
"Aku beritahu kesalahan yang telah kalian buat..." Kata Kansuke yang di tujukan kepada ke-4 lawan yang sudah sekarat dengan darah mengalir keluar dari berbagai luka di tubuh mereka. "Pertama, tingkatan kalian dalam ilmu bela diri sangatlah jauh di bawah denganku..."
"Kedua, seorang samurai tidak akan takut melawan ahli bela diri manapun dan kesalahan paling penting yang kalian lakukan adalah, dengan meremehkanku!" Kalimat terakhirnya bernada tinggi.
"Dasar pemimpin tak bertanggung jawab. Jika kau tidak mau maju, aku yang akan lebih dulu menyerangmu." Lanjut Kansuke memandang ke arah pemimpin mereka. "Aku sudah tahu, suruh semua anggotamu keluar dari tempat persembunyiannya."
"Ck, kata-kata mu itu yang berlagak seperti ksatria, membuatku ingin memuntahkan semua isi perutku." Balas pemimpin mereka dengan wajah mengejek.
"Begitu yah..." Ucap Kansuke pelan.
"...Bagaimana kalau aku mewujudkan perkataanmu itu tapi dengan darah yang kau muntahkan dan kalian ber-4 aku usulkan kalian pergi dari sini." Kansuke berkata sembari membersihkan darah di pedang katananya.
"Majulah." Kata Kansuke pelan.
"Kalian semua keluar dan serang samurai arogan itu."
Setelah pemimpinnya memberikan perintah, puluhan orang keluar dari pepohonan dan semak-semak tempat semuanya bersembunyi.
Dengan berbagai macam senjata di tangan mereka, ada yang memegang tombak, pisau, kapak, dll. Maju menyerang Kansuke.
"Apa-apaan!" Kansuke tidak menyangka bahwa lawannya akan datang sebanyak ini.
Ia kemudian menggendong Kimura menjauh dari sini karena kalau di paksakan mereka berdua akan mati.
Kansuke sudah berlari menggunakan seluruh kemampuannya ia fokus mengalirkan tenaga dalam ke kedua kakinya. Ia berlari masuk ke dalam hutan berniat bersembunyi di sana.
"Ini kan Hutan Jurang Kematian." Tanya salah seorang dari mereka yang berdiri paling diantara mereka semua.
Pemimpin mereka dari arah belakang berteriak, "Masuk saja, jangan biarkan mereka berdua melarikan diri dan ingat jangan bunuh salah satu darinya."
Tetap, tidak ada yang berani melangkahkan kaki melewati pembatas yang sudah di berikan oleh pemerintahan.
"Kalian ingat kan..." Pemimpin mereka maju sambil memegang pundak kedua anggotanya yang berada paling dekat dengan pembatas. "Bahwa aku saat ini sedang di pusingkan dengan eksperimenku. Jika, kalian ingin menggantikan mereka berdua tidak apa-apa, lepaskan saja." Ucapnya berbisik kepada kedua anggotanya.
"I...iya bos aku akan menangkap mereka."
"Kalau begitu tunggu apalagi! Kalian semua masuk kemudian tangkap mereka!" Perintahnya.
Hutan ini terkenal karena di dalamnya terdapat jurang yang tak berdasar. Begitulah orang-orang mengatakannya, bahkan Kaisar pun telah memberitahu kepada seluruh rakyat agar jangan memasuki hutan itu. Maka dengan itu Kaisar memasang pembatas sebagai tanda.
Di dalamnya sama sekali tidak ada binatang buas. Hanya saja, banyak rumor yang tersebar bahwa hutan ini sudah banyak menelan korban. Contohnya, ketika seseorang berburu dan masuk ke bagian dalam hutan, mereka tidak pernah kembali lagi.
Namun, Kansuke yang tidak menyadari dia masuk ke dalam Hutan terlarang ini tetap melanjutkan niatnya untuk bersembunyi di sini sampai tengah malam tiba.
Terus masuk ke dalam bagian dalam hutan, ia tiba-tiba berhenti.
"Apa! Aku tidak menyangka akan memasuki hutan ini." Kansuke sudah menyadari bahwa dia telah mengambil jalan yang salah.
"Memang kenapa paman?" Kata Kimura yang masih dalam gendongan Kansuke.
"..."
Kansuke diam terpaku memandang sebuah Jurang yang mempunyai aura mengerikan.
"Haha... Mau kemana kau." Musuh-musuhnya telah berada di belakangnya.
Kansuke berbalik memandang puluhan orang itu dengan mata tajam.
__ADS_1
"Kalian yah! Aku tidak akan memaafkan perbuatan kalian semua!" Kansuke terlihat sangat geram, ia tidal punya pilihan lain selain melawan.
"Kemana wujud ksatria mu itu." Ucap Pemimpin mereka sambil tertawa.
Hahaha...
Mereka semua menertawakan Kansuke setelah mendengar perkataan pemimpinnya.
"Maafkan aku Tuan Hanbei." Gumam Kansuke dengan nada merasa bersalah.
"Kimura ikuti kata paman yah..." Kansuke menurunkan Kimura. "Ketika paman sedang bertarung, kamu harus memanfaatkan itu untuk lari dari sini. Jangan khawatir paman akan berusaha menghalangi mereka."
