
Pagi itu di pinggir telaga, Zhai Pe merasa tidak terkendali, jiwanya berkecamuk terbawa perasaan masa lalu, ia ingin menceritakan kepada Liao Pe, tapi takut itu akan mempengaruhi masa depan.
Ia kemudian berdiri memejamkan matanya, menghirup udara segar pagi itu dalam-dalam ia melakukannya berulang-ulang kali sampai dia merasa tenang.
Setelah itu Zhai Pe kembali menemui leluhurnya.
"Leluhur, aku ingin berlatih sekarang, aku tidak tenang jika aku tidak bisa membawa hasil yang memuaskan setelah kembali dari sini."
"Kamu bersemangat sekali tuan muda, tapi sebelumnya lebih baik tenangkan dirimu dulu tuan muda, kalau kamu berlatih dalam kondisi ini sama saja hasilnya dengan Nol," jawab sang leluhur, nampaknya Liao Pe mengetahui adanya tekanan yang sedang melanda pikiran bocah itu.
"Aku hanya ingin berlatih leluhur, jika aku terus berpaku dengan semua ini, aku tidak akan pernah maju ke depannya," sahut sang bocah.
"Baiklah, jika tuan muda memaksa, ikutlah denganku," ajak Liao Pe.
Lalu ia pergi kearah padang rumput yang luas di kawasan air terjun itu, dimana Zhai Pe juga berlatih disitu dengan roh Liao Pe dimasa depan.
Sesampainya di tempat itu, Liao Pe tidak banyak basa-basi ia langsung memerintahkan Zhai Pe untuk kembali melakukan gerakan pengendalian energi Alam.
Zhai Pe yang memang ingin memfokuskan dirinya untuk berlatih ia pun langsung melakukan gerakan itu, sepanjang melakukan gerakan itu ia banyak mendapatkan pembenahan dari gerakannya.
Setelah itu, Zhai Pe di berikan pelajaran tambahan yaitu penggunaan gerakan pengendalian dalam pertempuran jarak dekat, serangan mematikan, tangkisan dan kuncian.
Pelatihan dasar ini terus berlangsung sampai lima belas hari lamanya, karena kepintarannya dalam kurung waktu sedekat itu ia telah berhasil menyempurnakan gerakannya.
Setelah itu, Zhai Pe di beri bimbingan langsung cara penyempurnaan penyerapan energi alam dan melepaskannya menjadi serangan yang mematikan.
Dalam kurung waktu lima belas hari juga, Zhai Pe telah menyempurnakan cara penggunakan energi alam menjadi serangan yang mematikan melakukan balasan serangan dalam kondisi terdesak, menangkis serta menyerang balik.
Sore harinya di hari yang ke tiga puluh, kedatangan Zhai Pe dari masa depan telah melalui latihan yang berat dengan leluhurnya di masa itu.
"Sudah sebulan lamanya aku berada di sini, tak terasa waktu begitu sebentar dan sekarang aku sudah menyempurnakan kekuatan ini," bisiknya dalam hati sambil melihat telapak tangannya.
Setelah itu iya berdiri berkacak pinggang menghadap ke arah air terjun.
"Aku harus kembali ke masa depan, tujuanku disini sudah tercapai dan selama tiga hari ini buku kekuatan alam juga sering bereaksi, mungkin itu sebagai pertanda waktuku telah habis disini," kembali berbicara dalam hati sambil menggadah ke puncak air terjun bidadari.
"Tuan muda, apa yang anda pikirkan??" tegur Liao Pe yang telah kembali mencari kayu bakar.
"Eh leluhur, aku tidak memikirkan apa-apa, cuman teringat kota pahlawan," sahut Zhai Pe sambil berjalan mendekati Liao Pe.
"Apa tuan muda ingin kembali ke masa depan??"
__ADS_1
"Iya leluhur, waktuku disini aku rasa telah habis dan sepertinya kita akan berpisah," sahut sang bocah dengan mata berkaca-kaca.
"Tuan muda tidak usah sedih, aku merasa yakin sekali bahwa kita akan bertemu kembali," Liao Pe menenangkan hati sang bocah.
"Memang benar kita akan bertemu lagi leluhur, tidak hanya di masa ini, dimasa depan leluhur juga guru mku," bisik Zhai Pe dalam hati.
"Aku akan merindukan guru," sambil memeluk leluhurnya.
Setelah melepaskan pelukannya, Zhai Pe kemudian mundur beberapa langkah ke belakang, lalu menjurah hormat.
