LEKANG

LEKANG
Mengulang waktu yang pahit


__ADS_3

Sesudah sampai di persimpangan jalan, Anta langsung menepuk kepalnya dan segera memberhentikan laju dari motor yang Ia kendarai itu. " Ya ampun, saya sudah terlambat bekerja. Mbak saya minta maaf, saya hanya bisa anterin Mbak sampai sini?" Perempuan yang dari tadi duduk dibelakangnya itu langsung kaget dan cepat turun dari atas motor. " Apa Mas, jangan gitulah Mas. Tolong bantu saya dulu?" Wanita itu merengek tiada henti dan langsung mendumal kembali padanya. " Cuma telat sebentar aja Mas. Mas bilang aja nanti alasannya gini. Tadi ada emergency, gitu?" Anta memalingkan wajahnya sekilas sambil terus melihat jam yang ada di tanganya. " Ya, sudah, tidak baik juga nolong orang setengah setengah." Jawab Anta dan langsung menghidupkan kembali motor perempuan itu. " Nah gitu, Mas baik deh!" Anta bergumam risih, menghiraukan waktu yang terus berjalan ditangannya. " Gimana ini, apa mungkin Bapak pemilik lestoran itu akan memaklumi alasannya".


Begitu tiba di alamat tersebut. Anta segera meloyor masuk kedalam angkutan umum yang tiba saja berhenti dijalan raya. Gadis itu berteriak sambil melambaikan tangan pada pemuda yang telah menolongnya. " Loh, ko... Tunggu Mas, Saya belum tahu namanya?" " Huuh, Pria yang aneh?" Gumam Gadis itu setepah berteriak memanggilnya, dengan terus melihat mobil angkot yang sudah membawa malaikat penolongnya tadi.


Jadi karyawan baru memang harus disiplin, terutama dalam hal waktu. Anta tidak bisa memungkiri satu hal jika dirinya nanti akan dipecat. Ia sampai tidak ingat sudah berapa kali dia hengkang dari satu pekerjaan dan masuk kedalam bidang pekerjaan lainnya. Beberapa kali Ia dipecat dari pekerjaannya dengan kesalahan yang sama, mulai dari penjaga toko, pekerja pabrik dan juga sebagai office boy, sampai terus saja begitu hingga saat ini. Anta mendenggus mengingat momen menyedihkan itu. Bahkan Ia pun tidak bisa harus berekspresi apalagi nanti, jika benar dirinya akan dipecat lagi untuk yang kesekian kalinya.

__ADS_1


Setelah turun dari mobil angkot, Anta berjalan loyo dengan keadaan rambut acak acakan, kemejanya pun tak rapih lagi yang paling mengagetkan, kancing bajunya beberapa ada yang terlepas terlihat jingjet. Berjalan lengkap dengan semua itu, sang meneger sudah menunggunya diluar pintu Cafe, sambil bertolak pinggang menatapnya penuh gusar. " Sudah kuduga?" Ujarnya perlahan sambil mendekatinya. Kepalanya terus saja menunduk, kedua tanganya tak berhenti bergetar, bibirnya pun sama seperti tanganya yang bergetar tak karuan. " Ini jam berapa? Kenapa Kamu baru sampai?" Tanya maneget Cafe dengan tegasnya. Karena Anta bukan tipikal orang yang pandai membuat alasan, jadi Ia sedari tadi hanya diam sebab takut salah bicara. " Kenapa Kamu diam, jawab?" " Iya Pak!" Anta pun terdorong oleh teriakan sang meneger untuk lekas berujar beberapa kata padanya. " Baru juga hari pertama Kamu bekerja sudah begini, gimana hari hari kedepannya pasti kamu akan sering terlambat" Jelasnya gusar. Anta langsung berbicara pada intinya saja tanpa mau memperpanjang pembicaraan. " Maaf Pak, saya tahu Saya salah dan saya tahu juga, pasti saya akan dipecat." Pemilik Cafe itu langsung berdecak sambil menggelengkan kepala lalu berjalan perlahan mendekati dirinya. " Kamu itu sudah dewasa harus punya pendirian. Jika Kamu terus saja begini, Kamu tidak akan pernah mungkin maju." Meneger itu memberikan nasehat untuknya, dan langsung membuat Anta merasa sedih dan juga kesal, Ia pun segera mengambil kedua tangan meneger itu untuk bersalaman. " Saya minta maaf Pak, saya sangat butuh pekerjaan ini. Tolong Pak, saya tidak tahu lagi harus kemana mencari pekerjaan selain bekerja disini?" Jawab Anta tersedun dengan tanpa hentinya Ia memegangi kedua tangan dari orang yang memberi keputusanyan. " Saya tidak akan memecat Kamu, Saya memberikan Kamu satu kali kesempatan lagi."


