Legend Of Samurai

Legend Of Samurai
Ch 9 : Sebuah Mimpi


__ADS_3

-Kamar Penginapan-


Udara pagi ini sangat menyejukkan, daun - daun pepohonan di halaman depan penginapan menari-nari ketika terkena hembusan angin.


Kimura masih tertidur dengan pulas. Sementara, Kansuke terlihat sudah bangun dengan pakaian yang telah rapi tersemat di tubuhnya. Kansuke sekarang sedang duduk di kursi sambil memandang Kimura yang masih tertidur.


"Setiap berada di dekatnya, aku seperti merasakan sesuatu yang aneh." Ucap Kansuke sambil mengingat-ingat kejadian waktu di Klan.


Pada waktu itu, Kansuke tiba-tiba merasa merinding dengan di baringi bulu-bulunya berdiri, saat Kimura meminta untuk bertemu Ayahnya. Namun, Kansuke melarang dan membujuknya untuk segera pergi, seketika suhu di sekitarnya pada saat itu menjadi panas bercampur dengan aura membunuh yang ia tidak tahu dari mana asalnya.


"Aku harus berusaha melupakan kejadian itu. Kalau tidak, kejiwaanku akan terganggu karena memikirkan itu terus..." Katanya pelan kepada diri sembari bangkit dari duduknya dan kemudian melangkah keluar kamar.


Setelah beberapa saat Kansuke keluar, terdengar Kimura bersuara dengan mata yang masih tertutup, dan itu mengartikan bahwa dia berada di alam bawah sadarnya atau bisa di katakan sedang bermimpi.


**


"Apa maksudmu berkata seperti itu?!" Kata Kimura dengan intonasi tinggi.


Saat ini Kimura seperti berada di ruang hampa, cahaya yang sangat terang seperti matahari memenuhi seluruh sekitarnya, ia bahkan harus terus menyipitkan mata.


Maksud Kimura tadi berkata seperti itu, karena di depannya sekarang terlihat seseorang hanya menampakkan sekedar siluet saja sedari tadi mengatakan hal-hal yang tidak ia mengerti kepadanya.


"Nanti kamu juga akan mengetahui apa maksud dari perkataanku tadi." Ucap siluet itu, bisa di katakan ia adalah seorang lelaki karena terdengar dari suaranya yang berat.


**


Kimura kemudian terbangun dengan raut wajah terlihat kaget dan sedikit bercampur dengan ekspresi bertanya-tanya.


"Apakah itu tadi hanya mimpi...? Tapi aku merasakan itu sangat nyata sekali." Gumam Kimura dengan nada heran.


Dan dia kemudian menoleh ke sekelilingnya mengeksplorasi sudut ruangan, ingin meyakinkan dirinya bahwa itu hanya mimpi belaka.


"Syukurlah itu hanya mimpi..." Kimura bernafas lega.


"Paman Kansuke sepertinya sudah sedari tadi bangun." Kimura berkata sembari turun dari kasurnya, kemudian berniat terlebih pergi berendam air hangat, lalu pergi menemui Pamannya.


Sehabis membersihkan tubuh, ia kemudian pergi ke ruangan yang pertama kali dia datangi ke sini bersama Pamannya.


"Maaf aku bangun jam segini paman." Katanya pelan sembari berjalan mengampiri kursi kosong di samping sang Paman.


"Tidak apa-apa, Paman mengerti bahwa kamu sedang sangat mengantuk." Ujar Kansuke sambil mengambil sup daging, lalu memberikannya kepada Kimura, "Ini makan... Meskipun Paman sudah lama memesannya tapi masih hangat kok."


"Terima kasih paman." Balas Kimura sembari mengambil sup tersebut dan langsung berniat untuk menyantapnya . Ketika, ia mau masukkan sesendok pertama sup ke dalam mulut, tiba-tiba terdengar suara keributan dari arah luar penginapan, yang membuat dia berhenti sejenak dari menyantap sup.


"Sangat menganggu." Gumamnya.


Meskipun suara keributan itu mengganggu seluruh pengunjung, tetapi keduanya terlihat tidak peduli, Kimura dan Kansuke melanjutkan sarapannya menyantap sup daging mereka.


"Anak ini..." Kansuke berkata pelan sambil menoleh ke arah Kimura, dia sedikit terkejut mengapa anak di sampingnya itu sama sekali tidak terganggu dengan keributan.


