
Anta berdesis kesal dari mulutnya yang sedikit di miringkan. Sebab barang yang tengah di carinya tak kunjung di temukan. Anta mulai jengkel dan langsung mempertanyakannya pada Zerina.
" Kita harus mencari sampai kapan? Ini' sebentar lagi, Aku mau masuk kerja." Zerina berdengus putus asa. " Huuh, ya sudah... Kita pergi saja!" Anta menyeringai dan menghidupkan kembali motor.
Tak lama Leonard datang sambil membawa pasukan tengilnya, mereka membawa bunga mawar begitu banyak sekali. Masing masing dari tangan mereka menjulurkan bunga mawar merah pada Zerina yang melongo sedari tadi.
" Apa maksud dari semua ini?" Leonard langsung mengambil tangan Zerina yang sedang duduk di atas motor, sambil menyuruhnya turun seraya mengiringinya dengan rayuan puisi dalam secarik kertas yang Ia genggam sedari tadi, Leonard bagaikan seperti Roman picisan saja.
" Senyumanmu telah merubah hidupku, dengan cinta datang dari pancaran matamu yang indah, bagai pelangi telah menjadi jembatan untuk buih buih cinta kita agar terus bersama. Zerina... Maukah Kau menjadi sayap surgaku?"
Gadis berhijab itu seperti telah kehilangan separuh akalnya, kelihatannya Zerina terbuai oleh rayuan mautnya, tapi menurut Anta rayuan Leonard terswbut, biasa saja.
" Minggirrrrr!" Teriak Anta langsung dari atas motor yang mereka halangi jalannya. Zerina tiba saja kaget dan cepat cepat berbalik badan untuk kembal diboncengi oleh Anta.
" Ayoo pergi woyyyy..... Bosen hidup ya kalian!" Teriak Anta rusuh, sambil melewati orang orang aneh itu yang langsung menepi setelah Anta mengklaksoni motornya itu.
__ADS_1
Leonard pemuda tampan itu tak berkata kembali setelah Ia merayu Zerina. Ia sepertinya melepaskan gadis itu sesaat untuk pergi. Namun dari atas motor, bersitenggangan tadi belum usai dengan Anta yang memulai semua itu.
" Kenpa kamu diam saja? " Zerina yang mendengar pertanyaan Anta yang agak ketus, langsung cepat menjawabnya gelagapan. " Anuuu, emmmm.... Gimana ya, sulit sekali untuk menjelaskannya?" Anta semakin jengkel padanya, pemuda itu sepertinya cemburu namun, Zerina sama sekali tidak menanggapinya. " Bilang aja kalau kamu itu, mulai suka sama dia kan?".
Zerina sama sekali tak mendengar ucapan dari Anta itu. Gadis berhijab tersebut malah melamun, dalam diamnya itu terbayang wajah Leonard yang putih bersih berseri sambil mengigit salah satu bunga mawar cantik beserta dengan tangkainya.
" Kenapa Leonard sekarang berbeda, apa mungkin dia sudah berubah?" tanya penuh Zerina dalam hatinya.
Pemuda yang sedang memboncengnya sedari tadi, malah semakin kesal sebab pertanyaannya sama sekali tidak ditanggapiinya.
Setibanya di depan Cafe tempat Anta bekerja. Pemuda pendiam itu langsung turun dari motor yang di pinjamkan Zerina padanya. " Ini kuncinya, Aku simpan di sini. Makasih!" Ucap Anta dengan sedikit ketus. Zerina sama sekali tidak menggubris ucapannya lagi. Ia pun tidak segera turun dari motornya, gadis itu malah bengong dan malah senyum senyum sediri. " Gadis yang aneh, sudahlah... Mending Aku tinggalkan saja dia di sini!" Anta pun melengos pergi tak tahan dengan sikapnya yang terus saja mendiamkan dirinya.
Tak kalah menjengkelkan, dari dalam Cafe Ressa lagi lagi sedang berduaan dengan Farren si pemilik Cafe dan sekaligus sebagai laki laki yang telah menjadikan Ressa sebagai simpanannya.
Di dalam kaca yang berada dalam pintu keluar/Masuk. Anta melihat Farren memberikan sebuah kalung emas untuknya, Farren yang begitu mesranya memasangkan kalung itu pada leher Ressa, tak ada malunya memperlihatkan keromantisannya pada semua pegawai. Ressa sepertinya tidak mau menolak pemberiannya itu, Ia justru tersenyum bahagia kegirangan menanggapinya.
