
Setengah jam berlalu saat bunyi bell berbunyi. Anta masih duduk diluar, sementara Cafe sudah dikerumuni banyak pengunjung. Pemuda itu masih melamunkan kejadian beberapa menit yang lalu. Disaat kedua perempuan yang sekaligus cinta pertamanya, pergi dengan kekecewaan. " Apa Aku yang salah disini, mencintai dua wanita sekaligus?" Sekejap gumaman itu terucap dari mulutnya. Tiba saja Leonard, pemuda angkuh itu datang menghampirinya, menyapa dengan sejumlah uang yang sangat banyak sekali. " Nah, itu buat Kamu jauhin Zerina?" Anta terkejut dan langsung berdiri setelah Leonard melemparnya pakai uang yang disimpan dalam amplop coklat.
Kejadian itu sama seperti kejadian yang sering terjadi di film film sinetron di tv. Mungkin dia juga akan melakukan hal yang sama, menolaknya lalu mengembalikan uang sogokan itu dengan gusar habis itu langsung berkelahi. Tapi Anta berbeda, pemuda itu secepatnya melengos pergi meninggalkan Leonard, kemarahan dan juga sejumlah uang yang banyak itu.
" Orang yang tidak punya adab, punya mulut gak dipakai buat ngomong. Malah diem aja, kayanya itu orang kurang ngopi?" Ujar kecil Leonard sembari pergi dari tempat itu.
Dari dalam Cafe, Anta merasa tak enak hati pada Resa. Mereka tidak saling menyapa lagi apalagi bercanda. Mereka disibukan oleh pekerjaannya sendiri.
" Kenapa jadi begini, awalnya Aku hanya ingin bekerja saja di Cafe Farren dan ingin mengenang kembali semasa Ayah masih hidup dulu yang sering menghabiskan waktunya di sini bersama Ibu dan kedua adikku."
" Tapi rasanya sangat sulit sekali untuk mengenang kejadian itu, sebab kisah yang dulu sudah tertumpuk bersama kisah yang baru baru ini terjadi"
Saat asiknya bergumam penuh ragu, Anta tidak menyadari Farren si pemilik Cafe ini datang menghampirinya sambil menatapnya kesal. Ia juga bertolak pinggang membelakangi pemuda yang tengah melamun itu.
__ADS_1
" Heyyyy!" " Iya, Pak! " Anta terkejut dan langsung melengos kebelakang, melihat Farren yang tengah menatapnya penuh kemarahan. " Kamu itu Saya gajih buat bekerja disini, bukan disuruh melamun!" Anta menunduk sedikit, habis itu menghela nafasnya perlahan dan langsung melengos pergi untuk fokus bersih bersih disana.
Farren adalah pria yang sangat egois, angkuh dan juga sombong. Di umurnya yang masih muda, Ia juga sudah memiliki status menikah. Pemuda yang masih berumur dua puluh lima tahun itu dipaksa menikahi perempuan pilihan dari kedua orang tuanya. Namun seperti pria pada umumnya, yang tidak mau mencintai pasangan yang tidak dicintainya itu sangatlah berat dengan lebih mempentingkan nafsunya. Farren memilih untuk menduakan istrinya itu dengan Resa yang menjadi wanita simpanannya.
Ressa adalah wanita pertamanya yang selalu membuat kenyamanan dalam hidupnya. Selain cantik dan memiliki senyuman termanis, Ressa juga termasuk wanita yang Farren idam idamakan selama ini. Ia pun mengikat gadis itu dalam sebuah perjanjian hutang. Keluarga kecil Ressa dulu ditolong olehnya dengan dalih ingin memiliki Ressa. Ressa sebenarnya tidak tahu jika Faaren sebenarnya sudah menikah dan mempunyai satu anak laki laki yang sangat lucu dan juga menggemaskan.
