
Siang hari yang sejuk di kawasan air terjun bidadari sambil memandang berkeliling.
"Aku tiba tepat di perbatasan dengan hutan kabut kegelapan," bisik Zhai Pe dalam hati.
"Tapi jalan ini berbeda dengan saat aku datang dua setengah tahun yang lalu, jalan setapak ini seperti sering di lalui orang," sambil meneliti jalan setapak itu.
"Kayu-kayu kecil ini bekas patahannya juga masih baru," terus bertanya-tanya dalam hati.
Untuk meneliti tempat itu lebih jauh dan melepaskan rasa penasarannya, Zhai Pe kemudian mengambang ke udara sambil matanya terus memperhatikan sekitarnya untuk mengantisipasi jika nanti ada monster iblis, ia juga mengaktifkan mata tembus pandang dan pendeteksinya.
Ia kemudian bergerak menuju bukit di depannya untuk meneliti langsung air terjun bidadari tepat di balik bukit itu.
Sesampainya di puncak bukit ia melihat kebawah dan ke sekitaran air terjun lalu matanya tertuju pada sesosok tubuh yang tengah duduk bersila diatas sebuah batu di pinggir telaga air.
"Ada orang!? mengapa aku tidak mendeteksinya," sambil garuk-garuk kepalanya.
"Tapi siapa ya?? Aku rasa cuman aku dan leluhur yang ada di air terjun ini"
Di bawah air terjun itu sesosok tubuh yang sedang berkultivasi itu kemudian membuka matanya.
"Ada orang lain di sini," bergumam dalam hati.
Sambil menengadah ke bukit di sebelah air terjun itu, dengan nada setengah berteriak ia bertanya.
"Siapa di situ??" suaranya menggelegar di kawasan air terjun, menandakan tingkatan kekuatannya yang tinggi.
Zhai Pe yang merasa keberadaannya sudah di ketahui, kemudian menunjukkan diri sambil tertawa cengengesan.
"Maaf..maaf..mengganggu kultivasinya kakek," sahut sang bocah sambil mengusap-usap belakang kepalanya, lalu melayang turun.
Laki-laki paruh baya di bawah air terjun itu kemudian berdiri lalu melompat ke atas air telaga, baru saja kakinya menginjak air itu, air telaga membentuk seperti sebuah ombak yang perlahan-lahan mengangkat laki-laki itu ke atas menyusul datangnya bocah.
__ADS_1
"Seorang bocah sampai ke sini, ini sedikit mencurigakan, bahaya perjalanan kesini tidak akan bisa di lalui seorang bocah, sudah pasti ia salah satu anak buah si raja iblis!!" bisiknya dalam hati.
"Wajah kakek-kakek ini tidak asing jangan..jangan.." Zhai Pe bertanya-tanya dalam hati sambil terus memandang ke bawah, sesaat kemudian mereka berdua bertemu di udara.
"Leluhur!!!!???" teriak sang bocah setengah kaget dengan mata melotot seakan-akan bola matanya mau melompat keluar.
Berbeda dengan laki-laki paruh baya ini, ia tetap bersikap tenang.
"Siapa kau dan bagaimana kau bisa sampai ke sini??" dengan nada sedikit menggertak.
Belum lepas rasa terkejut sang bocah, ia sudah di pertanyakan oleh laki-laki paruh baya itu, sambil mendehem tiga kali dan ia menjawabnya.
"Aku..." lalu ia berhenti.
"Aku tidak bisa bicara yang sebenarnya saat ini," bisik Zhai Pe dalam hati.
"Aku..aku tersesat leluhur, entah bagaimana aku bisa sampai di sini aku juga tidak tau," jawab sang bocah berbohong.
"Lebih baik kau simpan kata-kata itu untuk alam kematianmu," teriak sang leluhur sambil mendorong tangannya ke depan, bersamaan dengan dorongan tangannya, air tempatnya berpijak menembakkan Ratusan Ribu benda berbentuk jarum yang tajam yang menderu ke arah sang bocah.
Setelah mendapat ruang gerak di bawah sang bocah kemudian menangkis serangan laki-laki paruh baya itu, ia menyilangkan kedua tangan di depan dada, "Tameng Baja Angin," teriak sang bocah menyebutkan jurusnya.
