
Sekitar dua ratus tahun yang lalu pengendali kekuatan alam Pheng Law merupakan pahlawan yang telah melindungi kota Pahlawan sejak mudanya. Hari itu, Zhai Pe sampai di tempat itu, tempat pahlawan kota di besarkan dan disemayamkan dua ratus tahun yang lalu.
"Kek, tempat ini kan tempat di mana leluhur Pheng Law tinggal, aku dengar ia pengendali kekuatan alam yang hebat!".
"Hehehe, di usiamu yang sekecil ini kamu sudah banyak tau ya, apakah kamu tertarik untuk menjadi sepertinya?"tanya sang kakek.
"Tentu saja kek, leluhur Pheng Law kan orang yang di hormati di kota ini," tungkas Zhai Pe.
"Ia adalah pahlawan, sudah pasti di hormati, pengendali Kekuatan Alam dan Elemental Alam sudah dianggap leluhur di kota ini," jelas sang kakek.
"Apakah kakek juga mempunyai kekuatan??".
"Hehehehe, kakek tidak mempunyai kekuatan, hanya kemampuan mengolah herbal untuk di konsumsi menjadi obat," jawab kakek Yung Law sambil tertawa.
Sepanjang perjalanan melalui komplek perumahan keluarga Law mereka terus berbincang, Zhai Pe terus bertanya, begitu juga dengan kakek Yung Law yang terus memberikan penjelasan.
Di ujung komplek keluarga Law, terdapat sebuah rumah tua, itu adalah tempat tinggal kakek Law.
"Ini rumah kakek?" tanya Zhai Pe.
"Ia, selamat datang di gubuk reok ini," sahut sang kakek.
"Ini bagus, kok!" jawab Zhai Pe.
"Rumah ini sudah terlalu tua, kakek tinggal sendiri di sini sejak istri kakek meninggal".
"Apakah kakek tidak punya anak?".
"Tidak..kakek tidak punya keturunan," jawab Yung Law singkat.
krekk!! ketika pintu gubuk itu di dorong dan terbuka, kakek Yung Law masuk ke rumahnya, kemudian menurunkan Zhai Pe dari punggungnya.
"Kita sudah sampai, kamu boleh istirahat, anggaplah rumahmu sendiri bocah!".
"Iya kek, saya senang bisa tinggal dengan kakek," jawab Zhai Pe dengan wajah berseri.
__ADS_1
Sejak hari itu Zhai Pe tinggal di gubuk kakek Yung, Ia tampak senang dan bahagia, Yung Law juga mengajarinya berbagai hal sambil merawat bocah itu dengan memberikan ramuan herbal resep rahasia keluarga Permata.
Beberapa hari kemudian, kakek Yung Law membawa Zhai Pe ke pasar pahlawan, kakek Yung Law bekerja sebagai pembersih pasar kota Pahlawan sejak lama.
Tak terasa waktu pun terus berlalu, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, penyakit paru-paru yang di derita Zhai Pe sudah mencapai Delapan Puluh Lima persen pulih. Namun seiring dengan penyakit itu mulai pulih, penyakit lainpun datang, tubuh, tangan dan kaki Zhai Pe timbul bercak-bercak dan gatal-gatal, kakek Yung Law terus berjuang mencarikan herbal, namun hasilnya nihil.
Penyakit itu terus menerus menyerang Zhai Pe, tak terasa saat ini usianya sudah 7 tahun, demi membantu kakek yung law bekerja di pasar,Zhai Pe memakai pakaian lengan panjang,celana panjang, sarung tangan, kaus kaki dan memakai cadar menutupi hidung dan mulutnya.
"Zhai Pe, kamu istirahatkah di rumah, biarlah kakek yang bekerja," ujar kakek Yung.
"Biarkan saya terus membantu kakek, saya merasa sudah berhutang nyawa pada kakek, kakek sudah menyelamatkan hidup saya, apapun yang terjadi saya akan terus membantu kakek," ucap Zhai Pe menunjukkan semangat hidupnya.
Hari demi hari terus berlalu, dengan semangat dan rasa putus asa yang menyelimuti dirinya, Zhai Pe terus berjuang, bekerja dan mengobati penyakitnya, didalam hatinya mengharapkan setitik harapan yang akan membuatnya menjadi manusia normal kembali.
Penderitaan lain pun datang. Hari itu, saat kakek Yung Law bekerja di pasar, tiba-tiba dadanya sesak, nafasnya seperti tersumbat dia jatuh pingsan, sesaat kemudian kakek Yung Law telah tiada. Zhai Pe menangis keras di hadapan jasadnya.
Hari itu juga, adalah hari terakhir Zhai Pe bertemu dengan sang kakek, hidupnya yang dulu penuh warna dengan kakek Yung kini hanya tinggal kenangan manis.
