LEKANG

LEKANG
Teman dan musuh yang sama sama rasa pacar.


__ADS_3

Nada bicara yang tinggi bercampur kesal membuat pemuda tampan itu agak minder padanya. Entah apa yang membuat Zerina bersikap seperti itu, tapi kemarin Ia baik baik saja bahkan hampir mendekati keakraban yang nyaris sempurna pada pemuda yang sudah menolongnya berulang kali itu. " Ko kamu berbicara seperti itu?" Tanya Anta tegas padanya. " Sudahlah Mas, jangan dekati Saya lagi? Lebih baik Mas cepat pergi dan jangan pernah muncul lagi di kehidupan Saya" Teriak Zerina memperjelas dari pertanyaannya barusan.


" Kalau sikap Kamu begini karena Aku lupa ucap salam tadi, oke Saya ulangi lagi kejadian tadi." Tegas Anta yang langsung jalan mundur untuk mengulang disaat Ia ingin menjumpainya.

__ADS_1


"Assalammualikum," " Waalaikumsalam, telat!" Zerina mulai gusar kembali padanya. Anta langsung mebalasnya singkat. " Mending terlambat dari pada tidak sama sekali!" Gadis berkerudung itu langsung membuang wajahnya acuh dan mulai mengambil handpone yang ada di dalam tasnya. Pura pura tidak melihat Anta disana.


" Tapi Kamu sedang kesusahan kan, motor Kamu kenapa, biar saya bantu?" tanya Anta yang langsung meriksa keadaan motor perempuan berhijab tersebut. " Tidak usah repot repot, mending Kamu urusin saja pacar Kamu itu, Dia dari tadi terus saj berteriak memanggil Nama Kamu?" Jawab Zerina dengan dinginnya. Anta tidak menggubris ucapannya itu, Ia terus saja mengotak ngatik motornya sampai hidup kembali. " Pantas saja, penutup ****** ban motor Kamu longgar, sehingga jadi bocor. Tapi sudah Aku kunci kuat kuat supaya tertutup rapat dan Kamu bisa melanjutkan perjalanan Kamu, sekarang." Jelas Anta yang langsung pergi dari hadapan Zerina. Gadis itu sepertinya merasa tidak enak hati padanya dari tadi Ia terus saja berbicara dingin serta terus terusan mengusir dirinya, dalam hatinya pun Ia bergumam penuh sesal. " Seharusnya Aku tidak berbicara seperti tadi, Perempuan macam apa Aku ini, Pemuda sebaik Dia seharusnya tidak Aku perlakukan seperti binatang." Zerina langsung berlari mengejar Anta, rasa tidak enak hatinya berhasil melawan egonya untuk tetap terus bersikap dingin padanya. " Mas tunggu dulu?" Teriaknya pelan sambil memegangi tangan kanan Anta dari belakang. " Anta cepat melengos kebelakang lalu menegur dirinya. " Apa lagi, apa masih belum cukup Kamu memarahi Saya tadi?" " Saya mau minta Maaf, Saya salah!" Zerina menunduk malu dengan tiada hentinya ia memegangi terus tangan Anta. Resa yang melihat kejadiannya secepat mungkin menghampiri mereka dengan berjalan cepat cepat ke sebrang jalan. Membiarkan motornya terparkir begitu saja di jalan raya. " Hey, apa apaan sih Kamu?" Resa hanya menegur Zerina saja dengan nada tingginya lalu menangkis kuat melepaskan tangan Zerina dari Anta. " Jadi perempuan itu jangan genit, jangan centil. Kalau mau ngomong gak usah pake acara pegang pegangan segala, bisa?" Kedua mata Resa merah menyala seperti biji saga yang baru matang, melihat penuh amarah pada Zerina. " Maaf!" Jawab Zerina sambil menunduk. Anta langsung melerai perkelahian itu dengan mengajak Resa untuk kembali pergi. " Sudahlah, Ress!" " Lebih baik kita lanjutin saja perjalanan kita?" Sambung Anta bicara sigap merangkul pundak Resa dan secepat mungkin membalikan badan berjalan memebelakangi Zerina. " Berharap saja tidak cukup untuk mendapatkan impian maupun tujuan yang kita inginkan!" Gumam Zerina tiada henti memandangi kesakitan hatinya, melihat Anta yang tengah bermesraan kembali dengan Resa.

__ADS_1


Dijalanan mereka tiba saja saling diem dieman tanpa mengobrol kembali maupun bercanda lagi. Setelah sampai di depan Cafe, tempat mereka berdua bekerja pun mereka masih saling berperan bagai patung. Resa masih kesal dengan Anta yang tidak pernah memikirkan dan tidak pernah mau mengerti tentang prasaan cinta terhadapnya. Sementara Anta masih melamunkan kenapa Resa begitu bencinya kepada Zerina, yang sampai saat ini Anta pun masih belum tahu siapakah nama gadis berkerudung tersebut dan apa sangkut pautnya dengan dirinya, sehingga Resa bersi keras menghalangi Anta untuk berdekatan dengannya.


Setelah Ia membuka sedikit pintu kasihnya untuk kedua hati yang ingin memasukinya. Hari harinya kini dikerumuni dengan pertengkaran, keegoisan serta kecanggungan yang begitu hebatnya. Ia merasa jika prasaannya sudah salah memperkenalkan semua rasa itu untuk lebih jauh lagi. " Apa yang salah denganku, apa dari rupa, sikap atau perasaanku. Sehingga drama serumit ini bisa terjadi?" Gumamnya penuh dengan tanya. Hari ini tidak ada kemarahan maupun teguran karena datang terlambat. Anta dengan Resa berhasil datang tepat waktu, semua pekerjaannya pun dikerjakannya dengan baik juga. Namun sayangnya mereka berdua hanya kebanyakan melamun saja.

__ADS_1


" Kringggg! " Bel berbunyi sebagai tanda tamu pertama datang. Senyuman merona terpancarkan dari bibir semua pekerja disana. Keistimewahan Cafe itu adalah alrm istimewah ketika tamu pertama dan tamu terakhir akan berbunyi sedemikian merdunya. Resa sontak terbangun dari lamunannya, lekas menghampiri kedua insan yang baru saja memasuki Cafe. " Permisi Mas, Mbak. Ada yang bisa Saya bantu?" Tanya Resa dengan lembutnya sambil tersenyum manis sebagai ciri kasnya Ia sebagai pelayan yang paling cantik diantara pelayan wanita yang lainnya. " Kami ingin menyewa penuh Cafe ini, bisa?" Jawab kedua pengantin baru itu. " Bisa Mas, bisa banget!" Jawab Resa langsung mencatat semua apa yang pelanggan istimewanya itu perlukan. " Baik semuanya sudah Saya catat, tinggal mendekor rungannya saja?" " Jelas Resa. " Kalau masalah itu sudah Saya berikan pada teman Saya, kebetulan teman Saya itu arsitek dan mungkin nanti malam Ia bisa hadir di sini untuk mulai mendekor semuanya." Jawab tamu tersebut. " Ohh, baik kalau begitu. Terima kasih!" Resa langsung pergi pamit dari meja yang di depan pintu Cafe, untuk memberitahukan semua temannya jika hari ini mereka harus lembur termasuk juga Anta. " Hari ini Kita akan sibuk guys, nanti jam delapan malam akan ada pesta univesery pernikahan di sini, semuanya semangat yaaa!".


__ADS_2