LEKANG

LEKANG
Saling memaafkan


__ADS_3

Zerina terlihat sangat sedih sekali, sesekali Ia mengangkat muka, merenung ternyata apa yang diucapkan oleh Anta itu semuanya benar. Ia terlalu menekan pemuda itu untuk terus membohongi dirinya sendiri. " Mungkin, Aku terlalu bodoh, menganggap dirimu seperti malaikat. Sebab, saat pertama kali kita dipertemukan. Kamu sering menolongku sampai saat ini." Jelas Zerina pilu, lalu disambung oleh penjelasan Ressa yang sangat menguras emosi. " Maaf, sudah membuatmu tertekan. Maaf juga sudah membuatmu terlibat dalam kisah percintaan Kami yang rumit." Anta tersenyum kaku pada keduanya. Lalu menurunkan wajah perlahan ke bawah. " Tapiii... Kita masih berteman kan?" Tanya Anta seraya mengangkat wajahnya kembali.


Kedua perempuan itu tersenyum lepas memandangnya. Lalu menjulurkan kelingking mereka dan sigapnya, Anta pun melakukan hal yang sama. " Janji, berteman sampai kapan pun!" Ucap semuanya sambil mengikat kelingking itu secara bersamaan. "Janjiii!" Mereka bertatapan sambil tersenyum senang.


Anta merasa yang paling lega, karena sudah mengeluarkan semua uneg unegnya yang selama ini Ia pendam. Sedikit tuntas dengan permasalahan sebuah rasa. Anta mengajak kedua teman perempuannya itu untuk pulang, ikut ke rumahnya. " Dari pada Kita bermalam di sini, lebih baik kalian bermalam di rumahku saja?" Ressa menatap penuh Zerina. " Tapi, Kami tidak enak dengan Ibumu!" Ressa bersuar malu sambil menggaruk tangannya yang dari tadi sudah digigiti nyamuk. " Ya, Anta... Benar kata Ressa. Kalau Kamu ingin pulang, kamu saja sendiri, tidak usah ajak kami. Kita berdua tidak apa apa ko, kita bisa jaga diri sendiri!" Usul Zerina. Tapi perkataannya tidak dapat menggubris hatinya yang keras akan rasa kasihan terhadap sesama. Lalu Anta pun berjalan perlahan menjauhi mereka dan berkata sambil membelakanginya. " Emang kalian tidak merasa lapar, Kita ke sini itu sebelumnya ingin bersembunyi kan, bukan untuk berkemah!" Penjelasan Anta masuk diakal juga, kedua gadis itu pun berjalan perlahan mengikutinya sambil menundukan kepala. " Jadi gimana, jadi ikut pulang?" " Iyaaa, jadi!" Keduanya menjawab barengan. Mereka terlihat masih canggung jika mereka harus membuat Anta keberatan dengan sementara tinggal di rumahnya.

__ADS_1


Sesampainya di depan Rumah, Ressa dan Zerina melihat keadaan luar dari rumah yang sedikit tua itu. Ressa dengan mulut ceplas ceplosnya itu berucap sedikit menyinggungnya. " Anta, kenapa Kamu tidak ganti warna catnya. Padahal kalau di poles lagi dengan warna warna ungul, pasti rumahmu terlihat cantik sekali." Anta tersenyum kecil dan melepaskan pegangan tangannya sebentar dari pintu. " Tapi terlihat cantik dari luar, belum tentu kan terlihat cantik pula dari dalam." Zerina tersenyum kagum sambil memeluk dirinya kuat, sakin lamanya Ia menahan rasa dingin yang sudah menyergap dirinya itu terlalu lama. Gadis itu malah menyembunyikan terus gerakan menggigil di tubuhnya itu.


" Anta, emang di rumah kamu tinggal sama siapa?" Tanya Zerina yang menghentikan kembali Ia yang ingin membuka pintu. " Ada Ibu dan juga kedua adiku!" Jawab Anta yang langsung ingin kembali menarik tuas pintu itu kuat kuat. " Tapiiiii!" " Tapi apa lagi, Kalau kalian terus bertanya. Kapan Aku selesai membuka pintunya?" Jelas Anta yang langsung membuat kedua gadis itu tersenyum kembali.


