
Ditengah lapangan luas di kawasan air terjun bidadari, seorang bocah berusia sekitaran delapan tahun duduk bersila mengambang di atas tanah sudah sebulan lamanya dia tidak terbangun dari kultivasinya, entah apa yang terjadi dengannya sejak dia memegang aliran petir itu tanda-tanda dia untuk terbangun dari kultivasinya juga tidak terlihat.
Leluhur Liao Pe yang sudah berwujud roh selama sebulan ini terus mengawasi sang bocah, dia sesekali meninggalkannya untuk memeriksa wilayah sekitar mengingat bahaya yang sewaktu-waktu bisa datang mengancam nyawa sang bocah.
"Sudah berlalu satu bulan, bocah ini tidak juga terbangun," bisiknya dalam hati.
"Aliran energi dalam tubuhnya masih tetap stabil, tidak ada tanda-tanda yang berbahaya untuk nya," sambil terus memperhatikan sang bocah dari ketinggian.
Waktu pun terus berlalu, sudah lebih 3 bulan lamanya sejak memasuki penempaan roh, Zhai Pe masih tak bergerak sama sekali, jika di hitung-hitung jumlah harinya sudah mencapai 99 hari lamanya.
Kerisauan mulai melalang buana dibenak Liao Pe, dia mulai khawatir dengan sang bocah.
"Jika dalam hitungan 100 hari dengan besok dia tidak sadarkan diri, itu tandanya dia telah terjebak ilusi alam duniawi, jika tidak di bangunkan jiwanya akan terjebak dalam ilusi itu selamanya," pikir sang leluhur.
"Buku aneh itu mengundang banyak misteri bagi kami, aura kehidupanku bisa di tempanya menjadi roh dan tubuh bocah itu dari penempaan dasar secara tiba-tiba langsung menjadi penempaan roh, apa ini semua karena dia bisa melihat kalimat-kalimat misteri yang datang tiba-tiba di buku itu," leluhur Liao Pe terus bergumam dalam hati sambil terus berkeliling mengawasi hutan di sekitar.
Matahari telah sampai di ufuk barat, menunjukkan tanda-tanda untuk kembali ke tempat perehatannya, sebagai gantinya muncul cahaya bulan menerangi malam itu.
"Malam ini bulan purnama rupanya, kalau masa lalu aku selalu saja berlatih di bawah sinar bulan purnama," bisik Liao Pe dalam hati.
Malam itu Liao Pe terbang ke sana kemari menari di udara untuk melepas rasa bosannya dalam kesendirian itu.
"Kalau bocah itu sadar, apakah dia akan melihat ku??" bertanya-tanya sendiri.
"Aku rasa dia akan melihatku, matanya kan tembus pandang, juga ada pendeteksi."
"Huuaaahhh...!! Aku kan roh. Kok, masih menguap, mungkin karena kesepian di tempat ini, aku jadi stress, bicara cuma sama pohon, sama angin, awan dan bintang kalau malam hari."
"Kapan bocah setan itu bangun ya?? Kalau gak bangun juga besok aku paksa ngebanguninnya," menggerutu dalam hati.
Malam itu telah berlalu, mentari kembali keluar dari persembunyiannya di ufuk timur, sinarnya kembali menyinari dunia yang penuh misteri ini.
__ADS_1
Pagi itu leluhur Liao Pe kembali berpatroli mengawasi tempat itu sambil bersiul-siul dia melayang di atas pepohonan sesekali turun dan melayang di antara pepohonan.
"Tempat ini aman, tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan dari para makhluk iblis," ia kembali menuju ke lapangan luas itu.
Sampai di lapangan itu, ia memutari tubuh sang bocah.
"Menjelang tengah hari," ucap Liao Pe sambil memandang ke langit.
"Aku ingin jalan-jalan dulu ah, ke balik bukit air terjun itu, di kehidupanku dulu, aku hanya pernah sampai dua kali tapi sudah tidak ingat apa yang ada di balik bukit itu," sambil melayang terbang meninggalkan lapangan luas itu.
"Wow..!! Indah juga tempat ini di lihat dari ketinggian, hamparan luas hutan ini masih asri rupanya."
Tiba-tiba leluhur merasakan aura membunuh yang kuat.
