LEKANG

LEKANG
Maukah dia jadi madunya?


__ADS_3

Anta meletakan kedua tangannya di atas pundak Ressa. Gadis tersebut dengan sekejap melepaskan tangan itu darinya. Anta berdengus dengan penuh kecewa.


" Aku butuh kejelasan, apa kamu mengerti?" Ressa yang dari tadi hanya membuang muka, tak bisa untuk cepat menjawabnya. Sepertinya gadis cantik itu tertekan oleh setiap pertanyaan yang Anta berikan padanya. Gadis itu pun malah menangis penuh emosi di hadapannya dan memutuskan untuk pergi meninggalkan Anta di sana.


" Kenapa mereka berdua begitu munafik, jika hati mereka ingin membuka hatinya kembali untuk pria yang dulu telah membuat hidup mereka menderita, mengapa harus di tutup tutupi? Biarkan saja kesempatan kedua itu terbuka dengan kebijaksanaan."


Anta terus saja bergumam penuh tanya, kedua wanita yang selama ini, Ia anggap sudah menawarkan cinta dari sepasang matanya yang indah. Kini membuat hidupnya menjadi gundah gulandah. Ditambah adiknya Arga yang sudah membuat ulah, dengan merusak hidup gadis yang tidak berdosa, menjadikan Anta digandrungi banyak masalah.


" Semua ini pasti akan ada jalan keluarnya, tetap yakin sama Allah. Pasti kamu bisa menghadapinya, Anta." Ujar kecilnya menyemangati dirinya sendiri.


Tak lama setelah waktu baru berjalan satu jam ke depan. Anta di panggil oleh si pemilik Cafe, siapa lagi kalau bukan Farren. " Tokk... Tokkk... Tokkk.. " dengan mengetuk pintu, Farren memanggilnya dari luar. " Anta, kamu masih di dalam... Tolong keluar dulu sebentar, saya ingin bicara sama kamu?" Jelas Farren sedikit berteriak. Anta yang sedang merenung di atas kursi, langsung menghampirinya takut. " Iyaa, pak!" Jawabnya setelah membukakan pintu. " Maaf Pak, saya belum mengelap semua meja yang ada di depan, saya akan kerjakan sekarang juga." Pikir Anta menjawabnya kembali, Ia salah paham, Anta menyangka Farren memanggilnya untuk segera bekerja bukannya berleha-leha.

__ADS_1


" Tunggu, bukan itu yang ingin saya bicarakan?" Jelas Farren kembali sedikit tegang. Pembicaraan mereka mulai masuk pada obrolan serius. Farren mengajak Anta untuk masuk ke ruangan itu kembali untuk memperjelas pembicaraannya yang tadi.


" Kamu sudah mengetahui hubungan saya dengan Ressa?" Tanya Farren sambil duduk di atas kursi, seraya melihat Anta yang dari tadi menundukan kepalanya. Pemuda pendiam itu hanya menganggukan kepalanya saja, seolah mulutnya telah di kunci rapat rapat, sepertinya enggan sekali untuk menjawabnya.


" Ini, untuk kamu?" Ucap Farren sambil menyimpan selembar amplop coklat di atas meja kayu yang ada di depannya.


" Ini apa?" Tanya Anta bingung. " Itu bonus untuk kamu, sekaligus sebuah ucapan terima kasih karena sudah membantu saya untuk menyembunyikan Ressa dari istri saya kemarin. Berkat kamu, istri saya tidak jadi mengetahui, perempuan simpanan saya itu ialah Ressa, sepupunya sendiri."


" Pada intinya, jadi kamu itu tidak mau menambah dosa lagi, dengan mengambil uang ini... Ayolah jangan munafik jadi orang, sudah tahu sudah berbuat dosa pake so so an nolak segala, kalau berbuat dosa itu jangan setengah setengah." Uacap Farren dengan keegoisannya. Anta terlihat mengepalkan tangan kanannya kuat. Ia sepertinya ingin meluapkan semua emosinya itu pada Farren.


