
Zhai Pe dan ketujuh orang itu dikurung di penjara bawah tanah, Dua orang pengawal berjaga didepan penjara dan komandan pasukan khusus istana mondar-mandir dengan sesekali menatap tajam kedalam penjara.
Zhai Pe duduk bersilah, ia berkultivasi memejamkan matanya dan memfokuskan diri untuk meningkatkan energi Rohnya.
"Hei bocah!! Kesini.." seru komandan pasukan khusus istana, ia adalah Zeng Hao.
"Saya..." Jawab Zhai Pe menunjuk dirinya.
"Iya.." dengan sorot mata tajamnya menatap Zhai Pe.
Zhai Pe berjalan mendekat, ia tetap tenang di bawah sorot mata yang seperti menusuknya itu.
"Ada apa gerangan komandan khusus memanggil saya??" Tanya Zhai Pe.
Tangan Zeng Hao langsuang menyambar leher baju Zhai Pe, "Katakan siapa pemimpinmu!!" Dengan suara geramnya berteriak pada Zhai Pe.
"Pemimpin?? Aku tidak punya, jika ingin bertanya, tanyakan pada tujuh orang yang babak belur itu," jawab Zhai Pe.
"Jangan berkilah bocah, aku bisa saja membunuhmu saat ini!!"
"Membunuh orang tanpa alasan yang pasti, apa itu cara kalian??" Tungkas Zhai Pe.
"Mengincar barang berharga di istana, apa alasannya kurang jelas," ucap Zeng Hao melepaskan pegangannya pada leher baju Zhai Pe dengan sedikit dorongan.
"Aku kan tidak melakukannya, mereka yang mengincar, aku hanya memberikan mereka pelajaran," ucap Zhai Pe.
"Sekarang kau bisa berbohong, tapi didepan pengadilan Istana kau tak akan berkutik."
"Coba saja kalau bisa, yang penting kau tidak melakukan pencurian itu," dengan senyum percaya diri pada Zeng Hao.
Di aula istana, adu tanding kultivator sudah sampai di babak final, pada pertandingan ini Kong Meng akan berhadapan dengan Cao Hung.
Pertandingan langsung di mulai, mereka berdua terlibat pertarungan sengit, mereka saling adu jurus dan ketangkasan. Sepuluh jurus telah berlalu, tapi tampaknya mereka masih seimbang.
Pada jurus yang kedua puluh, Kong Meng memanfaatkan kelalaian dari Cao Hung, ia mendaratkan pukul di dada kanannya.
Cao Hung terpental, tapi masih didalam area pertaruangan.
"Menyerahlah saudara Hung, aku tidak ingin memberikan kesan pahit dipertandingan ini," ucap Kong Meng.
__ADS_1
"Masih belum, aku menginginkan Pedang pusaka itu. Maka, aku harus mengalahkanmu," Cao Hung kemudian mengangkat tangannya keatas, energi mengalir ke tangannya.
"Terimalah jurusku saudara Meng, Terkaman Harimau!!!"
Cao Hung melepaskan jurusnya, aura kekuatan dengan wujud harimau Emas menganga lebar siap menghantam Kong Meng.
Melihat serangan itu, Kong Meng mendorong tangannya kedepan, aura kekuatannya dengan wujud Naga Emas Raksasa menyambut datangnya serangan Cao Hung.
Wush! Bam! Bam!
Ledakan akibat benturan kedua jurus itu menghancurkan area adu tanding, kepulan debu naik keudara, empat orang yang berdiri di empat sisi area adu tanding membentuk segel untuk melindungi area luar.
"Siapa yang menang??"
"Sudah pasti Tuan muda Meng, ia unggul di berbagai segi kekuatan dan pengalaman bertarungnya lebih banyak dari Cao Hung."
"Tuan muda Hung pasti menang, ia sudah mengeluarkan jurus terkuatnya,"
Beberapa penduduk yang ada ditempat itu mengeluarkan asumsinya masing-masing.
Didalam Segel, tepatnya area adu tanding, Kong Meng berdiri dengan tegak, kedua tangan di menyilang didepan dada. Didepannya, Cao Hung terduduk dan batuk-batuk beberapa kali, nafasnya terdengar sesak.
"Tuan muda Meng, memang hebat." Puji beberapa penduduk kota.
Raja Tan Sa menyambut kemenangan itu, walau sedikit kecewa dalam hatinya, karena niatnya untuk memancing Leluhur ketujuh melalui adu tanding kultivator tidak kesampaian.
