
Mereka bercengkrama dengan tempo sedang. Yamaguchi banyak memberitahukan tentang sejarah dan seluk beluk Kampung.
Setelah beberapa waktu berlalu mereka berpamitan ke Ohori dan pulang ke gubuk masing-masing.
Di tengah perjalanan pulang, Akuma dan Kimura yang sedang berjalan, di hampiri oleh seorang warga.
"Tu-Tuan..." Ucap warga itu, nafasnya terburu-buru.
Akuma dan Kimura menoleh ke arah warga tersebut.
"Ada apa?" Tanya Akuma kepada warga itu.
"Di-di- sana Tuan." Warga itu berkata sambil menunjuk ke satu arah. Raut wajah terlihat cemas.
"Tenang dulu, coba tarik nafas pelan-pelan lalu hembuskan dan kemudian berceritalah." Akuma memegang pundak warga itu berusaha menenangkan.
Akuma juga merasakan firasat buruk saat melihat wajah warga itu yang terlihat ketakutan.
Warga itu mengikuti mengikuti instruksi Akuma. Lalu kemudian berkata dengan pelan, "Siluman kera banyak bermunculan dari dalam air Sungai Kuro, Tuan..." Katanya pelan, namun masih terlihat seperti ketakutan karena terpancar jelas.
'Apa yang terjadi lagi' batin Akuma.
"Kamu pergi ke kediaman Tuan Yamaguchi untuk memberitahunya soal perihal Siluman itu, aku akan duluan ke sana mengatasi para Siluman." Jelas Akuma.
"Siap, Tuan." Balas warga itu dan langsung berlari cepat ke tempat tinggal Yamaguchi.
"Nak, kamu kembali saja ke gubuk, nanti Kakek kembali." Ucap Akuma kepada Kimura. Jelas saja Akuma tidak akan membawanya sambil menghadapi Siluman itu. Dia mengkhawatirkan bisa-bisa anak ini yang dalam bahaya.
"Tapi, Kek..." Kata Kimura pelan.
"Turuti saja perkataan Kakek." Akuma tidak menunggu respons Kimura, dia langsung berlari ke tempat para Siluman kera bermunculan.
Kimura hanya memandang diam kepergian Kakeknya, dia kemudian menuruti perkataannya dan melangkah ke gubuk yang tempati.
**
Setelah berada tidak jauh dari Sungai Kuro, Akuma melihat beratus-ratus siluman kera denga berbaris rapi dan sebagian juga masih ada yang keluar dari dalam air lalu kemudian berbaris seperti yang lain. Kera-kera itu mempunyai bulu berwarna hitam, di dahi mereka masing-masing terlihat ada batu mulia berwarna putih.
Akuma sedikit terkejut melihat semakin banyaknya siluman yang bermunculan dari dalam air.
__ADS_1
Uuaauuaa!
Kera-kera yang telah berbaris rapi, semuanya tiba-tiba bersuara sambil memukul-mukul dada.
Akuma yang merasa heran melihat mereka semua serentak bersamaan bersuara, lantas Akuma mengalihkan pandangannya ke air sungai. Dia merasakan aura yang berbeda dari para kera yang lain dari arah sana. Setelah beberapa lama, Akuma melihat satu siluman kera yang berbeda dengan lainnya keluar dari dalam air Sungai Kuro.
Ukuran badannya dua kali lebih besar dari siluman kera yang lain.
"Kemungkinan kera yang berbadan besar itu adalah pemimpinnya." Gumam Akuma, dalam nada bicarnya terdengar sedikit keheranan.
Beberapa puluh tahun yang lalu setelah Akuma membangun kampung ini, sebuah sungai yang mempunyai air berwarna hitam tiba-tiba muncul di sudut barat kampung ini. Sebelum kemunculan sungai misterius itu, malam harinya terjadi gempa.
Setahun setelah kemunculan sungai misterius itu. Siluman kera tiba-tiba keluar dari dalamnya dan menyerang sebagian warga. Namun, korban dari penyerangan para siluman kera itu tidak banyak, karena siluman kera hanya berjumlah belasan yang dalam beberapa detik Akuma bisa menghabisinya. Namun, kali ini...
"Mengapa bisa banyak sekali siluman yang bermunculan." Gumam Akuma sambil terus memperhatikan gerak gerik para siluman dari atas pohon.
