LEKANG

LEKANG
Demi sebuah nama


__ADS_3

Anta membalikan sedikit badanya ke belakang untuk melihat gadis yang memegangi erat tangannya itu. Perlahan Ia bekata padanya sambil melepaskan tangan halus dari gadis itu. " Maaf mbak kita bukan muhrim, jadi tolong lepasin tangan saya?" " Maaf Mas!" Jawabnya singkat.


Selepas tangan gadis itu tak berpegang lagi padanya. Anta langsung meminta agar gadis yang ada dihdapannya itu berbicara dengan serius, sebab Ia tidak suka yang namanya bercanda. " Jika Mbak ingin memesan makanan, saya tidak akan pergi, jadi tolong Mbak memesanlah dengan benar?" Tegasnya yang langsung membuat gadis itu terdiam dan kembali duduk di atas kursinya.


" Emm, Saya ingin memesan roti goreng sama teh manis dingin saja" Jawabnya langsung. Kali ini gadis itu memesan dengan baik, Anta pun meresponnya dengan baik juga. " Oke Mbak, ditunggu?" Jawab Anta dan langsung pergi dari hadapan gadis tersebut.


" Anta, siapa Gadis itu? Pacar Kamu ya?" Ressa bertanya dengan menerka. " Bukan, saya juga tidak kenal siapa perempuan itu?" Jawabnya singkat. " Ohh, kirain pacar kamu. Sebab kalian itu terlihat akrab sekali," Tanya Resa kembali. " Keakraban seseorang belum tentu, jika mereka itu terkait suatu hubungan kan?" " Iya Kamu benar juga!" Jawab Resa sambil tersenyum seraya memberikan makanan pesanan gadis berhijab itu padanya.


" Silahankan, ini makananya Mbak?" Ujar Anta sambil menyimpan semua makanan itu diatas meja. " Terima Kasih."

__ADS_1


Hendak Anta ingin pergi, gadis itu tidak berhenti sampai sana untuk mendapatkan profil dirinya dengan jelas.


" Tunggu Mas?" " Iya, apa ada yang kurang?" Tanya Anta membalikan badanya. " Nama Mas siapa, apa saya boleh tahu?" Tanya gadis itu kembali dengan penuh harapan.


" Mas, itu dipanggil sama si Bos?" Ucap salah satu karyawan perempuan memotong pembicaraan mereka. " Iya tunggu sebentar?" " Maaf ya Mbak, saya dipanggil sama Bos Saya, permisi!" Ujar Anta seraya pergi dari hadapan gadis, yang dari tadi terus menerus meminta namanya.


Gadis ayu itu hanya menganggukan kepalanya saja sambil tersenyum hambar. Lalu bergumam penuh kesal pada hatinya yang dari tadi sudah digandrungi rasa gusar. " Sesulit ini kah, untuk mengetahui siapa namanya. Seperti mencari jarum ditumpukan jerami saja."


" Maaf ya Anta, sebenarnya Bos tidak panggil Kamu. Aku yang menyuruh karyawan itu, untuk berpura pura, supaya Kamu bisa terlepas dari perempuan tadi." Ujar Ressa berterus terang padanya. Anta tidak memarahinya Ia hanya membalasnya dengan senyuman lepas disaat Ressa yang tiba saja menurunkan kepalanya, sebagai rasa tak enak hatinya.

__ADS_1


" Aku tidak marah." Ucap Anta sambil tersenyum. Resa langsung saja menaikan kepalanya kembali. " Benar Kamu tidak marah?" Tanya Ressa pada Anta yang terus menerus tersenyum padanya. " Tidak, justru Aku sangat berterima kasih sama Kamu, karena sudah bantu Aku menjauh dari perempuan aneh itu." Jawab Anta yang langsung membuat Resa tersenyum lepas padanya.


Jarum jam pada dinding Cafe sudah menunjukan pukul 17.55 petang. Sebentar lagi mulai memasuki ba'da maghrib. Wanita berhijab yang ingin mengetahui siapa namanya itu tidak ada hentinya menungu sedari tadi Anta yang tak kunjung keluar juga. Padahal Anta sengaja meminta semua teman pelayannya untuk menempatkannya bekerja dibelakang saja, biar mereka yang mengurus kesibukan dari depan.


