
Pertarungan antara Zhai Pe dan Monyet Iblis itu menjadi tontonan yang menarik bagi Raja Tan Sa bersama dengan prajurit kota. Mereka sangat yakin, bahwa Monyet itu tak akan bisa mengalahkan Leluhur mereka.
"Sudah pasti Leluhur ketujuh Menang, leluhur belum mengeluarkan kemampuan penuhnya," ucap seorang prajurit, yakin.
"Tentu saja, para pengendali energi alam adalah orang hebat semua," puji prajurit yang lain.
Bam! Bam! Bam!
Kibasan tangan makhluk itu menerpa habis serangan Zhai Pe.
"Benar-benar menyebalkan," rutuk Zhai Pe melompat mundur.
Wush!
Dengan kecepatan tinggi Monyet Iblis sudah ada didepan Zhai Pe mengarah pukulan padanya.
"Apa?? Bam!" Zhai Pe menyilangkan tangannya menangkis pukulan itu.
"Bum..."Tubuhnya terpelanting jauh menghantam tembok kota.
"Brengsek!! Masih sempat untuk menangkis, jika tidak, mungkin tubuhku akan hancur setelah menerima pukulannya," rutuk Su Hainy.
"Karena kamu memaksaku!! Maka lihatlah dengan baik aku menghajarmu, hiyyyaa..."
Zhai Pe menyerap energi alam dalam jumlah besar dipadukan dengan tubuhnya hingga dia berada di puncak kekuatan terkuatnya.
"Lima Bayangan Lima Elemen!!" Teriak Zhai Pe.
Wush!!
Zhai Pe membelah diri menjadi lima sosok dengan masing-masing bayangan memegang satu Elemen.
"Jika Dua Elemen mampu kau tahan, maka cobalah kelimanya!!" Teriak Zhai Pe menyerang maju.
Kelima bayangannya mengepung makhluk itu dan menyerangnya bertubi-tubi. Monyet Iblis itu mengerang keras saat tubuhnya menjadi sasaran dari Elemen alam yang berubah-ubah bentuk menjadi berbagai senjata.
GRRRR!! ROAR!!!!!
"Sekarang saatnya untuk menghabisi mu," ucap Zhai Pe.
Bayangan tanah turun kebawah, dengan gerakan menekan pada tanah ia membuat kurungan persegi dengan bagian atas terbuka.
"Segel Elemen Tanah!!"
"Di tambah dengan Tombak Tanah."
Crash!! Crash!!
Didalam kurungan itu Monyet Iblis mengerang keras saat tombak-tombak itu menghujaminya dari bawah.
"Sekarang giliranku, Petir Pemusnah Iblis!!" Ucap bayangan Zhai Pe yang memegang Elemen Petir.
__ADS_1
Duar! Duar! Duar!
Tiga kali Sambaran petir menghantam kedalam kurungan itu, Monyet Iblis meraung keras dengan tombak tanah terus menghujami bagian vitalnya.
"Masih belum..Api Pemusnah Iblis!!" Bayangan Zhai Pe yang membawa Elemen api menyemburkan apinya membakar bulu-bulu halus ditubuh Monyet itu.
"Serangan terakhir, Pedang Lima Elemen!!".
Hiyaaa....
Bum!!!
Tebasan itu membelah dua tubuh Monyet Iblis, makhluk itu mati mengenaskan dibawah siksaan Lima Bayangan Lima Elemen Zhai Pe.
"Beres.." ucap Zhai Pe dengan menyatukan kembali kelima bayangan itu dengan tubuhnya.
"Sungguh kejam.." ucap Liao Pe.
"Dari pada kita dimakan lebih baik kita sedikit kejam.." tungkas Zhai Pe.
Horee...
Prajurit kota berteriak senang melihat monster itu mati mengenaskan di hajar Leluhur ketujuh Kota Pahlawan.
"Mereka bersorak sebagai penonton, sungguh menyebalkan," ucap Zhai Pe geleng-geleng kepala.
"Lebih baik aku pergi, jika tidak aku akan ketahuan."
Zhai Pe lenyap dari pandangan Raja kota dan para prajurit itu.
"Seng Ma!! Susul Leluhur ketujuh," teriak Raja Tan Sa.
"Baik Baginda..wush!!" Menyusul kearah lenyapnya Zhai Pe.
"Mencoba menyusul ku, mimpilah!!" Ucap Zhai Pe, dengan kecepatan kilatnya Zhai Pe lenyap tanpa bekas dari pandangan Panglima Seng Ma.
Panglima Seng Ma kembali dan melapor pada Raja Kota bahwa ia gagal menyusul dan mendapatkan identitas asli dari leluhur ketujuh.
"Sungguh cepat bocah itu," puji Raja kota.
