
Sudah tiga hari berlalu sejak terakhir kali insiden tersebut terjadi. Namun, Kimura masih belum melupakannya ia masih murung dan menyendiri di dalam kamarnya. Kimura sedang duduk terlentang di atas kasur sambil mengarahkan pandangannya ke jendela dengan tatapan mata yang kosong.
Sementara, Ayahnya sedang bersandar di pintu sambil memandang putranya, ia sudah tidak tahu lagi bagaimana cara mengembalikan semangat putra semata wayangnya tersebut.
"Nak, kamu harus berusaha melupakan kejadian yang telah berlalu..." Hanbei berkata sembari berjalan menghampiri Kimura yang sedang duduk diam diatas kasur, "Ketika kamu ingin menjadi seorang samurai yang hebat, dalam situasi apapun masalah yang menimpa dirimu kamu harus tetap kuat."
Hanya ini yang bisa Hanbei lakukan untuk putranya saat ini, ia tidak mau Kimura terus berlarut-larut dalam kesedihan yang beresiko mengganggu mentalnya. Hanbei merasa harus tetap terlihat kuat di hadapan putranya. Meskipun, dia juga merasakan apa yang anaknya sekarang itu rasakan.
"Ayah...Apakah surga itu indah? Seperti yang kebanyakan orang katakan," tanya Kimura yang pandangannya masih fokus ke jendela depannya.
Hanbei tersenyum melihat putranya kembali berbicara. Lalu ia menjawab, "Kalau kamu bertanya kepada seluruh manusia di dunia ini, mereka pasti mengatakan "ya" surga itu indah, karena setiap manusia yang lahir di muka bumi ini sudah di berikan berbagai opini agar mereka mengimajinasikan surga itu sebagai tempat yang indah..."
"Dan..." lanjut Hanbei,
"...Kalau kamu bertanya seperti itu kepada. Ayah akan menjawab surga itu memang tempat yang indah, sebuah tempat yang di khususkan oleh para penghuni dunia ini yang selalu berbuat baik dalam mencakup segala hal."
Keheningan tercipta beberapa saat setelah percakapan singkat antara ayah dan anak itu berakhir.
"Bukankah ibu selama ini selalu berbuat baik, apakah surga juga akan menjadi tempatnya?" tanya Kimura.
"Ibumu pasti di berikan tempat yang sebaik-sebaiknya oleh Sang pencipta," ujar Hanbei menjawab pertanyaan anaknya.
"Jika begitu, aku akan melanjutkan apa yang menjadi tujuan awal Kimura, dan akan menjaga ayah dari mara bahaya yang akan menimpa. "Kimura bangkit dari kasur, lalu kemudian berjalan dan berhenti tepat di depan jendela yang kacanya di penuhi oleh embun pagi.
"Kuat, kuat, kuat. Kimura akan menjadi yang terkuat," ucapnya pelan, tapi dengan kedua tangan yang terkepal. Ia menyimpan dendam yang sangat dalam selepas kejadian itu.
Kelegaan terasa menyegarkan hati Hanbei karena melihat putranya kembali bersemangat seperti dulu. Di sisi lain dia juga prihatin melihat perkembangan dari latihan anaknya yang ia bimbing sendiri tidak pernah berkembang.
"Ayah di panggil oleh Ketua untuk menemuinya pagi ini. Apa kamu mau ikut," ucap Hanbei, sembari berjalan dan berdiri di samping Kimura.
Kimura hanya mengangguk sebagai respons.
Pagi-pagi sekali tadi Kansuke datang menemuinya, memberi tahu bahwa pasukan Keluarga Bangsawan Tanaka yang di pimpin langsung oleh Panglima elitnya Saji Obata beserta sih penghianat Klan, Tang Ryu, sudah bergerak dari arah barat.
Satu informasi yang Hanbei tidak beritahukan ke putranya. Yaitu, bahwa Ketua Goto Matabei ingin memberikan sebuah pusaka pedang katana warisan leluhur Klan Uesugi, yang sudah beratus-ratus tahun di simpan.
