
"Saudaraku, boleh ku tahu siapa dirimu? Aku tidak menyangka ada Samurai sepertimu di Klan ini." Ucap Saji Obata ramah.
Saji Obata bersikap sopan bukan tanpa alasan, ia mengetahui kekuatan yang pria di depannya itu berada sedikit di atasnya.
Hanbei tetap hanya terdiam memandang ke depan tidak meresponnya.
Saji Obata menyipitkan mata, "Kalau saudara tidak mau menjawab tidak apa-apa. Namun, bolehkah saya bertanya, mungkin saudara mengetahui tentang siapa yang membunuh sahabatku Tanaka Yoshi?"
Beberapa detik setelah pertanyaan itu terlontarkan dari mulut sang Jenderal, keheningan terjadi.
Dan keheningan itu di pecahkan oleh suara yang terdengar dingin.
"AKU."
Hanbei kemudian menghilang dari tempatnya berdiri, lalu muncul di hadapannya bersiap menebas kepalanya.
"Di kirimu jenderal!" Teriak Tang Ryu.
Saji Obata melotot melihat serangan yang tak terduga itu, refleks ia mengangkat katananya menangkis. Namun, Hanbei yang sudah memprediksi itu, segera menarik serangannya dan mengincar tangan lawannya.
Srashh...
"Arghh..." Saji Obata mengerang kesakitan sembari melompat mundur.
Tang Ryu memanfaatkan kesempatan itu, dia langsung bergerak menyerang Goto Matabei yang sedang bersemedi berusaha memulihkan kembali tenaga dalamnya.
Sedangkan, para Letnan yang berhasil mengatasi dan menghabisi sebagian Tetua Klan, tak percaya melihat Jenderalnya kehilangan salah satu tangan.
"Lebih baik kita mundur saja jenderal." Salah seorang Letnan berkata setelah berada di dekat Saji Obata.
Saji Obata mendelik tajam ke arah letnan yang berkata tersebut, "Kau tidak melihat bahwa kita sekarang berada di atas angin!"
"Namun, kita tidak akan bisa bertarung dan menang tanpa Jenderal." Letnan yang lain menambahkan sambil memandang ke depan.
Hanbei hanya memandang diam mereka.
"Kekuatannya memang berada jauh di atas kita semua. Tetapi kalau kita bersatu dan aku menggunakan ini..." Ucap Saji Obata pelan.
Saji Obata kemudian mengeluarkan pisau kecil berwarna emas. Aura yang pisau itu keluarkan sangat berbeda dari kebanyakan pisau. Karena pisau tersebut adalah sebuah pusaka yang sangat langka.
"Aku yakin kita akan menang..." Lanjut Saji Obata, "Separuh dari kalian berpencar lalu bantu yang lain sedangkan sisanya ikut aku."
"Tapi jenderal..." Balas salah seorang Letnan.
__ADS_1
"Ya. Aku akan menyerang dia dari jarak dekat. Meskipun, kemungkinan besar aku akan mati tapi setidaknya dia juga ikut bersamaku ke neraka, dan ingat, kalian serang dia ketika mempunyai celah."
"Ayo kita serang dia!" Serunya.
**
Goto Matabei yang sudah mengumpulkan separuh tenaga dalamnya lantas memberhentikan semedinya untuk menangkis serangan Tang Ryu.
"Menyerah saja kau tua bangka." Kata Tang Ryu.
"Kau sedari tadi selalu menyebutku tua bangka, seharusnya kau harus lebih sering bercermin di depan kaca..." Goto Matabei tersenyum mengejek.
"Dan soal menyerah, mungkin kau yang seharusnya menyerah!" Lanjutnya.
Lalu kemudian bergerak menyerang balik dengan cepat.
**
Di sisi lain, para Tetua yang tersisa berhasil mengalahkan musuh mereka. Dan mereka juga sangat terpukul kehilangan Tetua - tetua yang lain, dan sekarang hanya tersisa belasan saja Tetua yang berhasil bertahan.
"Kita harus segera bergegas membantu ketua." Ucap seorang Pria bernama Nagasaki.
Hanya Nagasaki saja yang tersisa dari ke 10 Tetua terhebat Klan, dia menempati posisi 2 setelah Takeda. Nagasaki beserta tetua lain melangkahkan kaki berniat membantu ketuanya. Namun, langkah mereka di hentikan oleh puluhan orang, di lihat dari pakaiannya mereka semua adalah prajurit berpangkat Letnan.
Terlihat seorang pria berwajah bengis memegang sebuah kapak, kemudian maju dan berkata. "Mengapa terburu-buru sekali, temani aku bermain sebentar saja."
Nagasaki meludah ke arah wajahnya, "Kami sedang tidak ingin berurusan dengan kalian!"
"Tapi, tidak mungkin kan kami membiarkan kalian lewat layaknya seorang raja..." Pria berwajah bengis itu berkata sembari tersenyum mengejek.
