LEKANG

LEKANG
Waktunya yang selalu mengalah


__ADS_3

Jarum jam menujukan waktu sepuluh menit sebelum pukul tujuh pagi, ketika terdengar bunyi gedubrak yang sangat kencang. Suara jendela terbanting, diikuti dengan langkah kaki yang cepat cepat menaiki tangga. Tak lama, sesosok pemuda tampan yang baru beranjak usia dua puluh tahun, langsung tercengang setelah melihat keadaan kamarnya yang tidak tersusun rapi lagi. Angin ribut beserta hujan kecil dari luar sudah mengacaukan segalanya.


" Huuh " Anta mendengus dengan kesal, lalu menekan kepalanya dibawah lengan. " Jika Aku rapihkan lagi, pasti Aku akan terlambat masuk kerja, padahal ini hari pertamaku memulai karir sebagai pelayan lestoran?" Anta langsung bertolak pinggang dan melamunkan harus apa Ia sekarang. Padahal kegiatan beres beres kamar dipagi hari itu adalah rutinitas harian yang sering Ia lakukan, sebagai pengurang rasa lelah ibunya agar Ia tidak merasa cape dan tidak mudah jatuh sakit, sebab kerepotan mengurus rumah sendirian.


Sang ibu yang dari tadi sudah menyiapkan sarapan, kelimpungan melihat si sulung tidak ada duduk bersama dengan kedua adiknya yang sudah bersiap untuk menyantap sarapan. Si bungsu yang baru menginjak kelas tiga sd mulai rewel, merengek meminta ibunya untuk lekas menyiapkan sarapan paginya yang tak kunjung dihidangkan juga. " Ibu, Adam lapar... Kapan sih makanannya siap?" Ibunya tengah kewalahan disana, Ia tidak langsung membalas rengekan dari si bungsu, sebab beberapa pekerjaanya telah membuat perempuan terkasih itu tak banyak bicara. Masalah masak pun tersisihkan sementara. Si anak paling tengah Arga, bukannya membantunya, Ia malah sibuk bermain game di hapenya. Kerah seragam sekolahnya pun tidak dikancingkannya, entah Ia lupa atau disengaja tapi remaja itu terkesan seperti anak sok jagoan. Ibunya yang dari tadi berbicara agar Arga segera merapihkan bajunya dan lekas membatu kerepotan ibunya sebentar itu pun, Ia sama sekali tidak menggubrisnya. Sebab kedua kupingnya dipasangkan erapon, sehingga Ia dengan mudahnya tak memasukan semua nasehat maupun perintah dari Ibunya itu.


" Sabar, Adam... Sebentar lagi Ibu masak buburnya, ini lagi cuci piring dulu, Kamu tunggu ya?" Ucap Sumbi sambil mengelap keringat di atas dahinya. Adam langsung cemberut habis itu bergegas pergi menaiki tangga kayu yang sedikitnya kayu tersebut sudah dimakan oleh rayap. " Kamu mau kemana?" Teriak Sumbi sambil berdiri.


Arga masih tetap saja tidak mau melepas eraphone itu, padahal Ia tahu jika ibunya sedang sibuk disana, tapi Ia malah terus memalingkan pandangannya ke handpone tanpa melengoskan sedikit rasa kasihan pada Ibunya.


" Kak Anta...?" Sapa adik kecilnya. Anta yang sedang membereskan kamarnya kembali, tergerak untuk menghampiri adik kecilnya itu sebentar. " Ada apa Adam, kenapa kamu terlihat kesal sekali?" Tanya Anta sambil memegangi kedua pundak adik kecilnya itu. " Kak, Adam belum sarapan.. Ibu belum juga selesai masak, terus sebentar lagi Adam bakalan terlambat masuk sekolah?" Jelas Adam. " Huuh" Anta sedikit melengoskan kepalanya kebelakang, melihat keadaan tempat tidurnya yang belum usai Ia rapihkan, langsung saja Anta pun menghela nafasnya pendek dan mengajak adiknya keluar.

__ADS_1


Sesampainya di dapur benar saja sang ibu tengah kewalahan. Kedua tangannya langsung saja mengambil beberapa wadah kotor, ibunya Sumbi langsung menegurnya. " Jangan Kak.. Nanti bajunya ikut kotor juga, bentar lagi kan kaka harus pergi bekerja?" " Tak apa Bu.. Lebih baik Ibu segera masak buburnya, agar Adam dan Arga lekas sarapan."


