LEKANG

LEKANG
Canda tanpa akhir


__ADS_3

" Kami ke sini ingin meminta pertanggung jawaban dari saudari Arga. Bawasannya Ia telah melakukan hal yang terlarang kepada anak saya, Mardah." Jelas orang tua itu yang sekaligus ayah dari temannya Arga. Dari tadi Ia hanya menekuk wajahnya saja tanpa berkata apapun. Namun sekarang pria dewasa itu dengan ketegangan sikapnya yang agak sedikit dingin juga, langsung berkata sedemikian yang membuat Anta dan ibunya menjadi kebingungan.


" Pertanggung jawaban apa, ya Pak?" Tanya Sumbi sembari duduk di atas kursi. Mereka pun menggobrol berposisikan saling berhadapan. Anta mulai mengkrenyitkan alisnya sedikit ke atas, lalu bergumam tanya dalam hatinya. " Apa yang sudah Kamu perbuat, Arga? Dan sekarang Kamu pergi kemana?".


Ressa dan Zerina masih bersembunyi senyap di bawah taplak meja yang melebar sampai ke bawah teras, sehingga badan mereka berdua tertutup sempurna.


" Iyaa, Pak. Tolong jawab dulu pertanyaan Ibu Saya barusan?" Tanya Anta menyambung pertanyaan Sumbi yang sempat terpotong barusan.


" Tapi Saya mau tanya dulu. Apa Ibu punya penyakit jantung, darah tinggi atau penyakit yang dapat kambuh disaat sedang kaget?" Anta dan ibunya, Sumbi saling menatap satu sama lain, sambil perlahan menggelengkan kepala mereka. " Apa maksudnya, Bapak itu dokter kali ya. Ko nanyain riwayat penyakit Ibu." Gumam Anta di dalam hatinya risih.

__ADS_1


" Kenapa tidak ada yang menjawab? Apa pertanyaan saya kurang jelas?" Ayahnya Mardah menepukkan kedua tangan, lalu kembali bertanya, " Atau kalian menginginkan saya cepat pergi?" Buk Sumbi mengangkat kepalanya, lalu menggeleng. " Tidak Pak, bukan seperti itu. Saya bingung saja, kenapa Bapak berbicara seperti tadi?" Anta tersenyum hambar ke arahnya, seraya pergi ke belakang untuk mengambil teh hangat. " Saya izin dulu mau ke belakang!" Sumbi berdecak risih, saat anaknya pergi dari hadapannya. " Kenapa Anta pergi, harusnya Ibu yang bawain minumannya kesini?"


" Kalau boleh jujur, saya boleh kenalan dulu dengan Ibu? Biar akrab gitu?" Obrolan orang tua Mardah semakin tak jelas, ternyata dari tadi bapaknya Mardah kegenitan sama ibu Sumbi. Jadi bicaranya itu bertele tele, supaya memperpanjang waktu. Mardah yang terlihat sudah tidak sabar bapaknya untuk bicara cepat cepat pada intinya, semakin meninggikan nada tangisannya sambil merengek rengek meminta bapaknya supaya berbicara langsung pada intinya. " Bapak ini sebenarnya lagi ngapain sih, bukannya bilang langsung sama Buk Sumbi, tentang Arga yang sudah membuat Aku begini!" Marah semakin kesal dan sesekali mencoba untuk pergi dari sana, tapi bapaknya masih saja menahannya.


" Sabar Nak, Arganya juga masih belum dateng. Tunggu dulu apa sebentar?" Pinta bapakanya. " Tapi sampai kapan?" Mardah menjawabnya dengan lusuh. Buk Sumbi datang menghampiri mereka yang sedang mengobrol tegang di dekat pintu. " Maaf Pak, sebenarnya ini ada apa? Saya kebingungan loh dari tadi? Sebab ketika Bapak sama Mardah datang ke sini, kalian belum memeperjelas maksud kalian datang ke sini itu apa?" Buk Sumbi tak sengaja menghujani mereka dengan segelintir pertanyaan. Bu Sumbi kelihatannya semakin geram dengan tingkah anak dan bapaknya yang dari tadi berderama tak jelas. Ia pun berbicara kembali, sebab pertanyaan banyak barusan tak satu pun mereka dapat menjawabnya. " Jika terus begini, terpaksa Saya suruh Bapak dan Mardah untuk pulang. Saya tak maksud mengusir, tapi kami di sini belum beristirahat dan waktu saya dan anak anak saya jadi terganggu." Jelas Buk Sumbi.