Hanbei tidak menyangka ketika mendengar perkataan Ketuanya. Kalau ia ingin, memberikan pedang katana yang sempat menggetarkan dunia samurai beberapa ratus tahun yang lalu tersebut, kepada Kimura.
__ADS_1
**
"Apa!"
Terlihat seorang lelaki berusia sekikas 50 tahun ke atas dengan sedikit garis-garis keriput berada di wajahnya, menyobek surat yang berada di tangannya. Ia adalah wakil ketua Klan Uesugi Tang Ryu. Wajahnya terlihat sangat geram, setelah membaca tulisan yang berada di surat itu.
Tulisan itu adalah tulisan tangan dari Goto Matabei. Isi dari surat tersebut adalah.
"Saya atas nama ketua Klan Uesugi , tidak akan membiarkan siapa pun merebut Klan ini. Kami semua sudah bersiap memberikan perlawanan ketika ada yang berniat mengganggu ketenangan Klan ini!"
~Goto Matabei~
Tang Ryu jelas sangat geram, sudah lama ia merencanakan ini dan sama sekali tidak ada seorang pun yang tahu akan rencana ini. Namun demikian, ketika dia merasa sudah siap menjalankannya sesuatu yang tak ia ekspektasikan terjadi.
"Apapun yang akan kau lakukan si tua bangka, rencana kudeta ini akan tetap di jalankan," batin Tang Ryu dengan bibir yang sedikit untuk melengkung.
Ketika Tang Ryu sedang asik dengan pikiran jahatnya, seorang prajurit datang memberi hormat kepada Saji Obata yang berdiri tepat di sampingnya.
"Hormat Jenderal, informan kita yang bertugas di Klan Uesugi datang ingin menyampaikan sesuatu kepada," ucap salah satu prajurit elit sembari membungkukkan badan memberi hormat.
Di lihat dari pakaiannya yang terdapat lambang 3 garis di dada kirinya, itu menandakan bahwa dia seorang Letnan. Total Saji Obata membawa sekitar 1200 prajurit. Sedangkan, Tang Ryu berhasil mempengaruhi ratusan murid Klan Uesugi agar ikut dengannya. Kalau di jumlahkan secara kasar mungkin mereka membawa sekitar 1500 pasukan, untuk menyukseskan rencana kudeta yang sebentar lagi akan di lakukan.
"Laksanakan Jenderal!" balas sang Letnan.
Saji obata sudah mengabdi sekitar 15 tahun kepada keluarga bangsawan Tanaka dan baru di angkat menjadi Jenderal sekitar 4 tahun yang lalu. Namun, dalam waktu yang relatif singkat tersebut ia sudah memberikan kontribusi yang luar biasa bagi keluarga ini.
Sudah 2 Klan menengah beserta 3 Klan kecil yang sudah ia tundukkan dan sekarang Klan tersebut menjadi milik keluarga bangsawan Tanaka. Namun, apakah dia bisa menundukkan Klan Uesugi yang termasuk salah satu Klan terbesar di Kekaisaran Meiji ini agar melanjutkan rentetan catatan bagusnya.
Kita tunggu saja apa yang ia akan lakukan...
"Hormat jenderal, hamba ingin memberi laporan," ucap Informannya yang sekaligus menjadi mata-mata di Klan Uesugi sudah berada di hadapannya sembari memberi hormat.
"Katakan, laporan apa yang kau bawa..." Ucap Saji Obata, lalu melanjutkan perkataannya yang tertunda akibat menghirup udara sejuk di sekitarnya, "Kalau laporan tersebut tidak terlalu penting untuk telingaku dengar, akan ku potong lidahmu."
Informan tersebut menelan ludah mendengar perkataan sang Jenderal, "Hamba ingin memberi tahu bahwa Tuan Tanaka Yoshi terbunuh."
