
Pohon suci adalah pohon yang digunakan sebagai pengobatan di dunia persilatan Kekaisaran Meiji. Tabib-tabib yang sudah mempunyai nama atau terkenal sering memakai daun dari pohon ini sebagai bahan pengobatan.
Tapi di lihat dari pengolahannya, kalau masyarakat biasa memakainya dengan cara di rendam ke dalam air panas lalu menyeduhnya dan meminum air dari daun. Sementara tabib, hanya dengan mencampurnya dengan tenaga dalam yang mereka miliki.
Di hutan ini hanya ada satu pohon suci yang tumbuh, Akuma tadi pergi naik mengambil beberapa lembar daun. Sekarang ia dalam perjalanan kembali ke rumah gubuknya yang sudah ia buat selama beberapa puluh tahun yang lalu.
Dia tersenyum ramah ketika orang-orang menyapanya, tetapi langkah kaki dia berhenti,l ketika melihat salah seorang wanita yang terlihat sudah sangat sepuh dengan tubuh sedikit membungkuk berada di teras gubuk.
"Bagaimana kabarmu nona Ohori?" Tanya Akuma sambil berjalan ke teras salah satu gubuk.
Di teras gubuk tersebut sedang ada seorang wanita yang rambutnya seluruh sudah terlihat putih. Ia tersenyum ke arah Akuma.
"Baik-baik saja Tuan Akuma." Balas perempuan paruh baya yang bernama Ohori.
"Kamu sudah terlihat tua nona..." Berkata Akuma sambil tersenyum tipis.
"Haha... sudah mau diapalagi Tuan, ini sudah hukum alam." Ohori juga membalas sambil tertawa kecil.
Mereka berdua terlihat sangat dekat, Setiap Akuma keluar dan naik ke dalam hutan untuk mencari buah atau hewan. Akuma tidak lupa singgah menemui perempuan paruh baya itu.
Dahulu, Akuma yang jatuh ke dalam jurang merasa bosan dan kesepian karena di dalam lubang tanah yang sempit itu tidak ada yang bisa ia lakukan maupun berinteraksi kepada seseorang. Akhirnya karena bosan ia memutuskan untuk membuat seseorang masuk ke dalam sini agar menemaninya.
Yang pertama menjadi korbannya adalah Ohori. Pada saat itu ia mendengar seorang gadis menangis dengan beberapa langkah kaki seseorang. Menurut Akuma, gadis itu sedang di kejar oleh beberapa orang, jadi ia memutuskan untuk menarik tangan Ohori dan membawanya ke dalam jurang.
Karena semakin banyak seseorang yang ia bawa atau kasarnya ia "culik" ke dalam jurang, Akuma lantas berniat membuat sebuah Kampun kecil dengan cara memperlebar luas tanah dan dengan membuat gubuk dari memanfaatkan pohon dan daun-daun yang berada di hutan sebagai bahannya.
Dan dalam beberapa tahun Kampung kecil yang terletak di bawah tanah sudah dibuat olehnnya. Ia menguras habis tenaga dalam membuatnya.
"Tuan ingin membuat apa dengan beberapa daun itu." Ucap Ohori pelan, ketika melihat beberapa daun di tangan lelaki di depannya.
"Aku harus mengobati seseorang nona." Balas Akuma.
"Apa Tuan, menculik seorang pemburu lagi?" Ohori mengangkat wajah dan memandang Akuma.
Keempat mata mereka bertemu beberapa detik. Akuma memalingkan wajahnya terlihat agak malu-malu. "Bukan nona, tadi aku menolong seorang anak yang sedang sekarat di dalam hutan."
"Anak? Apa dia masih berusia remaja." Ucap Ohori sedikit tertarik.
"Benar nona. Anak itu terluka parah, makanya tadi aku naik ke atas untuk memetik daun ini." Jawab Akuma.
__ADS_1
Ohori tertarik mendengar anak itu, ia berniat bertemu dengannya.
"Sebenarnya aku sangat ingin bertemu dengan anak yang Tuan bicarakan, tapi... Aku sangat rindu ingin melihat kehidupan luar." Mata Ohori sedikit menunjukkan kesedihan.
"Maaf nona. Aku lupa pernah berjanji kepadamu bahwa setiap kali kamu meminta ingin melihat dunia luar aku akan membawamu ke atas." Ucap Akuma dengan senyum sedikit kecut.
"Tidak apa-apa Tuan, obati saja dulu anak yang sedang butuh pertolongan itu." Ohori berkata sembari menggelengkan kepala berulang kali.
"Setelah aku mengobatinya, segera aku akan datang ke sini menemuimu lagi." Ucap Akuma.
Ohori tersenyum menggangguk sebagai respons.
**
Seorang anak dengan keringat yang memenuhi tubuhnya sedang terbaring lemah di atas tempat tidur kayu. Akuma duduk di sampingnya, daun pohon suci ia sudah tumbuk halus lalu ia racik dengan beberapa bahan.
Daun yang sudah menjadi obat itu ia berikan ke beberapa titik di punggung Kimura. Ia juga mengalirkan sedikit qi nya ke tubuh Kimura agar mempercepat khasiat dari daun tersebut terserap ke dalam tubuhnya.