Zhai Pe kembali masuk kedalam kota, dengan langkah santai dan bersiul ia mondar mandir mencari sebuah penginapan.
"Sebentar lagi malam, jika tidak mendapatkan penginapan bakal tidur di jalanan malam ini," bisik Zhai Pe dalam hati.
"Koin ku hanya mampu membayar penginapan untuk satu malam, nampaknya aku harus mendapatkan koin, tapi bagaimana caranya??" Zhai Pe jadi bingung sendiri memikirkan nasibnya.
"Hei bocah..kalau kamu tidak menyembunyikan wajahmu saat pertaruangan tadi mungkin saja kamu sudah makan enak di istana saat ini dengan status terhormat di Kota Pahlawan," ucap Liao Pe berbisik di telinga Zhai Pe.
"Aku tidak tertarik, untuk apa status terhormat, mendingan aku berpetualang mengelilingi dunia ini dan membasmi para Monster Iblis yang selama ini membawa ancaman untuk manusia," jelas Zhai Pe pada leluhurnya.
"Keras kepala.." rutuk Liao Pe.
__ADS_1
"Makasih pujiannya Leluhur," ucap Zhai Pe.
Malam Datang dengan cepat, hawa dingin malam itu menusuk kulit hingga ke tulang, masih untung Zhai Pe mendapatkan penginapan dengan bayaran murah kalau tidak mungkin ia akan jadi patung es menjelang pagi.
Malam itu berlalu dengan cepat, Zhai Pe terbangun di pagi itu melangkah keluar untuk membeli sebuah pedang dengan harga murah, ia sudah Memikirkan semalaman cara mendapatkan koin untuk mencukupi kehidupannya.
Trang!!
Zhai Pe mencabut pedang itu dari sarungnya ia melihat kualitas pedang yang di jual di toko itu satu persatu.
"Hei bocah miskin..harga pedang disini mahal semua, apa kau akan sanggup membayarnya, jika tidak jangan sentuh barang ku!" hina seorang pelayan si toko itu.
"Baiklah..aku hanya memiliki beberapa koin, pedang yang mana bisa aku dapatkan dengan 15 koin perak ini," ucap Zhai Pe memperlihatkan Koinnya.
"Pedang Tua yang di dalam tong itu, pilihlah satu, cukup dengan koin mu" ucap wanita itu memandang rendah Zhai Pe.
"Terima kasih nona," Zhai Pe menjurah hormat kemudian mengambil pedang itu dan pergi dari toko senjata itu.
Shing...
Sampai di penginapan, Zhai Pe melihat pedang itu dengan teliti.
"Pantasan senjata ini tidak bisa melukai para Monster itu, penempaannya tidak sempurna," ucap Zhai Pe.
Zhai Pe kemudian mengalirkan Elemen Apinya untuk menempa ulang senjata itu, tak berapa lama kemudian ia pedang itu berhasil di tempa dengan sempurna.
"Saatnya mengukir pola inskripsi di pedang ini," Zhai Pe memberikan beberapa goresan di pedang itu seperti inskripsi peningkatan energi roh dan menambahkan inskripsi yang dapat menyerap energi alam untuk memperkuat pedang itu.
"Selain tahan dan kuat, pedang ini mampu memperkuat penggunanya," gumam Zhai Pe.
Zhai Pe kemudian pergi pada sebuah rumah lelang di kota Pahlawan, dengan pakaian jubah putih memakai cadar hitam agar ia tidak di kenali orang dengan mudah.
"Selamat Datang Tuan," sambut seorang wanita muda.
"Saya ingin melelang pedang ini, apa bisa?" Tanya Zhai Pe.
"Mohon Tuan tunggu sebentar, aku akan menemui ketua dulu," sambil berlari kecil menuju sebuah ruangan.
Tak lama kemudian seorang laki-laki paruh baya datang bersama dengan wanita itu.
"Selamat Datang Tuan," sapanya ramah.
"Iya Tuan, apa bisa saya melelang pedang ini?" Zhai Pe langsung bertanya tanpa banyak basa-basi.
"Owch!! Sebuah pedang, sudah lama tidak ada yang melelang pedang disini, tampaknya kami tidak bisa membantu, pedang tidak terlalu banyak diminati oleh para pembeli di pelelangan kami," laki-laki itu langsung menolaknya.
"Lihatlah dulu, mungkin Tuan akan tertarik," mencoba meyakinkan laki-laki itu.
"Maaf kami tidak ingin mempermalukan rumah lelang kami dengan barang jelek itu," ejek laki-laki paruh baya itu.
Zhai Pe hanya mengangguk, hatinya benar-benar geram melihat tingkah sombong orang-orang yang memandang rendah dirinya.
__ADS_1