
Resa terbangun dari duduknya yang tenang. Ia mengucek mata untuk mengusir sisa tidur, lalu beranjak bangun dari kursi yang ada di luar Cafe yang bertepatan di samping pintu. " Anta!" Dipanggilnya pemuda yang sedang mengobrol mesra dengan perempuan yang dianggapnya sebagai musuh. Resa langsung menghampiri mereka dengan berdiri di tengah tengah obrolan. " Kamu dari mana aja, katanya mau pulang bareng?" Tanya Resa dengan nada yang sedikit kesal. Anta langsung menggaruk kepalanya sambil menjawab pertanyaan itu. " Tadi Saya ada urusan, maaf ya sudah membuat Kamu menunggu?". Zerina merasa tidak enak dengan Resa, Ia pun memilih pergi dari pada harus bertengkar lagi dengannya. Segera gadis berhijab itu merapihkan beberapa barang yang belum dimasukan kedalam tasnya dengan cepat. Anta yang melihat Zerina tergesa gesa langsung bertanya sambil menghampirinya." Kamu mau kemana? Kenapa terburu buru?" " Saya mau pulang Mas. Takut kemaleman!" Jawab Zerina yang langsung melengos pergi. Anta yang ingin mengejarnya terhalangi oleh pegangan Resa yang halus, satu tangannya ditarik dari belakang Anta pun langsung melengoskan kepalanya untuk melihat Resa.
Resa langsung mengelengkan kepalanya pelan, mengisaratkan jika Ia tidak boleh pergi untuk mengikuti Zerina. Anta langsung tersenyum tipis dan memilih untuk diam bersamanya. Sementara Zerina terus saja berjalan meski tidak cepat. Sesekali kepalanya pun menoleh sedikit kesamping untuk melihat Anta, apa Ia akan mengejarnya atau tidak. Zerina berharap pemuda yang sangat Ia idamkan itu dapat mengantarkannya pulang, sambil mendengus setelah menaiki motornya Ia bergumam pada dirinya sendiri. " Huh, sudahlah Zerina. Mana mungkin Dia mau menghampiri Kamu dan berkata, apa Aku boleh anterin Kamu pulang? Kaya di film film korea gitu." Zerina terihat sedih sekali, harapannya untuk bisa mengenal supaya lebih akrab lagi dengan Anta kandas. Resa terlalu licik mempermainkan segalanya. Zerina tidak mungkin bisa mengalahkan tipu muslihatnya. Tanpa berlama lama Zerina langsung pergi setelah helm merahnya dipasang di atas kepalanya. Melajukam motornya secepat mungkin melewati Anta dan Resa yang terlihat mesra, bergandengan tangan menyusuri jalan. Gadis berkerudung itu semakin teriris hatinya, pemuda yang baru saja menolongnya dan secara tidak langsung telah mengenalkannya pada prasaan cinta, malah bercumbu kasih dengan perempuan lain tepat didepannya. " Aku tidak boleh begini, biarkan saja. Dia juga bukan siapa siapa Kamu!" " Tapi kenapa, rasanya sesak sekali?" Sambung gumamnya.
__ADS_1
Setelah Resa sengaja membuat Zerina cemburu, Ia merasa menang darinya. Senyuman liciknya pun terpancar dengan sangat menawan dari bibir merahnya. Anta langsung menegurnya seraya melapaskan tangannya dengan cepat. " Maaf Resa, tidak enak dilihat orang. Nanti timbulnya fitnah?" Resa terpojok oleh perkataannya. Anta segera menjaga jarak sejauh tiga meter darinya. Resa malah memasang wajah kesal dan lekas membalas perkataanya itu." Jangan munafik, bisa gak?" Anta sontak kaget mendengar Resa yang tiba saja marah, Ia tidak mau membalas perkataannya jika hanya untuk membela dirinya. Pemuda itu malah menggelengkan kepalanya pelan, seraya beranjak pergi meninggalkan Resa. " Antaaaa!" Teriak Resa yang sigap mengikutinya dari belakang.
Pemuda itu kelihatannya sangat kecewa sekali dengan sikap Resa. Anta semakin mempercepat langkahnya, sehingga Resa tertinggal jauh darinya. Ia terus saja berteriak memanggil namanya, sampai Anta Mau berhenti untuk kembali berbicara dengannya. " Antaaaa... Tunggu? " Pemuda itu sama sekali tidak mendengar perintahnya, bahkan membalikan badan pun sepertinya enggan sekali untuk Ia melakukannya.
