Legend Of Samurai

Legend Of Samurai
Ch 13 : Aura Naga Api


__ADS_3

"Kalau memang kenyataannya seperti itu, aku tidak akan mempermasalahkannya." Balas Hiyashi terhadap penjelasan Tang Ryu.


Hiyashi awalnya terkejut mendengar perkataan Tang Ryu, yang mengatakan bahwa Goto Matabei dan beberapa Tetua lainnya melakukan tindakan penggelapan dari sumber daya dan perlengkapan yang Keluarga Bangsawan Tanaka berikan selama beberapa tahun.


Mereka ber-6 sekarang berada di Vila Bambu kediaman Tang Ryu. Hiyashi di kawal oleh dua orang samurai yang sedang duduk di belakangnya. Sementara Katewaki dan salah seorang letnan duduk di belakang Tang Ryu.


Sudah sejam mereka membahas kejadian yang menimpa Klan ini. Tang Ryu dengan lidahnya yang lihai memanipulasi suatu fakta telah menipu sang Ketua dari Klan Edo ini dengan cara menfitnah Goto Matabei dan seluruh Tetua lainnya.


"Memang begitu fakta yang sebenarnya Tuan." Kata Tang Ryu masih berusaha meyakinkan.


Hiyashi hanya memandang diam sang lawan bicara, sebelum kembali membuka suara. "Meskipun aku masih merasa kehilangan... Lebih baik kita fokus ke depan saja. Kau tahu kan tiga bulan yang lalu Turnamen JinShu telah berakhir."


"Ia Tuan..." Tang Ryu mengangguk pelan terlihat bingung tidak mengetahui arah pembicaraan Hiyashi.


"Turnamen JinShu telah berlangsung selama beberapa ratus tahun yang lalu, dan telah melahirkan banyak Samurai yang bertalenta..." Hiyashi berhenti berbicara, dia diam memandang ke depan.


Matanya terlihat sekilas berkaca kaca namun itu hanya tampak beberapa detik sebelum kemudian sinar matanya berubah kembali menjadi serius.


Hiyashi dan Goto Matabei dahulu bersahabat sejak kecil. Mereka sangat dekat karena kedua ayahnya dahulu berteman akrab satu sama lain. Dan setelah mereka berdua menjadi Ketua. mereka ingin mewujudkan cita-cita sewaktu kecil, ingin menyelenggarakan Turnamen itu di Klan masing-masing.


Turnamen yang sudah menjadi tradisi bagi Kekaisaran Meiji ini, wajib di laksanakan dalam 5 Tahun sekali.


"Setelah berakhirnya Turnamen itu di Klan Niari, Kaisar kemudian memberitahuku bahwa yang akan menyelenggarakan Turnamen itu selanjutnya adalah Klan Edo..."


"...Namun, kami belum siap. Makanya aku kesini ingin memberitahumu untuk menggatikan kami menyelenggarakan Turnamen tersebut. Apa Kau bersedia?" Tanya Hiyashi.


Tang Ryu terlihat sedang berfikir setelah mendengar perkataan Hiyashi.


"Aku harus berbicara dengan yang lain terlebih dahulu baru bisa memutuskan" Ucap Tang Ryu sambil berpura - pura memasang ekspresi rumit.


Kata "Yang lain" itu bukan berarti terhadap para bawahan atau yang lainnya. Tetapi berarti untuk satu orang saja yaitu Tuannya.


"Baiklah. Aku mohon undur diri karena ada urusan yang harus segera ku urus. Nanti aku akan datang lagi kesini." Ucap Hiyashi sembari berdiri.


"Semoga Upacaranya berjalan lancar Tuan." Balas Tang Ryu sambil tersenyum.


Hiyashi tidak merespons perkataanya. Ia sekarang menatap dingin memandang lelaki di samping Tang Ryu. "Tolong Ketua Ryu ajarkan lelaki itu cara bersopan santun."

__ADS_1


Katewaki langsung menundukkan kepala ketika mata mereka bertemu.


Tang Ryu hanya mengangguk kemudian berdiri mengantar kepergian tamunya.


**


-Sekte Klan Edo-


Luas wilayah Sekte Klan Edo kurang lebih hampir sama dengan Sekte Klan Uesugi. Hanya saja tempatnya bersebelahan dengan hutan. Hutan yang terletak di samping Klan ini sangat luas melebih luasnya Klan Edo sendiri.


Hiyashi beserta para Tetua dan murid-muridnya sekarang berada di dalam hutan itu. Melakukan sebuah kegiatan upacara memperingati perjuangan para leluhurnya.


Dahulu kala leluhur para Klan Edo berjuang mati-matian untuk mempertahankan Klan ini dari serangan sebuah organisai misterius, karena musuhnya menyerang dari arah dalam hutan.