" Ibu jangan berfikir negatif dulu ya, nanti Anta jelaskan di dalam!" Mereka semua langsung memasuki rumahnya yang sudah dihidangkannya makan malam yang berupa lauk pauk sederhana. Disana sudah ada ikan asin, sayur asam dan beberapa gorengan yang hangat. " Ayoo, neng kita makan. Jangan malu malu?" Sumbi langsung menawarkan makanan yang sudah Ia masak dari tadi. Resa sepertinya segan untuk menolak makanan kelas bawah itu secara terang terangan. Ia tidak pernah sekalipun melihat makanan tersebut dalam hidupnya, jadi gadis centil itu hanya gelagapan bingung sendirian disana. Zerina malah sebaliknya, gadis berhijab itu segera menyantap makanan itu dengan lahapnya. " Ko, Neng yang ini tidak makan?" Tanya Sumbi pada Ressa. " Iya, Buu!" Ressa langsung sedikit membuang muka dari semua makanan itu. Anta dengan cepatnya mengambilkan gadis cerewet itu nasi beserta lauknya. " Ini cepat makan, apa perlu Aku suapin?" Tanya Anta sedikit bercanda. Zerina tersenyum geli, sambil menyimpan sesendok sambal pada piringnya. " Ayoo, dimakan atuh. Cobain deh, enak banget tahu." Ressa yang melihat Zerina memakan semua makanan itu dengan lagapnya, langsung perlahan membuka mulutnya sedikit demi sedikit untuk memasukan sayur bersantan itu dalam perutnya. " Emmm," Anta dan Zerina langsung tersenyum ke arah gadis manja itu, dengan nafsu makan yang besar, Ressa pun langsung minta tambahan nasi pada Ibunya Anta. " Buuu, apa Aku boleh minta tambah?" Sumbi menyeringai dan langsung mengambilkan nasi lagi untuknya. " Ini Sayang, semuanya tambah lagi nasinya. Jangan malu malu." " Iyaa, Buu!".

__ADS_1


Tanpa disadari oleh Anta. Zerina dan Ressa sudah kembali baikan. Bahkan mereka tidak lagi sedikitnya bertengkar. Keduanya saling memancarkan senyuman kedamaian tidak lagi menekuk wajah apalagi cemberut.


Saat Ia melamun kecil di atas kursi di meja makan. Ibunya mengajak pergi sebentar ke belakang, sebab sudah tidak sabar ingin tahu penjelasan tentang kedua wanita yang baru di bawah ke rumahnya itu seperti apa. " Nak, boleh ikut dulu Ibu sebentar?" Tanya Sumbil sambil berbisik. " Yaa, Buu!" Anta langsung berjalan pergi mengikuti Ibunya. Tanpa berpamitan pada Ressa dan Zerina, sebab mereka terlihat khusyu sekali memakan semua hidangan makan malam itu.


Sesampainya di dapur, Sumbi mekihat terus keduan perempuan yang sedang makan masakannya itu. Anta menghadap penuh Ibunya, namun tiba tiba. " Aduhh, sakit Buu?" Kuping Anta dijewer oleh Sumbi, anak sulungnya itu langsung kaget dan sedikit berteriak kesakitan. " Ibu kenapa jewer Anta. Aku kan gak melakukan kesalahan?" Tanya Anta dengan bingung. " Kamu kenapa bawa mereka kemari, nanti gimana ata orang orang, kiranya Kamu itu anak yang gak bener?" Jawab Sumbi gusar. Anta tidak tahu harus menjelaskan semuanya dari mana dulu. Ia pun hanya menggaruk garuk kepakanya saja, sambil memikirkan ucapan yang mana, yang tepat untuk memulai menjelaskan semua itu pada ibunya.

__ADS_1


__ADS_2