
-Penginapan Bunga Sakura-
Kansuke membawa pergi Kimura, karena situasi Klan sekarang sudah tidak aman lagi bagi mereka. Awalnya Kimura tidak mau pergi karena merasa ayahnya akan kembali. Namun, dengan usaha keras Kansuke meyakinkannya, agar ia mau ikut meninggalkan Klan ini.
Pada saat di perjalanan tanpa tujuan itu, Kansuke melihat sebuah Kedai.
"Nak, bagaimana kalau kita singgah di kedai itu? Kelaparan membuat cacing di perut paman memberontak." Tanya Kansuke memegang perutnya sambil tersenyum tipis.
"Iya paman..." Jawab Kimura pelan dengan tatapan mata yang kosong.
Di depan mereka memang terdapat sebuah Kedai berukuran cukup besar. Kansuke merasa makanan di sana pasti enak, karena halaman depan Kedai tersebut terlihat banyak kuda, yang menandakan bahwa pengunjung juga banyak berdatangan ke Kedai tersebut.
Kansuke yang menunggangi kuda, berhenti tidak jauh di depan Kedai itu, dia kemudian turun terlebih dahulu, lalu menggendong Kimura untuk turun.
"Jaga baik-baik katana ini, Nak." Kansuke menunjuk katana di tangan Kimura yang sudah di bungkus kain berwarna putih.
"Siap paman." Jawab Kimura sembari menggangguk pelan. Dan kemudian memasukkan katana itu ke dalam pakaiannya.
Kansuke mengikat kuda di salah satu penyangga Kedai, lalu melangkah masuk bersama Kimura.
Pandangan pertama yang ia lihat ketika sampai di pintu Kedai adalah berbagai pengunjung yang terlihat berprofesi sebagai pedagang sedang berbincang-bincang dengan koleganya, dan ada juga sepasang sepasang kekasih yang sedang menyantap makanan. Berbagai pengunjung hampir memenuhi ruangan ini.
Mereka kemudian mencari tempat yang kosong, mata Kansuke tertuju pada meja dengan tiga kursi sebagai tempat untuk duduk. Meskipun, duduk di meja yang terletak paling ujung dari ruangan ini. Namun, ia masih mendengar sedikit percakapan pengunjung.
"Aku mendengar dari temanku bahwa peperangan terjadi di Klan Uesugi."
"Memang, aku juga mendengar kabar itu, ada rumor yang mengatakan bahwa ketua Klan tersebut tewas beserta Tetua-tetuanya."
Kansuke kemudian kembali ke niat awalnya kesini. Dia mengangkat tangan memanggil pelayan.
Salah seorang pelayan wanita kemudian menghampirinya.
"Selamat datang di Penginapan Bunga Sakura." Pelayan tersebut berkata sembari tersenyum ramah.
Kansuke seketika terlihat kebingungan, ia merasa sekarang ada di sebuah Kedai, tapi mengapa pelayan itu mengatakan ini adalah Penginapan.
"Ini Penginapan?" Tanya Kansuke.
Pelayan tersebut mengerti mengapa lelaki di depannya ini memasang ekspresi kebingungan, ia sudah sering kali mendengar pertanyaan itu setiap ada pengunjung mampir kesini.
"Ya. Ini Penginapan, terlihat memang seperti sebuah Kedai, Tuan lihat pintu itu." Pelayan menunjuk sebuah pintu tertutup yang berada di belakangnya. "Kalau Tuan memasuki pintu tersebut, Tuan akan menjumpai berbagai kamar. Ruangan ini langsung terhubung ke Penginapan." Setelah memberikan penjelasan pelayan tersebut mengehela nafas pelan.
Kansuke tersenyum mengangguk sebagai respons dan kembali berkata, "Namun, aku masih belum mengerti mengapa ruangan ini banyak sekali di datangi oleh pengunjung, yang hanya sekedar singgah untuk mengisi perut."
