
___________
" Assalamu'alaikum.. " Aku yang sedang berada di dapur langsung bergegas keluar setelah mendengar salam dari luar.
" Wa'alaikum salam, "
" Baru nyampe, Mas? " Ucapku pada lelaki yang sedang melepas sepatunya itu.
" He'em.. " Dia menjawab yang hanya terdengar seperti sebuah gumaman.
Dia memang tipe lelaki yang tak banyak bicara, cuek pada siapa saja. Termasuk padaku yang notabene nya adalah istrinya. Jadi aku pun sudah terbiasa akan sikapnya itu.
Dulu sempat berpikir bahwa dia tidak menyukai rumah tangga ini, apalagi kami bersama karena sebuah perjodohan. Bahkan pernah berpikir untuk mundur saja dari pernikahan ini, namun bayangan dua keluarga yang sangat antusias dengan hubungan kami membuatku urung untuk melakukan itu semua.
Hyan Raziq Pratama, keluarga biasa memanggil nya Hyan. Laki-laki dewasa yang mampu membuatku jatuh cinta, meski aku tau mustahil cintaku akan terbalas.
Aku Maryam Sezia Dianta, wanita yang tetap bertahan ditengah kebekuan sebuah hubungan, hanya demi melihat orang disayang bahagia, meski juga karena aku 'CINTA'.
Awal perkenalan ku dengan Mas Hyan itu 7 bulan lalu, dan sebulan setelahnya keluarga mas Hyan dan juga keluarga ku memutuskan untuk langsung menikah kan kami, dengan alasan 'umur' kami sudah cukup. Aku menikah diumur 23 tahun dan mas Hyan 26 tahun.
Kami terpaut 3 tahun saja. sebenarnya ini bukan perkenalan pertama ku dengan nya, aku mengenalnya sejak masih SMP, sebab dia adalah kakak kelasku dulu, tapi seperti nya Mas Hyan tidak mengenali ku, karena saat kami dipertemukan 7 bulan lalu dia tampak seperti tidak mengenali ku.
__________
Sedikit akan aku ceritakan awal pertemuan kami sebelum menikah. Saat itu aku baru pulang kerja, dan aku memutuskan untuk langsung mandi. Setelah mandi dan berganti pakaian, pintu kamarku terdengar diketuk.
" Sezia, boleh Ibu masuk, nak? " Suara ibu terdengar dibalik pintu.
" Iya, Bu, masuk aja, Zia baru selesai ganti baju, "
Setelah mendengar jawabanku Ibu langsung masuk dan duduk dipinggir ranjang.
" Zia, " panggil Ibu. Aku yang sedang duduk dimeja rias sambil mengoles tipis perona bibir pun menoleh.
" Iya, Bu. Ada apa Bu? "
" Ada masalah? " Tanyaku seraya bangkit dan duduk disamping Ibu.
" Ah.. tidak sayang, Ibu mau ngomong sesuatu sama kamu, tapi Ibu gak enak nyampein nya. " Jawaban Ibu seketika membuatku terkekeh.
" Apaan sih , Bu, pakek gak enak segala, emang ibu pikir Zia siapa? Anak Ibu, loh, ini, " aku menjawab sambil memeluk Ibu.
" Iya, tapi Ibu takut kamu marah, janji, ya, jangan marah? " Ibu melepas pelukan ku kemudian mencolek lembut daguku.
Aku mengangguk dan tersenyum.
" Zia, kamu kan tau, Ayah udah gak ada. Mas mu juga udah gak tinggal bareng kita, karena dia juga udah punya tanggung jawab terhadap anak istrinya, dan ibu sudah tua, takut kalau nanti..... " Ibu menghentikan ucapannya dengan mata berkaca-kaca. Aku langsung menggenggam tangan ibu, seolah ingin memberi kekuatan pada wanita yang sudah melahirkan ku itu, meski saat ini hatiku pun dilanda gelisah, apalagi tiba-tiba saja Ibu membahas tentang Ayah.