Setelah Ressa ingin dinikahi secara baik baik, Farren langsung berterus terang jika sebenarnya Ia sudah mempunyai keluarga kecil. Ressa sangat kecewa dan ingin memutuskan hubungan dengannya, tapi Farren dan keegoisannya itu tidak mengizinkannya untuk memutuskan hubungan yang selama ini mereka rajut. Jadi Farren mengekang Ressa dan juga kedua orang tuanya dengan hutang yang sangat besar, jadi Ressa tidak bisa lepas darinya dan terus menjadi wanita simpanannya hingga saat ini.
" Katanya Ressa tidak mau dengan Farren, tapi Dia malah dekat dekat terus dengannya?"
Dengan lengan kemejanya, Anta mengusap keringat yang mengucur. Semua pelayan lestoran kecuali Ressa juga bersimbah peluh sambil terus mengelap semua kaca yang ada di luar Cafe. Kaca itu sebenarnya sudah bersih mengkilat, tapi Farren memanipulasi keadaan supaya semua pekerja disibukan bekerja di luar, agar Ia bisa berduaan terus di dalam Cafe bersama Resa.
" Gila ya, Si Farren. Padahal usianya masih muda, tapi udah rabun matanya. Kaca udah bersih gini dibilang masih kotor, kurang mengkilat apa coba." Anta mengkerutkan kening dengan jijik saat menemukan sebentuk permen karet bekas di tepi jendela.
__ADS_1
" Jangan leha leha, udah mau sore nih, " gerutu Anta sambil terus menyorokkan kain untuk membersihkan kaca depan. Suasana sudah tidak dikerumuni lagi pengunjung dan hampir semuanya sudah pulang. Sedangkan mereka masih belum melesaikan hukuman.
Anta menghela nafas, tidak berhenti mengeluh sembari melakukan tugasnya. Sekarang, dia tahu mengapa Farren memilih tugas ini sebagai hukuman. Supaya dia tidak di ganggu dengan bernesraan terus dengan Ressa.
" Pak Farren, apa tidak sebaiknya teman teman itundisuruh berhenti, toh kacanya juga sudah bersih semua?" Celetuk Resa, seakan bisa membaca pikiran semua teman yang tengah dihukum.
Farren menghela nafasnya sedikit lalu perlahan mendekati wajah cantik Ressa. Perlahan Ia berbisik pada telinga kanan gadis itu. " Kalau mereka berhenti bekerja, nanti Kita tidak bisa berduaan lagi. Mereka itu bisanya cuma mengganggu saja." Ressa cepat melengoskan kepala ke sisi kiri. Wajahnya terlihat murung. Tanpa disadarinya, riasan mata tipis yang tadi dikenakannya bagaikan lumer dan mengalir dikedua sisi wajahnya seperti dua riak sungai. Tatanan yang tadi pagi terlihat sangat cantik kini menjadi berantakan.
Biasanya Ressa akan langsung panik dan buru buru bermake up kembali. Tapi ketika menyadari keadaannya sekarang Ia justru malah diam seakan seperti patung.
" Kamu masih cantik ko, Aku suka Kamu yang seperti ini juga!" Farren semakin mendekati gadis itu, Ressa yang tidak tahu harus bagaimana lagi untuk bisa menjauhkan dirinya dari Farren. Anta menatap Ressa dengan kecewa. Ia seberusaha mungkin tak mau melihatnya. Meski Ressa dari tsi memandanginya terus dari luar, menatap penuh dengan binar seakan Ia ingin meminta pertolongan darinya. Anta pun tidak tahu harus bagaimana, di sisi lain Farren adalah Bossnya sendiri, mana mungkin Ia mau melawannya. Sementara dia sedang terlihat berbuat salah dan yang salah itu harus dibenarkan.
" Apa yang harus Kuperbuat, supaya Ressa bisa terjauh dari Farren. Jika Ia terus berduaan, bermesraan seperti itu, bisa jadi bahan perunjingan nantinya." Anta semakin membuat dirinya dirundung kekecewaan. Sampai mengelap kaca pun Ia tekan kuat kuat mengelapnya. Semua teman pelayannya menatap penuh tanya dan mulai berperasangka jika Ia sedang cemburu.
__ADS_1