"Ruangan ini pertama kali di buat awalnya untuk para pengunjung yang menginap, tapi dengan bertambahnya waktu semakin lama orang-orang datang kesini hanya untuk makan." Ucap pelayan wanita itu.
"Aku tahu itu, tapi kau tidak menjawab pertanyaanku tadi tentang mengapa banyak pengunjung datang ke sini dengan niat hanya ingin mengisi perut." Balas Kansuke.
Pelayan tersebut kembali menghela nafas sambil memasang ekspresi rumit.
__ADS_1
"Karena makanan di sini di kenal enak, mungkin sebab itulah pengunjung yang awalnya hanya ingin menginap, ketika mengetahui bahwa di sini makanannya nikmat mereka kemudian memberi tahu teman-temannya agar datang kesini." Pelayan tersebut berhenti, lalu kembali membuka suara. "Pemilik penginapan ini kemudian berfikir untuk memperbesar ruangan ini, lalu berniat membuat semacam rumah makan yang kurang lebih sama dengan Kedai."
Kansuke ingin ketawa melihat ekspresi pelayan tersebut. Namun, karena merasa tidak enak ia lebih baik menahannya.
"Oh ya, aku ingin memesan 2 sup daging dan jangan lupa hidangkan arak terbaik kalian yang punya." Kata Kansuke, memesan makanan.
"Baik Tuan." Jawab pelayan itu.
Setelah pelayan tersebut pergi, Kansuke kemudian menoleh ke kiri memandang Kimura yang sedari tadi hanya diam.
"Paman berfikir lebih baik kita menginap sehari di sini. Apa kau setuju?" Tanyanya.
"Kalau aku, terserah Paman saja." Jawab Kimura pelan.
Terlihat matahari sebentar lagi akan terbenam, sore berganti ke malam, cahaya berganti kegelapan.
Beberapa saat menunggu, makanan yang dia tunggu-tunggu akhirnya datang.
"Dari baunya saja udah terlihat sangat menggoda apalagi rasanya..." Kansuke berkata sambil merogoh-rogoh sakunya.
"10 koin Perunggu Tuan..." Kata pelayan tersebut.
Mata uang di Kekaisaran ini adalah perunggu, perak, dan emas.
"Sepertinya aku tidak memperhatikan keuanganku..." Kansuke tersenyum malu. "Bagaimana kalau aku, membayar makanan ini dengan tenagaku."
"Maksudnya Tuan?." Pelayan wanita itu terlihat tidak mengerti.
"Ku tanyakan terlebih dahulu ke atasanku." Ucap Pelayan wanita itu.
Pelayan itu pergi melapor ke atasannya, dan beberapa saat kemudian pelayan tersebut kembali lagi, tetapi tdak sendirian, dia datang bersama dengan seorang lelaki yang memiliki perut buncit dan berkumis tebal sekilas berusia 40 tahun.
"Perkenalkan nama saya Xi Yan." Lelaki bernama Xi Yan itu mengulurkan tangan.
Kansuke membalas jabatan tangan lelaki tersebut. Namun, tidak menjawab perkataan perkenalannya. "Xi Yan? Berarti anda bukan dari kekaisaran Meiji?" Tanya Kansuke.
"Saya memang bukan berasal dari kekaisaran ini..." Xi Yan menggelengkan kepala pelan. "Bolehkah saya tahu nama anda."
"Oh ya. Nama saya Kansuke." Katanya sembari tersenyum tipis.
Xi Yan mengangguk.
"Pelayan ku memberi tahu bahwa anda ingin membayar makanan ini dengan cara mencuci piring." Ucap lelaki yang bernama Xi Yan.
"Hehe, iya Tuan. Apa saya bisa membayar dengan cara seperti itu..." Kata Kansuke pelan, terlihat sedikit malu.
Kimura yang sedari tadi diam, kini berkata, "Kimura juga akan membantu Paman."
