
Mungkin hari ini, merupakan hari yang paling melelahkan bagi sang bocah, begitu sampai di gubuk reok tempatnya tinggal, ia langsung berbaring di atas lantai tanah beralaskan tikar yang sudah lusuh, baru saja tubuhnya terbaring di atas tikar itu, ia merasa ada yang mengganjal di bagian punggungnya.
"Oh iya, buku ini!" kemudian mengambil dan menimbang-nimbang buku itu.
"Kira-kira, apa ya isi buku ini??" ia bergumam dalam hati sambil membuka buku itu.
Ia kembali membalik-balik halaman demi halaman, namun hasilnya tetap sama, hanya judul buku yang di temukan di halaman pertama.
Zhai Pe menutup buku itu, ia meletakkan di atas dadanya sembari memeluk buku tipis itu, setelahnya tertidur lelap karena kelelahan.
Malam itu adalah bulan purnama, seluruh kota pahlawan terang seperti hari menjelang pagi, tapi hawa dingin malam itu menusuk kulit, namun Zhai Pe seperti tidak merasakannya.
Saat tengah malam, tepat bulan purnama sama lurusnya dengan puncak kepala, melalui sebuah lubang kecil di atap, cahaya bulan masuk ke gubuk reok itu.
Cahaya bulan tiba tepat di atas buku yang terletak di atas dada Zhai Pe, secara spontan buku itu tiba-tiba mengeluarkan cahaya perlahan dan lama kelamaan cahayanya makin terang, tak lama setelah itu, cahayanya masuk terserap ke tubuh Zhai Pe dan lenyap bersamakan dengan buku itu.
Pagi harinya, Zhai Pe terbangun ia menggeliatkan tubuhnya, "krak! krakk!!" tubuh kecil yang kurus kerempeng berkeretakan seperti tulang yang patah, "Huaaahhh...." ia menguap beberapa kali sambil mengusap-usap matanya.
"Tak terasa sudah pagi, semalam tidurku nyenyak sekali, huuuaaaahhh....."
Ia kemudian pergi kebelakang gubuk, lalu menimba air di sumur.
Setelah itu, "Pagi ini badanku terasa ringan, gak seperti hari biasanya, biasa harus garuk sana sini, sekarang beda gak terasa gatal sedikitpun, aneh tapi nyata!" guman Zhai Pe, sambil melihat penyakit di tubuhnya.
"Gak ada rasa gatal, sudah kering, semoga saja aku bisa sembuh dan hidup seperti anak-anak pada normalnya," mangguk-mangguk keluar dari gubuk.
"Saatnya bekerja!" ucap Zhai Pe, bergegas berangkat ke pasar.
Tak terlalu lama, ia sampai di tujuan.
"Bibi Zhao, bagaimana kabarnya??".
"Wah, Zhai Pe..Bibi baik-baik saja, kamu gimana keadaannya??" Bibi Zhao balas bertanya.
"Sudah lebih baik, Bi!" sambil mengambil perlengkapan pembersih dan bergegas.
"Nanti kesini kalau sudah lapar, ya!" teriak Bibi Zhao
"Ia, Bi!" sahut sang bocah setengah berteriak.
Di usianya yang baru Delapan tahun, ia sudah bekerja, melakukan pekerjakan yang ia bisa, demi mengisi perutnya, hidup sebatang kara di kota makmur seperti kota pahlawan, tidak membuatnya rendah diri.
Penduduk kota pahlawan yang berbelanja di pasarpun banyak yang kasihan, mereka sering memberinya makanan dan pakaian namun banyak juga yang merasa jijik saat tau penyakit kudis kurap yang di deritanya.
__ADS_1
Sejak pagi itu, Zhai Pe terus bekerja ia tidak merasakan lelah sama sekali, tubuhnya terasa begitu kuat ia merasa aneh dengan hal itu, biasanya dia sering merasa lapar, namun hari ini dia tidak merasakan sama sekali.
Karena terlalu semangat bekerja tak terasa pekerjaannya sudah selesai.
"Hufft..selesai juga," sambil ngelap keringatan yang bercucuran di keningnya.
Kemudian dia berjalan keluar pasar langsung menuju kios Bibi Zhao.
"Zhai Pe, sudah selesai, ya? " tanya Bibi Zhao
"Sudah Bi, hari ini saya terlalu semangat," jawab Zhai Pe, sambil tersenyum.
"Ini makan!" Bibi Zhao menyodorkan sepotong roti.
"Makasih Bi!" Zhai Pe langsung memakannya dengan lahap, sambil melihat kearah tembok tinggi yang nampak di kejauhan.
"Bi, apakah Bibi sudah pernah jalan-jalan mengelilingi kota pahlawan ini??".