"Pengetahuan ku tentang ilmu pengobatan, memang tidak terlalu dalam. Tapi aku yakin setelah beberapa jam aliran tenaga dalam anak ini pasti kembali pulih..." Kata Akuma sambil mengelap keringat di dahinya.
Hawa panas di dalam gubuknya semakin naik.
"Ah. Aku sudah berjanji kepada nona Ohori untuk menemuinya setelah ini..." Akuma bangkit dari tempatnya duduk berniat pergi ke tempat perempuan parah baya tersebut.
**
Kimura merasakan sakit yang luar biasa di seluruh tubuhnya, rasa sakit itu menunjukkan dirinya masih hidup.
"Di...ma...na aku?" Ucapnya pelan.
Kimura membalikkan posisi badannya dan perlahan-lahan membuka matanya, ia melihat sebuah atap kayu yang terlihat sudah tua. Selain kesakitan dia juga merasakan sedang terbaring di atas tempat tidur kayu.
Kimura berusaha bergerak pelan-pelan bangkit dari tempatnya terbaring. Dia memegang berbagai benda atau apa yang mampu membuatnya berjalan. Udara dingin menghembus memasuki pakaiannya ketika membuka pintu tempatnya sekarang berada, membuat tubuh Kimura sedikit menggigil.
"Apa ini sebuah kampung...?"
Di depan matanya terlihat berjejer beberapa gubuk, yang hampir mirip dengan tempatnya sekarang berada. Tapi dia juga masih terlihat ragu untuk mendeskripsikan di mana sekrang ia berada.
"Aaahh..."
__ADS_1
Kimura tiba-tiba merasakan sakit di seluruh badannya, dia kemudian kembali berbaring karena merasa tidak kuat menahan sakit ketika sedang berdiri.
Rasa sakit di seluruh tubuhnya semakin menjadi-jadi ketika dalam posisi berbaring, yang membuatnya kembali kehilangan kesadaran.
**
"Makasih Tuan Akuma..." Ohori terlihat berlinang air mata.
"Aku sudah berjanji kepadamu nona untuk membawamu ke atas kapan pun nona mau." Akuma teringat kembali waktu pertama kali bertemu dengan perempuan paruh baya di depannya ini.
Mereka berdua sekarang berada di tengah hutan, tepatnya di bawah sebuah pohon Sakura. Pohon ini hanya tumbuh satu di dalam hutan ini dan letaknya berada pas di tengah hutan.
Hanya ini satu-satunya hiburan yang perempuan paruh baya ini punya.
"Seandainya saja lelaki itu tidak membuat penghalang di hutan ini. Aku akan membawamu menemui semua keturunanmu." Akuma berkata sambil memandang diam pohon di depannya.
Penghalang yang dia maksud adalah pohon Sakura yang berada di depannya. Dia hanya mampu berjalan sampai setengah luas hutan dan pohon itu sebagai penanda setengah penghalangnya.
Pernah suatu kali ia mencoba untuk melewati penghalang itu, tetapi baru selangkah berjalan tiba-tiba dia terlempar kebelakang seperti ada serangan tak kasat mata yang menghantamnya dari luar penghalang.
"Mungkin keturunanku sudah tidak mengetahui aku siapa Tuan." Ohori tersenyum pahit.
"Sepertinya sih iya, tapi kau masih terlihat cantik mungkin mereka mengenalimu." Akuma sedikit memberikan semangat perempuan paruh baya di sampingnya ini ketika mengatakan hal itu dia terlihat sedih.
Meskipun Ohori sudah terlihat sangat tua dan garis-garis keriput sudah memenuhi wajahnya. Namun, aura kecantikannya masih terlihat dengan kulitnya yang sangat putih, matanya sipit, dengan bentuk muka bulat itu membuatnya masih terlihat cantik.
Ohori hanya tersenyum tipis membalas perkataan Akuma.
Keheningan tercipta beberapa saat, keduanya memandang diam pohon di depannya sambil merasakan jatuhnya daun-daun pohon itu ke wajah mereka.
"Seperti kita tidak bisa berada di sini lebih lama lagi nona. Aku harus melihat perkembangan anak itu." Ucap Akuma menoleh ke Ohori.
"Bolehkah aku ikut denganmu, Tuan. Untuk menemui anak itu." Balas Ohori.
"Dengan senang hati nona, tetapi tidak apa-apa kan kalau aku menggendong mu lagi..." Nada bicara Akuma sedikit malu-malu.
Akuma sebenarnya sudah sering kali menggendong Ohori, ketika wanita itu ingin pergi ke sini. Namun, tetap saja dia masih merasa malu-malu.
"Aku sudah bosan mendengar perkataanmu itu Tuan." Ohori tersenyum tipis sembari berjalan dan bersandar ke badan Akuma.
__ADS_1
"Maaf nona..."
Akuma kemudian terbang di atas pepohonan sambil menggendong Ohori, lalu kemudian turun ke dalam jurang yang dasarnya sangat dalam.