" Ibu kenapa, sih? " Kataku sambil tersenyum.
" Zia gak mau Ibu berpikir macam-macam, insyaallah kita pasti bisa menghadapi ini, Bu. "
" Kan Ibu yang sering ajarin Zia dan juga mas Hanan, kalau kita ikhlas dan tidak banyak mengeluh, Allah tidak akan pernah jauh dari kita. Betul, kan, Bu? " Lanjutku seolah mengingatkan ibu pada setiap kata-kata yang selalu diucapkan pada kami anak-anaknya.
Ibu menggenggam erat tanganku dan tersenyum.
" Iya, Ibu senang kalau kamu selalu mengingat kata-kata Ibu. Tapi ibu kadang-kadang khawatir, umur Ibu gak muda lagi, apalagi orang bilang umur gak ada yang tau... "
" Kamu masih sendiri, Mas mu sudah bareng keluarga nya. Kalau seandainya Ibu pergi sebelum kamu nikah, Ibu pasti gak akan tenang, nak, " ucapan Ibu membuat ku menggelengkan kepala.
__ADS_1
" Ibu ngomong, apa, sih! " Kataku tak terima dengan ucapan Ibu.
" Zia gak suka, ya, Ibu ngomong gitu. Insyaallah Ibu diberi umur panjang, orang masih sehat gini, masih kuat juga. Ibu pasti bisa liat Zia nikah dengan lelaki terbaik, mantu idaman Ibu. Ibu juga pasti bisa gendong cucu dari Zia, masak cuma cucu dari mas Hanan doang yang digendong. "
Ucapku panjang lebar seraya tersenyum dan menahan sesak di dada.
" Maka dari itu sayang, badan sehat dan kuat itu gak menjamin umur panjang, loh, syukur-syukur diberi umur panjang, kalo enggak? "
Perkataan Ibu berhasil merubuhkan pertahananku. Air mata yang sejak tadi kutahan kini mengalir bebas tanpa beban, aku memeluk Ibu erat dan menangis sesegukan seperti anak kecil yang tak mau ditinggal Ibu nya pergi. Sedih? Pasti!
Anak mana yang tak terbebani dengan perkataan orang tua yang dicintai dengan bahasan seperti itu. Apalagi dengan posisi aku yang sudah tak memiliki ayah 2 tahun terakhir ini, bagiku sekarang Ibu adalah harta yang paling berharga yang aku punya.
Ibu mengecup kepala ku sambil mengusapnya dengan lembut. Sungguh, aku belum siap jika harus kehilangan nya, rasanya baru kemarin kepedihan merajai hatiku saat harus kehilangan sosok cinta pertamaku, bahkan hingga detik ini rasa itu masih tetap bertahan, namun lagi-lagi, kata-kata Ibu yang selalu terngiang dikepala sedikit banyaknya membuatku harus belajar ilmu ikhlas. Aku tau, bahkan Ibu lebih hancur saat harus kehilangan Ayah. Tapi dia selalu berusaha tetap terlihat tegar dihadapan kami anak-anaknya, meski sering kali kulihat dia juga menangis setiap usai shalat. Begitu berarti nya Ayah bagi Ibu, beliau bukan hanya berhasil menjadi suami bagi Ibu, tapi juga berhasil menjadi sosok Ayah terbaik bagi kami anak-anaknya.
" Ibu jangan ngomong gitu, Ibu pokoknya janji harus sehat, biar bisa nemenin Zia terus... " Aku berucap sambil terus menangis.
Ibu menanggapi dengan senyuman kemudian mengangguk.
" Makanya, Ibu mau liat Zia bahagia, mas mu udah bahagia sama keluarga kecilnya, ya tinggal kamu lagi. Zia udah punya calon? "
" Bu, Ibu kan tau sendiri Zia mana pernah pacaran? Bisa-bisa Zia diamuk sama mas Hanan, " ucapku bercanda untuk menormalkan detak jantung karena pertanyaan Ibu.