Para leluhur Klan Edo kemudian bertarung di dalam hutan, meskipun berhasil menang tetapi ribuan samurai Klan Edo kehilangan nyawa. Bahkan sang Ketua pada saat itu pun hilang setelah penyerangan tersebut tidak ada yang tahu keberadaannya. Hiyashi sebagai Ketua memimpin upacara tersebut.


Setelah upacara selesai Hiyashi segera kembali ke kediamannya di temani oleh seorang samurai yang setiap hari bersamanya.


"Apa menurut Ketua, perkataan Ketua Tang Ryu itu kelihatan terlalu di buat-buat." Tanya samurai itu sambil berjalan di samping Hiyashi.


"Kalau menurutmu bagaimana Naoe?" Hiyashi bertanya balik.


"Jelas Ketua, aku tidak percaya dengan perkataannya. Aku mengenal Ketua Goto Matabei dan menurutku ia tidak akan melakukan penggelapan untuk Klannya sendiri." Jelas Naoe.


Hiyashi hanya mengangguk-angguk sembari tersenyum. Sebelum lanjut berkata. "Logikanya memang seperti itu, mana ada seseorang yang mau menjatuhkan Klannya sendiri dengan melakukan penggelapan."


"Jika Ketua berkata seperti itu. Jadi apa yang akan Ketua lakukan."


"Kita ikuti saja permainannya..."


Saking asiknya berbincang tak terasa Hiyashi telah berada di depan kediamannya .


"...Sampai jumpa esok hari Naoe." Ucap Hiyashi sambil tersenyum tipis.


Naoe memberi hormat lalu berjalan berlawanan dengan Hiyashi.


**

__ADS_1


Lelaki berambut putih keperakan dengan panjang hampir sepunggung itu sekarang sedang mengobati Kimura. Lelaki yang sudah terlihat sangat sepuh itu duduk di belakang Kimura, sambil telapak kedua tangan menempel di punggung Kimura yang sekarang sedang terbaring di atas tempat tidur kayu.


"Bagi anak seusianya tenaga dalam yang ia miliki cukup banyak, dan aku belum melihat aliran tenaga dalam sekacau ini." Katanya dengan dahi yang mengerut.


"Pedang katana ini memang mengerikan." Ia bergumam sambil memandang katana yang sekarang sudah tersarung rapi.


Terlintas kembali di kepalanya berbagai macam ingatan semasa waktu ia berusia muda. Ia mengingat saat sedang bertarung melawan pemilik katana ini. Pada saat itu ia di kalahkan setelah melakukan pertarungan yang panjang selama berhari-hari dan karena kekalahan itulah nasibnya sekarang berakhir menjadi seperti ini.


"Hentikan ambisimu itu Akuma, kau hanya akan membuat dunia persilatan di kekaisaran ini, menjadi tidak stabil."


"Aku sangat menyesal atas apa yang sudah ku lakukan selama ini..." Ucapnya sembari membersihkan darah yang keluar dari mulutnya.


"Sudah terlambat. Aku sudah tidak bisa membiarkan mu berkeliaran di dunia ini lagi. Tapi, aku juga tidak akan membunuhmu."


"Lalu, apa yang akan kau lakukan kepadaku..."


"Aku akan membuat sebuah jurang di bawah tanah yang sekarang kau pijak ini untuk menjadi tempatmu tinggal, dan juga aku akan memasang penghalang di sekitarnya agar kau tidak bisa keluar !"


Lelaki di hadapan Akuma itu menancapkan katananya, dan tidak berselang lama seketika tanah di bawah tempat kaki Akuma berpijak tiba-tiba longsor.


"Kejadian itu sangat memalukan..." Lelaki itu tersenyum pahit. "Namun, aku mendapat banyak pelajaran setelah menerima kekalahan itu."


Setelah bernostalgia dengan kejadian waktu masa mudanya. Ia kembali fokus mengobati Kimura, keringat tiba-tiba membasahi tubuhnya.


"Mengapa tubuhnya semakin lama semakin banyak menyerap qi ku." Ia berkata sembari menarik kedua tangannya dari punggung Kimura.


Ia berfikir mengapa hal tersebut terjadi, padahal sepengetahuannya tenaga dalam anak yang berada di hadapannya ini miliki memang cukup banyak namun dengan qi miliknya ia masih yakin bisa mengobatinya sampai sepenuhnya pulih.


Lelaki itu terus berfikir mengapa itu bisa terjadi.


"..."


"..."


"Tidak Mungkin..." Ucapnya pelan.


Raut wajahnya menunjukkan kekagetan. Ia sangat terkejut mengetahui fakta penyebab qi nya di serap dengan cepat.

__ADS_1


"Aura Naga Api....." Ucapnya pelan, mulutnya sedikit terbuka.


Ekspresinya kembali menjadi serius, ia kemudian berjalan keluar meninggalkan Kimura sendirian di dalam kamarnya.


__ADS_2