
" Zerinaaaaa!" Teriak Anta membuatnya kaget. " Iyaaa, Maaf barusan Aku melamun!" Jelasnya. Anta berdecak sambil menggelengkan kepala. " Ya sudah, Aku sudahi telponnya ya. Assalammualaikum," " Waalaikumsalam Anta." Baru saja Anta menutup telponnya. Zerina secepatnya mengirimkan sebuah chat di whatapps.Tiinggggg. Gerak cepat Ia melihat kembali hapenya dan langsung membaca pesan itu.
" Anta maaf, Aku belum sempat bilang satu hal sama kamu. Jangan sampai lupa salat subuh ya. Assalammualaikum" Anta tersenyum lepas setelah membaca pesan dari Zerina. Tanpa membalasnya, Ia pun segera menyimpan handphone itu kembali di atas meja lacinya. " Makasih Zerina." Gumam dalam hatinya, seraya bergegas untuk tidur.
Saat tubuhnya terbaring di atas kasurnya yang empuk, wajah kedua gadis itu kembali muncul di benaknya. Sosok dan posturnya sedikit mengingatkan Anta akan kedua orang dari masa lalu yang menguak kisah cinta monyet semasa Ia masih duduk di bangku sd dulu. " Teringatnya, wajah Ressa dan Zerina sepertinya tak asing lagi bagiku. Apa mungkin mereka.... Tapi sudahlah, lebih baik Aku segera tidur saja!" Anta menutupkan selimut dan mematikan lampunya untuk cepat beristirahat.
Pukul 04.15 pagi, sebentar lagi waktu memasuki azan subuh.
__ADS_1
Anta masih tertidur pulas di atas kasurnya. Pemua itu melupakan satu hal, yaitu lupa untuk memasangkan alarm pada handpone nya. Ibu Sumbi sudah mengingatkan jika niat adalah kunci utama agar menuju jalan keistiqomahan, tak lama setelah suara bedug di bunyikan, bunyi dari handponenya terdengar kembali karena Anta memakai notif getar dan suara keras, jadi hapenya bergetar sambil berbunyi tak karuan hingga menimpa mukanya yang berposisikan memandangi langit langit kamar. Plukkkkk. Ia langsung terkejut dan lekas bangun dari pejaman matanya yang sulit terbuka. " Astagfirrullahaladzim." Kedua matanya di kucek cepat, pendengarannya akhirnya menangkap apa yang selama ini Ia tunggu tunggu. Suara azan subuh yang Anta rindukan, kini terdengar kembali dan sangat menyayat hatinya. " Hari ini Aku bisa menjalankan salat subuh tepat waktu. Alhamdulilah," Anta melengos sedikit melihat ke dalam hapenya. Ternyata dari tadi, Zerina menelponnya dari tadi. Ia telat untuk mengangkatnya dan memilih untuk tidak menelpon balik gadis berkerudung itu. " Nanti saja Aku telpon balik, setelah salat subuh nanti. ".
Bergegas Ia pun segera pergi kebilik air untuk mengambil air wudhu. Ternyata dari dalam kamar mandi keluar terlebih dahulu Arga yang terlihat sudah kelimis, Anta langsung bertanya. " Kamu habis wudhu, Dek?" Arga sepenuhnya tersenyum meski tak seutuhnya juga Ia ikhlas melakukannya. " Ya Bang, Aku duluan ya!" Anta secepatnya berteriak kecil padanya. " Tunggu Dek, gimana kalau kita salat subuh berjamaah. Biar lebih afdol." Arga mengangguk sebagai persetujuannya. " Ya udah, Abang wudhu dulu ya."
Dari kejauhan Arga melihat pintu kamar ibunya yang masih tertutup rapat. Ia mencoba untuk mengetuk pintu itu dengan pelan. " Tokkk.. Tokk... Tokkkk. "
" Pasti Ibu lagi salat di dalam, mending kita juga buru buru salat, nanti terlambat!".
