LEGENDA SANG DEWA ELEMENTAL

LEGENDA SANG DEWA ELEMENTAL
AIR TERJUN BIDADARI


__ADS_3

Perjalanan di hutan kabut kegelapan telah sampai di ujungnya, Zhai Pe tidak tau sudah berapa lama dia berada di dalam hutan itu, hutan misteri ini membuatnya merinding.


"Bocah kalau tidak salah di ujung jalan ini kita akan keluar dari hutan misteri ini," jelas sang leluhur.


"Berapa jauh lagi leluhur?" tanya Zhai Pe.


"Tidak terlalu jauh lagi bocah, kita akan sampai di batas hutan ini".


Zhai Pe mempercepat langkahnya, benar saja tidak berapa lama kemudian dia melihat dari balik pepohonan seperti sebuah ruangan yang di terangi pelita.


"Akhirnya kita sampai di ujung jalan ini," berlari cepat menuju tempat terang itu.


"Akhirnya!! aku bisa merasakan cahaya matahari," sambil merentangkan tangannya.


Bersamaan dengan itu telinganya menangkap suara seperti mendengarkan desiran air yang jatuh dari ketinggian menimpa bebatuan.


"Leluhur!! air terjun itu sudah dekat dari sini aku mendengarnya," Zhai Pe melihat ke arah bukit di depannya.


"Di balik bukit itu adalah air terjun bidadari yang kita tuju bocah," sahut sang leluhur.


"Ayo!! kita kesitu leluhur, aku sudah tidak sabar untuk bermain di bawah air itu," langsung berjalan menuju ke arah kirinya, mengikuti jalan setapak untuk sampai di air terjun bidadari itu.


Tak lama kemudian ia sampai di telaga di bawah air terjun itu.


"Wah..!! ini indah sekali leluhur," kagum dengan ke indahan tempat itu.


Air terjun bidadari merupakan air terjun pra sejarah bagi para kultivasi kekuatan alam, pasalnya air terjun bidadari sudah menjadi tempat mereka berlatih berkultivasi sejak era kemusnahan hingga era kebangkitan seperti era leluhur pertama kota pahlawan.


"Bocah! Coba kamu lihat setiap batu di sekeliling air terjun ini, batu itu sudah di tandai oleh para kultivasi kekuatan alam, bahkan para kultivasi kekuatan alam sebelum era kemusnahan sudah berlatih di sini," leluhur Liao pe memberikan penjelasan.


Zhai Pe tidak menghiraukan perkataan leluhurnya, Ia asik bermain air berenang ke sana sini, sesekali menyelam dan muncul lagi di permukaan air.

__ADS_1


"Dasar bocah ini niatnya mau pergi berlatih malah main sesampai di sini," bergumam sendiri dalam hatinya.


"Biarlah! dia menikmati suasana disini dulu, aku ingin berkultivasi juga agar aura kehidupanku tidak cepat menghilang," kemudian duduk bersila dan memulai kultivasinya.


Zhai Pe mengaktifkan mata tembus pandangnya, ia melihat kedalam air telaga itu.


"Ikannya besar-besar, aku akan menangkapnya sudah lama aku tidak makan ikan," pikir Zhai Pe.


Ia mengambil sandangannya kemudian membuka dan mengambil sebilah pisau kecil, ia memandang berkeliling, mencari benda yang cocok di jadi untuk tombak ikan.


Ia melihat serumpun bambu kuning yang tumbuh subur di balik pepohonan di seberang telaga.


Setelah sampai di situ, Ia melihat-lihat dan mencari ukuran bambu kuning yang kecil, setelah mendapatkan ia kemudian memotong dan meruncingnya.


"Tombak ikan beres," ia kemudian kembali ke seberang telaga.


"buurrr...!!!" Zhai Pe melompat ke dalam air, ia mengaktifkan mata tembus pandang dan pendeteksinya, langsung menyelam ke kedalam air, "gluk..gluk..gluk.."


"Hufft..huftt.." ia berenang ke tepi telaga, kemudian naik, menyalakan api dan langsung membakarnya.


Panggang ikan telah matang, Zhai Pe langsung menyantapnya dengan lahap, "aahh!!" ia mengusap-usap perutnya yang terasa kenyang.


