LEGENDA SANG DEWA ELEMENTAL

LEGENDA SANG DEWA ELEMENTAL
PERJALANAN KE MASA LALU (II)


__ADS_3

Air terjun bidadari sudah menjadi tempat pelatihan bagi para kultivator energi alam dari masa ke masa.


Zhai Pe yang tak sengaja datang ke air terjun bidadari di masa lalu ia bertemu dengan leluhurnya sekaligus kakek buyutnya, mereka berdua sempat terlibat sebuah pertempuran hebat, Liao Pe akhirnya menghentikan pertempuran itu begitu mengetahui bahwa si bocah mempunyai kekuatan alam yang sama dengannya.


Melihat sang leluhur mengangkat kedua tangannya menunjukkan tanda persahabatan ia menukik ke bawah menuju arah sang leluhur, "tap!!" kakinya berpijak di atas sebuah batu di pinggir telaga itu, kemudian berjalan mendekati sang leluhur.


"Salam hormat leluhur," ucap sang bocah sambil menjurah hormat di hadapan Liao Pe


"Salam hormat juga tuan muda," membalas jurahan sang bocah.


"Saya benar-benar meminta maaf karena telah mengganggu kultivasinya leluhur," sambil menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada.


"Hahahaha..tidak apa-apa tuan muda, justru saya lah yang harus meminta maaf karena kekhilafan saya menyerang tuan muda."


Sambil mempersilahkan duduk di atas sebuah batu," Siapa sebenarnya tuan muda ini?".


Sambil duduk bersila berhadap-hadapan dengan Liao Pe, "Kalau saya bilang saya dari masa depan apakah leluhur akan percaya?".


"Masa depan!?" setengah terkejut mendengar jawaban bocah.


"Benar leluhur, aku dari masa depan," jawab sang bocah.


"Bagaimana sekiranya tuan muda bisa sampai di sini!?"


"panjang ceritanya leluhur, aku tidak bisa bicara panjang lebar mengenainya takut akan mempengaruhi masa depan," jawab sang bocah.


"baiklah, dari keluarga mana tuan muda??" tanya sang leluhur.


mendengar pertanyaannya, Zhai Pe jadi terdiam, pikirannya ragu dan bimbang, kalau ia mengatakan yang sebenarnya pasti masa depan akan berubah.


"Maaf leluhur, soal itu..aku juga tidak bisa mengatakannya, bahkan pertemuan kita ini aku berharap besar leluhur tidak akan mengatakannya kepada siapa-siapa selain kita berdua yang mengetahuinya," jawab sang bocah.


"Baiklah tuan muda, aku tidak akan menceritakan apapun dan kepada siapa pun mengenai pertemuan kita," balas sang leluhur.


Kemudian, "Karena tuan muda telah datang dari jauh, sekiranya tentu ada maksud dan tujuan??"

__ADS_1


"Leluhur!!, tujuan utamaku datang ke sini adalah untuk menyempurnakan kekuatan alamku, aku telah bertekad melindungi kota pahlawan dengan kekuatan ini," Zhai Pe menyatakan niatnya langsung karena ia tidak tau sampai kapan waktunya akan berada di masa lalu.


"Baiklah tuan muda, apa yang bisa saya bantu untuk tuan muda??" tanya Liao Pe.


"Angkatlah aku jadi murid mu leluhur," sambil membungkukkan badan memohon kepada sang leluhur.


Liao Pe mangguk-mangguk sambil berpikir.


"Aku mohon leluhur, demi kota pahlawan," sambil terus membungkukkan badan.


"Aku akan melatihmu, tapi ada syaratnya,"jawab sang leluhur.


"Apa syaratnya leluhur??" tanya sang bocah.


"Karena tujuanmu baik dan demi kota pahlawan, aku hanya memintamu menjawab tiga pertanyakan saja, apa kau menyanggupi!?"


"Selagi aku mampu,baku menyanggupinya leluhur," jawab sang bocah.


"Baiklah, pertama, siapa raja kota di masa mu??"


Sambil mengangguk-angguk, "bagaimana kondisi kota saat ini??".


"Kota saat ini sangat megah, karena banyaknya perenovasian bangunan."


"Berapa usiamu saat ini??"


"Dua belas tahun," jawab sang bocah.


"Baiklah, besok kita mulai latihannya," sambil bergerak turun dari atas batu itu.