Kansuke bersikap tidak peduli, karena ia sudah tahu itu pasti keributan atau persilihan itu terjadi antara pihak penginapan dengan suatu kelompok yang berkuasa di wilayah ini. Kansuke tidak mau terlibat dalam masalah yang akan berkepanjangan seperti itu, tetapi, mengapa anak yang berada di sampingnya imi masih bersikap tenang?


"Cepat panggil pemilik penginapan ini!" Terlihat seorang lelaki bertubuh gempal berteriak di dalam ruangan sambil memegang rambut seorang pelayan dengan sesekali menariknya.

__ADS_1


"I..ya Tuan..." Ucap wanita itu terbata-bata sambil meringis kesakitan.


"Cepat...!" Kata lelaki tersebut sambil menendang bokong pelayan wanita itu.


Lelaki bertubuh gempal itu kemudian duduk di salah satu kursi, di ikuti oleh 4 orang lelaki yang terlihat seperti anak buahnya sedang berdiri di belakangnya sambil memijat pundaknya.


"Kau pijat kepalaku!" Perintah lelaki bertubuh gempal itu kepada anak buahnya yang lain.


Pengunjung yang lain terganggu dengan kedatangan orang-orang itu, mereka berhenti menyantap makanannya ketika keributan tersebut terjadi.


"Mengapa kalian semua menatapku seperti itu, mau ku congkel mata kalian semua ha!" Lelaki berkata dengan nada mengancam.


Mendengar itu, pengunjung melanjutkan kembali aktivitas mereka masing-masing waktu sebelum lelaki bertubuh gempal itu datang. Namun, ada juga yang berlari keluar karena ketakutan.


Senyum arogan dan bangga terpatri di bibir lelaki bertubuh gempal itu ketika melihat pengunjung ketakutan karena perkataannya...Senyum itu seketika menghilang dari bibirnya ketika melihat dua orang lelaki yang terlihat seperti Anak dan Ayah menyantap makanan dengan tenang tanpa sedikitpun terlihat ketakutan dengan keberadaannya.


Lelaki bertubuh gempal itu entah mengapa tersinggung, dia mengambil sebuah kertas kemudian meremas-remasnya lalu melemparkan kertas itu di mangkuk sup yang anak kecil itu santap.


"Hei anak kecil! Cepat pijat kaki aku!." Lelaki bertubuh gempal itu menyuruh anak kecil yang tak lain adalah Kimura.


"Sekarang." Ucap Kimura dengan nada bertanya


"Yah. Sekarang lah..." Lelaki bertubuh gempal itu berkata sambil memukul meja di sampingnya. Lelaki itu tersenyum arogan melihat Kimura berdiri dari duduknya yang sepertinya ingin melaksanakan perintahnya itu.


Kansuke berusaha menahan amarahnya agar tidak terpancing.


"Jika lelaki itu melakukan hal yang tidak-tidak kepada Kimura..." Gumam Kansuke sambil memegang katananya yang tersimpan di balikan jubahnya, "Dia akan terima akibatnya."


Kansuke yang melihat itu hanya tertawa kecil.


"Ahh. Dasar anak kurang ajar!" Seru Pria bertubuh gempal itu.


Lelaki bertubuh gempal itu berdiri dari tempatnya duduk dengan wajah geram berniat ingin memberikan pelajaran bagi Kimura. Lelaki itu berniat melayangkan pukulan ke arah wajah anak kecil yang sudah mempermalukannya di depan banyak orang.


"Jika kau berani menyentuhnya, akan ku buat kau kehilangan kaki." Ucap Kansuke dingin sembari mengarahkan ujung katananya ke leher lelaki itu.


Lelaki bertubuh gempal itu tidak mau bertindak konyol, karena ia bisa mati dalam sekejap kalau tidak menuruti perkataan bermaksud mengancam itu.


"Iya...Iya, tetapi tolong kau turunkan dulu ujung katana mu ini dari leherku." Lirihnya pelan.


Menuruti perkataannya, Kansuke menurunkan katananya, tetapi dengan rasa kewaspadaan, karena lelaki di depannya ini terlihat sedang merencanakan sesuatu.


Sedetik setelah katananya ia turunkan. Lelaki bertubuh gempal itu melompat mundur. Namun...


"Serang mereka berdua!" Seru lelaki bertubuh gempal itu kepada ke empat anak buahnya.


Para pengunjung yang berada di dalam bergegas keluar, karena tidak mau terkena imbas dari pertarungan itu. Sementara Xi Yan dan para pelayan lainnya sedang mengintip dari balik pintu.