Raja Tan Sa berjalan mendekat kearah Kong Meng, ia langsung menyerahkan hadiah sebuah pedang pusaka dan 20.000 koin Emas.
"Selamat atas kemenangan mu Tuan muda Meng," ucap Raja Tan Sa.
"Terima kasih Baginda," jawabnya sambil menjurah hormat.
Para penduduk kota pahlawan bubar dari area itu, mereka kembali kerumahnya masing-masing untuk menjalankan aktivitasnya seperti biasa.
Raja Tan Sa kembali masuk keruangan utama Istana, ia duduk di singgasana dengan mengusap-usap keningnya.
"Apa Leluhur ketujuh tau kalau kita sengaja mengadakan adu Tanding ini untuk memancingnya keluar menunjukkan diri??" Gumam Raja Tan Sa.
"Sepertinya begitu Baginda, tampaknya ia tidak ingin menunjukkan diri dan dikenal oleh banyak orang," jelas Panglima Seng Ma.
__ADS_1
"Tampaknya ia memiliki sifat yang berbeda dari semua Leluhur yang pernah ada atau mungkin karena umurnya yang masih bocah, ia berpikir belum mampu menanggung tanggung jawab yang begitu besar," ucap Raja Tan Sa.
"Bisa dikatakan itu memang benar Baginda, tapi kita belum tau pasti, apa benar umurnya 12 tahun saat ini, sedangkan baginda sudah menjadi Raja Kota sejak 10 tahun yang lalu."
"Kita tidak punya petunjuk yang kuat saat ini, kirim saja beberapa orang untuk memperhatikan para pemuda dari usia 12 tahun sampai 22 tahun, hanya itu caranya sementara yang kita bisa," ucap Raja Tan Sa.
"Bagaimana kalau kita minta beberapa petunjuk dari orang-orang Asosiasi pengobatan Baginda, mereka pernah bersama dengan Leluhur ketujuh saat kembali ke kota," ucap Seng Ma.
"Itu bisa juga Panglima, nanti Panglima atur orang untuk datang mengundang orang-orang dari Asosiasi Pengobatan datang kesini, mudah-mudahan kita bisa mendapatkan petunjuk tentang Leluhur ketujuh," sahut Raja Tan Sa.
"Baik Baginda, saya juga akan mengirim orang untuk mengawasi pemuda yang ada di kota pahlawan," Panglima Seng Ma menjurah hormat dan pergi meninggalkan tempat itu.
Raja Tan Sa masih duduk di singgasana, ia merasa heran dengan Leluhur ketujuh, padahal bila ia menunjukkan diri dia akan di hormati di kota Pahlawan.
Di tengah lamunannya, tiba-tiba datang Fuming Sa diatas kursi roda yang di dorong oleh seorang pelayan Istana.
"Ayah.." panggilnya.
"Ya..ada apa Putri ku.." Raja Tan Sa tersadar.
"Bibi..bisa tinggalkan kami berdua, ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan ayah," berucap pada pelayannya.
"Baik, Tuan putri.." pelayan itu pergi dari ruangan utama.
Sepeninggal pelayan itu, "Apa yang membuatmu ingin berbicara berdua dengan Ayah??" Tanya Raja Tan Sa.
"Aku barusan mendengar pembicaraan ayah mengenai Leluhur ketujuh.."
"Apa kamu tau siapa Leluhur ketujuh???" Memotong ucap Putrinya dengan mendongkakkan kepalanya.
"Bukan itu ayah..aku ingin meminta seorang pengawal pada ayah, tapi aku sendiri yang akan memilih," tungkas Fuming Sa.
"Bukannya sudah ada Pelayan, kenapa kamu ingin meminta pengawal lagi??" Tanya Raja Tan Sa, heran.
"Aku butuh seorang teman ayah, selamat ini aku hanya terbaring sakit dan hanya berbicara dengan pelayan setiap harinya," jelas Fuming Sa.
"Baiklah..kamu bebas mau memilih siapapun, selama itu menurutmu baik," ucap Raja Tan Sa. Ia juga berpikir itu akan baik untuk putrinya.
"Terima kasih ayah," ucap Fuming Sa dengan senyuman ceria pada ayahnya.
__ADS_1
Raja Tan Sa membalas senyuman itu, ia tampak bahagia melihat perkembangan kesehatan putrinya.