LEGENDA SANG DEWA ELEMENTAL

LEGENDA SANG DEWA ELEMENTAL
MENINGGALKAN KOTA


__ADS_3

Siang hari di bawah terik matahari yang ganas orang-orang tetap sibuk dengan aktivitasnya.


Zhai Pe juga melakukan hal yang sama, dia terus bergiat membersihkan pasar di kota pahlawan hingga selesai.


"huftt..selesai juga akhirnya," kemudian bergerak mencari tempat yang teduh.


"Eh, mendingan aku istirahat aja di kedai bibi Zhao," pikir bocah itu langsung menuju kedai bibi Zhao.


Setelah sampai," sudah selesai ya!?" tegur Bibi Zhao.


"Barusan Bi, hari ini lumayan terik aku sampai kepanasan," seraya duduk di sebuah bangku rotan di depan kedai.


"Trengg..!! ini minum, teh manis spesial es batu Bibi Zhao," sambil meletakkan ke meja di depan Zhai Pe.


"Wah...makasih Bi!" langsung menyambar gelas itu dan meminumnya sampai ludes.


"Enaknya!! kenapa dulu bibi gak pernah ngasih saya teh dingin ini??" sambil melihat es batunya dari balik gelas.


"Dulu kamu kan sakit, kakek Law juga gak ngizinin," sahut Bibi Zhao.


"Iya ya Bi, jadi ke ingat kakek," sahutnya lemas.


Sambil bersandar di bangku rotan itu, dia memejamkan mata, kepalanya membayangkan bayangan masa lalu, mulai dari bayangan kakek Law sampai pada ingatan akan keluarganya, hingga benaknya membayangkan akan takdir kota pahlawan dan masa depan yang gemilang untuk menjaga takdir kota ini dan orang-orang yang ada di dalamnya.


"Aku harus mengubah takdir ini, menjadi pembersih pasar memang tugas yang ku anggap mulia, tapi aku tidak ingin terus seperti ini, aku harus cepat menjadi kuat, jangan sampai ada lagi orang yang merasakan hal yang pernah aku rasakan," membathin di hatinya, sambil menggaruk-garuk kepala.


"A ha..!!" tersentak bangun dia seperti mendapatkan sebuah ide.


"Leluhur.."panggilnya.


"Apa kau memanggilku bocah?? kau mengganggu istirahatku," sahut leluhurnya.


"Ajari aku kekuatan alam, aku ingin menjadi kuat seperti leluhur.." sahut sang bocah.


"Hei bocah!! Apa kamu sudah yakin??".


"Sudah leluhur, aku ingin menjadi kuat dan melindungi kota ini," berbicara keras dan berdiri dari tempat duduk sambil tangan di kepalkan.

__ADS_1


"Heh!! Kamu kenapa?" Bibi Zhao kaget dengan tingkah anak itu.


"Hehehehe..aku ketiduran Bi dan mimpi jadi super hero," wajah si bocah memerah karena malu, merasa tidak ada yang memperhatikannya ia kembali duduk.


"Hahahaha...kamu bersemangat kali bocah!" tertawa dengan tingkah si bocah.


"Hehe..iya leluhur, apa tindakan kita selanjutnya!?"


"Kita akan memulai latihan, tapi sebelumnya ada yang perlu aku jelaskan."


"Apa itu leluhur??".


"Kamu dengar baik-baik, latihan teknik kekuatan alam ini tidak bisa di latih di dalam kota kita harus mencari alam bebas yang murni dengan kekuatan alam, kita terpaksa keluar dari kota ini dan resikonya tentu kamu sudah tau, kalau melewati dinding kota ini ada ribuan bahaya yang menanti di luar sana"


"Soal itu! Leluhur tenang saja aku kan bisa mendeteksi, lagian leluhur ada bersamaku," percaya diri dari si bocah.


"Satu lagi, sebab kita harus berlatih keluar dari kota ialah karena saat praktek langsung kekuatan alam memiliki dampak yang besar bagi lingkungan, karena tingkat pelatihan dasarnya rumit, tingkat kegagalannya ialah 99 persen"


"Ini sulit leluhur," sambil geleng-geleng kepala.


