
Anta menghela napas panjang, untuk menjelaskan kedatangan kedua teman wanitanya ke rumah ini. Sebelumnya pemuda yang dikenal sangat pendiam dan jarang bersosialisasi itu, tidak pernah membawa satu perempuan mana pun ke rumah sederhananya. Jadi wajar jika sang ibu, Sumbi menaruh tanda tanya besar pada anak sulungnya itu. " Ayo, jelaskan!" Ibunya dari tadi tak sabar menunggu rangkaian kata yang berpadu ucapan A, I dan U terucap dari mulut anaknya, yang dimana Ia mengucapkannya, jika sedang merasa canggung.
" Anuuu, Bu... Anuuu?". Benar saja Anta masih belum percaya diri untuk membicarakannya.
" Mau ngomong apa Kamu Anta, gak jelas. Ibu semakin marah loh, kalau kamu tidak cepat cepat berterus terang padanya?" Gumam Anta dalam hati. Ibunya semakin menatap tajam dirinya, lalu menaruh satu tangan di atas pundak anak laki lakinya yang dari tadi terus bergetar.
" Hukum pacaran dalam Islam pada dasarnya menjelaskan bahwa umat tidak diperbolehkan memiliki kekasih kecuali ikatan pernikahan." Jelas Sumbi dengan hati hati.
__ADS_1
" Tapi, mereka bukan pacar Anta Bu. Mereka hanya teman!" Jawab Anta membuat Sumbi terlihat sangat lega sekali mendengarnya. Langsung saja Anta meminta Ibunya untuk tidak berperasangka buruk lagi padanya. " Ibu percaya kan, sama Anta?" " Ya, Ibu percaya!". Tak lama setelah Sumbi menjawab, celetukan Arga yang baru saja keluar dari kamar, membuat situasi mendadak menjadi panik. " Jangan mudah percaya Bu, bisa saja kan, kedua perempuan itu beneran kekasih Abang Anta. Mereka juga sama sama cantik, mana mungkin Abang Anta mau menyia nyiakan, hanya untuk menjadikan mereka sebatas teman saja." Anta menggeleng. " Apa.. Apaan sih Kamu?" Pemuda itu sangat gelisah sampai bicaranya pun terbata bata. " Buu, Abang Anta ini sudah lama menjomblo. Wajar saja kan, jika sekarang Dia mau menjalin hubungan dengan lawan jenisnya." " Aku bilangin ya, Bang. Makannya jangan munafik jadi orang. Gini kan jadinya, kalau punya nafsu berlebihan, sekali jatuh cinta, eh dua wanita yang nyantol sekaligus." Sambung Arga berkata pedas pada Kakak laki lakinya yang sedang terpojok. Anta menatap ibunya dengan kedua mata yang berbinar binar, sedikitnya Ia pun menggelengkan kepalanya. " Tapi Anta gak mungkin ngelakuin hal itu Bu, apalagi melanggar larangan dari Allah. Aku takut dosa, Bu!" Sumbi tidak sepenuhnya menggubris perkataan Arga yang menuduh, jika Anta sudah melanggar aturan agama yang sering diajarkan oleh ibunya. " Biar lebih jelasnya, Kita ke sana dan tanyakan pada mereka, apa mereka ke sini itu tidak untuk meminta pertanggung jawaban dari Abang Kamu, atau hanya sekedar main saja." Usul ibunya.
Dengan begitu merekapun menghampiri kedua gadis cantik yang sedang asik makan itu. Sebelum Anta dan Ibunya meninggalkan mereka berdua di atas meja. Sayur asamnya masih penuh, dengan banyaknya air kuah yang menggenangi beberapa sayuran di dalam wadah plastik. Sekarang yang tersisa hanya tinggal baskomnya saja dan segelintir nasi berserakan di atas meja. " Maaf ya Bu? Sayur asamnya Kami habiskan, soalnya enak banget." Ressa mulai tak tahu malu, sambil menjulurkan piring kosong bekas Ia makan tadi. Gadis itu menanyakan apa ada lagi sayur asamnya di belakang. Sumbi tersenyum kagum, sebab selama ini Ia memasak sayur asam tidak pernah habis. Selalu tersisa bahkan sesekali Ia membuangnya. Jadi ibu tiga anak itu langsung kegirangan dan segera mengambil sisa sayur yang belum dihidangkannya. " Tunggu sebentar,ya Neng!" Ressa tersenyum senang melihat ibunya Anta yanga mau mengmbilkannya lagi sayur asemnya. Zerina tak berhenti bergeleng, lalu berbisik pelan padanya. " Kamu tidak malu apa? Gak sekalian nanti di bungkus aja buat di bawa pulang?" " Ide yang sangat bagus!" Jawab Ressa jenaka.
Tokkk... Tokkk... Tokkkkk
Krekettttttt
__ADS_1
Setengah pintunya terbuka sedikit demi sedikit, Zerina dan Ressa langsung menutupi kedua telinganya rapat rapat. Takut mendengar percakapan mereka yang nantinya benar, jika tamu itu adalah orang yang mereka curigai. " Aku tidak berani mendengarnya, Ressa!" " Aku juga zerina!". Kedua gadis itu seperti sedang bermain petasan saja, menunggu kapan petasan yang mereka lempar akan meledak. Ketakutan berposisikan tiarap.
" Cari siapa ya, Pak?" Tanya Anta pada pria dewasa yang sedang membeyeng tangan anak gadisnya menangis.
" Di mana Arga?" Tanya balik Pria dewasa itu gusar. " Argaaa, tadi ada. Sekarang tidak tahu pergi ke mana." " Emm... Kalau boleh Saya tahu, Bapak mau cari adik Saya ada perlu apa ya?" Anta terlihat cemas sekali sampai bertanya dua kali pada seorang ayah yang sepertinya sedang emosi tepat dihadapannya itu.
Pria itu tidak menjawab pertanyaan Anta, Ia hanya diam sambil sesekali memarahi anak perempuannya yang dari tadi terlihat menangis tak karuan di balik badannya yang agak tambun. " Atau Bapak sama Anaknya mau tunggu di dalam saja, mari Pak?" Ucap Anta mengusulkan kedua tamunya itu agar menunggu di dalam saja. Setelah mereka masuk ke dalam. Pintu rumah di tutup rapat rapat olehnya. Hatinya masih cemas dan masih bertanya tanya, mau apa sebenarnya mereka datang ke sini. Anta menyuruh tamunya untuk duduk di kursi sopa yang ada di ruang tamu, sebab jika mereka duduk di meja makan, kasihan Ressa dan Zerina mereka masih bersembunyi di bawah meja dan belum mau untuk keluar.
__ADS_1
Dari arah dapur Ibunya datang membawa sayur asem yang dari tadi di tunggu tunggu oleh Ressa. Sumbi membawanya dengan wadah yang lebih besar dari sebelumnya. Menyadari aa tamu lagi yang datang, Ia menyimpan dulu sayur itu di atas meja tadi. " Bang Anta, siapa mereka?" Tanya Ibunya sambil menghampiri Anta yang tengah duduk cemas memandangi tamu yang baru datang tersebut. " Anta juga tidak tahu, tapi mereka mencari Arga. Namun pas Anta tanya mereka ada perlu apa sama Arga, mereka tidak menjawabnya." Jelas Anta yang membuatkan kembali tanda tanya besar dalam pikiran Sumbi untuk anak keduanya itu.