Pandangan Xi Yan sekilas jatuh ke anak kecil yang bersuara tersebut, lalu mengembalikan padangannya kembali ke Kansuke.
__ADS_1
"Tentu bisa. Tapi saya heran mengapa anda sampai tidak punya uang sama sekali?" Tanya Xi Yan.
"Pertanyaan seperti ini jelas tidak akan ku jawab. Bodohkan kalau aku mengatakan Klan ku di serang dan di ambil alih makanya aku tidak punya uang." Kansuke larut dengan pikirannya.
"Tuan?" Xi Yan mengerutkan dahi.
Perkataan Xi Yan memutus rantai pikirannya, membuatnya memandang kembali lelaki itu.
"Aku hanya pengembara Tuan, yang berasal dari tempat jauh, karena tidak memperhatikan keuangan saat singgah di berbagai tempat aku jadi kehabisan uang..." Katanya pelan.
"Apakah saya bisa makan Tuan, setelah itu aku berjanji akan mencuci semua piring... Karena aku harus segera pergi sebelum langit semakin gelap." Ucap Kansuke sedikit merasa terganggu karena orang di depannya, mengajaknya terus berbicara.
"Maaf karena mengganggu anda..." Xi Yan tertawa kecil, tetapi kembali membuka suara, "Mengapa anda ingin melanjutkan perjalanan malam-malam begini, di luar bahaya ketika malam tiba."
"Apa anda ingin menyuruh saya membersihkan yang lain agar bisa menginap di tempat anda." Kansuke mengangkat satu alisnya.
"Bu..bukan begitu Tuan, tapi kenyataannya di luar memang berbahaya pada saat malam hari." Balas Xi Yan.
"Apa tempat ini bisa menggadaikan sesuatu?" Ucap Kansuke.
"Menggadaikan barang sering di lakukan pedagang ketika singgah di sini saat kekurangan uang." Balas Xi Yan.
Kansuke mengambil katana dari balik pakaiannya, ia berniat menggadaikan katananya agar bisa menginap di sini.
"Aku ingin menggadaikan katana milikku." Kansuke meletakkan katananya di atas meja.
Keringat dingin mengucur dari pelipis Xi Yan, teringat waktu ia mengiyakan orang di depannya ini saat meminta agar membayar dengan tenaganya. DIa tahu kalau orang di depannya ini mau, dia bisa di bunuh dengan mudah.
"Maafkan saya Tuan Kansuke!" Ucap Xi Yan sembari bersujud di lantai sambil memegang kaki Kansuke.
Kansuke yang merasa tidak nyaman, lantas mengangkat badan lelaki itu.
Seorang Samurai sangat di hormati di seluruh penjuru kekaisaran ini. Namun... Xi Yan hampir mencari masalah dengan seorang Samurai. Yang membuatnya kini sangat merasa bersalah.
Kansuke dan Xi Yan kembali duduk.
"Apa bisa saya menggadaikan ini untuk menginap sehari." Kansuke kembali mengulangi perkatannya.
"Tidak berani, tidak berani!" Xi Yan menggelengkan kepalanya berulang kali. "Tuan boleh menginap dan makan sepuasnya di sini."
"Kalau begitu saya dan keponakan ku akan bantu membersihkan tempat ini." Katanya.
Xi Yan ingin membuka mulut tapi kalah cepat dengan Kansuke.
"Tidak apa-apa Tuan Yan." Ucap Kansuke sambil tersenyum tipis.
"Kalau begitu silahkan makan Tuan. Nak, kalau mau tambah, panggil pelayan yah." Balas Xi Yan dengan sedikit perubahan dalam nada bicaranya.
"Makasih paman..." Respons Kimura.
__ADS_1
Xi Yan kemudian memberi hormat lalu kembali ke ruangannya.
Mereka pun makan dengan lahap. Setelah makan, pada saat malam tiba. Kansuke kemudian mengajak Kimura untuk beristirahat. Sesampainya di kamar, mereka berdua langsung ambruk di atas kasur.