"Belum, kota ini terlalu luas, bibi hanya pernah sampai ke pinggir selatan, itupun sudah menaiki kuda, kalau tidak mana sanggup bibi buat jalan-jalan".
"Aku jadi ingin mencoba Bibi, mau nengok-nengok kota Pahlawan dan istana Raja kota yang megah itu".
"Aku juga ingin lihat-lihat komplek keluargaku yang hancur dulu, aku rindu rumah dan semua keluarga ku Bi, saat ini aku pun sudah lupa dengan wajah Ayah dan Ibuku," ungkap Zhai Pe dengan mata berkaca-kaca.
Zhai Pe kemudian berdiri berkacak pinggang sambil mikir-mikir.
"Bibi, aku coba ya, nanti aku balik lagi".
"Hati-hati!!".
"Baik Bi!" sambil berlari-lari kecil.
Setelah Enam tahun berlalu kota pahlawan sudah pulih seperti sediakala, banyak bangunan megah yang sudah di bangun di sana sini, istana kota juga sudah di renovasi menjadi lebih besar dan megah.
Rumah keluarga-keluarga besar dan ternama di kota itu juga tampak megah, Asosiasi Pengobatan juga memiliki gedung yang megah bak istana.
Di tengah-tengah kota juga sudah berdiri monumen untuk memperingati dan mengenang jasa korban yang telah merelakan nyawanya untuk melindungi kota Lima tahun lalu.
"Wah, kota ini megah sekali!!" seru Zhai Pe kagum.
Komplek perumahan keluarga permata memang tidak terlalu jauh dari tengah kota, Zhai Pe sendiri masih mengingat dimana rumahnya berdiri.
Setelah lama berjalan, akhirnya dia sampai di dekat komplek perumahan keluarga permata, dia merasakan banyak kenangan di rumah lamanya, kini rumah itu memang di bangun kembali, tapi sudah menjadi bangunan museum keluarga permata. "MOESEUM KELUARGA PERMATA"
__ADS_1
"Masih di bangun, tapi sudah jadi museum," pikir Zhai Pe sambil melihat ke pampangan tulisan itu.
"Semuanya di bangun mirip dan sama persis dengan rumahku yang hancur waktu itu".
"Hei bocah! kamu tidak tertarik untuk masuk?" seorang prajurit kerajaan menyapanya.
"Tidak ada uang buat bayar masuk paman".
"Hehehehhe..ini museum tidak di pungut biaya, masuklah!!" prajurit itu tertawa mengekeh mendengar perkataan bocah itu.
Zhai Pe langsung melangkahkan kakinya memasuki ruangan utama museum itu, sepanjang dinding terpampang harta peninggalan keluarga permata seperti lukisan, lampion, lukisan wajah anggota keluarga permata dan senjata-senjata kuat yang turun temurun dari leluhurnya.
"Paman di mana semua benda-benda ini di dapatkan?" Zhai Pe, bertanya pada dua prajurit yang berdiri di tengah ruangan.
"Semua ini didapat dari reruntuhan bangunan keluarga permata!!" seorang prajurit menjawab tegas, sambil posisi tubuh masih tegap.
"Terus kenapa di jadikan museum paman??".
"Semua ini untuk mengenang jasa dari pahlawan kota ini"
"Ha!! pahlawan paman, siapa itu??"dengan sedikit rasa kaget.
"Ia adalah pengendali energi alam, 600 tahun silam dan sudah di anggap sebagai leluhur di kota ini".
Zhai Pe menggaruk-garuk kepalanya, sejenak kemudian, "Siapa namanya paman?" ia kembali bertanya karena masih penasaran.
"LIAO PE," jawab prajurit itu.
Zhai Pe mengangguk-anggukkan kepalanya merasa telah mengerti dengan silsilah dan keturunan keluarganya, kemudian dia melanjutkan melihat-lihat di dalam ruangan itu.
"Tidak ada lukisan Ibu dan juga Ayah," gumannya dalam hati.
Setelah puas melihat semua benda itu dan tidak menemukan apa yang di carinya, Zhai Pe jadi berpikir untuk pulang.
"Makasih ya paman, saya pamit dulu," Zhai Pe membungkukan badannya tanda hormat dan bergegas meninggalkan ruangan itu.
"Saya pulang dulu paman," Zhai Pe juga berpamitan dengan dua penjaga di luar.
"ya bocah! Nanti balik lagi ya," jawab seorang prajurit.
"Ia paman," sambil membungkukkan badannya, sesaat kemudian bergegas meninggalkan tempat itu.
Sepanjang perjalanan pulang, Zhai Pe terus bertanya-tanya dalam hati, mengapa keluarganya tidak pernah menceritakan hal itu padanya dan dia juga baru tau alasan kenapa keluarga permata sangat di hormati di kota itu, ternyata mereka keturunan dari salah seorang pahlawan kota.
__ADS_1