
" Zerinaaaa!" Teriak Resa sambil memukul meja. Gadis berhijab itu langsung terkejut dan sigap menurunkan tangan dari atas pundaknya Resa. Semua pelangan langsung terkejut melihat gadis yang dikenal selama ini sopan dan ramah, kini menjadi sosok yabg antagonis. Menyadari dirinya tengah diintai banyak orang Ia dengan cepatnya mengeluarkan kemampuannya dalam ber-ackting. " Zerina, kalau bercanda itu jangan keterlaluan kan Aku jadi kaget?" Gadis berkerudung putih yang ada dihadapannya itu hanya menggeleng gelengkan kepalanya sambil berdecak pelan dan bergumam penuh tanya. " Ternyata Resa belum juga berubah. Ia masih seperti itu."
Setelah semua pandangan orang tak lagi mebidiknya, Resa langsung mendekati telinga Zerina untu membisikan sesuatu padanya. " Lebih baik Kamu lekas pergi dari sini, sebelum Aku mempermalukan Kamu lebih jauh lagi?". Tegas Resa yang langsung membuat Zerina beranjak pergi dari sana.
Zerina tidak ingat kapan Resa berubah sikap padanya. Dari pada Ia terus terusan beradu urat dengannya, lebih baik Ia pergi dari Cafe itu. Senyuman sinisnya terpancarkan dengan sempurna seketika Zerina melangkahkan kedua kakinya keluar dari pintu. " Akhirnya mau pergi juga Dia!".
__ADS_1
Zerina pergi dengan melalamun, sialnya tasnya lupa Ia tutup kembali. Relselingnya dibiarkan terbuka sehingga semua barang yang ada di dalam tasnya itu dengan mudahnya terjatuh, berserakan di atas trotoar. Bahkan Zerina melupakan motornya sendiri, dibiarkan tersimpan diparkiran di samping Cafe.
Anta yang kebetulan keluar dari pintu untuk pulang menginjak salah satu barang Zerina yang terjatuh itu. " Ini kan, buku diary, siapa yang membuangnya?" Anta pun tak ingin membuka buku tersebut, sebab itu bersangkutan dengan privasi orang. Ia pun berjalan lagi kedepan dan menemukan barang barang lainnya juga. " Pasti semua batang ini terjatuh, ceroboh sekali orang ini. lebih baik Aku kejar Saja orang itu, mana tau belum jauh!" Ucapnya sedikit cemas sambil memunguti semua barang itu dan lekasnya Ia berlari menyisuri jalanan.
Kedua pipi Zerina tampak merah merona, sambil tersenyum malu Ia pun ingin menghampiri Anta yang tengah memegangi belakang punggungnya yang sakit sambil memandanginya dengan kedua mata yang sedikit sayu. Anta yang tahu Zerina mau menghampirinya, langsung menyemburkan perkataan yang sangat pedas " Kalau Aku tahu orang yang sudah membuang barang berharganya itu kamu. Aku tidak mungkin mencari cari sampai sini, hanya karena ingin mengembalikan semua barang ini saja. Membuat kesal saja" Ujar Anta yang menghentikan langsung langkah Zerina. Belum juga Ia sampai didekatnya, Anta sudah mengoceh sambil marah marah. Zerina langsung saja menundukan kepala dan meminta maaf padanya. " Iya Maaf, saya yang salah. Maaf juga sudah pukul Kamu tadi?" Anta mengangkat kepala, sepertinya Ia yang kini mau menghampriri Zerina. " Ini Saya kembalikan!" Benar saja Anta langsung memberikan semua barang itu padanya dengan memasang wajah yang kaku menahan sakit, Zerina tertegur memperkuat niatnya untuk bisa mengobati lukanya walaupun Ia akan dimarahinya habis habisan. " Buka punggung Kamu? " Suruh Zerina dengan sedikit manaikan nada bicaranya. " Apa maksudnya?" Anta mulai risih dan salah tingkah disana, sedikit demi sedikit Ia pun menjauhkan posisinya dengan berjalan mundur. Zerina malah berjalan perlahan mendekatinya, Anta kini malah semakin takut setelah Zerina mencoba mengambil benda di dalam sakunya. Pikirannya mulai kacau, Ia secepatnya ingin lari namun keburu jatuh. Bragkkkk. " Kamu jangan nekadddd!" Teriaknya. Zerina langsung tertawa dan segera memperlihatkan bahwa benda kecil itu hanyalah minyak urut. " Jangan lebay, jangan parno, bisa?" Anta sedikit bernafas lega. Ia langsung tersenyum hambar pada gadis yang ada dihadapannya itu, Zerina tak ada hentinya menyodorkan minyak urut itu sampai pemuda itu mau mengambilnya. " Mau diurut sendiri apa diurutin?" Tanya langsung Zerina yang membuat Anta terkejut. " Hah, jangan ngaco Kamu. Sini biar Saya urut sendiri" Anta mengambil minyak itu dan langsung membalurkannya pada kedua telapak tangan. Ia pun sepertinya segan sekali untuk membuka baju dihadapannya. Anta pun meminta Zerina untuk enyah dari hadapannya. " Bisa tidak Kamu pergi dulu? " " Kenapa?" Sontak Zerina menjawabnya. Gadis itu langsung berdiri dan memilih untuk membalikan badanya. " Kan Aku suruh Kamu pergi, kenapa Kamu malah membalikan badan?" Teriak Anta. " Sudahlah, ribet banget. Cuma mau ngolesin minyak aja, lama!" Zerina menyeru dengan ngegas Omongannya tak kalah pedas dari Anta. Anta tidak ada pilihan untuk segera mengobati sakit pinggangnya itu dengan dibelakangi olehnya.
