
Dikutip dari Jurnal Hukum Perdata Islam, menurut pendapat Imam Syafi'i, perkawinan akibat hamil di luar nikah adalah sah hukumnya. Perkawinan boleh dilangsungkan ketika seorang wanita dalam keadaan hamil. Baik perkawinan itu dilakukan dengan laki-laki yang menghamilinya atau dengan laki-laki yang bukan menghamilinya.
Arga terlihat gelisah sekali, kepalanya mulai berkeringat banyak dan kedua tangannya tak berhenti untuk bergetar. Wajah polosnya mulai merah memanas, Ia tiada hentinya mengelap semua keringat yang bercucuran itu dengan sapu tangan yang belum Ia cuci selama satu minggu. " Bau banget ini, Aku lupa untuk mencucinya. Apa Aku jadikan ini sebagai alasan saja? Supaya Aku bisa pergi dari sini?" Pikirnya licik. Anta dan Ibunya Sumbi tak berhenti untuk melototinya dengan kedua mata mereka yang dipenuhi emosi. " Oh iya, Aku lupa. Sapu tangan ini belum Aku cuci, Aku izin dulu ke belakang buat mencucinya, ya?" Anta berdeham seolah ada sesuatu yang menyangkut di dalam tenggorokannya. " Ehemmmm". Arga yang ingin beranjak berdiri dari sofa tadi, tiba saja berhenti lalu kembali duduk.
" Maaf Pak sebelumnya, jika semua ini memang benar. Apa Bapak memperbolehkan Arga dan Mardah untuk menikah dini?" Tanya Ibunya sedikit kacau. Arga hanya diam saja dari tadi, sentara Mardah tak berhenti menangis.
" Jika itu keputusan yang terbaik, saya bisa memakluminya. Sementara Arga masih mau bertanggung jawab." Jelas Bapaknya Mardah dengan nada bicara yang sedikit tenang.
__ADS_1
" Tapi Saya tidak mau menikah sekarang Om, sekolah juga belum lulus?" Celetuk Arga sambil berdiri. Anta berjalan dari kursinya menuju sofa yang sedang Arga duduki. Ia sepertinya ingin menahan adiknya yang barusan meledakan emosinya untuk membela diri.
Sambil memegang kedua pundaknya, Anta mencoba untuk menenagkan. " Kamu tidak boleh begitu, coba selesaikan semuanya pakai kepala dingin," " Tapi Aku tidak mau menikah sekarang Bang, Aku masih mau sekolah!" Jawab Arga sambil merengek padanya. Anta tidak banyak berbicara lagi, sebab Ia sepertinya sudah kehabisan kata kata untuk melerai emosi adiknya yang semakin meninggi.
" Arga masih keukeuh dengan kemauannya. Jika terus seperti ini, tidak akan ada yang mau mengalah." Gumamnya kebingungan. Anta perlahan mencoba untuk membicarakan hal itu lagi dengan sangat hati hati. " Pak, Kita bisa bicara empat mata, sebentar saja?" Mardah menggeleng untuk menolak ajakan Anta barusan. Lalu perlahan mendekati telinga bapaknya dan membisikan sesuatu padanya. " Lebih baik kita lanjutkan saja besok, nanti kita ke sini lagi, Pak. Aku sudah capek!" Pak Brata langsung mengabulkan permohonan anak kesayangannya itu. Sambil berdiri lalu berpamitan, mereka pulang dengan meninggalkan ketidakpastian.
" Aku yang selama ini jadi wanita simpanan Farren saja, tidak pernah sekalipun berbuat macem macem. Paling, cuma pegangan tangan aja, kaya orang pacaran." Gerutu Ressa membuarlt Zerina sedikit jengkel. " Sifat orang itu berbeda beda. Mending kita cepat keluar saja dari sini, udah sesak sekali nafasku, dari tadi kita hanya bersembunyi di kolong meja."
__ADS_1
" Antaaa!" Sapa kedua gadis itu dengan lembutnya. " Zerina, Ressa. Kalian habis dari mana? Aku pikir Kalian sudah pergi dari rumah ini?" Tanya Anta singkat. " Kami tadi ketiduran, sakin takutnya kalau yang datang itu, benar orang yang Kami pikirkan," Jawab Zerina dengan sedikit sumbang. " Tapiii, bukan ya Anata?" Ressa melirik tanya pada pemuda itu, Anta hanya tersenyum membalas mereka lalu bertanya lagi pada keduannya.
