
Kampung ini pada awalnya, cuman memiliki beberapa penduduk saja, namun seiring dengan berjalannya waktu, penduduk yang tinggal di sini semakin bertambah.
Tidak perlu di tanyakan lagi apa sebabnya, sudah jelas pemeran utama yang membuat penduduk kampung bertambah pesat tak lain adalah seorang lelaki berambut putih keperakan panjangnya hampir sepunggung itu siapa lagi kalau bukan, Akuma.
Akuma pernah mengalami penyesalan yang sangat lama dan mendalam, dia menyesal karena telah mengambil kehidupan banyak orang secara paksa dengan cara menculik paksa lalu membawanya kesini...
Akuma beserta Ohori telah berada tak jauh dari gubuk tempatnya tinggal. Akuma segera berlari ketika melihat pintu gubuknya terbuka.
"Ada apa, Tuan?" Ohori bertanya sembari berjalan menyusul Akuma yang sudah berada di pintu gubuk.
Perasaan lega segera menyelimuti hati Akuma, saat melihat Kimura masih terbaring. Dia sudah mengetahui anak itu tadi sadar dan ia yakin anak itulah sendiri yang membuka pintu gubuk, tetapi satu yang dia khawatirkan adalah dia takut Kimura tersesat dan pergi ke suatu tempat paling berbahaya di dalam area kampung ini.
"Syukurlah dia tidak ke mana-mana." Akuma menghembuskan nafas pelan. Lalu menjawab pertanyaan Ohori, "Tidak apa-apa nona."
"Aku merasakan Aura yang berbeda ketika berada di dalam gubukmu ini, Tuan." Ohori telah berada di dalam gubuk sambil matanya fokus kepada seorang anak remaja yang terlihat wajahnya sangat pucat.
"Aku sedikit terkejut, nona bisa merasakan Aura ini." Balas Akuma sambil tersenyum tipis.
"Mungkin, Tuan sudah lupa bahwa aku ini juga memiliki tenaga dalam, walaupun sedikit." Kata perempuan paruh bayah itu yang matanya masih fokus memandang ke depan.
"Hehe. Aku lupa bahwa pernah mengajari Nona, sedikit tentang bela diri..." Akuma sedikit tertawa kecil kemudian berkata, "Sumber Aura itu berasal dari anak ini, nona."
Ohori sedikit terkejut mendengar pernyataan tersebut, "Bagaimana anak itu bisa memiliki Aura. Padahal, menurut perkiraan aku usia dia belum genap 15 tahun."
"Aku juga tidak mengerti, nona. Namun, aku pernah mendengar sebuah legenda yang bernama Aura Naga Api. Anak bayi pun bisa memiliki sebuah Aura ketika di takdirkan mempunyai Aura Naga Api tersebut." Akuma menjelaskan secara detail.
Ohori hanya mengangguk lalu kemudian membuka suara kembali, "Terus, bagaimana anak ini bisa terluka parah."
"Ketika aku sedang bersemedi. Tiba-tiba indraku merasakan sebuah Aura yang sangat aneh dan mengerikan berasal dari dalam hutan. Karena penasaran, aku naik ke hutan. Dan pada saat itu aku melihat anak ini sedang terbaring lemas dan Aura itu tepat berasal darinya." Jelas Akuma.
"Mmm...Apa Tuan sudah mengetahui namanya?" Tanya Ohori.
"Dia sudah terlebih dahulu kehilangan kesadaran ketika aku ingin membawanya ke-."
"Siapa Kau sebenarnya!"
__ADS_1
Ucapan Akuma terpotong ketika Kimura tiba-tiba berteriak.
Akuma dan Ohori senang saat melihat anak di depannnya ini sudah sadar dan perlahan-lahan membuka matanya.
"Mengapa aku bermimpi ketemu orang itu lagi..." Kimura berkata sembari mengganti posisinya dalam posisi duduk.
Kimura bermimpi bertemu siluet hitam itu lagi. Ketika dirinya sudah tenang dia kemudian menoleh-noleh memperhatikan tempatnya sekarang berada.
Ketika Kimura menoleh ke kiri, matanya menemukan dua seseorang yang berbeda gender dan terlihat sudah sangat tua sedang tersenyum ke arahnya.
"Si..siapa kalian?" Tanya Kimura raut wajahnya terlihat bingung.