__ADS_1
Brughhkkkkk. " Awwww!" Tak berselang lama Resa pun terjatuh dari atas trotoar, sebab Ia berlari dari tadi mengejar Anta yang tidak pernah mau berhenti. Tetapi setelah Ia menyadari jika Resa terjatuh dan terluka, Anta langsung secepat mungkin menghampirinya. " Kamu tidak apa apa? Lihat tangan Kamu berdarah?" Resa malah tersenyum padanya, setelah Anta mau menjumpainya, Resa bukannya menangis Ia malah menyeringaikan mulutnya lebar. Anta pun kelimpungan melihat kelakuannya yang aneh lagi. " Tadi marah, sekarang malah senyum senyum sendiri? Gadis yang aneh." Gumamnya penuh tanya. " Aku tidak apa apa, Aku tidak perlu obat penyembuh, karena obat semua lukaku sudah ada, yaitu Kamu." Anta langsung tersenyum hambar menanggapinya sebab Ia merasa jika ucapannya itu hanyalah sebuah candaan saja.
Baru saja satu hari Ia bekerja di Cafe itu, dua wanita sekaligus jatuh padanya.
__ADS_1
Mereka melanjutkan kembali menelusuri jalan pulang. Resa yang ingin mengetahui dimana rumah kediaman Anta, langsung saja mengikutinya terus dengan alasan ingin mengantarkannya pulang, Anta yang merasa tidak enak hati langsung menegurnya sambil menggaruki kepalanya kembali. " Resa, sebaikanya Aku saja yang mengantarkan Kamu pulang, tidak enak atuh. Masa Cewe yang harus nganterin Cowo pulang," Jelas Anta. Resa yang mendengarnya langsung tersenyum sambil menatap dirinya. " Haha... Tidak apa apa!" " Ko Kamu malah ketawa?" Anta lansung menyergap gadis itu dengan pertanyaan. " Lucu saja, sekarang kan Zamannya serba cewek. Bahkan sekarang itu kebanyakan cewek yang nembak cowo duluan,menurut Kamu wajar tidak?" Anta melepaskan semua senyumannya dan hendak ingin mengusap kepalanya yang dihinggapi daun kering. Resa yang mengira Anta ingin menciumnya karena gemas, membuat jantungnya semakin dag dig dug disaat wajah Anta mulai mendekatinya. " Aduhh, mimpi apa Aku semalam. Pasti Anta mau ngucapain prasaannya duluan, sebab Ia gengsi karena Aku sudah tadi menyinggungnya." Setelah bergumam penuh harap. Resa langsung saja menutupi kedua matanya dan berharap lebih semoga apa yang di pikirkannya itu benar benar terjadi. " Ada daun di rambut Kamu, kan sayang rambut Kamu yang indah ini jadi rusak!" Ucap Anta memperjelas. " Apa, kirain Dia mau nembak Aku?" Gumam di dalam hatinya kesal setelah Ia mendengar Anta yang tiba saja berbicara begitu. Ia pun membuka kedua matanya kembali sambil tersenyum malu padanya.
" Oh, ya... Terima kasih ya!" Anta tersenyum sambil mengangguk habis itu berpamitan untuk meneruskan jalan pulangnya sendiri." Saya pulang dulu ya, soalnya rumah saya sudah dekat, tinggal lewat gang sempit itu saja, Kamu jangan ikut, takutnya disana banyak nyamuk." " Ohh, gitu ya. Ya sudah, Kamu hati hati ya. Sampai jumpa besok!" Jawab Resa yang langsung menuruti perkataannya. Mereka berdua saling melambaikan tangan, Resa tidak ada hentinya tersenyum memandanginya, begitu juga dengan Anta Ia terus saja membalas senyuman manis Resa. Sampai melupakan jika didepannya itu ada tembok rumah yang sedikitnya ada yang retak. Anta langsung menbaraknya pelan. Brughkkkk. " Aduhhh, siapa yang menyimpan tembok ini disini, prasaan kemarin tidak ada?" Resa langsung geleng geleng kepala dan berteriak " Hati hati!" dengan melambaikan tangannya seraya berjalan pergi.
__ADS_1