
Zerina menunduk dan menyentuh ujung sepatunya dengan jari jari yang terentang. Ia sepertinya malu sekali dengan Anta, gadis itu berpura pura jika ada kendala dalam sepatunya hanya semata mata ingin membuang muka. Anta dengan sigap mengetahui jika Zerina sedang tidak enak hati kepadanya, Iapun menyerunya untuk segera menaikan kepalanya kembali. " Sudahlah, Kamu tidak perlu seperti itu. Aku tidak apa apa, santai aja!" Zerina menyeringai sambil mengangkat badannya kembali. " I.. Iyaaaa!". Sebentar Anta mengintip pintu ruangan yang ada Resa di dalamnya. Melihat Resa yang sudah tertidur di atas meja, membuat Anta tidak segan lagi untuk berbicara blak, blakan pada gadis berhijab itu. " Sebenarnya Dia itu siapa Kamu?" Tanya Anta sambil perlahan menutup pintu. " Itu Leonard, tunanganku dulu yang pergi bertahun tahun lamaya. Sehari setelah Ia melamarku, esoknya Ia menghilang tanpa jejak dan sekarang pria itu muncul kembali sampai memaksaku untuk melanjutkan kembali pernikahan kita." Jelas Zerina panjang lebar. Anta hanya terdiam sambil bergumam penuh pada dirinya sendiri. " Rasa cintaku pada Resa dan Zerina, ternyata serumit ini. Dari awal tenyata prasaan ini sudah salah!" Zerina perlahan menurunkan kakinya kelantai, duduk bersandar pada tembok yang ada di belakangnya.
Anta melakukan hal yang serupa dengannya, Ia pun duduk di atas lantai berkeramik tepat di sampingnya. Gadis itu nampak murung, Ia terus menurunkan kepalanya. Sampai ada yang menelpon dirinya pun Ia hiraukan. Namun bunyi handpone nya masih tidak mau berhenti. " Zerr, itu handpone Kamu berbunyi, angkatlah siapa tahu ada yang penting." Tegur Anta . " Sebentar!" Zerina langsung mengeluarkan handpone tersebut dan melihat siapa orang yang sudah menelphonenya sedari tadi. " Bapak, ngapain bapak nelpon Aku terus?" Zerina risih segera untuk mengangkatnya. " Waalaikummsalam, Pak!" " Iyaa, ada apa?" Ia pun mengangkat tubuhnya untuk menerima panggilan handpone tersebut dan menjauh sedikitnya dari Anta. " Emang ada apa ya, kelihatannya Zerina gelisah sekali?" Anta yang perlahan menghampiri gadis itu, namun dari belakang Resa menepuk pundaknya pelan. " Anta Kamu mau kemana?" Resa bertanya sambil mengusir sedikit kantuk dalam kedua matanya. " Aku mau ke depan!" Baru saja Ia sedikit melengoskan kepanya kebelakang, untuk menjawab pertanyaan Resa. Gadis berhijab itu sudah tidak lagi disana, sepertinya Ia pergi dari tadi dengan tanpa sepengetahuannya. " Ini sudah jam berapa? Aku sudah ngantuk sekali? Pestanya sudah selesai belum ya?" Tanya Resa menghujani dirinya. " Ini Aku mau ngeliat dulu, pestanya udah selesai apa belum? Kalau sudah, Aku mau beres beres di depan?" " Oh gitu ya!" Resa menjawabnya sambil sedikit menguap. Anta gerak cepat menyuruhnya untuk segera kembali ke ruangan tadi. " Sebaiknya Kamu lanjutin lagi tidurnya, biar Aku sama teman teman yang membereskan semuanya!" Usul Anta yang langsung membuat Resa kembali untuk memasuki ruangan tadi.
" Jika Resa ikut bersamku, pasti Ia akan menanyakan lagi, jawaban Aku mau apa tidak jadi pacarnya!" " Dan itu pertanyaan yang membuatku sangat bingung."