"Serang mereka!!" Seru pria berwajah bengis tersebut.
**
Entah mereka sudah bertukar beberapa jurus, tetapi di lihat dari situasinya sekarang, Hanbei yang di badannya terdapat beberapa bekas luka sayatan agak kesulitan menghadapi mereka semua sekaligus.
Ia melompat mundur mengambil jarak aman.
"Aku tidak lagi akan menahan diri kan ku kirim kalian semua ke neraka." Ucap Hanbei, dan kemudian mengeluarkan wakizashinya berniat meladeni sang lawan dalam pertarungan jarak dekat.
Dalam dunia samurai ada yang di sebut Seppuku (Suatu bentuk ritual bunuh diri yang menggunakan pedang pendek yang di sebut dengan tanto). Wakizashi lebih cocok di gunakan untuk pertempuran jarak dekat. Biasanya, senjata ini di pakai apabila tidak ada katana. Namun, melihat situasinya yang seperti ini Hanbei berniat memakai.
"Majulah." Ucap Hanbei dingin.
__ADS_1
Saji Obata langsung bergerak menyerang. Meskipun, hanya tersisa satu tangan tapi ia masih leluasa bergerak. Hanbei dan Saji Obata melakukan pertarungan jarak dekat yang sangat berimbang. Beberapa Letnan tidak ikut menyerang, karena setelah menonton sebentar pertarungan antara keduanya, mata mereka hanya melihat sekelebat sebuah bayangan hitam dan biru saja yang saling baku hantam.
Hanbei dan Saji Obata menggunakan seluruh kemampuan untuk membunuh satu sama lain, tetapi semakin lama pertarungan tersebut berlangsung, pergerakan kedua bayangan itu mulai melambat dan memperlihatkan kedua orang tersebut.
Hanbei dan Saji Obata mengalami luka yang cukup parah di masing-masing tubuh. Namun, perbedaannya stamina Hanbei masih terjaga tanpa sedikit pun terlihat kelelahan.
"Ha-ha, kau tidak akan bisa bertahan lama setelah terkena pisauku." Kata Saji Obata sambil menahan rasa sakit dari luka tusukan yang berada di perutnya.
Hanbei tidak mendengarkan perkataannya, ia hanya fokus memandang ke arah tempat Nagasaki dan Goto Matabei berada.
Tinggal Nagasaki seorang, Tetua lainnya sudah tewas. Namun, saat ini ia sedang di sudutkan oleh pria berwajah bengis itu.
Sementara situasi yang tidak jauh berbeda juga menimpa Goto Matabei, Ia yang berhadapan dengan Tang Ryu hanya bisa bertahan saja dengan sekali-kali memberikan serangan.
Fokus Hanbei terpecah, dia seperti berada di tengah sebuah persimpangan yang harus memilih satu jalan. Dan ia harus cepat memutuskan. Hanbei memutuskan menolong ketuanya terlebih dahulu. Namun, ketika ingin melangkah, kejadian tak terduga datang menghampirinya.
Saji Obata menusuknya dari belakang, saat ia berbalik berniat membantu Ketuanya. Darah mengalir deras dari luka yang berada di perutnya.
Saji Obata yang masih dalam posisi menikam berkata, "Sepertinya, hanya kau saja yang akan berangkat ke nera-"
Ucapannya terpotong, karena Hanbei kemudian memutar badan, lalu menebas kepalanya.
Setelah itu, Hanbei langsung jatuh ke bawah dengan darah yang terus-menerus keluar dari mulut dan perutnya.
Goto Matabei dan Nagasaki pun telah tewas di tangan lawan mereka masing-masing. Goto Matabei mati dalam posisi katana menembus jantung. Sedangkan, badan Nagasaki hancur di buat menjadi serpihan.
Sementara, Hanbei terkapar di tanah, "Ayah tidak bisa menepati janjimu, Nak." Hanbei berkata dalam hati.
Di kepalanya sekarang terlintas berbagai kenangan saat bersama istri dan anaknya.
Sementara, beberapa Letnan yang melihat Jenderalnya tewas, seketika menjadi marah.
"Jenderal!!!"
Pandangan mereka semua kemudian fokus terhadap seorang lelaki yang sedang sekarat terkapar di tanah.
"Kau!!!" Seru mereka sambil menatap geram Hanbei yang sedang terkapar di tanah.
Semuanya bergerak mendekati Hanbei berniat membunuhnya.
"Tunggu. Biarkan saja dia seperti itu, agar merasakan proses kematian yang menyakitkan." Ucap Tang Ryu yang sudah berada di depan mereka.
Mereka hanya mengangguk sambil tersenyum licik.
__ADS_1
"Ayo ikuti aku lebih baik kita pergi mencari tempat pengungsian yang menyembunyikan para murid dan istri-istri Samurai." Kata Tang Ryu.
Mereka kemudian melangkah memasuki gerbang, meninggalkan Hanbei sendiri yang terlihat sudah menghembuskan nafas terakhirnya.