Legend Of Samurai

Legend Of Samurai
Ch 6 : Pertempuran Hidup Dan Mati


__ADS_3

"Tidak akan ku biarkan kalian melewati gerbang ini walau hanya sejengkal!" Seru Goto Matabei.


Goto Matabei beserta para Tetua dan murid yang lain sudah berada di gerbang menghadang Saji Obata, Tang Ryu, dan pasukannya.


"Akan ku ingat perkataan mu itu tua bangka, dan semoga saja kau bisa menepati perkataanmu." Tang Ryu berkata dengan nada yang agak sedikit menghina.


Ribuan pasukan saling berhadap-hadapan dengan tangan bersiap-siap menarik katana yang masing-masing tersarung di pinggang. Saji Obata turun dari kuda yang ia tunggangi, lalu melangkah dan berhenti di samping Tang Ryu.


"Perkenalkan aku Saji Obata, Jenderal yang di tugaskan untuk memimpin kudeta ini. Aku ingin memberi anda dua pilihan. Pertama, kalian tunduk kepada kami dan kalian tetap di biarkan hidup atau..."


Belum selesai berbicara Goto Matabei sudah memotong perkataannya.


"Atau apa! Jelas kami akan memilih pilihan kedua." Ucap Goto Matabei sembari memegang gagang katananya.


"Oho, aku juga tidak memaksakan agar kau memilih pilihan pertama, tetapi sebelum aku menghabisi kalian, aku ingin mengetahui satu hal dari kau tentang siapa yang membunuh sahabatku Tanaka Yoshi." Ujar Saji Obata.


Sang ketua hanya tersenyum tipis membalas sebagai respons, lalu berkata. "Binatang peliharaan itu pantas mendapatkan kematiannya..."


Saji Obata yang sedari tadi menahan amarahnya agar dapat bernegosiasi sesuai dengan perintah Tuannya. Kini, sudah tidak bisa ia tahan lagi, mendengar sahabat kecilnya di hina.


Dan sesuai dengan pilihan ke 2 yang di berikan oleh Tuannya, menghabisi tanpa menyisakan satu pun yang tersisa adalah tindakan yang harus ia lakukan saat ini.


"Serang!!" Perintah Saji Obata.


Setelah memberi perintah, ia lalu menarik katana dari sarung yang berada di pinggangnya kemudian menyerang Goto Matabei.


Goto Matabei masih tidak bergerak dari tempatnya berdiri, ia hanya melihat serangan tersebut di arahkan tepat ke lehernya.


Beberapa centi sebelum serangan itu menyentuh nadi di lehernya.


Trang...


Takeda sudah berada di depannya menangkis serangan tersebut.


"Kau tidak pantas berhadapan dengan ketuaku." Ucap Takeda dengan senyum arogan terpatri di bibirnya.


"Terlalu arogan sekali..." Kata Saji Obata.


Saji Obata menambah kekuatan serangannya dengan beberapa kali melayangkan serangan bertubi-tubi.


Tentu saja Takeda dapat menangkis semua serangan itu. Namun, ia di buat terkejut oleh kekuatan yang di keluarkan sang jenderal.


"Tingkat Bulan?! "Gumam Takeda dengan raut wajah yang menandakan keterkejutan.


"Apa ada masalah?" Ucap Saji Obata sambil tersenyum mengejek.


"Sepertinya aku harus memakai seluruh kemampuanku melawannya." Takeda berkata dalam hati. Dia kemudian membalas menyerang balik dengan mengincar bagian vital Saji Obata.


Goto Matabei kemudian menoleh kanan kiri mencari keberadaan sang penghianat.


Tang Ryu terlihat sedang berhadapan dengan beberapa Tetua, di bantu dengan beberapa Letnan yang sudah mencapai tingkat Singa dan Naga membuat para Tetua Klan terdesak.


Trang, Trang, Trang...


Goto Matabei menyerang Tang Ryu sambil melayang di atas. Sebelum kemudian mendarat di hadapannya.


"Usia sepertinya mempengaruhi pergerakanmu." Tang Ryu berkata setelah mengambil jarak aman.

__ADS_1


"Aku tidak menyangkal itu, tetapi demi harga diri Klan Uesugi, aku berjanji tidak akan kalah menghadapi makhluk hina sepertimu-!"