"Kalau perut kenyang, urat mata jadi kendor," ia kemudian mencari batu yang bagus untuk bersandar, setelah mendapatkannya Zhai Pe menyandarkan tubuhnya lalu memejamkan mata dan langsung tertidur.


Setelah Zhai Pe tertidur, leluhurnya masih tetap berkultivasi, bersamaan dengan itu buku kekuatan alam yang ada di ruangan spritual bocah itu bereaksi dia bergerak-gerak dan kemudian terbuka sendiri.


Zhai Pe di bawah alam mimpinya di bawa oleh buku itu berbalik kepuluhan ribu tahun yang lalu.


"Di mana aku, tempat ini terasa asing," ia berada di tengah perkotaan yang banyak orang berlalu lalang di sekelilingnya, sesaat kemudian semuanya lenyap dan tempat itu langsung berubah jadi tempat peperangan besar, lalu dia kembali melihat hal yang sama saat dia terkena ilusi di hutan kabut kegelapan, pertempuran itu memakan korban jiwa beribu-ribu umat manusia, saat itu dinamakan era kehancuran umat manusia. Mimpinya berpindah lagi dia melihat beberapa kelompok manusia yang selamat dari kehancuran itu berpencar ke berbagai penjuru dunia mereka kembali membangun tempat-tempat bermukim dan memulai lagi semuanya dari awal, dalam mimpinya Zhai Pe melihat sekelompok orang yang selamat, mereka membuat pemukiman di sebuah lembah di antara dua bukit dan itu adalah kota pahlawan di masa lampau.


" Ini serasa nyata, aku serasa telah melihat masa lalu ratusan ribu tahun lalu, dimana saat itu terjadi era kehancuran," berbicara sendiri.

__ADS_1


Lalu sesaat kemudian mimpi buruknya datang, dia melihat kota pahlawan di serang oleh makhluk iblis, serangannya membabi buta dia melihat seorang wanita berlari keluar dari rumahnya, lalu rumah itu roboh dan menimbunnya, "ibu......" ia tersentak dari tidurnya.


"Ah, sudah hampir malam," bisiknya sambil mengusap-usap kedua mata.


"Aku ketiduran dan mimpi aneh, aku juga melihat ibu didalam mimpiku," berbicara dalam hati, matanya jadi berkaca-kaca saat teringat akan ibunya.


"Ibu aku selalu berharap ibu tenang di atas sana, aku selalu merindukan ibu," sambil menggadah ke langit yang mulai gelap itu.


Zhai Pe kemudian bergegas menghidupkan api untuk menghangatkan tubuhnya dan meneranginya dari kegelapan malam.


"Bocah bodoh!! menerangi tempat ini sama dengan bunuh diri," tiba-tiba saja leluhurnya berbicara.


"Eh..! Kok bisa begitu leluhur, inikan dingin dan juga gelap, saya butuh api untuk menerangi dan menghangatkan badan saya," sahut sang bocah.


"Para makhluk iblis akan berdatangan kalau kamu menerangi tempat ini, ini bukan tempat yang aman buatmu, kalau kamu ingin tetap hidup matikan api itu!!" perintah sang leluhur.


"Yelah, ye lah," sambil mengambil air dan menyiram api itu.


"Istirahatkah malam ini, besok kita akan memulai latihanmu."


Zhai Pe mengenakkan pakaiannya, ia mengambil sepotong kain untuk selimut dan kembali menyandarkan tubuhnya di batu tadi lalu memejamkan matanya dan tertidur.


Di dalam ruangan spiritual sang bocah, leluhur Liao Pe kembali berkultivasi.


"Energi alam disini begitu murni, bahkan melalui tubuh bocah ini, aku bisa merasakan dan menyerapnya untuk memperkuat auraku," sambil duduk bersila dan memfokuskan diri.


Malam itu Zhai Pe beristirahat dan tertidur dengan nyenyak, dibawah desiran air terjun yang mengalir terus menerus, waktu untuk merubah takdirnya telah mulai mendekat.


sekian terima kasih,karena telah membaca karya saya..


jangan lupa koment,like,dan hadiah nya

__ADS_1


pencet juga favorit agar tidak ketinggalan info updete erbaru.


__ADS_2