Sumbi langsung tersenyum tipis pada anak sulungnya yang selalu bersikap dewasa. Sumbi pun segera menyiapkan lima mangkuk diatas nampan, setelah menunggu setengah jam untuk nasi itu berubah menjadi bubur. Adam bersorak riang, Arga langsung melepaskan eraponnya setelah ibunya menyimpan mangkuk berisi bubur itu diatas meja makan.


Adam secepat mungkin menyantapnya lahap, sementara Arga tidak jadi untuk memakannya. Ia tidak suka makan bubur polos yang tidak ada toping apapun disana, dengan cepatnya Ia pun menyingkirkan makanan yang sudah dibuat dengan susah payah itu, kepinggir. Ibunya yang melihat, langsung menegur Arga sebab setelah Ia singkirkan makanan itu Ia langsung berdiri dan segera menyelendangkan tas sekolahnya itu di lengan kanannya.


" Kenapa tidak dimakan buburnya? " Tanya Sumbi sedikit gusar. " Aku tidak mau makan bubur itu?" Jawab Arga sambil cemberut. " Iya kenapa?" Ibunya bertanya kembali dan langsung melontarkan ucapan lagi padanya. " Ibu sudah berusaha buatin bubur itu, supaya Kamu tidak kelaparan di sekolah?".


" Jika Kamu tidak mau makan sekarang, Kamu bisa membekalnya kan?" Pinta Ibunya, kedua mata Sumbi pun berbinar. Arga sedikit melirikan sedikit matanya pada abangnya Anta. Anta sangat menghiraukan pandangan sinis dari adiknya itu. " Lebih baik, Ibu kasih bekalnya ke Abang Anta saja?" Jawab Arga ketus sambil menaikan ranselnya keatas bahu, seraya melengos pergi dari meja makan tersebut.


" Arga...?" " Sudah Bu.. Biarkan saja, Arga jangan dipaksa." Anta memegangi kuat tangan ibunya yang ingin menyusul adiknya, Arga.

__ADS_1


" Ibu, sebentar lagi Adam telat masuk sekolah?" Ucap si bungsu yang langsung membuat Sumbi dan Anta kaget . " Oh, ya.. Abang antar saja ya?" " Iya, Bang!".


Langsung saja Anta bergerak cepat mengatarkan Adam untuk kesekolah. Ia sudah melupakan hari pertama kerjanya itu, bahkan Anta sudah telat masuk kerja dihari pertamanya.


Setelah sampai didepan gerbang sekolah Adam. Pandanganya menangkap jam besar yang ada di atas dinding kantor sapam. Jam itu menunjukan pukul 07.45, Anta lansung menjnggalkan adik bungsunya itu di depan gerbang sekolah tanpa mengantarkannya masuk kedalam kelas. " Adam sekolahnya yang semangat, jangan nakal?" " Siapp, Abang Anta!".


Anta segera bergegas pergi dan melirik kekanan dan kekiri melihat mana tahu ada ojeg atau taxi yang lewat disana. Ia menunggu dengan tegang, kedua kakinya tiada hentinya digetarkan, satu tangan kanannya dinaik turunkan melihat jam tangan yang baru Ia sadari benda itu sudah melekat di tangannya sedari tadi.


Beberapa menit menunggu disana, tiba saja datang seorang wanita berhijab putih mengendarai sepeda motor metik berwarna merah, menghampiri dirinya sambil memegang satu lembar kertas yang bertuliskan sebuah alamat. " Permisi, Mas.. Saya mau tumpang tanya. Jalan melati no tujuh belas itu disebelah mana ya?" Tegur wanita cantik itu, Anta langsung melihat alamatnya dan langsung menjawab cepat pertanyaan gadis berhijab itu. " Oh, Mbak tigal jalan terus, nanti ada dua persimpangan. Mbak ambil jalan sebelah kanannya saja, terus nanti ketemu mesjid, nah disana nanti ada plang bertuliskan, jalan melati no tujuh belas."


Mendengar penjelasan Anta, gadis itu malah semakin kebingungan dan langsung meminta Anta untuk mengantarkannya saja. " Mas, serius loh, saya bingung. Masnya saja ya, yang anterin saya?" " Tapi, Mbak " Anta ingin menolaknya, namun gadis itu malah turun dari motornya dan segera menyuruh Anta untuk menyetir motornya didepan. " Maksudya apa Mbak?" " Masa Perempuan yang ngeboncengin laki laki?" Gadis itu mendumal setelah kedua barang yang tadi diikat dibelakang motornya diturunkannya. " Cepat, Mas. Nanti Saya telat?" Anta langsung saja menuruti perintah perempuan yang baru Ia kenali itu.

__ADS_1


__ADS_2