Setelah kata "sepertimu" keluar dari mulutnya, ia langsung bergerak menyerang.


Tang Ryu dan Goto Matebei berada di tingkat Bulan. Namun, sudah terlihat begitu jelas perbedaan kekuatan mereka berdua setelah bertukar beberapa jurus. Goto Matabei sudah mencapai tahap 4 dalam tingkatan Bulan, satu tahap lagi ia sudah berada di puncaknya. Sementara, Tang Ryu sekitar dua bulan yang lalu baru mencapai tingkatan Bulan tahap 1.


Membutuhkan waktu yang panjang dan kerja keras, dalam naik ke tahap selanjutnya. Goto Matabei unggul dalam segala hal, hanya soal kecepatan saja sedikit di bawah Tang Ryu.Ia berusaha menutupi kelemahan itu dalam hal kecepatan. Namun, Tang Ryu masih lebih cepat dari perkiraannya.


Sehabis bertukar beberapa puluh jurus, mereka melompat mundur dengan tubuh mereka yang masing-masing terluka. Nafas Goto Matabei sudah terlihat agak memburu dengan luka sayatan di sebagian tubuhnya.


Sedangkan, Tang Ryu sama sekali tidak terlihat kelelahan, nafasnya pun terlihat masih stabil, tetapi ia terluka cukup parah, telinga yang selama ini menjadi indra pendengarannya sekarang tinggal satu, karena telinga kirinya terputus akibat serangan Goto Matabei, bukan hanya itu saja terlihat tebasan yang cukup dalam berhasil mengenai bahu kanannya.


"Arghh. Dasar tua bangka!" Tang Ryu memegang telinganya yang terputus dan sedang mengeluarkan darah.


"Kalau di lanjutkan, mungkin bagian tubuh mu yang lain akan mendapat gilirannya." Goto Matabei berkata sambil tersenyum tipis.


Tang Ryu menggemeretakkan gigi, "Jaga omonganmu, akan ku pastikan nyawamu yang akan terlebih dahulu ku ambil!"


Keduanya melepaskan aura petarung yang dahsyat. Lalu melanjutkan pertarungan yang sempat tertunda beberapa saat tadi.


Sedangkan di sisi lain, tidak jauh dari pertarungan keduanya. Terlihat dari pihak Klan Uesugi sedang terdesak.


Para Tetua yang lain sudah membentuk formasi dan bekerja sama dalam melawan musuh. Namun, dengan kekuatan pihak musuh yang berada di atas, mustahil untuk mengalahkan mereka. Puluhan Tetua sedang di sibukkan oleh ratusan Letnan yang di bawa oleh Saji Obata. Pasukan yang di pimpin oleh Saji Obata benar-benar unggul dalam segi kualitas.


Situasi yang menimpa Takeda pun tidak jauh berbeda. Ia yang berduel dengan Saji Obata hanya melepaskan beberapa jurus, selebihnya dia hanya bertahan.


"Sampai kapan kau akan bertahan terus." Ucap Saji Obata sembari bergerak lincah menyerang.


Kekuatan serangan yang Saji Obata lepaskan selalu membuat Takeda terseret mundur setiap kali ia menangkis.


"Haha...berdiri saja kau sudah tidak mampu." Saji Obata berucap sembari berjalan mendekatinya.


Takeda yang dalam posisi membungkuk menggunakan katananya sebagai penyangga. mencoba untuk berdiri dengan susah payah, tetapi terjatuh lagi dalam posisi sebelumnya.


"Pertarungan ini akan ku ingat terus. Siapa namamu?" Saji Obata sudah berdiri di hadapan Takeda.


"Uesugi Ta..keda." Ucap Takeda dengan nada lemas.


"Uesugi Takeda, akan ku berikan kematian yang cepat dan tidak menyakitkan kepadamu." Ujar Saji Obata sembari mengangkat katananya bersiap menebas kepala sang lawan.


Srashh...


Dan Tetua terhebat Klan Uesugi pun telah tewas dengan cara mengenaskan.


**


"Ayah...Tolong berjanji untuk kembali lagi." Ucap Kimura sambil menangis terisak-isak.