Sudah lebih dari sepuluh jam dirinya menunggu malaikat penolongnya keluar, gadis itu pun langsung mendapatkan teguran keras dari pelayan lain yang disuruh oleh Resa. " Mohon maaf Mbak, meja ini mau Saya bersihkan. Jadi tolong, Mbak bisa pergi dari sini, soalnya Saya lihat dari tadi Mbak cuma duduk duduk saja, dan mungkin mejanya juga mau dipakai sama orang lain." Perempuan berhijab itu malah memesan makanan lagi, sambil menanyakan suatu hal pada pelayan yang menyuruhnya untuk pergi. " Oke, Saya pesan lagi orange jus sama steaknya. Jangan lama lama?" Ujarnya gusar. " Baik Mbak ditunggu." " Eh, tunggu sebentar. Saya mau tanya, kapan semua karyawan disini pulang kerja?" " Maksud Mbak, waktu tutup Cafe ini?" Pelayan itu melegos kebelakang dan membalikan pertanyaan padanya. " Ya itu maksud Saya?" Jawab gadis cantik itu sigap. " Biasanya jam enam. Nanti jam sembilan malam, kami akan buka kembali." " Oke, terima kasih ya!" Pelayan itu langsung pergi dan rasa gelisahnya pun hengkang seketika mendengar jika waktu tutup Cafe ini tiba sebentar. " Tinggal beberapa menit lagi, Aku bisa bertemu denganya." Gumam Gadis itu sambil tersenyum senyum sendirian.


Dari kejauhan pesanan makanannya yang kedua sudah datang dan hampir mendekati meja. Pelayan perempuan yang sangat cantik, berpakaian serba merah hitam berlenggak lenggok mengantarkan makanan ringan itu. Siapa lagi kalau bukan Resa, si pelayan jenaka, centil dan juga sedikit judes itu berjalan layaknya seperti model yang sedang fhasion show di atas panggung Catwalk. Semua pelayan pria maupun pengunjung pria yang ada di dalam Cafe itu terpesona melihat kecantikan Resa yang terpancarkan dengan sangat menawan. Angin yang masuk dari pintu Cafe yang terbuka pun mulai menggoyangkan rambutnya yang pirang bergelombang. Terkecuali wanita yang berhijab yang ada didepanya itu, Ia seperti kesal melihat kelakuannya yang terlalu mencolok pada lawan jenisnya agar membuka peluang mereka untuk berjinah mata padanya. Setelah Resa berhadapan dengannya. Gadis berhijab itu berdecak pelan namun terdengar masuk kedalam telinga Resa dan langsung Ia pun menegurnya. " Apa ada masalah?" Gadis itu langsung menjawab Resa dengan gusar. " Resa.. Resa. Dari dulu Kamu tidak pernah berubah, Kamu selalu saja begitu".


Ternyata gadis berhijab itu mengenali Resa. Resa sepertinya juga mengenali dirinya. Pantas saja Ia dari tadi begitu sinis padanya dan selalu membuat gadis itu kesulitan untuk mendekati Anta. Resa sepertinya takut tersaingi olehnya yang sudah ketahuan dari matanya yang selalu menawarkan cinta untuk Anta. Padahal Anta hanyalah pemuda biasa yang baru Ia kenal.

__ADS_1


Sambil menyimpan beberpa makanan itu di atas meja, Ressa berbalik berdecak dan berbalik pula berbicara gusar padanya. " Kamu juga tidak berubah, masih sama seperti dulu, masih menjadi orang yang munafik." Ucapan Ressa dengan gusar. Gadis berhijab yang ada didepannya itu tidak menggubrisnya, Ia juga tidak marah maupun kesal, Ia malah menyeringaikan senyumannya sambil memegang pundak Ressa yang sedikit basah. Ressa langsung menatapnya tajam setelah tangannya itu menyentuh di atas pundaknya.


__ADS_2