LEKANG

LEKANG
Benarkah Ia wanita simpanan?


__ADS_3

" Aku tahu kamu seperti ini kenapa?" Ujar Resa pada Anta yang baru mengambil segelas air putih. Anta mengkerutkan dahi sambip meminum air itu, lalu duduk kemudian menjawab ucapan Resa yang setengah setengah. " Emangnya apa yang sudah membuat Aku begini?" Resa tersenyum licik kemudian mengambil kursi yang ada di samping lemari untuk duduk disampinya. " Pasti Kamu cemburu kan melihat Zerina berduaan bersama Leonard?" Anta semakin ingin tahu lebih jelas lagi hubungan antara Zerina dan juga Leonard. Ia pun bertanya pada Resa sambil memperlihatkan kedua matanya yang tajam. " Sejauh apa, hubungan mereka? Apa mereka sudah pacaran? Atau hanya sebatas mantan?" Anta terus saja menuruni Resa dengan beberapa pertanyaan, Resa sedikit mendengus lalu berjalan kecil kebalakang tubuh Anta untuk menjelaskannya. " Sebenarnya, Zerina itu bukan gadis yang baik, Ibunya aja seorang pelakor apalagi anaknya?" Resa memperkeruh suasana. Anta sangat kaget mendengar ucapan Resa yang menyayangkannya dulu saat mereka baru pertama kali bertemu. Ia hanya seorang gadis yang baik hati, ramah dan jenaka. Tapi sekarang Ia memperlihatkan sifat aslinya yang membuat dirinya menjadi ilfiel. Apalagi tadi siang beberapa karyawan menggosipkannya jika Resa hanyalah seorang gadis simpanan Bosnya, pemuda itu pun berusaha untuk tidak termakan omongannya. Ia hanya diam dan pura pura kaget saja.


" Prasaan ini sungguh membingunkan? Aku yang tadinya suka sama Resa dan ingin menerima Dia apa adanya kandas ditengah jalan hanya karena isu belaka, beberapa menit setelah kubuka hatiku untuj hati yang merasa, jika Ia juga sama memiliki prasaan yang sama denganku. Namun kali ini rasa sakit hatinya terasa sesak dan menusuk nusuk tiada henti, hanya karena melihat Ia bermesraan dengan pria lain."


Resa terlihat kebingungan melihat Anta melamun terus dari tadi. Gadis itu mulai jengkel dan memintanya untuk serius mendengarkan ceritanya yang terus menjelek jelekan Zerina. "Heeyyyy!" " Ko Kamu malah melamun, serius atuh?" Anta langsung mengesek kedua matanya kemudian memberikan senyuman hambar padanya. " Duhh, maafkan Saya Resa, Saya tidak fokus!" Resa langsung duduk kembali seraya mengisikan air ke dalam gelasnya lagi. " Kamu baik baik saja kan?" Resa menjulurkan gelas itu dengan cemas. Anta pun langsung meminumnya sampai habis. " Terima kasih, Resa!"

__ADS_1


Bukan hanya Air yang Ia isi ulang di dalam gelas itu, tapi juga Ia mengisi ulang full tekadnya untuk membicarakan lagi soal prasaan cintanya pada Anta yang tiada henti menggebu gebu sampai saat ini. " Anta, Aku boleh bicara serius tidak sama Kamu?" Anta menghela nafas perlahan sehabis minum. Resa mendekatinya sampai mendaratkan satu tangan di atas pundak pemuda itu. " Emang Kamu selama ini tidak bicara serius kepadaku?" Jawab Anta yang membuat Resa berbisik dalam hatinya sendu. " Aku selalu serius menanggapi cinta ini, tapi Kamu selalu mesimpang siurkan prasaanku, Anta." Habis ucapan itu terlepas indah dalam hatinya, Resa langsung melanjutkan perkataanya yang sempat tertunda. " Sebenarnya...?" " Ehh, tunggu jangan lanjutkan, biasanyakan orang orang kalau mau ngungkapin prasaanya suka diawali dengan kata sebenarnya, lalu kata apa yang tepat buat gantiinnya, ya?" Gumam Resa setelah Ia memberhentikan ucapannya yang tadi. Anta terlihat semakin bingung, memandangi Resa yang tiba saja berhenti berkata padanya. Langsung saja pemuda itu menepuk pundak gadis yang ada di sampingnya. " Heyyy, malah ngelamun lagi?" Resa kaget terus tak sengaja mengungkapkan prasaan cintanya dengan cara keceplosan.