"Ini adalah jalan takdirku leluhur, apapun yang terjadi aku akan tetap berlatih demi masa depan kota ini," keseriusan bocah yang usianya mendekati 9 tahun ini membuat sang leluhur merasa kembali ke masa 500 tahun lalu, pasalnya dia merasa sering mengulang-ngulang kata-kata yang barusan di ucapkan si bocah.


"Aku akan melatihmu, tapi nanti jangan nangis ya bocah!! hahahaha..."meledek Zhai Pe.


"Berapa lama waktu pelatihannya leluhur??" kembali bertanya.


"Mengenai waktu latihannya bisa membutuhkan puluhan tahun," jawab sang Leluhur.


"Ha'...!!! puluhan tahun??" menganga kaget.


"Energi alam adalah energi liar yang harus kamu serap, kendalikan dan kembali lepaskan dalam bentuk kekuatan."


"Bukankah saat ini tubuhku sudah menyerap energi alam seperti yang leluhur katakan, tubuhku juga sudah melewati penempaan dasar".


"Saat ini tubuhmu hanya menyerap Nol koma Nol Satu persen, energi yang sebesar ini dengan mudah bisa di kendalikan manusia normal," sahut Leluhurnya.


"Leluhur juga bilang, aku harus melewati empat penempaan lagi untuk bisa memiliki kekuatan alam".

__ADS_1


"Keempat penempaan ini akan terjadi dengan sendirinya seiring dengan kemampuan tubuhmu mengendalikan kekuatan alam, semua penempaan ini bisa di peroleh dengan pelatihan keras dan metode kultivasi".


"Begitu ya, setelah mendengar semua penjelasan leluhur aku jadi mengerti mengenai kekuatan ini, aku akan menguasainya dengan cepat," sang bocah merasa yakin.


"Persiapkanlah dirimu, kita akan memulai pelatihannya, kita tidak akan pulang sampai kamu bisa mengendalikan 25 persen dari kekuatan alam, aku akan mengarahkan mu langsung dalam latihan."


"Baiklah leluhur, tapi sebelumnya aku harus pamit dengan bibi Zhao dulu," sambil mendekat ke arah Bibi Zhao.


"Bi! aku pamit pulang dulu ya, terus aku juga mau bilang sesuatu sama Bibi".


"iya, kamu mau bilang apa!?" dengan wajah penasaran.


"Anu Bi, aku kayaknya gak ke pasar deh dalam beberapa hari ini, aku ingin ke perpustakaan kota dan belajar disana," terpaksa berbohong sebab kalau dibilang ingin keluar dinding kota pasti gak akan di izinkan.


"Wah..! itu bagus Zhai Pe, belajarlah disana, tapi jangan lupa kunjungi juga bibi disini, ya!" sambil mengusap-usap kepala Zhai Pe.


"Itu pasti Bi, Bibi tenang aja" jawab Zhai Pe sambil tersenyum.


"Aku pulang dulu Bi," sambil melambaikan tangannya dan berlari kecil meninggalkan kedai Bibi Zhao.


Ia langsung pulang menuju gubuk reok tempat tinggalnya, dia mengemaskan beberapa barang dan bersiap untuk pergi berlatih keluar dari kota pahlawan.


"Selamat tinggal gubuk ku, aku ingin pergi sebentar, aku akan kembali, tunggu aku.., ya!".


Ia memutar tubuhnya dan langsung berjalan meninggalkan tempat itu menuju ke gerbang utama kota di sebelah utara melalui jalan pintas yang bisa membuatnya cepat sampai di gerbang utama itu.


Tak berapa lama kemudian ia sampai di gerbang utama, didepan gerbang tampak dua orang prajurit penjaga berdiri dengan tegap sambil memegang tombak.


"Mau kemana kau bocah!?" tanya seorang prajurit.


"Anu paman, saya ingin mencari kayu bakar di sepanjang dinding luar kota," sahut Zhai Pe.


"Jangan jauh-jauh, diluar berbahaya, ngerti!!" dengan suara tegas.


"Iya paman," sahut sang bocah sambil berlalu meninggalkan tempat itu.


Ini adalah kali pertamanya Zhai Pe keluar dari kota pahlawan, dia kagum dengan keindahan alam di luar kota. Tumbuhan hijau membentang luas di depannya, perjalanan untuk berlatih akan di mulai.

__ADS_1


__ADS_2