Suara raungan ratusan siluman kera itu terhenti setelah pemimpinnya berada di hadapan mereka semua.
Jika ingin di jumlahkan secara kasar mungkin siluman kera total berjumlah 150.
Pemimpin para siluman kera itu terlihat sedang berbicara dengan kera yang lain menggunakan bahasa yang Akuma tidak mengerti. Setelah selesai berbicara, suara raungan teriakan para siluman kera kembali terdengar. Dan semuanya langsung bergerak masuk ke arah kampung.
Uuaaaaaaa!
Teriak para siluman kera itu ketika melihat Akuma, mereka kemudian mengelilingi Akuma sambil menatapnya gusar.
"Mau mau mengacau di kampung ini?" Ucap Akuma sembari tersenyum tipis. "Hadapi aku dulu."
Akuma yang telah menguasai tingakat pengaliran qi, dia alirkan sedikit qi ke kepala tinjuannya. Kedua tangannya di seketika selimuti aura yang berwarna kuning ke emasan.
Dia kemudian memberikan beberapa tinjuan ke beberapa siluman kera yang mencoba menyerangnya dan bergerak cepat menyerang yang lainnya. Serangannya mengenai bagian vital siluman kera, yang membuat dia dalam sekejap telah membunuh belasan siluman.
Pemimpin para siluman kera menjadi geram, melihat bawahannya yang lain telah di habisi dengan mudah. Dia kemudian terlihat berbicara kepada siluman kera yang lain, lalu bersiap-siap ingin menyerang Akuma.
Kikikkk...
Siluman kera berbada besar itu menunjukkan gigi taringnya dan tiba-tiba menyerang Akuma menggunakan cakarnya.
Akuma yang melihat serangan yang lebih kuat datang dari arah sampingnya segera menghindari cakaran itu.
__ADS_1
"Dasar siluman kera licik." Katanya pelan sambil menangkis serangan pemimpin siluman kera itu.
Siluman kera yang lain pergi masuk ke kampung. Akuma tidak bisa menghadang mereka karena sedang di sibukkan oleh sebagian dari para siluman itu dan di tambah oleh lagi ia sedang berhadapan dengan pemimpinnya.
"Kekuatan siluman kera ini sangat berbeda dari yang lain." Dia merasakan kekuatan dari pemimpin para siluman kera ini telah berada di tingkat puncak Naga.
"Semoga Tuan Yamaguchi bisa mengevakuasi warga dan mengatasi para siluman kera yang bergerak masuk itu." Gumam Akuma sambil menangkis serangan-serangan para siluman yang sedang ia hadapi.
**
"Apa...! Makasih sudah memberi tahuku, kamu beritahu kepada semua warga untuk berkumpul di depan gubuk nona Ohori." Ucap Yamaguchi.
Dia sedikit panik mendengar kabar itu. Ia mengambil katananya dan berniat segera membantu Akuma.
"Tapi, Tuan Akuma menyuruh anda berjaga di sini." Balas warga itu.
Yamaguchi menatap dingin warga yang berjenis kelamin lelaki itu.
"Tidak, mungkin aku membiarkannya menghadapi para siluman itu sendrian." Ucapnya pelan.
"Lagi pula masih ada yang lain akan menjaga kalian semua." Yamaguchi berkata sembari berjalan.
Ketika baru berjalan tidak jauh dari gubuknya ia tak sengaja bertemu dengan Damato.
"Beruntung kita bertemu di sini Tuan Damato, aku serahkan tanggung jawab warga kepadamu." Ucapnya kepada Damato.
Setelah berkata demikian, ia langsung meninggalkan Damato yang masih berdiri dengan raut wajah bingung tidak mengerti.
"Apa maksudnya?" Damato mengangkat alisnya. Kemudian menoleh ke arah warga yang terlihat ketakutan.
Dia kemudian di jelaskan tentang situasi yang terjadi.
"Siluman yah...Kau melihat sekitar berapa jumlah siluman itu?" Tanya Damato kepada warga itu.
"Ra-ratusan Tuan." Ucap sang warga dengan sedikit terbata-bata.
"Ha! Ratusan?" Damato terkejut mendengarnya.
"Ayo cepat! Kita evakuasi para warga yang lain." Ketusnya. Ia kemudian bergerak ke arah yang lain berniat pergi ke kediaman Ohori terlebih dahulu, lalu pergi ke tempat masing-masing warga untuk di evakuasi.
__ADS_1