__ADS_1
*********
Tak terasa langit biru di luar sudah muncul bersama awan putih yang mengelilingi disetiap sudut. Mereka digambarkan seperti malaikat cinta yang ingin memanah hatinya yang lara. Arga terdiam di luar memandangi langit yang cerah, Ia seperti telah kehilangan semangatnya. Nampak sekali pemuda itu lemah lesu memandangi langit pagi, wajahnya mengkerut sebab banyak pemikirannya. Dari sela pintu, Anta melihat terus adiknya yang sedang di terpa kemalangan. " Dek, ko kamu belum berangkat sekolah?" Tanya Anta sambil duduk di atas tangga tangga kecil yang ada di depan rumah. " Aku takut Bang, Mardah akan terus menekan Aku, supaya Aku cepat cepat untuk menikahinya?" Jawab Arga dengan sendu. Perlahan Anta mengusap punggung Arga yang sedikit hangat, menenangkannya supaya Ia tidak merasa tegang lagi. " Berani berbuat, harus berani juga bertanggung jawab." Jelas Anta sedikit menasehati adiknya. " Mending kamu sekarang siap siap buat pergi ke sekolah, kasihan Ibu sudah mengeluarkan biaya banyak buat nyekolahin kamu. Katanya kamu masih mau sekolah! "Arga secepatnya pergi ke dalam rumah untuk mengambil tas sekolahnya yang tergeletak di teras.
Sementara Anta, Ia masih berdiam di luar, menunggu ibunya yang tak kunjung keluar dari kamar. " Ko, Ibu belum keluar juga. Jam segini, biasanya Ibu suka menyiram bunga di taman?". Tidd.. Tidddd... Tidddddd. Bunyi klakson dari motor Zerina mengagetkan Ia yang mau beranjak pergi barusan. Anta sepenuhnya membelokan badan, segera menghampiri Zerina yang sudah menunggunya di depan pagar depan rumahnya.
" Ada apa Zer, tumben pagi pagi udah ke sini?" " Gak apa apa, Aku ke sini cuma mau nanyain. Gimana... Salat subuh kamu, tepat waktu kan?" Zerina membalikan pertanyaannya, Anta dengan singkat tersenyum penuh ragu padanya. " Jadi kamu pagi pagi ke sini, cuma mau nanyain itu doang. Kan kamu bisa menanyakannya di Whatsapp?" Jawab Anta jenaka. " Emmm... Yaa!" Jawabnya dengan tersenyum. Lalu gadis berhijab itu mengangkat bahunya." Tapi kamu tidak marah, kan?" Anta tidak bisa membayangkan jika Ia mengatakan, kalau dirinya marah padanya. Sambil mencandainya, Anta pura pura meliriknya sinis dari samping. " Ya jelas Aku marah. Kamu itu sudah berlebihan?" Zerina pelahan turun dari motornya, mendekatinya sambil meminta maaf. " Ya maaf, Aku tidak bermaksud begitu. Hape Aku juga lowbet, jadi gak bisa chat kamu tadi," Zerina memperjelas keadaanya. Anta masih pura pura marah, dengan terus membuah wajahnya. " Antaaaaa!" Sekejap Ia pun berbalik dan tersenyum lebar padanya. " Kamu kena prankkkkk!" " Ihhhh, apaan sih kamu!" Zerina sedikit geram padanya, sakin kesal Ia mencubit kecil badannya. Anta pun tak berhenti bergerak geli, mereka berdua tenggelam dalam canda dan tawa yang seketika membuat kebisingan di halaman rumah. " Awas kamu ya, Aku cubit kamu!" Anta berlari mengitari halaman depan rumahnya, sebab Zerina tak berhenti untuk mengejarnya. " Sini kamu, bethenti..." Teriak gadis itu kuat kuat.
__ADS_1
Ibunya Sumbi perlahan menginti mereka berdua di depan kaca kamarnya yang kebetulan jika dibuka gordennya langsung terlihat halaman depan rumah. " Antaaaa, lagi ngapain anak itu?" Gerutu Ibunya gusar. Sumbi langsung keluar dari kamarnya, segera untuk menghampiri Anta dan juga Zerina yang sedang bercabda riang di depam rumah. " Banggg, Antaaaaa!" Teriak Ibunya dari sela pintu. Anta langsung menghentikan gurawannya. Zerina terdiam nenatap ibunya Anta, yang kelihatannya sedang di rundung kemarahan."