Saji Obata dan Tang Ryu tersentak kaget mendengar berita tersebut. Namun, Saji Obata lah yang paling kaget mendengar kabar itu. Tanaka Yoshi sudah ia anggap sebagai sahabat, sewaktu dia kecil mereka berdua selalu bermain dan berlatih bersama, tetapi setelah Yoshi pergi menimba ilmu di Klan Uesugi mereka berdua sudah sangat jarang bertemu lagi.
__ADS_1
"Siapa yang membunuhnya dan kapan kejadian ia terbunuh," Saji Obata berkata dengan mimik muka geram.
"Ka...kalau kejadian Tuan Yoshi terbunuh sekitar 3 hari yang lalu. Sedangkan, kalau menurut kabar yang saya dengar, Tuan Yoshi di bunuh oleh salah satu Tetua yang berada di sana," jelas sang Informan.
Saji Obata semakin geram, terlihat emosinya sudah berada di puncaknya, "Kalian semua bersiap! Kita harus secepatnya sampai ke tujuan kita." Ia berteriak lantang, agar terdengar oleh seluruh pasukan.
Kemudian ia naik ke atas kuda, lalu menungganginya. Para Letnan yang melihat Jenderalnya sudah bergerak, segera meminta pasukannya yang lain untuk ikut bergerak, mereka bergegas mengikuti dari arah belakang.
**
Aula utama Klan Uesugi sudah di penuhi oleh ribuan samurai.
Di Klan Uesugi sendiri, hanya Goto Matabei seorang yang sudah mencapai dalam kategori Samurai tingkatan besar dengan tingkat Bulan, sedangkan Hanbei berada pada kategori Samurai tingkatan menengah dengan tingkat Naga.
Di dalam Aula, sekarang berbaris ribuan murid dengan tingkatan yang masing-masing berbeda. Dari total ribuan murid tersebut sekitar ratusan telah mencapai tingkat Petir, sementara sisanya adalah tingkatan Angin.
Di barisan terdepan berbaris puluhan Tetua mayoritas mereka sudah mencapai Samurai tingkat menengah.
"Apa kita yang akan menunggu mereka, Ketua Goto?" tanya salah seorang Pria berbadan tegap.
Goto Matabei menggelengkan kepala pelan mendengar perkataannya. Sudah ratusan kali ia mendengar pertanyaan itu.
Pria tersebut adalah Uesugi Takeda, ia sekarang menduduki posisi teratas dalam 10 Tetua terhebat Klan Uesugi. Sebulan lalu ia sudah mencapai tingkat Bintang.
Setiap tahapan sangat sulit akan di lalui seorang samurai ketika ingin naik tingkat. Makanya, banyak sekali seorang samurai yang sudah terlihat sepuh namun tingkatannya masih termasuk rendah.
"Kita tunggu mereka dalam waktu satu jam. Kalau mereka belum juga datang, menyerang terlebih dahulu sepertinya adalah pilihan yang terbaik," jawab Goto Matabei.
Takeda mendengus pelan mendengar perkataan Ketuanya bahwa ia harus menunggu beberapa saat lagi.
Para Tetua yang mendengar perkataan Takeda. Hanya menahan umpatan-umpatannya, untuk tidak mengatakan hal tersebut di depan muka sang Tetua terhebat Klan tersebut.
Beberapa waktu berlalu, terlihat seorang Samurai Klan memasuki aula.
"Ketua, saya merasakan ada aura yang kuat sedang menuju kesini. Beberapa menit lagi mereka sepertinya akan sampai di gerbang Klan," lapornya.
Goto Matabei hanya mengangguk pelan, kemudian membuka suara, "Ayo kita sambut mereka di gerbang, Hanbei tadi berkata ia akan segera menyusul kita..."
__ADS_1
Goto Matabei kemudian memimpin mereka semua keluar dari Aula, berniat menyambut lawan di gerbang.