LEKANG

LEKANG
Bukan yang terbaik


__ADS_3

Sumbi berteriak gusar pada anak sulungnya sambil bertolak pinggang satu, seraya menyuruhnya untuk segera mengampirinya. Zerina terlihat tidak enak memandangi wajah ibu Sumbi yang merah menguap, bagai air yang sedang mendidih. " Ada apa, Bu?" Tanya Anta singkat. " Bercandanya jangan kelewatan nanti Kamu mau kaya adik kamu, yang tidak bisa menahan hawa nafsunya ke setiap perempuan." Jelas Sumbi mengeluarkan kemarahannya. Lalu Anta menjawab pelan sambil melepaskan sandalnya untuk masuk kembali ke dalam rumah. " Tapi Bu, Aku sama Arga berbeda, Ibu tidak baik menyama nyamakan Aku." Sumbi menggelengkan kepalanya lalu menyuruhnya untuk segera membiarkan Zerina pulang. " Lebih baik kamu suruh teman kamu itu pulang, kamu tidak boleh dekat dulu dengan semua teman perempuan manapun," " Cukup Arga yang membuat malu keluarga ini, jangan sampai kamu juga, nak" Sambung penjelasan Sumbi dengan melengos pergi untuk masuk ke dalam kamarnya kembali.


Dari depan pintu kamar. Arga dari tadi menguping obrolan Anta dan juga ibunya, Sumbi. Wajahnya nampak murung sekali, setelah itu melengos pergi secepatnya dari sana.


Anta yang belum menghampiri Zerina, langsung bergegas menemuinya sambil membawa tas dan memasukan beberapa barang keperluannya. " Maaf ya Zer, lama. Jadikan kita bareng pergi ke Cafe!" Gadis berhijab itu hanya mengangguk sambil tersenyum kecil, lalu turun dari motornya untuk di kendarai Anta.


Di sepanjang perjalanan, Zerina dari tadi hanya diam saja, Anta melakukan hal yang sama dengannya. Anta dari tadi menunggu Zerina yang jenaka itu, untuk mengeluarkan semua candaannya, namun tak kunjung hadir juga.

__ADS_1


Perlahan kaca spion yang ada di samping kanannya di perjelas untuk tertuju melihat muka Zerina di belakang. Gadis berhijab itu ternyata sedang sibuk dengan handponenya. Anta langsung saja mempertanyakannya. " Lagi chatan ma siapa, serius amat?" Zerina langsung menyembunyikan handponenya ke dalam tas kecilnya. " Gak ada apa apa, cuma chat dari temen doang." Jawabnya. Anta tidak langsung percaya, pemuda yang keras kepala itu lansung meminta handpone itu darinya. " Sini Aku lihat?" Anta menjulurkan tangan kanannya ke belakang, posisi menyetir motor hanya dengan satu tangan saja. Zerina langsung gelagapan, menolak permitaannya. " Anta, yang bener bawa motornya... Nanti kita bisa jatuh?" " Tenang saja, Aku udah ahlinya," Jawab Anta malah semakin membuat Zerina tak karuan. " Sini mana handponenya?" Anta meminta kembali benda itu, kali ini Zerina memasang muka datar padanya. Diam dengan menghiraukannya. " Zerina sini'in?" " Tidak mau, ini privasi saya, kamu tidak boleh lihat!" Kini Zerina menjawabnya sambil menolaknya penuh. Anta yang tak mau mengalah semakin meninggikan nada suaranya. " Jika di dalam handponemu tidak ada apa apa, kenapa kamu sangat takut untuk Aku melihatnya, " " Tidak mau, Anta. Mending kamu pokus aja, nyetirnya". Anta semakin nekad, Ia langsung lepas tangan, membiarakan motornya mengambil arah sendiri. " Nanti kita bisa jatuh... Anta, jangan lakuin itu?" Zerina semakin getir menyikapi Anta yang tak mau menuruti perkataannya, dengan sangat terpaksa Zerina akhirnya memberikan handpone itu padanya. " Ini ambil... Ini kan yang kamu mau!" Anta mengambil handponenya dari sisi kanan gadis yang Ia boncengi dari tadi. " Dari tadi, atuh?".