__ADS_1
" Mereka berdua sama saja!" Gumamnya sambil membuka pintu seraya berjalan, melintas di hadapan mereka berdua.
Ressa tak memperdulikannya, begitu juga Farren. Seolah kedua orang yang sedang mabuk cinta terlarang itu, tak melihatnya dengan terusnya mereka berbincang mesra. " Gimana Mas, cocok gak kalaung ini terpasang di leherku?" Tanya Ressa. " Kamu terlihat sangat cantik sekali!" Farren tersipu dengan keanggunan serta kencantikan yang terpancarkan dengan murni dari wajah Ressa yang berseri seri.
" Beneran Mas... Kalau begitu, seharusnya kamu juga beliin Aku cincin, anting sama gelangnya juga!" Anta yang mendengar sekilas ucapan dari mulut Ressa yang tak pernah di sangka olehnya, bahwa gadis itu akan berbicara seperti tadi. Anata langsung berdeham, terbatuk batuk dari dalam ruangan kecil, tempat istirahat para pegawai.
" Eehmmmm, uhuk uhukkkk!" Ressa tiba saja terkejut mendengar dari dalam ruangan yang ada di sampinya, ternyata sudah ada Anta. Gadis yang di kenalnya centil, pemarah namun juga baik hati, secepat mungkin meninggalkan Farren dan lekas untuk memasuki ruangan tersebut.
" Maaf Mas, saya ada urusan dulu sebentar!" Farren langsung membalasnya denga senyuman terbaiknya. Ressa menyelonong pergi memasuki ruangan yang ada Anta di dalamnya. Tanpa mengetuk pintu maupun menegurnya dari luar, gadis itu langsung masuk dan bertepatan Anta pun ingin pergi keluar juga.
" Antaaa... Kamu kenapa? " Tanya Ressa dengan kehawatirannya. " Saya tidak ada masalah, kenapa kamu tanya begitu?" Tanya balik Anta yang langsung membuat Ressa merasa bersalah. " Maaf saya tidak nyamperin kamu tadi, buat bareng pergi ke sini... Tapi Aku sudah suruh Zerina buat jemput kamu di rumah!" Jelas Ressa. Anta segera kembali duduk di kursi sambil mengeluarkan handpone miliknya. " Lain kali jangan suruh Zerina untuk menjemput saya segala, yaa!" Ressa cepat berjalan padanya lalu duduk di depan kursi, berposisikan saling berhadapan. " Sebenarnya kamu kenapa?" Tanya serius Gadis anggun itu.
"Seharusnya Aku yang harus bertanya begitu. Sebenarnya kamu itu kenapa?" . Ressa mengkerenyitkan dahinya sedikit ke atas. Matanya kosong menatapnya penuh tanya besar, karena Ia tidak tahu apa yang yang dimaksud oleh Anta. " Maksud kamu?" Anta berdiri dan berjalan kecil menghampiri kaca yang ada di samping pintu. Lalu sedikit demi sedikit membuka gordennya. " Kamu itu sebenarnya, mau atau tidak menjadi wanita simpanan Farren. Karena sikap kamu itu tidak tentu, selalu berubah ubah!" Jelas Anta sambil membelakangi Ressa. Gadis itu sedikitnya mulai jengkel, Ia berjalan menghampiri Anta yang dari tadi hanya membelakanginya saja. " Sikap mana yang berubah dariku, Aku tidak merasa jika ada yang berubah?" Jawabnya gusar. Anta melengoskan badan sedikit ke belakang. Kini posisi membelakangi terbalik. Anta yang sekarang di belakangi oleh Ressa sambil meletakan satu tangan di atas pinggangnya.
" Sebenarnya Aku bingung... selama ini kamu itu mau atau tidak menjadi wanita simpanan Farren, karena yang Aku lihat. Kamu itu hanya tidak mau berdekatan sama dia, di saat ada Aku saja." Ucap Anta dengan nada yang sangat keras. Setelah Anta membentaknya, Ressa langsung melengoskan badanya lagi, dan mereka saling berhadapan kembali untuk berbicara.
__ADS_1