Namun suara dari ketukan pintu dari luar langsung menghentikan emosinya. Mereka barengan melihat siapa orang yang mengetuk pintu dari sela pintu dengan begitu sopannya. " Ressaaa!" Ucap pelan mereka berdua secara bersamaan. " Pak, Farren... Ada tamu di depan, katanya ada hal yang penting, mau dibicarakan?" Jelas Ressa. Farren pun secepatnya merapihkan kemejanya yang sedikit jingjet, lalu mengambil kembali uang di dalam amplop coklat tadi yang tergeletak di atas meja, seraya pergi menghampiri tamunya.

__ADS_1


Hendak Ressa ingin pergi, mengikuti Farren. Anta berrteriak kecil manggilnya, seraya berjalan menghampiri dia. " Ressaa!" " Iyaaa!" Ressa terlihat gugup berdekatan dengannya, Anta malah langsung bicara ceplas ceplos saja padanya. " Kamu dari tadi nguping pembicaraan saya dengan Farren barusan, ya?" Tanya Anta. Ressa memandanginya dengan mata yang berkaca kaca, lalu menjawabnya sayup. " Iya, lebih baik kamu tidak usah bantu Aku lagi ya, kalau nanti istri Farren datang lagi untuk melabraku?" setelah menjawabnya, Ressa pun langsung secepatnya pergi tanpa menunggu jawaban dari Anta. " Ressaa!" Anta pun berteriak kembali memanggil namanya, dengan kali ini Ia tidak menyusulnya.


Separuh permasalahan barusan sudah pergi, Anta secepatnya melakukan kewajibannya dalam bekerja. Sebagai pelayan Cafe, Ia harus giat bekerja meski keadaan Cafe sepi, tak ramai pengunjung. Entah kenapa hari ini tak ada satupun pelanggan yang datang, semua karyawan asik berleha leha dan anehnya Farren malah membiarkan sikap pemalas dari para pekerjanya. Ia malah asik berduaan lagi dengan Ressa di meja spesial mereka yang ada di samping pintu masuk/keluar Cafe.


Beda sekali dengannya, Anta malah menyibukan dirinya dengan membersihkan ruangan, mengepel teras yang kotor dan sesekali Ia pun menguping pembicaraan Ressa dan Farren.


" Kita sudah satu tahun begini terus, gak cape apa kita sembunyi terus, menutupi hubungan kita?" Tanya Farren. " Emang Mas maunya gimana?" Tanya balik Ressa. " Gimana kalau kita, menikah? Kamu tidak jenuh gitu, terus terusan kita pacaran tanpa adanya pernikahan?" Farren mulai menekan Ressa. Gadis itu sepertinya terkejut mendengar perkataan Farren barusan, wajahnya sedikit pucat dan perkataanya pun menjadi tak karuan A, I dan U gitu.


" Aaamm.. iiiituuu, uummm!" " Apa sih Sayang, kamu mau bicara apa?" Tanya mesra Farren yang langsung menyingkirkan rambut ressa yang menghalangi wajahnya dari tadi. " Begini Mas, jadi maksud Mas... Aku jadi istri kedua kamu gitu?" Jawab Ressa berbalik bertanya. Farren pun berdiri dari duduknya dan berjalan kecil mengelilingi kursi yang di duduki oleh Ressa. " Iya, apa kamu tidak mau hidup denganku?" Bisik Farren. Ressa sepertinya mulai risih dan ikut juga berdiri dari duduknya, lalu menatap dirinya ke belakang. " Itu mustahil, bagaimana dengan istrimu nanti, pasti dia akan shok sekali?" Cemas Ressa. Farren hanya menjawabnya dengan tenang " Gak usah dipikirin, kalau dia tidak setuju, Aku akan menceraikannya, dan kamu menjadi wanita pertamaku!" Jelas Farren membuat Ressa seperti jantungnya copot. Gadis cantik itu berkeringat dingin dan mulai salah tingkah. Ia tahu istrinya Farren pasti akan kecewa padanya, sebab Ressa adalah sepunya sendiri. Ia juga menghawatirkan keadaan istrinya Farren jika benar nantinya Ia jadi istri keduanya pasti penyakitnya akan kambuh. " Gimana ini?" Cemasnya terus menerus.


" Sekali lagi Aku tegaskan, maukah kamu menjadi madu dari istriku?" Semua orang yang mendengar perkataan kembali dari mulut Farren itu langsung terkejut dan tak menyangkanya, termasuk Anta juga.

__ADS_1


__ADS_2