera menundukkan kepalanya dan membalas menyerang dengan sebuah tinjuan yang mengarah ke perut Individu bertopeng tersebut.
Namun, seperti sudah memprediksi serangannya akan gagal menebas leher anak itu. Asap hitam kembali muncul dan langsung menelan individu bertopeng tersebut dan lantas menghilang tak berbekas.
Kimura hanya meninju angin saja karena objek tinjuannya sudah menghilang. Namun, suara individu bertopeng tersebut masih jelas terdengar oleh indra pendengarannya.
"Di lain waktu kita lanjutkan pertarungan ini, sampai jumpa..."
Setelah suara individu tersebut tidak lagi terdengar, Kimura jatuh ke bawah dalam posisi berlutut dengan wajah yang begitu pucat -- Sementara Hanbei yang merasakan aura aneh di dalam Vilanya segera memacu larinya berusaha sampai secepat mungkin.
"Nak, apa yang sudah terjadi?" Hanbei berhenti di pintu kamar, ia memandang Kimura yang sedang berada di lantai dengan posisi berlutut.
Hanbei segera menghampiri Kimura karena pertanyaannya tidak di jawab.
Namun, Kimura tidak menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
___
Sebentar lagi lembaran awal sebuah kisah akan di mulai.