LEKANG

LEKANG
Entah sampai kapan


__ADS_3

Sore hampir berganti malam. Warna biru langit sudah terpecah belah, digantikan dengan kombinasi ungu orange yang menyerupai palet warna dari olesan kuas cat. Anta berhasil mencegah Zerina untuk pergi, sebelah tangannya masih menggenggam salah satu tangan gadis berhijab itu. " Udah kali lepasin, betah banget Kamu ngumpulin dosa?" Celetuk Ressa ketus padanya. Anta langsung melepaskan tangannya sehabis itu perlahan menggaruk atas kepala risih. " Sudah mau malam, Aku masih belum berani untuk pulang!" Ujar kecil Zerina yang terdengar jelas. Ressa tiba saja duduk di bawah tanah yang banyak dihinggapi rerumputan liarnya. Ia bergumam seraya berharap penuh pada dirinya sendiri. " Semoga semua teman pelayan Cafe disana tidak membocorkan, jika Aku ini adalah simpanan Farren, bossnya sendiri. Jika semua itu terjadi, hancur sudah reputasiku. Sudah cukup Aku membuat satu pria ilfiel, jangan sampai semua pria menjauhiku. Aku tidak mau jadi seperti ini seumur hidup."


Setelah setengah jam menunggu keberanian kedua gadis itu untuk pulang. Anta jadi bosan, angin sepoi sepoi membuatnya mengantuk sampai dia terbuai dalam lelap di bawah langit senja yang menjelang malam.


Ressa dan Zerina ingin membangunkannya, tapi tidak jadi. Ingin juga mengisenginya dengan menyiram mukanya dengan air, tapi tidak tega. Jadi mereka hanya duduk menatap Anta yang tertidur, menjulurkan sebelah tangan mereka untuk membelai helai helai halus yang membingkai seluruh wajahnya.

__ADS_1


Wajah Anta yang sedang tidur sangatlah manis. Membuat kedua teman perempuannya itu tersipu malu menanggapinya. Dengan wajahnya yang memerah mereka saling mengucapkan prasaan cinta dalam hatinya masing masing. " Andai saja Leonard tidak datang lagi, mungkin Aku dan Kamu akan bersama. Tidak ada juga yang namanya memendam prasaan, sulit bagiku jika harus menyangkalnya terus Bahwa hatiku ini sudah jatuh dalam buaian sikapmu yang menawan." Zerina langsung saja berdecak pelan sehabis bergumam peluh mengeluarkan seisi hatinya. Ressa masih tak kalah mengharapkan cinta yang lebih besar dari pemuda yang sedang tidur lelap di sampingnya. " Zaman sekarang sulit sekali menemukan laki laki yang baik sepertimu. Padahal Kamu sudah tahu Aku itu cuma Wanita simpanan. Pasti laki laki lain akan cepat menjauh, tapi Kamu berbeda, dan perbedaan itu membuatku semakin jatuh cinta padamu."


Kringgggg. Sontak saja suara handphone berbunyi. Ressa agak terkejut ketika Farren menelponnya. Zerina mengernyitkan alis dengan ragu ragu dan menjulurkan tangan untuk meminta handphone itu darinya. " Sini'in handponenya, kalau Kamu tidak mau mengangkatnya, biar Aku saja?" Ressa melototi Zerina dengan cemas. " Apaan sih Kamu, ini itu privasi Saya, Kamu diajari oleh Ibu Kamu gak sih, jika melihat privasi orang lain itu tidak baik!" Zerina langsung membalas bentakannya. " Jangan bawa orang tua, harusnya Kamu juga ngertiin dong. Anta sedang tidur disini, suara hape kamu berisik sekali, nanti gimana Kalau Anta bangun, kan kasihan." Jelas Zerina.


Ressa langsung mematikan hapenya. Keadaan pun menjadi senyap kembali. " Udah tu, udah Gue mati'in. Puas?" Teriak Ressa dengan kesalnya. Zerina menggeleng Lalu melihat ke dalam jam tanganya. Waktu menunjukan sudah pukul 18.35 lewat maghrib, Zerina dengan tetpaksanya harus membangunkan Anta, agar lekas melaksanakan salat Maghrib.