"Terima kasih leluhur, terima kasih guru," ucapnya.
Liao Pe kemudian mendekati sang bocah.
"Ingat selalu pesanku, jangan sampai kau salah gunakan kekuatanmu," mengingatkan sang bocah sambil memegang bahunya.
"Aku akan selalu mengingat pesan leluhur sampai akhir hayatku," sahut sang bocah sambil kembali menjurah.
"Aku akan pergi leluhur, waktuku telah habis," sahut sang bocah, dengan tubuh mulai mengeluarkan sinar terang perlahan-lahan.
Zhai Pe kemudian duduk bersilah menyerap dan memasok energi alam ke buku kekuatan alam.
"Selamat jalan bocah, mudah-mudahan kita bisa bertemu lagi."
Setelah lenyap dari tempat itu sang bocah kembali berada di sebuah lorong gelap yang terus menariknya, tak berselang lama kemudian ia telah sampai di ujung lorong itu.
"Kali ini, aku tidak akan terkena tipuan lagi," bisik sang bocah dalam hatinya.
Namun keadaannya sudah berbeda, bocah yang biasanya mengetahui bahwa dia akan mendarat di atas tanah dengan kepala lebih dulu, namun kali ini ujung lorong gelap itu ternyata pas di tengah telaga.
"Aaaa...!!! Burrr....!!!!"
"Huft..huft...buku setan!! Setiap memindahkanku, aku selalu saja bernasib apes, kalau tidak ini, itulah," rutuk sang bocah dalam hati.
Sang bocah kemudian berenang ke tepi telaga, baru saja sampai di tepinya.
"Bocah setan!! kemana saja kau??" sebuah suara yang memekakan telinga sang bocah.
"Huft..huft...dingin," ucap sang bocah tidak menghiraukan pertanyakan leluhurnya.
"Hei bocah, kenapa kau diam saja!?" tanya sang leluhur kembali.
__ADS_1
"Ada apa leluhur??" jawab sang bocah sambil melepas pakaiannya yang basah.
"Kemana saja kau tiga hari ini,,??" tanya Liao Pe kembali.
"haaa'.....!!!! tiga hari??" tanya sang bocah kaget.
"Bocah setan!! Aku bertanya kau malah bertanya balik," rutuk sang leluhur.
"Ceritanya panjang leluhur, kalau aku ceritakan leluhur juga tidak akan percaya," sahut sang bocah sambil mengenakkan pakaian penggantinya.
"Emangnya kamu kemana??" penasaran.
"Kalau aku bilang aku pergi ke masa lalu leluhur percaya gak!?" sahut sang bocah.
"Itu mungkin saja, jadi buku itu membawamu kemasa lalu!?".
"Iya leluhur, emangnya leluhur tidak ingat kalau leluhur pernah bertemu denganku di masa lalu??".
"Kalau soal itu, aku mana ingat bocah, hanya sebagian kecil ingatan yang aku bawa ke masa ini, contohnya ya..seperti tempat latihan ini, hutan kabut kegelapan, itupun karena aku sering datang dan melakukan aktivitas di tempat ini, kalau yang lain aku tidak mengingatnya," sahut Liao Pe.
"Aku punya kabar baik untuk leluhur," ucap sang bocah.
"apa bocah??"
"Aku sudah menyempurnakan kekuatanku leluhur, aku sudah bertambah kuat saat ini," ucap sang bocah gembira.
"Wah..!! bagus itu," puji sang leluhur.
"Apa saja yang kau tau tentangku di masa lalu???" Liao Pe bertanya penasaran.
"Tidak banyak leluhur, yang paling aku tau leluhur itu lebih bijaksana di masa lalu dibanding saat ini," sahut sang bocah.
"Terus yang lainnya??"
"Tidak ada lagi leluhur, aku hanya fokus pada tujuanku, mengingat keberadakanku di masa lalu terbatas," sahut sang bocah.
"Ya sudahlah, lebih baik kamu istirahat, besok kita langsung pulang ke kota Pahlawan."
"Baik leluhur, aku juga merasa tubuhku kelelahan seperti sebulan tidak pernah beristirahat."
Malam itu Zhai Pe tertidur dengan nyenyak, ia tampak benar-benar kelelahan setelah sebulan lamanya tidak tidur karena berlatih dengan keras di masa lalu.
__ADS_1
Berbeda dengan sang leluhur, dia lebih memilih untuk berkultivasi di tempat itu mengingat karena malam itu adalah malam terakhirnya di air terjun bidadari.