__ADS_1
Beberapa menit setelah Zerina membalikan badan, Ia mulai kesal karena terus terusan berdiri sehingga membuatnya pegal dan prasaannya pun menjadi gusar. Berapa lama lagi dirinya harus menunggu, Ia pun tidak tahu, segera mungkin Zerina mengintip perlahan kebelakang yang keadaanya sudah sayup.
Beberapa saat setelah Zerina memutari kepalanya untuk mencari Anta yang tiba saja hilang. Lalu deru angin mulai ribut, terdengar pula suara orang bersiul dari kejauhan, dirinya pun mulai takut. Sampai kapan dirinya akan terus dikelilingi prasaan gundah itu. Tak lama ada yang menepuk pundaknya tapi pas Ia menoleh, orang itu tidak ada. gadis itu semakin takut dan bersiap siap untuk lari. " Haduh siapa sih?" Zerina tidak melihat kebawah kakinya Ia terus saja memandangi langit malam yang bintangnya sudah mulai redup karena hujan yang tadinya kecil kini semakin besar.
" Mas jangan tinggalin Saya, Saya tidak tahu arah jalan pulang dan Saya juga takut gelap, dari tadi Saya mencoba kuat bertahan disini." Ucapnya sambil menangis seraya menurukan kakinya untuk jongkok. Berposisikan kedua tanganya memeluk kedua kaki. Suara tangisannya semakin keras dari samping Anta melihat sambil tersenyum senyum sendiri, ternyata Ia dari tadi bersembunyi dibawah kakinya setelah Ia mengerjai Zerina dengan menepuk pundaknya tadi. " Saya mau pulangggg". Teriak kembali gadis itu sambil menangis. Pemuda yang ada disampingnya itu mulai tidak tega melihatnya, Ia pun langsung mendekati tekinga kirinya untuk membisikan sesuatu. " Jangan nangis, cengenggg!" " Aaaaa". Zerina malah kaget dan mendoring tubuh Anta untuk yang duakalinya. " Duhh, dua kali Saya Kamu dorong. Kamu hobinya suka menyelakakan orang, yah?" Ucap Anta reflek, karena kaget Ia berbicara begitu dan menyakiti prasaan gadis itu walau hanya sedikit. " Maaf, Kamu sih munculnya tiba tiba, kan Aku jadi kaget?" Jawabnya pelan sambil menjulurkan tangannya. " Ayo Mas, Saya bantu?" " Tidak, terima kasih." Anta langsung menolak tawarannya itu dan segera berdiri sambil mengeprukan sedikitnya kotoran yang ada di atas bajunya. Zerina pun ikut berdiri sambil menatap terus pemuda iseng itu. " Saya kira, Mas udah ninggalin Saya?" " Mana mungkin Saya ninggalin Kamu!" Jawab Anta yang langsung membuat hati gadis itu jadi dag dig dug. Terlihat dari senyumannya yang manis merekah memandangi wajah pemuda itu beda. Anta malah cemberut membalas pandangannya dan malah langsung mengajaknya untuk segera pergi dari tempat horor tersebut. " Ayo lebih baik kita pulang, tak baik berlama lama berdiam diri ditempat seperti ini!". Zerina hanya menganggukan kepala sambil berjalan mengikuti Anta yang sudah jalan duluan. Sambil berjalan pulang Zerina memasukan kembali semua barangnya itu dan tak hentinya Anta pun menggoda Zerina dengan candaannya dan mereka pun pada akhirnya saling berkejaran sampai kembali kedepan pintu Cafe.
__ADS_1