__ADS_1


Tanpa menununggu lama lagi, pemuda tampan itu bangus sambil menggeliat habis itu mengucek kedua matanya. " Maaf ya, Saya ketiduran. Ada apa, Zerina Kamu panggil Saya?" Zerina langsung berdiri. " Ini sudah memasuki salat maghrib. Kamu emngnya tidak salat?" Ressa langsung menundukan kepala sambil bergumam kecil disana. " Kalau Aku disuruh salat bareng mereka, gimana? Aku kan lupa gerakan salat itu gimana?" Anta perlahan mengumpulkan dulu semua nyawanya, sambil berjonggkok hendak untuk berdiri. " Iya juga yaa, tapi Aku sering ninggalin salat sekarang, entah kenapa? Padahal salat itu bisa membuat hati tenang?" Anta mulai berdiri dan melihat lihat dimanakah tempat yang cocok buat dijadiin tempat untu salat mereka. " Tapi dimana, disini hanya ada rerumputan saja terus tidak ada sajadah, sarung ataupun mukena?" Tanya Anta dengan bingung. Lalu Zerina perlahan berjalan menuju pohon besar yang di atasnya sudah ada rumah pohon kecil yang masih terawat hingga saat ini. Gadis itu pun berjalan menaiki tangga yanga ada di atasnya, sehabis sampai di dalam rumah pohon. Zerina menemukan beberapa kain dan juga beberapa daun kelapa yang sudah kering, Ia pun segera membawanya ke bawah. " Pakai ini saja, Kita jadiin daun kelapa ini buat dijadikan alas. Kamu juga bisa membukus celana panjang kotor Kamu dengan kain ini!" Anta tersenyum lalu mengambil beberapa belah kainnya dan segera untuk dipakai. Ressa semakin panik dan membuang mukanya sedikit ke belakang. Zerina langsung saja bertanya pada gadis yang agak judes itu. " Ress, Kamu mau salat gak? Kalau mau, ini kainnya masih ada." Ressa tidak tahu harus menjawab apa. Melihat Anta yang senang saja sudah membuatnya kalah akan lomba memikat hati bersama wanita berkerudung itu. Kelihatannya Zerina sudah membuat pemuda itu terkagum kagum padanya. " Aku lagi ada halangan, maaf ya gak bisa ikutan salat bersama kalian!" Ressa dan Anta menyeringai habis itu segera mengambil air wudhu di danau.


Suasana alam di sana sangatlah indah sekali, ditambah udaranya pun sejuk. Sesekali terdengar bunyi angin yang sedang meniup air dalam danau, beserta banyaknya ikan yang berenang ke sana ke mari bermain bersama dengan kedua alam yang mencoba untuk bersatu. Air tak akan pernah bisa menyatu dengan angin sebab mereka tidak mungkin bisa untuk hidup saling berdampingan. Apalagi api, jika air menyatu dengannya senantiasa api itu akan selalu padam.


Sedikitnya beberapa alam yang tidak bisa hidup berdampingan itu, digambarkan seperti hubungan mereka. Ressa seperti kobaran api yang selalu membuat hati orang orang di sekelilingnya menjadi panas. Tak kecuali Anta, Ia seperti air yang ada di dalam danau. Tenang dan juga damai. Kalau Zerin seperti angin yang selalu membawa kesejukan. Hati yang panas akan disirami olehnya, namun Ia tidak bisa menyirami hati yang selalu memberikan kesejukan, sebab angin akan selalu membawa air pergi sampai ke manapun.

__ADS_1


Beberapa jam gadis itu menunggu mereka sampai hari mulai dimakan gelap. Suasana di danau jadi sedikit horor, gelap tidak ada lampu penerang yang berjejer disana, yang ada hanya suara burung malam yang hinggap di atas pepohonan.


__ADS_2