"Kamu bisa memanggil aku Kakek Akuma..." Ucap Akuma sambil masih tersenyum. "Dan ini kamu juga bisa memanggilnya dengan sebutan apapun."
"Aku Nenek Ohori..." Sela Ohori sembari mengulurkan tangannya.
Kimura membalas uluran tangannya dengan cara bersalim, "Nama aku Kimura, senang berkenalan dengan kakek dan nenek."
Ohori sangat senang sekali melihat keramahan anak yang berada didepannya ini.
"Kalau begitu, kami berdua pergi dulu. Agar kamu cepat pulih, karena itu kami tidak akan menggagumu." Kata Akuma.
"Sepertinya akan menjadi sebuah perbincangan yang panjang, Nak." Jawab Akuma singkat lalu kemudian ingin melangkah keluar gubuk. "Satu hal, jangan kamu lupa minum ramuan itu."
Kimura mengalihkan pandangannya ke ramuan berwarna hijau yang terletak di sudut di atas sebuah meja kayu kecil.
"Iya, Kek." Kimura mengangguk pelan.
**
Kenyataannya, Anda tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Hidup adalah pengendaraan yang gila dan tidak ada yang menjaminnya.
Anda tidak bisa meramalkan masa depan, sekalipun dalam satu detik ke depan. Anda bisa saja berencana untuk menghabiskan waktu dengan siapa dan seperti apa, tapi Anda tidak bisa menjamin pasti bisa melakukan hal tersebut dan berapa lama Anda akan hidup di dunia ini.
Maka dari itu, nikmati kehidupan yang Anda miliki, bersyukur dan berbahagia dengan segala yang Anda punya akan membawa Anda pada hakikat kehidupan yang sesungguhnya.
__ADS_1
Pada usia yang masih begitu muda ini, Kimura telah mengalami dan merasakan kesakitan dalam hal fisik dan mental, tetapi dia sangat bersyukur masih di berikan kehidupan oleh Sang pencipta. Dia berjanji akan membalaskan kematian kedua Orang Tuanya.
Meskipun, sebagian tubuhnya masih merasakan sakit. Dia berusaha bangkit dari tempatnya berbaring. Dia tidak ingin seperti ini terus.
"Mengapa tubuhku menjadi sakit begini?" Kimura berkata pelan.
Pikirannya kembali teringat waktu berada di dalam hutan. Dia mengingat kejadian itu terulang kembali sama seperti waktu bertemu individu bertopeng saat kematian ibunya.
"Ketika aku sedang marah. Mengapa tiba-tiba aku menjadi sangat kelelahan dan..." Ucapnya, sambil pikirannya mengingat-ngingat kejadian itu. "Tubuh-tubuh di hutan itu?"
Sekilas sebelum kehilangan kesadaran saat berada di hutan dia melihat berbagai potongan tubuh manusia yang tidak ia ketahui dari mana asalnya.
"Aku harus menemui Kakek dan Nenek itu." Kimura membutuhkan tenaga yang besar hanya untuk bangun dari posisi baringnya.
"Aaahhh..." Kimura yang sudah dalam posisi duduk jatuh kembali ketika ingin berdiri.
Akuma dan Ohori hanya berada di halaman teras gubuk terlihat sedang berbincang segera lari masuk ketika mengengar suara erangan kesakitan Kimura.
"Kamu tidak boleh banyak bergerak, Nak." Kata Akuma dengan raut wajah cemas.
"Maaf Kek, soalnya aku tadi berniat mencari kalian berdua." Berkata Kimura pelan.
"Iya, tapi kamu harus menjaga kondisimu agar cepat pulih." Balas Akuma.
Durrrrr...
Terdengar suara petir, yang menandakan seberntar lagi akan turun hujan.
"Tuan, sepertinya aku harus kembali karena hujan sebentar lagi akan turun." Ohori meminta izin untuk segera kembali ke gubuknya karena takut kehujanan.
Lagi pula, keadaan sekarang sudah malam. Kampung ini cukup gelap ketika malam hari sumber cahaya hanya dari lubang jurang saja.
"Silahkan nona..." Ucap Akuma mempersilahkan Ohori.
Ohori mengangguk tersenyum lalu berkata kepada Kimura, "Sampai ketemu lagi besok, cucuku."
__ADS_1
Ohori mencubit pipi Kimura lalu melangkah pergi.
Beberapa saat setelah kepergian Ohori. Akuma kemudian memberitahu agar Kimura beristirahat kembali.