
Dua setengah tahun telah berlalu sejak Zhai Pe dan roh leluhurnya meninggalkan kota Pahlawan dan sudah tiba waktunya untuk kembali.
Namun sebelum kepulangannya ke kota Pahlawan Zhai Pe ingin mengungkap misteri di halaman terakhir buku kekuatan alam yang ada di ruangan spritualnya, sejak dia tersadar dari kultivasi penuh petualangan itu ia tidak lagi mencoba untuk berinteraksi dengan buku itu, Zhai Pe masih penasaran dengan halaman terakhir buku kekuatan alam itu.
Sehari yang lalu..
"Sebelum kita pulang aku ingin berkultivasi beberapa hari ke depannya leluhur, aku masih penasaran dengan halaman terakhir buku itu," ungkap sang bocah.
"Baiklah, selama kamu berkultivasi aku juga ingin melatih tubuh elemen ini dan memadukannya dengan kekuatanku."
"Mungkin ini akan memakan waktu sedikit lebih lama, setidaknya sebulan dan paling cepat Tiga hari," sambung sang bocah.
"Kamu fokuskan saja kultivasinya, aku akan ke lapangan luas itu untuk melatih tubuh ini, kalau kamu selesainya cepat temui aku di lapangan pelatihan," jawab sang leluhur.
kemudian leluhurnya pergi meninggalkan Zhai Pe di pinggir telaga itu.
************
Pagi ini, sejak fajar menyingsing dari ufuk timur sebelum matahari muncul dari perehatannya Zhai Pe sudah memulai kultivasinya, ia terus memfokuskan diri melakukan penyerapan energi alam di sekitaran air terjun bidadari.
Beralih kepada sang leluhur, pagi itu dia sudah memulai latihan, Liao Pe mulai memfokuskan diri dan kekuatannya begitu dia merasakan aliran energi alam di dalam tubuhnya ia mengalirkan ke kedua tangannya,
__ADS_1
"Dinding Tanah Pelindung," detik itu juga tanah di lapangan itu bergemuru naik setinggi Tiga meter di depannya, setelah itu Liao Pe menjaga jarak dari dinding tanah itu ia kemudian mengambang ke atas, "Pusaran Tombak Angin," jurus kedua dari sang leluhur, tempat itu seperti di landa badai angin, sesaat kemudian badai angin itu telah terfokus di sekeliling tubuhnya, leluhur Liao Pe mendorong tangannya ke depan, pusaran angin berputar kedepan membentuk seperti sebuah mata bor yang berputar cepat menderu ke arah dinding tanah itu, "Tumpp...!!!" dinding tanah pecah berserakan begitu terkena hantaman pusaran angin itu, bahkan pohon yang berjarak ratusan meter di depannya masih terkena dampak jurus itu.
"Tubuh ini lumayan kuat, sama seperti tubuhku dulu," bisiknya dalam hati.
"Satu kali lagi," sambil menukik tajam ke arah aliran air di pinggir lapangan itu.
Begitu kakinya menyentuh air, energi alam yang sudah di alirkan ke kakinya membuat air itu berbalik arah, kemudian naik setinggi Tiga meter lebih, "Dinding Es" sebut sang leluhur, detik itu juga air tersebut berubah menjadi dinding es yang kokoh.
Leluhur Liao Pe menjaga jarak, ia kembali mengambang ke atas lalu mengepalkan kedua tangannya, kemudian memukul kedepan, "Amukan Tangan Dewa," teriak sang leluhur, ia melepaskan pukulan bertubi-tubi ke arah dinding es, detik itu juga dinding es itu pecah bercerai berai.
"Huft..tubuh ini mampu menggunakan serangan tingkat rendah dan sedang, namun untuk serangan tingkat tinggi yang menyerap dan melepaskan energi alam dalam jumlah yang besar aku belum yakin," bisiknya dalam hati sambil bergerak turun menginjak tanah.
***********
Bersamaan dengan itu, leluhur Liao Pe datang untuk melihatnya di bawah air terjun itu.
"Sudah berlalu tiga hari, bocah ini belum juga berhasil sepertinya, apa ya misteri di halaman terakhir buku itu??" bertanya-tanya dalam hati.
"Biarlah bocah itu memecahkan sendiri, aku juga tidak bisa membantunya, lebih baik aku pergi jalan-jalan saja, sambil bernostalgia mengenai tempat ini."
Leluhur Liao Pe kembali meninggalkan tempat itu menuju ke balik bukit air terjun bidadari melanjutkan menjelajahi tempat itu yang terhenti karena melihat monster Iblis Harimau Neraka dua setengah tahun yang lalu.
__ADS_1
"Sejak hari itu baru ini dapat kesempatan lagi buat jalan-jalan, biasanya sibuk melatih si bocah itu namun sekarang aku lebih tenang, dia sudah mempunyai kekuatan, aku juga lebih tenang serasa sudah melihat masa depan kota Pahlawan yang damai di bawah penjagaan bocah itu, nampaknya penduduk kota bisa tidur nyenyak beberapa ratus tahun ke depannya," Liao Pe mengira-ngira dalam hati.
Sepeninggalan Liao Pe, Zhai Pe yang berkultivasi dan mengalirkan kekuatan alam ke buku itu akhirnya buku itu merespon energi alam yang dialirkannya, perlahan-lahan buku itu mulai terbuka didalam ruangan spritualnya, buku itu mengeluarkan cahaya setiap lembaran demi lembarannya yang terbuka dan membalik, sampai pada halaman terakhir sebuah kalimat tertulis di buku itu seperti sebuah penjelasan dan ajaran.
"PENEMPAAN JIWA TELAH SEMPURNA JALAN TAK BERUJUNG AKAN DI TEMPUH, SETIAP BATAS JIWA BATAS PENGETAHUAN, MASA LALU ADALAH AJARAN MASA DEPAN ADALAH TUJUAN,"
Buku itu kembali menutup, setelah menutup buku itu mengeluarkan cahaya yang terang, cahaya yang keluar itu mengalir ke tubuh sang bocah, hingga sekujur tubuhnya di penuhi cahaya yang keluar dari buku itu, sesaat kemudian, "Cling.." tubuh sang bocah lenyap dari tempat itu.
"Aaaaa......!!!! " bocah itu hanya bisa berteriak panjang karena tubuhnya melayang di sebuah lorong yang gelap dan merasa ada tarikan yang menariknya terus-menerus, tak berapa lama kemudian Zhai Pe melihat ada seberkas cahaya di ujung lorong gelap itu.
"Mungkin itu ujung lorong ini," bisiknya dalam hati.
Tak lama kemudian cahaya itu sudah semakin dekat dan pertanda ia akan sampai di tempat yang belum diketahuinya.
"Bukk..!!" walau sudah menguasai diri namun ujung lorong itu ternyata terlalu dekat dengan tanah, kepalanya mendarat lebih dulu.
"Aadaww....setan alas!! tipuan ini lagi," pekik sang bocah, dia jadi teringat kisah saat dia di bawa latihan ke berbagai tempat oleh buku itu.
Setelah menguasai diri Zhai Pe memandang berkeliling.
"Tempat ini kan air terjun bidadari, kenapa aku bisa sampai kesini lagi mungkin lorong gelap itu melingkar kali ya, hahaha.." tertawa geli dalam hatinya.
__ADS_1
Zhai Pe kembali lagi ke air terjun bidadari, dia masih berdiri di tempatnya mendarat tadi sambil hatinya bertanya-tanya penasaran.