Hanbei hanya tersenyum kecut mengangguk.


Sejak tadi ia membujuk Kimura yang sedari tadi memaksa untuk ikut dengannya. Hanbei tidak bodoh membawa Kimura ke medan pertempuran itu. Usahanya tidak berakhir sia-sia, karena ia berhasil membujuk putranya.


"Nak, kamu jaga baik-baik katana ini. Karena ini adalah warisan Klan kita."


"Iya. Tapi, Ayah juga harus menepati janji yang Kimura berikan..." Kimura bergerak memeluk ayahnya.


"Ayah harus segera bergegas menyusul ketua nak." Ucap Hanbei seraya melepaskan secara perlahan pelukan putranya tersebut.

__ADS_1


"Ku titipkan putraku kepadamu tuan Kansuke." Katanya terhadap Kansuke yang telah berdiri di belakang Kimura.


Hanbei meminta tolong agar menjaga Kimura, dan Ketuanya pun mengiyakan permintaannya.


"Tenang saja Tetua, aku akan menjaganya walaupun harus mempertaruhkan nyawaku."


Dengan berat hati Hanbei melangkahkan kakinya meninggalkan Kimura yang sedang berdiri memandangnya dengan air mata yang terus bercucuran.


**


Kematian dapat di artikan sebagai puncak dari perjalanan hidup seseorang.


Kematian juga terkadang hadir dan berkonfrontasi dalam hidup seseorang.


Goto Matabei merasa kematian akan segera menghampirinya karena semakin lama bertarung, semakin banyak juga luka yang ia terima.


"Huh...." Goto Matabei terlihat sudah sangat kelelahan.


"Tubuh tua ini sangat menggangguku." Guman Goto Matabei pelan.


Goto Matabei telah mencapai batas kekuatannya, bergerak seinci pun ia sudah tidak mampu badannya lalukan.


"Mati kau!" Seru Tang Ryu sembari mengangkat katananya.


"Tunggu..." Saji Obata menahannya.


"Ada apa tuan?" Kata Tang Ryu dengan nada sedikit kesal.


Saji Obata tidak merespons pertanyaannya, yang lantas membuatnya semakin kesal.


"Kau belum menjawab pertanyaanku, tentang siapa yang membunuh sahabatku Tanaka Yoshi."


"Ku pikir kau sudah mendengar jawabanku tadi." Ucap Goto Matabei.


'Binatang peliharaan itu pantas mendapatkan kematiannya'


Tiba-tiba terlintas di pikiran Saji Obata perkataan tersebut. Tangan kirinya terkepal dengan wajah yang terlihat geram.


"Tang Ryu!" Serunya.


Mendengar itu, Tang Ryu segera mengikuti sang Jenderal mengangkat katana yang berada di tangan kanannya. Mereka berdua menyerang dari sisi kiri dan kanan berniat memotong tubuh lawannya menjadi 3 bagian.


"Matilah kau-!" Seru mereka bersamaan.


Goto Matabei yang sudah pasrah, dengan mata terpejam menunggu serangan itu datang. Namun, selama beberapa saat menunggu, serangan itu tak pernah sampai mengenainya.


Goto Matabei lantas membuka kedua matanya, dia kaget tiba-tiba berada jauh dari lawannya. Dan aura yang sangat kuat dan mengerikan tiba-tiba ia rasakan di sekitarnya. Ia kemudian menoleh ke arah aura kekuatan tersebut berasal.


Seorang pria yang sangat ia kenali sedang berdiri di sampingnya memandang ke depan.


"Ha..Han..bei." Goto Matabei berkata dengan terbata-bata karena luka dalam, yang parah menimpanya.


Hanbei yang menempati posisi ke 3 dalam 10 Tetua terhebat Klan. Sebenarnya, adalah yang terkuat dari semuanya, dia hanya tidak suka mengumbar-umbar kekuatannya dan menantang Tetua yang lain untuk memperebutkan posisi tersebut.


"Ya. Ketua, maaf aku terlambat."


Suara Hanbei terdengar agak berbeda. Bukan hanya suaranya saja. Namun, fisik dan rambutnya pun berbeda, tetapi yang paling menonjol adalah aura berwarna biru kehitaman yang sekarang menyelimuti tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2