"Tapi paman..." Mata Kimura terlihat berkaca-kaca.
"Tidak apa-apa. Paman di berikan amanat oleh ayahmu, dan sudah berjanji akan menjagamu dengan nyawa paman sendiri." Raut wajah Kansuke berubah menjadi serius.
"Sekarang Kimura!"
Kimura berlari ke arah banyak pepohonan. Sedangkan Kansuke menyerang mereka tanpa ragu sedikitpun berniat membunuh mereka.
"Tangkap anak itu!" Perintah pemimpin musuh kepada anggotanya.
"Siap bos." Jawab anggotanya.
Kansuke yang melihat itu langsung menghadang pergerakannya tidak membiarkan orang itu menangkap Kimura.
"Tidak akan ku biarkan kau melakukan itu."
Srassh...
Pemimpinnya yang melihat itu menjadi geram dan bergerak menyerang Kansuke.
"Jadi, ini kekuatan sang pengecut." Kansuke tersenyum mengejek ke arah lawannya yang bersenjatakan rantai besi.
"Banyak omong! Terima ini!"
Trang... Trang... Trang.
"Rantai mu lumayan juga.." Kata Kansuke sembari melompat mundur.
Kansuke memasang kuda-kuda sembari mengangkat katananya ke atas.
Lanjutnya, "...Akan ku perlihatkan jurusku yang sudah ku latih selama belasan tahun."
"Kalau begitu, aku juga akan menggunakan jurus mematikanku." Ucap Sang lawan, ia kemudian melilitkan rantai ke kepalan tangannya.
"Tarian Musim Semi!"
"Tinju Peremuk Tulang!"
Seru mereka serentak lalu keduanya bergerak maju. Bunga api muncul setiap serangan mereka berdua beradu.
Semua yang berada di sekitar area pertarungan, menjauh. Namun, sebagian dari mereka juga memanfaatkan situasi menangkap anak kecil yang di perintahkan oleh pemimpin mereka.
**
Pada saat malam tiba hutan ini begitu gelap, hanya sedikit area yang cahaya bulan karena pepohonan di sini sangat besar menjulang tinggi dan daun-daunnya pun sangat lebat. Menambah keangkeran tempat ini pada saat malam hari tiba.
__ADS_1
Kimura sekarang bersembunyi di balik pepohonan berbatang besar. Tubuhnya yang kecil menjadi tidak terlihat ketika bersandar di pohon itu.
Dia sangat lelah karena berlari terus menerus. Bukan hanya lelah secara fisik saja tetapi juga secara mental. Emosi di hatinya bergejolak, sedih, dan marah, sekarang ia rasakan.
Perasaan sedih itu berasal dari pikirannya yang terus mengingat wajah paman yang beberapa hari ini bersamanya. Sedangkan ia marah, bukan karena para penjahat itu tetapi terhadap dirinya sendiri karena tidak mampu berbuat apa-apa.
Kehilangan seluruh keluarganya sangat menyakitkan baginya, Kimura menggigit bibirnya dan menahan air mata agar tidak jatuh.
"Di mana anak itu?"
"Coba kau cari di bagian sana."
Kimura yang mendengar itu menjadi siaga, ia menahan nafas agar tidak terdengar oleh mereka.
Setelah beberapa saat suara kaki mereka sudah tidak terdengar lagi, Kimira berniat mengintip mengecek.
"Hai anak kecil mau kemana kau!" Teriak mereka semua yang mengagetlan Kimura.
"Ah..." Kimura kemudian berlari ke arah yang berbeda.
Dengan langkah yang begitu lambat, Kimura hanya di jadikan sebagai tontonan oleh mereka semua.
"Lari, lari, lari." Ucap mereka sambil berlari lari di samping Kimura.
"Mengapa kau berhenti anak kecil. Ha..ha..ha."
Kimura berhenti berlari karena merasa kesal melihatnya menjadi bahan ledekan.
Emosi yang sedari tadi bercampur kini melebur menjadi satu.
Marah. Ya, sekarang sangat marah sekali.
Aura berbeda tiba-tiba memenuhi area hutan. Mereka semua yang berada di dekat Kimura saling berpadangan satu sama lain.
"Aura dari mana ini?" Salah seorang dari mereka berkata dengan raut wajah yang terlihat ketakutan.
"Hei lihat anak itu!"
Seruan itu mengembalikan pandangan mereka semua ke anak kecil yang tadi menjadi bahan ledekan.
"Apa yang terjadi kepadanya?"
"Mengapa dia bisa menjadi seperti itu?"
"Apakah anak itu kerasukan?"
Mereka melontarkan bertubi-tubi pertanyaan dengan raut wajah kaget dan sedikit ketakutan.
Seseorang yang terlihat sebagai pemimpin dari mereka semua membuka suara, "Jangan takut, kita harus melaksanakan perintah bos."
"Ayo kita selesaikan ini secepatnya." Ucap Kimura dengan nada yang dingin dan monoton.
Semua orang itu seketika nyalinya menjadi ciut hanya mendengar perkataannya.
"Akan ku beri balasan setimpal atas apa yang telah kalian lakukan." Katanya sembari mengeluarkan katana warisan Klan dari balik pakaiannya.
"Majulah..!"
__ADS_1