
Tempat perkumpulan....
Akuma dan semuanya sepakat untuk membuatkan kandang para siluman serigala untuk tempatnya tinggal. Dan yang pasti mereka bersuara untuk membuatnya sedikit jauh dari kampung.
Pada saat ini waktu telah sore dan sebentar lagi menjelang malam. Karena terlihat di dalam gubuk sekarang sudah gelap, dan membuat warga menyalakan obor api kecil di sudut gubuk.
"Apa Tuan, tidak berniat menyuruh Kimura pulang..." Ohori berkata, karena melihat sebentar lagi akan menjelang malam. Namun, ia belum melihat anak itu kembali.
"Aku baru menyadari itu Nona," ucap Akuma sambil mengerinyitkan kening. "Makasih telah memberitahuku."
Ohori membalas mengangguk.
"Aku ingin pergi sebentar..." ucapnya sambil memandang Yamaguchi dan warga lain.
"...Kalian tak perlu khawatir, secepatnya aku akan segera kembali."
Setelah berkata demikian, Akuma kemudian keluar dari gubuk. Berniat pergi ke tempatnya biasa melatih cucunya itu, karena ia yakin Kimura akan bermain di sana.
"Seperti ada yang aneh," gumamnya pelan, dan setelah itu Akuma segera melesat menjemput Kimura.
Akuma melsat dengan kecepatan yang sukar di capai oleh mata biasa dari seseorang. Entah mengapa tubuhnya seperti ingin bergerak cepat. Dia merasa ini mungkin berhubungan dengan apa yang di rasakannya sejak tadi.
**
Akuma berhenti beberapa meter dari sungai air hitam. Tubuhnya mematung memandang para siluman serigala yang mati terkapar di hadapannya.
"Apa sebenarnya yang terjadi?" tanyanya kepada diri sendiri sambil menyipitkan mata memandang para siluman serigala yang telah mati.
Yang membuat perasaanya menjadi tidak enak. Dan tiba-tiba memikirkan cucunya. "Semoga saja tak terjadi hal yang tidak ku inginkan, Nak."
Karena jarak dari tempatnya berdiri dengan siluman serigala yang telah mati itu, terpisahkan beberapa langkah ia kemudian maju berjalan mengecek sambil membawa obor api.
Akuma harus teliti dalam melangkah, karena darah terciptrat di berbagai tanah. Dia kemudian sampai di depan tubuh tak bernyawa dari siluman serigala.
"Uk...Uk..."
__ADS_1
Akuma lantas menoleh ke arah sumber suara itu. Matanya melihat salah satu siluman serigala masih hidup, tetapi dengan tubuh yang tengah sekarat membuatnya tak bisa bergerak, yang hanya membuatnya terkapar.
"Tenang saja, nanti aku menyelamatkan mu. Namun, diriku terlebih dahulu harus mencari cucuku," kata Akuma tersenyum tipis.
Dia ingin mengelus kepala dari serigala itu, tetapi dengan ke traumatikannya dengan hewan berkaki empat lantas menahannya dari mengelus sebagai tanda ungkapan kebahagiannya.
Akuma kembali mengeksplor pandangannya menoleh noleh ke segala sisi. Dari dalam hatinya, ia tak mau mengikuti arahan benaknya yang mengatakan ini berhubungan dengan cucunya.
Darah, siluman serigala yang mati. Itu pasti mewujudkan sebuah asumsi yang ia tak akan mau benarkan.
"Ah... Tidak-tidak." Akuma mengelengkan kepalanya pelan berulang kali. Ingin menolak stigma atau asumsi yang mengarah terhadap situasi cucunya sekarang.
Sedetik setelah menolak pikirannya itu dari asumsinya yang paling masuk akal. Pandangan kedua matanya terjatuh kepada sebuah kepala yang memakai topeng berwarna hitam.
"Benar ini kepala manusia, tapi mengapa memakai topeng?" Akuma berkata sambil menendang kepala itu. Lalu membuka topeng itu yang benar saja menunjukkan wajah seorang manusia.
Meskipun saat ini di sini telah gelap, karena sebentar lagi akan malam dan akan membuat sinar cahaya tak lagi masuk mengenai kampunya. Namun, ia tetap yakin bahwa itu kepala manusia dan topengnya berwarna hitam.
'Dia dapat melihat itu karena di bantu oleh penerangan yang ia bawa'. Mungkin kira-kira kalimat itulah yang akan seseorang ketika melihatnya berada di kegelapan dan dengan usianya sudah sangat tua.
Tapi itu salah total, Akuma masih dapat melihat dengan usianya sekarang sudah ratusan tahun lebih. Itu karena ia mengalirkan Qi kedua bola retina matanya. Meskipun kemampuannya melihat jelas, telah menurun, dan karena itu pula ia membawa obor api untuk lebih membantunya.