" KAMU MAU JADI PACAR AKU, ANTA?"


Saat asiknya bergumam, Resa terus saja mempertanyakan terus jawaban tadi. " Gimana, jawab atuh?" Anta terus saja bergumam dalam hatinya kacau sembari melihat terus kedua mata Resa yang berbinar binar. " Jika Aku menjawabnya ya, apa yang akan terjadi selanjutnya menimpaku. Tapi sebaliknya, jika Aku berkata tidak, apa itu benar, pilihan yang tepat, mungkinkah akan menyakiti prasaannya begitu juga dengan prasaannku."

__ADS_1


Dalih dalih pembicaraan Resa yang terus terusan menekan dirinya supaya cepat menjawab ungkapan cintanya yang tadi. Tidak berjalan dengan sesuai harapannya, gadis itupun berhenti untuk memandangi pemuda yang ada disampingnya itu dengan terusnya Ia menurunkan sedikit kepalanya selebihnya Ia pun mengeluarkan air matanya meski hanya setetes.


Begitu lama dirinya menunggu jawaban Anta, Resa pun beranjak pergi namun tak bisa sempat satu tangannya dipegang kuat oleh Anta. " Tunggu, Resaa!" Gadis cantik itu berhenti terus mengusap air matanya sedikit lalu melengoskan kepala kebelakang. " Iya, Anta!" " Maaf jika Aku selama ini menganggap semua ucapan Kamu itu, hanyalah sebuah candaan saja. Tapi Aku juga punya pertanyaan yang belum terucap untukmu. Apa kamu mau mendengarkannya?" Jelas Anta memutarkan pembicaraan yang tadi. " Kenapa rasaku pertanyaan yang akan Anta ucapkan sangatlah, berat?" Gumam Resa dalam hatinya seraya duduk kembali di kursi tadi.


" Pertanyaan apa lagi, jelas pertanyaanku yang tadi juga, toh Kamu belum menjawabnya?" Tegur Resa sedikit menguras emosi. Anta dengan sigapnya langsung memegang kedua tangannya sambil menatap gadis itu dengan kedua mata yang berbinar. " Tolong jawab dengan jujur, apa benar Kamu itu seorang wanita simpanan?" Resa mengelengkan sedikit kepalanya lalu berbicara penuh padanya. " Kamu dapat info itu darimana? Siapa yang sudah memberitahu Kamu? Zerina ya, berbicara seperti itu, biar Aku kasih pelajaran Dia?" Anta memgangi kuat kedua tangannya itu, menggelengkan kepala pelan saat Resa ingin pergi menemui Zerina. " Tidak, bukan Dia. Ini tidak ada sangkut pautnya dengan Zerina, ini hanya antara Aku dan Kamu!" Resa terdiam sambil menurunkan lengan. Bibirnya bergetar sedikitnya ingin menjawab pertanyaan yang dilontarkan Anta padanya. " Iyaaaa, semua itu benar, tapi satu hal yang harus Kamu tahu, Aku tidak mau jadi wanita simpanan?" Teriak Resa emosi seraya melepaskan kedua tangannya dari genggaman Anta. " Lalu kenapa Kamu menjalaninya, jika Kamu juga tidak mau menjalaninya?" Anta mengangkat muka sebentar untuk menentang ucapannya. " Aku terpaksa!" Resa tak bisa menahan air matanya untuk keluar, terlalu lama Ia membendungnya dan kini Ia melepaskannya didepan pemuda yang Ia sangat cintai itu. Anta meresa sangat bersalah sekali telah membuat Resa menangis, Ia pun berjalan pelan menghampirinya sambil melebarkan kedua lengannya ingin merangkulnya. Resa menangis dalam pelukan hangat Anta yang pemuda itu juga tidak tahu yabg Ia perbuat itu salah atau benar. Sebab Anta baru pertama kali memeluk seorang perempuan.

__ADS_1


__ADS_2