"Hanya itu saja leluhur??" tanya sang bocah.


"Ya, aku hanya ingin tau kondisi kota pahlawan di masa depan, berarti kota pahlawan bertambah jaya dan makmur aku pun menjadi senang mendengarnya," sahut Liao Pe sambil bergegas mencari potongan-potongan ranting kering untuk menghidupkan api.


"Tuan muda beristirahatlah, besok kita akan latihan dan mungkin latihan ini agak sedikit berat," suruh Liao Pe.

__ADS_1


"Baiklah leluhur," sambil merebahkan badannya bersandar ke sebuah batu di pinggir telaga.


Malam harinya, saat Zhai Pe sudah tertidur sedangkan Liao Pe masih saja duduk berdiang di depan sebuah api unggun, kepalanya berpikir keras mengenai bocah itu, dia antara percaya dan tidak percaya dengan perkataan sang bocah dan rasa penasaran bergelut didalam benaknya, namun mengingat kota pahlawan di masa depan baik-baik saja Liao Pe membuang rasa penasarannya.Namun sebagai tokoh yang sudah berpengalaman dalam berbagai hal, ia pun berpikir untuk menulis dan menyimpan jawaban sang bocah di secarik kertas, ia juga menambahkan energi jiwanya kedalam tulisan itu.


"Seorang bocah datang dari masa depan pasti punya persiapan, sebelum dia pergi ingatanku akan di hapus, tapi melalui tulisan ini aku tidak akan ragu lagi bahwa aku pernah bertemu dengan seorang bocah dari masa depan," pikir Liao Pe dalam hatinya.


Kemudian Liao Pe memasukkan tulisan itu ke dalam sebuah peti yang di segel energi alam.


"Saat aku pulang nanti aku akan menyimpannya di ruangan rahasia, karena ini sebuah rahasia besar bagiku," bisiknya dalam hati.


Keesokan paginya, Zhai Pe bangun lebih awal ia melakukan gerakan pemanasan tubuh kemudian melanjutkan dengan gerakan-gerakan pengendalian Energi alam yang sudah di latih oleh roh Liao Pe di masa depan.


Leluhur Liao Pe memperhatikannya dari jauh, setiap gerakan yang di lakukan oleh Zhai Pe, sangat sama dengan gerakan yang di latihnya sejak kecil.


"Gerakan itu sama persis dengan yang aku miliki, gerakan pengendalian ini adalah gerakan yang sudah aku kembangkan bahkan bocah ini menguasai gerakan yang aku kembangkan itu, siapa gurunya bocah ini!?" gumam Liao Pe dalam hati.


Setelah bocah itu selesai melakukan gerakan pengendalian itu ia kemudian mendekati Liao Pe.


"Pagi leluhur," sapanya.


"Pagi tuan muda," balas Liao Pe, "Gerakan pengendalian itu terasa familiar, siapa yang mengajarimu??".


"Itu gerakan yang aku pelajari dari buku di perpustakaan kota," jawab sang bocah, terpaksa berbohong.


"Hmmm...begitu rupanya, tapi gerakanmu masih belum sempurna tuan muda, kuda-kuda dan caramu memukul masih terlalu lemah, tapi tuan muda tenang saja aku akan membantu tuan muda untuk menyempurnakan gerakan itu."


"Terima kasih leluhur," ucap Zhai Pe.


"Sebenarnya aku ingin bercerita panjang lebar denganmu kek, tapi aku tidak bisa..aku harus tetap diam, kalau tidak! masa depan akan berubah, tapi..." Zhai Pe berbicara dalam hatinya, ia memutar badannya membelakangi Liao Pe, mengusap air matanya untuk menolak kesedihan di hatinya mengingat semua keluarga permata yang telah tiada, emosionalnya tiba-tiba tak terkendali.


"Anda kenapa tuan muda??".


"Aku baik-baik saja leluhur, asap ini menyakiti mataku," sahut sang bocah.


"Aku ingin mencuci muka dulu," lanjut sang bocah sambil bergegas ke tepi telaga.

__ADS_1


Zhai Pe merasakan emosionalnya tidak stabil, kadang-kadang naik, kadang-kadang turun, apalagi sejak bertemu dengan Liao Pe, bebuyutnya dari keluarga Permata.


__ADS_2