Perlahan Ia pun berjalan sambil bergumam ke ruangan depan. Tak disadarinya pesta itu sudah selesai, yang tersisa hanya ada sampah dan juga kotoran dari sepatu yang menghinggapi seluruh teras. Anta sepertinya menyimpan kegundahan dalam hatinya dengan Ia terus mendengus dalam melakukan setiap pekerjaan yang ada disana. " Huuh, kalau Aku sendirian yang membersihkannya, mana mungkin ini bisa selesai dengan cepat. Anta tahu jika Ia terus saja mengeluh tidak akan mungkin bisa cepat menyelesaikannya. Pemuda itupun menyingkirkan selebihnya pikiran yang menganggu pekerjaannya tersebut.
Pukul 22.30 tepatnya acara itu selesai, Anta terlihat menguap dari tadi, pemuda itu sangat kelelahan bekerja sendirina. Ia bisa saja dibantu oleh pekerja yang lain, tapi karena kasihan melihat merrka tengah tertidur pulas, Ia pun tak tega membangunkan mereka termasuk juga dengan Resa.
__ADS_1
" Ngantuk banget, tapi kalau ini belum juga beres, dibiarkan terus berantakan sampai pagi, pasti si Boss bakalan marah!"
Kantuknya tak bisa ditahan lagi, kedua matanya sangat berat untuk terus terpejam. Hanya satu lagi pekerjaan yang tersisa mengepel lantai yang kotor, banyak sekali tanah ataupun debu yang berserakan disana. Tapi Ia terus saja mengepel sampai akhirnya pun selesai.
Tok.. Tokk... Tokkkkk
" Jangan- jangan maling?" Pemuda itu semakin disergap oleh rasa takutnya. Ia malah so-soan memberanikan diri ingin melawannya dengan mengambil sebuah bongkahan kayu sisa renovasi Cafe kemarin. " Ada ada saja, malam malam gini pake didatangin maling segala?" " Ntar pas itu maling masuk, saya langsung getok kepalanya pake kayu ini saja!" Sambil bergumam kecil dari balik pintu Ia pun sesekali mengintip keluar, sedang apa maling maling itu sebenarnya. Mereka terlihat seperti ingin membuat rencana untuk bisa masuk kedalam Cafe ini dengan segera Anta pun memegang balok kayu itu kuat kuat seraya perlahan membuka pintu Cafe itu.
Kreketttt....
__ADS_1
" Maling.. Maling, Malinggg!"
Teriak Anta yang lansung membangunkan Resa dan juga karyawan lainnya. Resa terbangun di atas meja, setelah terbangun gadis itu seperti kebingungan habis itu mengambil kaca kecil yanga ada disaku bajunya. " Biar gak panik, mending ngaca dulu? Wah udah cantik belum ya Aku? Anta mana Anta?".
Meninggalkan Resa dan kecentilannya itu, semua teman pelayan lainnya, langsung bergegas pergi menghampiri Anta yang sudah berhenti berteriak lagi disana. Melihat Ia tidak lagi berteriak, namun malah bercanda di depan pintu Cafe bersama dua pria yang nampak seumuran dengannya. " Anta, dimana malingnya. Kita siap nih buat pukulin tuh maling!" Anta menyeringai. " Hehe maaf ya temen temen, mereka bukan maling, mereka berdua ini teman Saya, Saya kira mereka maling soalnya datangnya sambil ngendap ngendap." Jelas Anta yang langsung membuat semua teman pelayannya itu bubar. " Oh, gitu!" Anta langsung meperjelas kedatangan Geo dan Dama mengapa Ia mendatanginya selarut ini. " Kalian kesini mau apa? Ini jam berapa lih?" . Brebekkkk. Belum juga kedua temannya itu menjawab, perutnya sudah duluan memberitahunya kalau mereka itu sedang kelaparan. " Kami abis pulang ngamen, mana tahu Kamu punya sisa makanan di dapur?" " Iya, Anta. Makanan sisa juga gak apa apa!" Jelas mereka sedikit memohon padanya.
" Ya sudah kalian masuk, kayanya ada beberapa makanan di dapur!" Suruh Anta untuk kedua temannya itu lekas masuk kedalam Cafe.
Pukul 23.55 hampir mendekati tengah malam Ia selesai mengepel semua teras yang kotor. Meski di tambahi keributan tapi itu berhasil membuatnya tertawa dan menghilangkan ketegangannya untuk sesaat.
__ADS_1