" Emmm... Kalian masih mau menginap di sini?" " Aku pikir, lebih baik Aku pulang saja. Pasti leonard sudah tidak menungguku di rumah!" Jelas Zerina. " Iyaa, Antaa. Aku juga sebaiknya pulang. Kasihan Bapakku pasti nyariin." Jawab Ressa menyambung jawaban dari Zerina.
" Baik kalau begitu, apa perlu saya antar?" Ajak Anta. Kedua gadis yang ada di hadapannya malah saling menatap. Mereka seolah sedang membicarakan dirinya dalam hati mereka. " Tidak usah Antaa, Kami bisa pulang sendiri!". Ressa menghampirinya sambil memegang satu pundaknya yang terlihat tak seimbang dengan pundak yang satunya lagi. " Kamu lebih baik segera istirahat, Aku dan Zerina bisa naik ojeg online ko," Anta tersenyum harap padanya sambil melepaskan kembali jaketnya. " Yaa, sudah. Hati hati ya. Maaf atas semua kegaduhan yang barusan terjadi di sini?" Zerina menggeleng kecil lalu mengajak Ressa untuk segera pulang. " Ya, sudah Anta. Kami pulang dulu ya," " Sampai bertemu besok di Cafe!" Seru Ressa dari luar pintu sedikit meneriakinya penuh semangat.
Waktu menunjukan pukul 22.00 tepat. Keadaan di rumah kembali senyap. Semua orang sudah tidur pulas bersama mimpi indah mereka. Arga sudah tidak lagi mengetuk pintu kamar Ibunya. Ia sepertinya sudah tidur atau lagi merenung di dalam kamarnya. Anta melihat pintunya terbuka sedikit. Ia langung mengintip sedang apa dia. Ia pun melihat kejadian yang tak terduga yang belum pernah Ia lihat dari adiknya itu sama sekali. " Arga salat?" Gumam kecilnya yang langsung menutup pintu kamar adiknya rapat rapat. " Semoga saja Allah dapat mengabulkan semua doamu, Dek!".
__ADS_1
Usai melihat Arga yang tiba saja berubah. Ia pun memikirkan jauh tentang dirinya lagi, kapan Anta bisa salat subuh tepat waktu. Dua minggu belakangan ini Ia sering terlambat meski alarm sudah dipasang pun badanya masih lelap tertidur dan tak mau bangun tepat alrm tersebut berbunyi. " Aku tidak mungkin salat subuh jam tujuh pagi terus. Sepertinya semenjak Aku bekerja di Cafe dan bertemu dengan orang orang baru yang melibatkan Aku dengan permasalahan. Membuatku lupa akan segalanya. Termasuk, cintaku pada Allah" " Dengan ini Aku harus lebih berusaha lagi, untuk tidak lagi ikut campur dengan permasalahan apapun lebih jauh lagi!".
Saat Anta bergumam penuh pada dirinya. Handpone yang ada di atas meja laci dekat ranjang tempat tidurnya itu berbunyi. Cepat Ia pun mengangkat telpon itu. " Iya ada apa, Zerina?" Tanya Anta. " Aku mau ucapin terima kasih sama Kamu, karena sudah menolongku dari kejaran Leonard." Jelas Zerina senang. " Iya Zer... Tapi Kamu harus ingat. Dia tidak akan berhenti sampai hari ini saja. Akan ada hari esok dan seterusnya. Kamu tidak bisa menyelesaikan masalah hanya dengan terus menghindarinya. Aku harap, Kamu dan Ressa bisa lebih dewasa lagi." Ujar Anta panjang lebar padanya. Zerina berhenti sejenak dari pembicaraannya di dalam telpon. Anta langsung menghubunginya kembali dengan terus menyapanya. " Haloo, Zerina. Kamu masih ada di sana?" Tidak ada jawaban lagi sementara telphonenya masih menyambung. Jika sinyalnya tidak ada atau putus putus pasti akan ada bunyi tutt, tuttt, tutttt.