"Karena kau terlalu terlambat untuk menyadari itu. Dasar Tua Bangka."
Jelas perkataan Akuma itu hanya berkata kepada dirinya sediri sebagai luapan pikiran bingungnya, tetapi tiba-tiba suara itu terdengar tanpa memberi izin sekalipun. Dan ia tahu siapa mempunyai suara yang di berikan melalui telepati.
Meskipun pada saat ini katana itu ia tidak bawa, tetapi dengan telepati ia masih bisa mengobrol. Maupun itu dari jarak sejauh apapun.
"Maksudmu perkataanmu itu apa, Shiroi. Jangan membuatku semakin bingung," Akuma membalas dengan menggunakan cara telepati.
Shiroi adalah nama roh dari pedang katana yang berwarna serba putih itu, bertelapati bisa ia lakukan berdua karena mereka telah terikat antara satu sama lain.
"Sepertinya kekuatanmu telah sangat menurun. Kau bahkan tak dapat menyadari pertarungan itu."
"Ku akui perkataanmu itu tidak salah, namun yang membuatku heran darimu yang menyebutkan pertarungan. Pertarungan apa yang kau maksudkan?" ucap Akuma yang masih menggunakan telepati dengan nada bertanya.
__ADS_1
"Sudah jelas, 'kan. Bahwa aku mengatakan sebuah pertarungan. Dan pertarungan melibatkan cucumu..."
"Apa! Cucuku? Terus bagaimana yang terjadi padanya. Apa ia terluka?" tanya Akuma sedikit beremosi.
"Kamu benar-benar sudah tak sehebat dahulu lagi, Akuma. Anak itu terluka parah, tetapi nyawanya masih selamat, karena untungnya Kuro ikut membantunya....
"Aku takkan memberitahumu di mana anak itu sekarang terkapar. Aku ingin kau mencarinya sendiri!"
"Makasih telah memberitahuku, Shiroi." Akuma berkata sambil kakinya segera melangkah cepat, mencari keberadaan cucunya. Dia akan menggunakan seluruh Qi untuk ia alirkan ke semua indranya.
"Kau tak usah terlalu terburu-buru."
Ucapan dari Shiroi menghentikan langkah Akuma. "Cepat katakan apa maksud dari arah perkataanmu itu."
"Aku hanya ingin menyampaikan, agar segeralah kau menurunkan separuh kekuatanmu kepada anak itu."
Akuma membenarkan itu. "Aku telah terlebih dahulu memikirkan itu darimu. Tenang saja, secepatnya aku akan melatihnya agar kekuatannya menjadi seperti yang kalian berdua inginkan."
Tidak ada balasan dari Shiroi, yang hanya ada keheningan saja selama beberapa detik.
"Hmm!" dengus Akuma dengan kelakuan roh itu. Namun, ia tak akan melarangnya dari berperilaku seperti itu kepadanya.
Itu semua berawal karena perbuatannya sendiri. Yang berambisi menguasai dunia ini dengan menggunakan pedanga katana pusaka itu sebagai jembatannya untuk mencapai ambisinya. Dan lantas membuat Shiroi, roh dari katana tak menyukainya sampai saat ini.
Akuma kemudian bergegas mencari keberadaan cucunya.
**
Sedikit - sedikit ia telah merasakan aura dari pedang katana milik cucunya itu. Sekitar puluhan meter dari tempatnya sekarang berdiri, yang tengah menengadahkan kepalanya memandang ke berbagai pohon tinggi yang sekarang tak berdaun menyisakan batangnya saja, seperti habis terbakar.
Dia kemudian menurunkan kepalanya memandang ke arah sebuah yang tiba-tiba di depan matanya ini terdapat sebuah tanah kosong. Akuma tahu di area itu sebelumnya ada berbagai pohon kecil yang banyak tumbuh, tetapi sekarang hanya menyisakan batang-batangnya saja yang terlihat telah hancur dengan abu hangus habis terbakar.
Di tengah-tengah area itu terlihat ada sebuah lembah kecil yang diameternya sekitar 5 meter. Akuma telah tahu keberadaan cucunya sekarang ada di mana.
Dia kemudian berjalan ke arah lembah kecil itu, ingin melihat keadaan cucunya. Dan segera ingin membawanya pergi dari sini lalu mengobatinya.
__ADS_1
"Kakek tak menyangka, lukamu sangat parah," nada dari ucapan Akuma, mengandung kesedihan.
"Maafkan, Kakek tak bisa menjagamu..." ucap Akuma sambil mengangkat Kimura lalu menggendongnya. Lalu melesat pergi dari sini.