Tak disadari olehnya, sebuah papan iklan yang ada di pinggir jalan menghalangi laju motornya. Ternyata Ia tidak bisa menjaga motor itu lebih lama, jadinya oleng. " Awas Anta...." " Duh, ini gimana Zer, " Aaaaaaaaa. Brughkkkkk.


Mereka pun terjatuh menabrak papan iklan jalan sampai spanduknya sobek. " Tuh kan, apa saya bilang. Kamu gak mau dengerin sih?" Gerutu Zerina sambil mencoba berdiri dari atas tanah. " Maaf...," Anta tersenyum hambar padanya, seraya mencoba membangunkan motor itu sendirian.


Saat Zerina ingin menyingkap deaunan yang nampak agak kering, tiba tiba tak sengaja Ia memegang ulat bulu yang langsung membuatnya berteriak histeris. " Aaaaaa, ulet. Ihhh, Aku geli" Zerina seperti telah menggelitiki dirinya sendiri dengan terus menggeliat di samping badan Anta, hingga Ia pun sedikit marah padanya. Ketika Ia ingin melengoskan badan, wajah Zerina sudah berada di depannya. Mereka saling bertatap tatapan sambil bergumam prasaan pada hati mereka masing masing. " Zerina kalau di lihat dari dekat dari sini, cantik pisan" Gumam Anta yang disusul oleh suara hati Zeriana. " Pria ini manis juga ya, dari senyuman sampai wajahnya juga, pandang tak jemu, pandang tak jemu. Hehhe".

__ADS_1


Seorang pejalan kaki yang baru tiba di sana, menyoraki mereka dengan candaan. " Cieeee, Mas, Mbak. Kalau mau pacaran di tempat yang romantis apa dikit. Di pantai, di taman gitu. Ini malah di pinggir jalan dekat semak belukar lagi." Mereka berdua langsung malu dan menggerakan badan tak karuan. " Maaf pak, " Anta berbicara sambil menunduk, orang yang barusan meneriakinya secepatnya pergi sambil tersemyum dan tak berhentinya Ia menggelengkan kepalanya terus.


" Ini semua gara gara kamu?" Celetuk Zerina. " Kenapa Aku, kenapa gak nyalahin motornya?" Jawab Anta sedikit tegang. " Sudahlah, kita cari lagi aja hapenya siapa tahu ketemu di sana?" Zerina mengajaknya untuk lekas mencari hapenya lagi sambil menunjuk ke bawah pohon palem yang kelihatannya sudah tua. Tak ada dedaunan hijau, yang ada hanya beberapa dedaunan kering di atas ranting ranting kecil.


Semua ddaunan kering di sana, bersimbah di bawah akar kering yang terlihat menonjol di dalam tanah. Mereka berdua mengorek ngorek semua dedaunan itu dengan memilah beberapa sudut yang mengelilingi pohon tersebut.


" Di sini gak ada ya, kita harus mencarinya kemana lagi?" Ucap Zerina bertanya pada diriya sendiri. Anta menyeringai. " Kenapa kamu tersenyum?" " Tak apa, emangnya gak boleh?" Jawab Anta membuat Zerina bingung dengan perkataannya tadi. " Kamu itu lucu ya, orang nanya, malah balik tanya!" Zerina berceloteh kesal sambil terus membuka beberapa dedaunan itu kembali.

__ADS_1


" Jangan mengeluh terus, nanti gak bakalan ketemu hapenya gimana?" Zerina semakin was was setelah Anta berbicara begitu. " Coba kamu panjat pohon ini, siapa tahu, hape Aku ada di atas?" Jelasnya kacau. " Sekarang kamu yang melawak, mana mungkin hapenya bisa nyangkut di atas. Emangnya hape kamu tadi ada pengaitnya" Jelas Anta yang membuat gadis cantik itu kesal kembali. " Kamu itu ya, kalau kita tidak mencobanya, siapa yang tahu?".


__ADS_2