Ribuan jarum itu menderu terus menghantam ke arahnya, walaupun jurusnya sangat kuat namun menangkis serangan itu membuatnya terus terdorong ke bawah.
Tidak berselang lama kaki telah berpijak di atas pasir di pinggiran telaga.
Laki-laki paruh baya yang menyerang Zhai Pe tak lain adalah Liao Pe di masa lalu sekitar lebih 600 tahun lalu tepatnya semasa dia masih hidup.
Liao Pe menghentikan serangannya begitu Zhai Pe terpojok sampai di pinggir telaga ia kemudian merendah mendekati ke arah sang bocah.
"Saya tanyakan sekali lagi, siapa kau dan bagaimana kau bisa sampai di sini??" dengan nada mulai marah dan tangannya tengah bersiap melepaskan serangan.
__ADS_1
"Aku dari kota pahlawan leluhur, aku ter..." belum lagi Zhai Pe menyelesaikan ucapannya, Liao Pe kembali bertanya.
"Dari keluarga mana kau??" mulai tidak sabaran.
"Aku tidak bisa bilang, leluhur tenanglah, kita berasal dari tempat yang sama," sahut sang bocah, dengan tangan masih menyilang di depan dada bersiaga jika Liao Pe menyerang kembali.
"Kau tidak mau menjawab pertanyaakanku, berarti kau adalah utusan si raja iblis!!" mengambil kesimpulan dengan cepat.
"Bukan..bukan..aku orang biasa, aku dari kota pahlawan, ceritanya panjang sahut sang bocah."
Liao Pe tidak mempercayainya, ia bertambah geram dan kembali menyerang ke arah Zhai Pe, "Tombak Es," mengayunkan tangan dan air tiba-tiba bergerak ke genggamannya membentuk tombak lalu menghantamkan ke arah si bocah.
"Matilah!!!!"
Melihat serangan itu Zhai Pe tetap berdiri tenang, sedetik lagi serangan itu memecahkan batok kepalanya, dengan menggunakan kecepatan cahaya, ia lenyap dari tempat itu, tombak es menghantam tempat kosong.
"Iblis kemana kau!!!??" teriak sang leluhur sambil memandang berkeliling.
"Aku di atas," sahut sang bocah.
Liao Pe menggadah ke atas mengikuti sumber suara itu, begitu ia melihat sang bocah, bocah itu telah mengangkat tangannya ke atas dan di tangannya memegang sebuah pusaran angin.
"Itu, jangan..jangan.." belum lagi dia sempat menyelesaikan bicara.
"Kakek tua, aku sudah muak basa-basi denganmu walaupun kau itu leluhur bagi kota pahlawan tapi kau tidak memiliki jiwa satria, kau sudah menyerangku Dua kali, aku akan membalasnya sekarang, Pusaran Badai Angin!!" teriak sang bocah dengan mendorong tangannya ke bawah.
"Bocah, hentikan..!!" teriaknya bersamaan dengan sang bocah mendorong tangan ke bawah.
"Ternyata benar jurus itu," bisik Liao Pe dalam hati sambil melompat ke pinggir telaga, lalu menghentakkan kakinya ke air, air naik membentuk cekungan untuk melindunginya dari serangan itu, "Dinding Es," teriak Liao Pe.
Sesaat kemudian jurus sang bocah menghantam dinding es itu," Bumm..!!!" dinding es bagian luar pecah bercerai berai dan kawasan sekeliling air terjun itu seperti di landa topan raksasa, bahkan air yang jatuh dari atas di terbangkan oleh pusaran angin itu.
__ADS_1
"Siapa bocah ini!? dia adalah pengguna energi alam, dari mana dia sebenarnya?? di usia semuda ini dia sudah memiliki kekuatan hampir setingkat denganku," Liao Pe bertanya-tanya dalam hati sambil tangannya masih di luruskan ke depan menahan serangan sang bocah.
Sesaat kemudian tempat itu kembali normal, Liao Pe keluar dari balik dinding itu ia menggadah ke atas lalu mengangkat kedua tangannya pertanda ia tidak akan menyerang lagi.