"Aura ini, aura monster iblis peringkat dewa," melayang mendekati aura itu.
"Monster itu iblis harimau neraka, sial..!!! ia bergerak menuju arah lapangan itu, ada tujuh monster, apa yang harus aku lakukan?!!" berpikir sambil melayang menuju ke tempat sang bocah.
Sesampainya di lapangan itu,"Bocah setan!! cepat bangun!! Nyawamu sedang terancam," menggerakkan tangan ingin menyentuh bocah itu, hampir saja menyentuh sang bocah aliran petir tiba-tiba keluar dari tubuhnya menyambar ke arah roh Liao Pe.
Liao Pe cepat menarik tangannya dan bergerak mundur menjauhi bocah itu.
"Aura ini kuat sekali!!"
"Sudah berapa kuat bocah ini sekarang, aura ini bisa membunuh peringkat raja hanya dengan sekali tekanan saja, ini mengerikan jika di bandingkan denganku dulu," sambil terus mundur.
Sesaat kemudian auranya menghilang dan bersamaakan dengan itu monster iblis harimau neraka tiba di tempat itu, ketujuh harimau itu langsung mengelilingi tubuh bocah yang mengambang itu dan mengangau pertanda mengancam.
"Pucuk di cinta ulampun tiba, aku memang ingin mencoba kekuatan ini dan kalian datang menghantar nyawa," membuka matanya dan langsung berdiri.
Zhai Pe kemudian mengaktifkan pendeteksinya dan mata tembus pandang.
__ADS_1
"Tujuh monster iblis, satu roh kultivator pasti leluhur Liao Pe," pikir sang bocah.
"Siapa yang ingin menghantar nyawa lebih dulu. kesinilah!! biarku antar ke neraka!!!" teriak bocah itu mengeluarkan aura membunuh yang mengerikan.
Leluhur Liao Pe hanya memandangnya dari jauh, dia penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Meskipun sudah merasakan aura membunuh yang mengerikan ketujuh harimau neraka itu tak bergeming, dua harimau neraka peringkat raja dan prajurit menyerbu ke arah bocah itu, ia tetap berlagak santai, sedetik lagi tubuh kecilnya di cabik-cabik ke dua harimau itu, ia mengangkat kedua tangannya sambil melompat ke atas memukul kedua kepala harimau itu, "bukkk...!!" dengan pukulan ringan tangan kosong.
Keduanya menggelepar-gelepar di tanah lalu diam tak bergerak, melihat dua kawannya mati kelima harimau iblis lainnya mengamuk menyerang secara bersamakan ke arah sang bocah.
Melalui pendeteksinya, "kelemahannya di jantung," bisik Zhai Pe dalam hati.
"Aku harus membunuhnya sekaligus."
Bocah itu menekan tangannya ke tanah, "Ranjau Tanah Dewa," teriak sang bocah.
Dari dalam tanah, muncul ratusan tombak tanah berbentuk runcing mengincar setiap bagian tubuh harimau itu.
Mendapati serangan yang mengejutkan kelima harimau itu telah terlambat untuk menghindar, kelimanya mengaum keras dan mati seketika.
"Tepat bagian jantung," bisik si bocah.
"Bocah setan!! Kau benar-benar hebat," puji Liao Pe sambil melayang ke arah Zhai Pe.
Zhai Pe hanya tersenyum sambil menggaruk-garuk kepala.
"Apa yang terjadi denganmu bocah, sudah 100 hari lamanya kamu tak bangun-bangun dari kultivasi penuh misteri itu??" tanya sang leluhur.
"Panjang ceritanya leluhur, nanti aku ceritakan, aku merasa lapar saat ini mari kita ke bukit seberang, disitu ada buah-buah enak," meninggalkan tempat itu sambil mengambang terbang seperti burung di udara.
Begitu sampai di tujuan sambil memetik buah-buahan itu dan memakannya, Zhai Pe menceritakan panjang lebar tentang apa yang terjadi selama ini kepada leluhurnya, mulai dari penempaan roh oleh buku itu hingga dia berkultivasi di bawah pengaruhnya, dia juga memperkirakan saat ini kekuatannya sudah berada di peringkat puncak dewa.
__ADS_1