Anta langsung mengangkat kepalanya dan lekas menatap orang tua itu, dengan kedua matanya yang berbinar binar. " Terima kasih Pak, saya pasti bakal menjalankan kesempatan ini dengan baik." Jawab Anta kegirangan.


Satu seragam hitam yang sama persis bentuk dan ukurannya diserahkan dalam bungkusan plastik. Anta lega dapat bekerja di Cafe yang sedari dulu menyimpan ribuan kenangan dengan ayahnya itu. Disaat keluarganya masih utuh, dulu ayah, ibu dan juga kedua adiknya sering menghabiskan waktu berkumpul di sana. Sekarang Ia sangat senang sekali bisa bekerja di tempat yang menyimpan ribuan kenangan indah yang dulu terukir disetiap penjuru Cafe tersebut.

__ADS_1


" Hi, Anta.. Namaku Ressa, salam kenal?" Sapa seorang gadis cantik yang langsung memperkenalkan dirinya, yang sama juga sebagai pelayan lestoran disana. Anta langsung menegakan tubuhnya dan secepatnya membalas perkenalan itu. " Iya, salam kenal juga." " Kamu pegawai lama disini?" Tanya Anta pada gadis itu. " Tidak juga Saya baru satu minggu bekerja disini! " Jawab Gadis cantik tersebut sambil tersenyum. Anta pun langsung membalas senyuman yang diberikannya. " Oh begitu!" " Ya, Saya balik kerja lagi ya?" " Silahkan!".


Baru pertama kalinya Ia disamperin seorang gadis, sebelumnya Ia tidak pernah mengalami hal itu. Ia tepikal pemuda yang pendiam dan juga pemalu. Selepas Ressa pergi, Ia pun langsung tersenyum senyum sendiri.


Beberapa saat dirinya selesai membersihkan semua debu dan juga kotoran yang ada di meja hingga kursi, tiba saja datang beberapa orang pelanggan yang salah satunya adalah perempuan tadi yang sempat Ia tolong ketika mencari alamat. " Perempuan itu?" Gumamnya sambil menghampirinya yang hendak ingin memesan makanan. " Mau pesan apa?" " Saya mau pesan... Eh Kamu. Ternyata Kamu bekerja disini?" Jawab gadis itu dengan kagetnya setelah melihat Anta sebagai pelayannya. " Dunia ini sempit juga ya, Kita bisa dipertemukan kembali disini!" Ucap Kembali Gadis remaja yang mengenakan hijab. Anta malah meletakan lidah tak perduli padanya, menghiraukan kegirangan gadis tersebut yang telah kembali menemukan dirinya. " Sekali lagi Saya tegaskan, Mbak. Mau pesan apa?" Tanya Anta sedikit gusar. " Aku mau pesan nomor whatsapp Kamu, kalau bisa dibungkus ya, biar bisa Aku bawa pulang?" Jawab gadis congkak itu dengan penuh candaan. Anta sama sekali tidak tersenyum mendengar candaannya, Ia malah menekuk wajahnya masam dan malah langsung melengos pergi dari hadapannya. Ia juga terlihat sangat kesal sekali padanya, namun gadis itu tak langsung menyerah untuk tetap terus melangkah maju dan tak pernah gentar supaya bisa mengenali dirinya lebih jauh lagi.

__ADS_1


" Tunggu, Kamu mau kemana lagi... Kita belum sepenuhnya saling mengenal, apa Aku boleh mengetahui siapa nama kamu?" Teriak gadis berhijab, sambil memegangi tangannya dari belakang.


__ADS_2