Hatinya pilu, semangat hidup yang di dapat dari kakek Yung Law, kini runtuh bersamaan dengan meninggalnya sang kakek.
Selama berhari-hari, Zhai Pe tetap tinggal di gubuk sang kakek, Ia tidak pergi kemana-mana, Ia serasa ingin mati mengikuti sang kakek.
Perutnya yang memang terasa lapar, tanpa banyak basa basi Ia melahap makanan itu sampai perutnya kenyang.
"Zhai Pe, bagaimana keadaan mu? sudah dua minggu tidak ke pasar," seorang wanita paruh baya menyapanya.
"Eh, bibi Zhao!" bergegas cepat memakai cadarnya.
"Jangan malu, bibi sudah tau semuanya dari kakek Yung...soal penyakit yang menyerang tubuh mu."
"Tidak bi, saya hanya tidak ingin orang lain melihatnya," sambil memperbaiki cadar.
Sesaat kemudian, "Bibi saya ingin bekerja seperti kakek Yung, saya ingin membersihkan pasar dan mendapatkan uang untuk membeli makanan," ucap Zhai Pe dengan wajah seriusnya di balik cadar.
"Boleh kok, kamu boleh bekerja, kalau kamu lapar mintaklah pada bibi," bibi zhao merasa kasihan dengan Zhai Pe
__ADS_1
"Benaran bi? tapi saya tidak punya uang untuk membayarnya".
"Bayarlah nanti saat kamu sudah punya uang," ucap bibi Zhao sambil mengusap-usap pundak bocah itu.
"Baiklah bi, terima kasih atas kebaikan bibi, suatu hari nanti saya akan membalas semua kebaikan bibi," ucap sang bocah.
Mulai hari itu Zhai Pe bekerja keras, dia tidak memperdulikan kondisi luar tubuhnya.
Semangat ini di dapatnya dari kakek Yung Law, bahwa setiap hidup ada jalan baiknya dan setiap jalan kesusahan akan ada jalan kemudahan, semangat inikah yang membangkitkan jiwa hidup Zhai Pe setelah terpuruk karena meninggalnya kakek Yung Law.
Waktu terus berlalu, penyakit Zhai Pe mulai menggerogoti area dalam tubuhnya, dulu hanya terasa gatal di kulit kini mulai terasa gatal di tulangnya, sudah satu tahun lamanya, Penyakit Zhai Pe tidak mendapatkan perawatan dan obat herbal.
"Umurku hanya Delapan tahun di dunia ini, nampaknya aku akan menyusul Mu kek, tunggu aku di atas sana," ucap Zhai Pe dalam hati.
"Mungkin takdir ini sudah menentukan garis hidupku, aku rela dengan semua ini, setahun lamanya hidup sendiri serasa Sepuluh Ribu tahun selain penyakit ini yang ku derita, penyakit kesendirian lebih membunuhku," Zhai Pe menyeka air mata yang mengalir di pipinya.
Ia menggadah kelangit," Jeputlah jiwaku langit, aku sudah tidak kuat lagi, jeputlah!!" Ia berteriak dalam hati, mengenang nasib buruk dan penderitaannya.
Di saat keadaannya seperti itu, dari arah belakang, tiba-tiba datang seorang kakek tua berjalan terbungkuk-bungkuk memakai sebuah tongkat panjang lalu menyapa sang bocah.
"bocah!! sudah saatnya mengakhiri penderitaan mu, sudah waktunya kamu bangkit dan melawan penderitaan ini".
Begitu mendengar suara itu, Zhai Pe merasa berada di alam lain, sunyi, hampa, hanya suara orang itu yang terdengar, dia memandang berkeliling mencari sumber suara yang di dengarnya.
Sesaat kemudian Zhai Pe tersadar, dia memandang berkeliling dan banyak orang yang berlalu lalang.
"Aneh! siapa yang bicara, tidak ada orang tapi ada suaranya, apakah aku bermimpi??" dia kemudian menepuk keningnya.
"Ah! sakit, aku gak bermimpi, tapi siapa orang itu," Zhai Pe bicara dalam hati sambil garuk-garuk kepala.
Tiba-tiba dia merasakan pangkuannya berat, lalu menoleh ke bawah, "Sebuah buku, buku apa ini? buku ini sudah tua, jelek lagi!" bicara dalam hati sambil berpikir dan melihat-lihat buku itu.
"Aku buka aja, mana tau isinya lebih bermanfaat dari tampilan tuanya".
Kemudian Zhai Pe membuka halaman pertamanya, "KEKUATAN ALAM"
__ADS_1
"Ini judulnya, tapi kok halaman seterusnya kosong semua, udahlah! aku bawa aja buku ini, mana tau ada gunanya nanti".
Zhai Pe kemudian memasukkan buku itu kebalik bajunya, Ia langsung bergegas pulang ke gubuk reok tempatnya tinggal.