" Iya, Ibu tau. Tapi mana tau Zia udah ada yang ngajak nikah, tapi belum dibawa kesini? "
Ibu terkekeh geli setelah berkata seperti itu. Sebenarnya gak salah sih kata-kata Ibu, yang ngajak nikah ada beberapa, mulai dari teman kantor, teman SMA bahkan sampai teman kampus dulu. Tapi ya itu, aku selalu menjawab 'belum siap' , karena aku berpikir, jika menikah sekarang bagaimana dengan Ibu?
" Gak ada, ih, Bu, " aku menjawab malu-malu. Sebenarnya agak risih jika harus membahas tentang laki-laki sama Ibu, bukan apa, tapi malu aja gitu.
" Kalo gak ada, Ibu kenalin sama anaknya temen Ibu, gimana? " Pertanyaan Ibu kali ini berhasil membuatku terkejut, huhh.. ternyata, setelah ngedrama ini itu sejak tadi, ada maksud lain disini ' aroma-aroma perjodohan nih, kayaknya ' batinku dalam hati.
" Maksud Ibu? Jangan bilang Zia mau dijodohin, loh, Bu. "
" Gak ngejodohin, kok, cuma perkenalan biasa aja, yaa kalau cocok mah Alhamdulillah, kan? "
" Mau, ya, ?"
Aku mengerucut kan bibir mendengar perkataan Ibu. Sama aja kali.
" Tapi cuma perkenalan aja, kan? Gak lebih, kan? "
Ibu langsung mengangguk mendengar pertanyaan ku.
" Tapi, Ibu gak boleh berharap lebih, loh, "
" Iya, Ibu janji gak akan terlalu berharap, tapi ibu berdoa semoga aja cocok. "
Ibu berucap sambil tertawa.
" Yaudah, besok kamu libur, kan?" Aku hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.
" Yaudah deh, kalau gitu Ibu hubungi temen Ibu dulu, mau bilang ketemu nya besok siang aja, "
" Jangan lupa, besok siang Zia gak boleh kemana-mana, oke? " Ibu langsung keluar setelah sebelumnya mencolek daguku.
Aku menghembuskan nafas kasar. Tapi lagi-lagi, aku juga gak bisa menolak permintaan Ibu.
__________
Aku memandangi wanita yang sudah melahirkanku itu dengan menyipitkan mata, bagaimana tidak? Saat ini dia sedang berdiri didepan meja rias, sambil terus membetulkan hijab panjangnya itu.
__ADS_1
Dia benar-benar terlihat seperti ABG saat ini, Sebenarnya disini yang akan berkenalan dengan laki-laki itu siapa? Aku? Atau Ibu, sih?
Melihatnya membuatku hanya mampu mengulum senyum, geli sekali melihat wanita paruh baya itu berdandan seperti orang yang akan bertemu pujaan hati, yaa, meskipun dandanan Ibu tidak ' norak ' atau menor, malah masih terlihat wajar untuk usianya, tapi caranya berdandan itu yang membuatku geli.
" Sampai kapan Ibu harus terus merapikan yang sudah rapi? Udah cukup, Bu, "
" Zia sampe pegel tau, sebenarnya ini siapa, sih, yang mau ketemu? Zia apa Ibu? " Aku bangkit sambil menggerutu, yang dibilangin malah senyam senyum.
" Ya kamu, atuh, Ibu cuma pengen terlihat rapi aja, gitu, masak ketemu calon besan dan juga calon mantu gayanya awut-awutan, "
" Udah, kok, Ibu udah selesai, yuk, jalan. "
Ibu melangkah ke arahku sambil terkekeh.
Kami berjalan keluar dari kamar Ibu, saat tiba diruang tamu ponsel dalam tas Ibu berdering.
' Assalamu'alaikum, Buk, Amel, ' ternyata yang nelpon Tante Amel.
