
Anta merasa kurang nyaman mendengar ucapan Resa yang telah membentak Zerina barusan. Resa mulai menarik nafasnya panjang. Anta menatapnya dengan pandangan aneh. " Kenapa, sih, lo pake kesini segala buat orang kesel aja? Lagian gak ada yang ngarepin lo juga buat datang kesini."
Zerina cemberut mendengar sindiran Resa. " Sudahlah Resa, mungkin Zerina mau makan di sini, tak ada larangan kan buat Dia?" Resa menggeleng. " Kamu ko jadi belain Dia sih, dasar cowok, baru aja di tinggal sebentar udah ganjen ma cewek lain, terserah lah." Resa membentak Anta gusar dan langsung pergi ke ruangan belakang untuk meredam semua emosinya.
Anta menghela nafasnya sebentar, lalu beranjak untuk menghampiri Zerina biar lebih dekat lagi posisinya. Zerina hanya terdiam, kali ini tidak berusaha melerai. Tanpa disadarinya spekulasi Resa mengenai kisah cinta Anta. " Resa pasti menyimpan sebuah luka yang kelam."
__ADS_1
Anta membuka tombol on pada kipas angin di sampingnya, lalu menjulurkan tangan untuk memberikan tisu pada Zerina buat Ia lap semua keringatnya yang tak henti bercucuran keluar dari dalam kerudungnya. Gadis itu langsung mengambil tisu tersebut dan mengusapkannya ke pipi, kening dan juga dagunya. Setelah itu Zerina cepat mengajak Anta untuk duduk di kursi yang sudah Ia pesan sebelumnya. " Maaf ya, Anta, hubungan Kamu sama Resa jadi kacau begini, semoga aja kalian tidak putus ?" Anta mengkerutkan dahinya, membuka mulutnya sedikit menganga setelah mendengar ucapan Zerina barusan. " Sejak kapan Aku pacaran sama Resa? Zerina Kamu itu sudah salah paham... Hemm." Jelas Anta yang membuatnya kaget. Entah apa yang harus Ia ekspresikan setelah mendengar jika Anta dan Resa itu sebenarnya tidak mempunyai hubungan yang serius. Tanpa tahu harus nengungkapkannya bagaimana, Zerina hanya memilih diam terlihat biasa saja tapi di dalam hatinya Ia sedang bersorak kegirangan. " Duhh, kenapa Aku ini, ko prasaanku jadi dag, dig, dug gini lagi." " Jika benar Anta tidak pacaran dengan Resa, belum tentu juga kan Ia mau jadikan Aku sebagai pacarnya?" Sambung gumamnya gregetan. Anta sekarang yang berbalik memandanginya aneh, setelah tadi Ia sempat berikan tatapan itu pada Resa. " Kedua Gadis yang aneh, mereka sukanya senyum senyum sendiri, sambil melamun." Ujar kecilnya. lepas itu Anta yang dari tadi berada di sampinya pun berjalan pergi meninggalkannya untuk menemui Resa. Menyadari Anta tidak ada lagi disampingnya, Zerina kebingungan dan mencari dirinya setelah Ia membalikan badannya. " Anta... Loh. Kemana Dia, Anta, Anta?" .
" Yang satu hobinya marah marah, yang satunya lagi hobinya ngilang. Kedua orang yang aneh?" Ujar kecilnya kembali sambil mengaruk atas kepalanya, seraya pergi menuju ruangan akcesoris yang ada di dalam Cafe tersebut.