Tak lama setelah ibu Sumbi berbicara barusan. Arga datang dari arah depan pintu, berjalan berat melihat sudah ada Mardah dan juga bapaknya yang sedang menunggunya. " Gawat, kenapa Mardah pake dateng segala. Kan urusannya jadi berabe nanti." Sebisa mungkin Arga menghindari mereka dengan berjalan mengendap ngenap ke arah jendela kamarnya.


" Kamu mulai gak beres. Kalau Kamu laki laki, berusahalah buat nyelesain masalahmu sendri, jangan terus menghindar kaya gini." Teriak Anta dengan keras sekali, sampai terdengar oleh semua orang yang sedang bera di dekat pintu rumah.

__ADS_1


" Itukan, Arga!" Mardah langsung mengghampiri mereka. Sambil berjalan menyilap air matanya untuk keluar lagi.


" Argaaaaa!" Sapa Mardah dengan emosionalnya. " Lepasin Bang, ini perempuan gak bener, Aku mau buru buru pergi dari sini!".


Plakkkkkkkkk. Sebuah tamparan keras mendarat tepat di muka Arga yang sedikit berjerawat itu. Anta perlahan melepaskan tangannya. Arga mengelus pipinya lalu menatap gusar pada perempuan yang ada di hadapannya itu. " Kamu apa apaan, Mardah? Dateng dateng pake nampar Aku segala?". Mardah mengeluarkan segenap emosinya, air matanya pun dikeluarkan kembali. " Dasar laki laki pengecut, lihat apa yang sudah Kamu perbuat ke Aku. Sekarang Aku hamil." Teriak Mardah memperjelas keadaannya yang sekaligus membuat semua orang terkejut dan geram mendengarnya, termasuk Ibunya Sumbi.


Arga tetlihat sepenuhnya menundukan kepala. Anta menggeleng tak percaya dengan semua perkataan yang baru saja didengarnya ini.


" Argaa, benarkah semua yang Mardah bicarakan ini?" Tanya Sumbi pada anaknya kecewa. " Maaf Bu, tapi Arga masih pengen sekolah!" Jawabnya dengan meringis. Anta langsung mengajak semua orang yang ada di luar, secepatnya masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Tanpa disadari olehnya, Ressa dan Zerina masih bersembunyi di bawah meja. Anta tidak mengingat mereka lagi disaat kedatangan Mardah dan juga Ayahnya ini. " Astagfirullahhaladzhim." Zerina terbangun dari mimpinya, dan terbangun di bawah meja lebar yang berada di ruang tamu. " Ressa bangun, bangun cepat?" Goyah Zerina dengan bisik bisik. " Ada Apa, Zerina? Aku masih ngantuk?" Ressa menggeliat sambil mencoba untuk bangun. Namun Ia tidak sadar jika Ia masih berada di bawah meja. Sampai kepalanya mengenai bawah meja yang terbuat dari kayu jadi yang sangat kuat, hingga berbunyi brugkkkk dengan kerasnya.


" Aduhhh, kepalakuuuu!" Ressa menjerit kesakitan. Zerina sontak saja langsung membungkam mulutnya itu. " Diam Ressa, nanti kita bisa ketahuan?" " Tapi sakit Zerina!" Gadis manja itu perlahan mengusap kepalanya yang tak sengaja membentur meja. Ia perlahan menyingkap taplak yang menutupi meja tersebut perlahan ke atas. Melihat tenyata bukan Leonard, Farren ataupun istrinya Farren yang akan melabraknya. Ia segera keluar dari sana dan terlebih dahulu memberitahukan semuanya pada Zerina yang masih was was di bawah teras.


__ADS_2