' Oh, iya, Buk, ini kita baru mau jalan, '
' yasudah, Buk. Sampai ketemu dicafe, ya, wa'alaikum salam '
Ibu memasukkan kembali ponselnya kedalam tas, kemudian menggandeng kembali tanganku, kami berjalan bergandengan hingga sampai di depan.
Aku langsung membuka pintu mobil bagian kemudi, Ibu pun menyusul masuk dan duduk disamping ku.
Selama perjalanan menuju cafe tujuan, Ibu tidak berhenti bercerita tentang laki-laki yang akan dikenalkan padaku itu, dia benar-benar terlihat antusias sekali, berkali-kali Ibu seperti berharap agar ada kecocokan antara kami.
Tante Amel ini adalah teman pengajian ibu, katanya sih sudah kenal sejak 5 tahun yang lalu, sejak Ibu sering mengikuti pengajian. Ibu bilang Tante Amel ini orangnya tidak neko-neko, tidak memandang seseorang dari harta, buktinya dia mau memperkenalkan anaknya denganku yang jika dinilai dari harta jauh berbeda dengan mereka.
Setelah 25 menit perjalanan, kami sampai juga dicafe tujuan. Aku langsung menuju parkiran cafe, kemudian melepas seat belt dan menoleh pada Ibu yang mengangguk senang.
" Yuk, turun. Kayaknya buk Amel juga udah sampai, " Ibu berucap kemudian langsung turun dari mobil membuat aku pun segera menyusul.
Setelah turun dari mobil Ibu segera meraih lenganku dan menggandeng nya dan berjalan kedalam cafe, tiba didalam Ibu celingukan seperti sedang mencari seseorang, dan pandangannya berhenti pada meja disudut cafe, aku pun mengikuti arah pandangnya dan terlihat disana seorang wanita sebaya Ibu, dari penampilan nya aku tau itu Tante Amel, cara berpakaian nya simple dengan baju dan hijab panjangnya namun tetap terlihat elegan dan mewah.
Aku dan Ibu berjalan menuju meja yang diisi oleh Tante Amel, namun tidak terlihat sang anak disana, apakah dia tidak menyetujui pertemuan ini? Pikirku dalam hati.
Ibu langsung dipeluk oleh Tante Amel ketika kami tiba, kemudian dia beralih menatap ku dan tersenyum manis, aku langsung mengulurkan tangan dan disambut oleh Tante Amel untuk kucium punggung tangannya, dia juga langsung memelukku dengan hangat, terasa seperti pelukan Ibu. Setelah melepas pelukan, Tante Amel mempersilahkan kami duduk, kemudian memanggil pelayan untuk memesan memesan makanan dan minuman.
Sambil menunggu pesanan kami mengobrol, meskipun obrolan kali ini hanya didominasi oleh dua wanita sefrekuensi itu, aku sesekali ikut larut dalam obrolan mereka meski hanya bisa menanggapi dengan anggukan kepala atau senyuman.
Tiba-tiba ponsel Tante Amel berdering,
' wa'alaikum salam, iya, Bunda sudah didalam, langsung masuk aja, ya, '
Ternyata anaknya yang nelpon, aku langsung gelisah tak karuan, dan ternyata kegelisahan ku terbaca oleh dua wanita didekat ku itu.
" Gak usah takut gitu, Zia, anak Bunda gak akan makan orang, kok, meskipun cuek, sih, jadi gak usah kaget, ya, "
Candaan Tante Amel membuat Ibu sontak tertawa, aku hanya tersenyum sungkan menanggapi.
" Tuh, sampe juga yang ditunggu-tunggu, sini duduk samping, Bunda, "
Tante Amel melambaikan tangan pada seseorang dibelakangku, membuatku semakin deg-degan, aku hanya bisa menunduk dan berpura-pura memainkan ponsel untuk mengurangi kegugupan ini.
" Kenalin dulu, ini namanya, Zia, anaknya Bu Tari, " ucapan Tante Amel seketika membuatku mendongak.
Deg!
__ADS_1
__________