" Resaa... Tunggu, kita harus bicara?" Teriak Anta yang terus saja memanggil Resa, gadis itu tidak bisa diam, Ia terus saja bolak balik ke tempat ini, itu yang ada di dalam dapur. Sambil mengerjakan pekerjaannya Ia pun menyempati untuk menjawab ucapan Anta barusan. " Mau bicara apa? Aku tidak punya waktu, harusnya Kamu juga segera bekerja kan, jangan mengobrol terus, apalagi sama Cewek tadi, bikin orang ennek aja?" Anta menggelengakan kepalanya lagi habis itu memperjelas semua pertanyaannya. " Kenapa Kamu bersikap begitu pada Zerina, dia itu Gadis yang baik loh, kamu seharusnya tidak berkata kasar padanya?" Resa membelak sambil memandangi wajah Anta gusar. " Pasti Wanita itu sudah mencuci otak Kamu, kan. Jawab?" Anta menggelengkan kepala terus berdecak setelah itu langsung membalas pertanyaannya. " Tidak, lebih baik kamu itu intropeksi diri dan satu hal lagi yang harus Kamu tahu, Kita tidak pacaran, hanya sebatas teman saja, ingat itu." Usai Anta berbicara, Ia langsung cepat pergi meninggalkannya. Resa terlihat sangat kesal sekali, gadis itu sepertinya tidak terima dengan ucapan Anta barusan. Semua barang yang ada di hadapannya segera Ia singkirkan dengan melemparkan semuanya ke lantai. Brag, Brig, Brugk.
__ADS_1
Resa termasuk orang yang temperamen atau bisa juga disebut mempunyai gangguan kepribadian salah satu jenis penyakit mental. Menyebabkan penderitanya memiliki pola pikir dan perilaku yang tidak normal dan sulit untuk merubahnya.
Usai Zeriana berteriak terus memanggil Anta, tiba saja pemuda itu muncul di hadapannya sambil tersenyum membawakannya segelas teh manis dingin. " Sepertinya Kamu lelah, ini diminum dulu?" Suruh Anta dengan menyimpan minuman itu di atas meja. " Terima Kasih" Zerina meninggalkan pekerjaannya dulu sebentar, lalu duduk disamping Anta. " Aku tidak menyangka ternyata Arsiteknya itu Kamu." Zerina menyeringai. " Belum sepenuhnya juga jadi Arsitek, kebetulan Aku kuliah mengambil jurusan itu, emang dasar aja kedua teman Saya yang baru menikah tadi maunya gratisan, jadi nugasin Saya disini!" Anta tersenyum lalu mengalihkan pembicaraan. " Hehe, oh ya. Kamu sudah kenal dengan Resa sudah berapa lama?" Zerina melirikan matanya kesamping sebentar, dahinya sedikit mengkerut habis itu menjawabnya. " Kami itu dulunya berteman, bahkan sejak dari kecil sampau lulus smp." " Lalu kenapa Resa sepertinya tidak suka sama Kamu, bukannya kalian berteman?" Tanya Anta lagi. " Emm, kalau soal itu saya tidak tahu kenapa Resa bisa berubah sikap. Setelah lulus Smp, Resa tidak tinggal di samping rumahku lagi, katanya Ia mau pindah ke Amerika, karena Ayahnya ada pekerjaan disana." Jelas Zerina. Anta melamun sebentar habis itu memberikan lagi gadis itu secuil pertanyaan yang sedikit tertunda. " Apa Kamu tahu sebelumnya, Resa sudah bekerja disini sebagai pelayan?" " Justru baru kemarin, Aku juga sebelumnya tidak pernah makan di Cafe ini, Aku juga tidak tahu hal apa yang sudah menuntunku bisa ke sini. Tapi yang jelas, semenjak Aku menginjakan kedua kakiku di sini, hidupku menjadi beruba, jadi dikelilingi banyak warna yang berbeda." Mungkin sudah cukup jelas bagi Anta mendengar
semuanya. Ia segera pergi ke belakang untuk melanjutkan pekerjaannya. " Begitu ya, oh ya Zerina. Aku pamit dulu ya, mau lanjut kerja lagi, Kamu yang semangat ya dekornya?". " Semangatttt!" Jawab Zerina sedikit keras karena terlalu bersemangat.
__ADS_1
Jarum jam terus berjalan sesuai arah, pagi akan digantikan dengan siang lalu berganti petang sampai berujung malam. Begitu juga kehidupan manusia yang tak pernah berhenti untuk berubah ubah sesuai keadaan hatinya. Keburukan maupun kebaikan yang terpandangkan dalam kedua mata yang tak saling mengenal sekalipun sekilas tidak dapat diubah. Setidaknya masih ada Tuhan yang masih mau melihatmu berubah.