"Awas, awas aku ingin melihatnya." Para pelayan terlihat antusias ingin melihat pertarungan itu.


"Kira-kira siapa yang menang yah..." Pelayan lainnya ikut berkata.


"Bisakah kalian semua diam!" Ucap Xi Yan sambil memijat keningnya. Yang Xi Yan sekarang pikirkan adalah nasib rumah makannya.

__ADS_1


Keempat anak buahnya langsung maju menyerang Kansuke dan Kimura, masing-masing di tangan mereka terdapat pisau.


Yang ada di pikiran Xi Yan sekarang sepertinya sebentar lagi akan terjadi, kerusakan sepertinya tak terelakan. Meja, kursi, mangkuk, dan piring sebagian hancur akibat pertarungan itu. Kansuke melawan tiga orang. Sedangkan Kimura, melawan satu orang dari mereka dengan cara melawan sambil melempar mangkuk dan piring yang berada di ruangan ini.


"Cukup main-main nya." Kansuke berkata seraya meningkatkan konsumsi tenaga dalamnya ke katana miliknya.


Kansuke sudah berulang kali berkata kepada mereka untuk bertarung di depan penginapan, karena ia tidak mau mengotori ruangan untuk makan ini dengan darah.


"Semoga para penghuni neraka menyambut kalian dengan baik." Ucap Kansuke tersenyum tipis sembari mengakangkat katananya.


Dalam satu tebasan vertikal, katananya berhasil memotong tubuh ketiga lawannya.


Lelaki bertubuh gempal itu tercengang kaget melihat itu, dia kemudian berniat melarikan diri. Kansuke yang melihat itu segera menghadang.


"Jangan terlalu buru-buru, aku ingin memberikan kamu sesuatu loh. Tadi mau di pijat kan." Kata Kansuke yang sudah berada di hadapan lelaki bertubuh gempal itu. Luka yang cukup parah ia berikan ke kaki lelaki bertubuh gempal itu.


"Silahkan anda boleh keluar sesuka hati." Ia berkata sambil bergestur layaknya seorang pelayan mempersilahkan tamunya untuk masuk.


Tidak mau menyia-nyiakan nyawanya, lelaki itu lantas keluar dengan kondisi lari terpincang-pincang meninggalkan satu orang anak buahnya yang masih tersisa.


Setelah tidak lagi mendengar suara pertempuran, satu orang anak buahnya itu yang masih tersisa, menoleh perlahan ke belakang ingin mencari keberadaan temannya yang lain.


"Kamu mau pilih yang mana, kehilangan kaki atau tangan." Kansuke tersenyum tipis.


"Ah..." Orang itu menoleh ke kanan kiri mencoba cari jalan untuk kabur.


Tidak mempunyai celah untuk keluar dari tempat ini, orang itu kemudian bersujud di hadapan Kansuke.


"Ampuni nyawa aku Tuan, ampu-" Katanya.


"Hei kau kira aku Rajamu sampai bersujud segala." Ucap Kansuke.


"Aku minta maaf Tuan telah berani menganggu anda." Orang itu berkata dengan raut wajah memelas.


"Ini bukan salahmu sepenuhnya, lelaki pengecut itulah yang harus di salahkan." Kata Kansuke.


Kansuke membuka suara kembali, "Kamu boleh pergi dari sini. Tapi ingat jangan melakukan pekerjaan begini lagi."


"Iya Tuan, saya akan berhenti dari bekerja seperti ini lagi." Orang itu memberi hormat berniat untuk pergi.


"Harus...Kalau tidak sengaja aku melihat mu lagi bersama lelaki itu akan - ah cepatlah pergi aku sudah terlalu banyak bicara."


Orang itu akhirnya pergi. Hanya mereka berdua saja yang tersisa di ruangan tempat makan ini.


"Sampai kapan kalian ingin mengintip..." Ucap Kansuke pelan. Namun, masih terdengar jelas.


Xi Yan dan para pelayan yang ada di balik pintu tersebut segera keluar berjalan ke arah mereka berdua.


"Tolong kalian kubur ketiga mayat ini." Ucap Kansuke setelah mereka sampai di hadapannya.


Para pelayan itu ingin memuntahkan seluruh isi perutnya ketika mencium bau amis dari tubuh mayat di depannya.


Kansuke kemudian mengajak Kimura tempat berendam air hangat untuk membersihkan tubuh mereka yang sebagian terkena bercak darah.

__ADS_1


__ADS_2