Lelaki Dinginku

Lelaki Dinginku
bab 16


__ADS_3

______________


Aku mengedikkan bahu melihat Hyan yang berlalu cepat ke mobilnya, aku melangkahkan kaki dan segera membuka pintu.


" Assala ... " Belum selesai aku mengucapkan salam, sudah dipotong omelan mas Hanan.


" Kamu itu dari mana, sih dek? Ini udah hampir sejam an loh kamu perginya, " omelnya.


" Belinya didepan sana, keluyuran kemana dulu kamu, heh? Mana ditelfon nggak diangkat lagi, Hyan nungguin kamu dari tadi. Sampe bosen nungguin didalem, " mas Hanan masih betah mengomeli ku. Bahkan tak memberi kesempatan aku berbicara.


" Kebiasaan kamu itu, udah tau mbakmu lagi ngidam. Nggak mungkin juga ngantri sampe sejam an, " aku tidak mendengarkan lagi omelan nya, malah berlalu masuk dan menuju dapur.


Aku minta tolong Bi Irah memanaskan bakso pesanan Mbak Alya tadi, karena memang sudah lumayan dingin.


Hari ini dibikin pusing sama tiga lelaki, yang pertama pak Faroz yang tiba-tiba berubah setelah tersedak, yang kedua Hyan, karena ngeliat aku dianter orang lain, dia cemburu kah? Dan yang ketiga mas Hanan, karena aku telat membeli pesanan istrinya. Nih laki bertiga kenapa, sih? Pada sensi semua perasaan.


" Tuh kan! Bakso nya sampe dingin gitu, pasti tadi kamu keluyuran dulu, ya? Atau sengaja, biar mas kena omel mbakmu karena malah nyuruh kamu? " Katanya saat melihat Bi Irah memanaskan bakso tadi.


" Tadi itu, Zia udah mau pulang mas. Tapi ketemu mantan bos disana, terus dia ngajak Zia makan bakso dulu, Zia kan nggak enak kalo mau nolak, jadi Zia iyain aja, deh. Lagian ponsel Zia ketinggalan, lagian mau keluyuran kemana coba? Nggak liat outfit Zia udah kayak bocah gini? " Aku menjelaskan alasan telat pulang pada mas Hanan.


Mas Hanan mengerutkan kening.


" Mantan bos? Siapa? " Tanyanya.


" ya siapa lagi, mas? Pak Faroz lah." Sahutku.


" Seriusan kamu, Faroz mau makan bakso dipinggir jalan? Dia itu orang kaya, dek. mana pernah dia makan ditempat gituan, jangan-jangan kamu bohongin mas, ya? Pakek bawa-bawa Faroz segala lagi, " dia berdecak sebal mendengar penjelasan ku.


" Loh? Mana Zia tau? Yang pasti, pas Zia mau balik, nggak sengaja ketemu dia. Makanya dia ngajakin makan dulu, " ucapku setengah berbohong.


" Bohong kamu, mas itu temenan sama dia sudah lama. Mas telfon ya? Biar ketahuan kamu bohongnya, " ancam mas Hanan.


Astaghfirullah ... Bener-bener ngelag aku dari tadi, pantesan pak Faroz tau rumahku, kan dia temen kuliah mas Hanan dulu, dan lumayan sering berkunjung kesini. Dia juga tau kalau aku adik mas Hanan satu-satunya.


" Telfon aja kalo mas nggak percaya, " ucapku melengos dan membawa mangkok bakso tadi kekamar mbak Alya.


Aku mengetuk pintu kamar mbak Alya, dia menyahuti dari dalam, dan memintaku langsung masuk saja.


" Mbak, maaf, ya. Tadi Zia kelamaan. Keburu dingin deh baksonya, tapi udah dipanasin bi Irah lagi, kok, " kataku seraya berjalan mendekat.


Mbak Alya hanya tersenyum dan mengangguk.


" Maaf, ya Anty. Jadi ngerepotin, makasih banyak, loh, " kata mbak Alya.


" Iya, mbak. Sama-sama. Mbak makan sendiri atau mau Zia suapin? " Tanyaku.


" Mbak makan sendiri aja, Anty, " aku hanya mengangguk dan menyodorkan mangkok yang sudah kualasi dengan piring tadi ketangan mbak Alya.


" Zia lupa bawa minum. Kalo gitu Zia ambil dulu, ya, mbak, " mbak Alya mengangguk dan langsung melahap baksonya.


Aku mengambil gelas dan menuang air kedalam nya, dan segera mengantarnya, sebelum masuk kamar, aku dihadang oleh panggilan mas Hanan.


" Dek! " Panggilnya dari ruang tv.


Aku menoleh dan bertanya kenapa.


" Biar mas aja yang bawa, kamu kekamar aja, gih, " aku mengerutkan kening mendengar nya.

__ADS_1


" Zia aja, lagian Zia mau nemenin mbak didalam, " sahutku.


" Duhh ... Mas aja, sini, " katanya dan langsung merebut gelas dari tanganku.


Dia menarik nafas dan menghembuskan perlahan sebelum masuk kekamar nya sendiri. Aku menahan tawa melihatnya, pasti dia sedang dicuekin mbak Alya lagi tuh. Aku mengedikkan bahu dan segera berlalu dari sana, memberi kesempatan suami istri itu, yang mungkin ingin berdebat lagi.


Aku langsung kekamar dan ngecek ponsel, ternyata sudah sangat banyak pesan dan panggilan masuk, mungkin dari mas Hanan tadi, pikir ku. Namun yang mengejutkan ku, ternyata panggilan dari mas Hanan hanya beberapa saja, selebihnya pesan dan panggilan tadi dari nomor Hyan. Apa dia ada perlu ya? Sampai menelpon sebanyak ini?


Aku berniat ingin menghubungi nya lagi, ingin bertanya, apakah ada urusan penting denganku. Tetapi tiba-tiba saja ponselku berdering, panggilan dari nomor Nayna, tanpa lama aku langsung mengangkatnya saja.


' assalamu'alaikum, ada apa, Nay? ' tanyaku setelah mengucap salam.


' wa'alaikum salam, mbak. Mbak lagi sibuk nggak? '


' kebetulan enggak, kenapa? '


' tadi kata mas Hyan dia udah kerumah mbak, tapi nggak ketemu karena mbak lagi keluar. Rencananya dia mau ngajakin mbak ke butik salah satu temannya Bunda, mau fitting baju. Soalnya beberapa hari kedepan ini dia sibuk dikantor, jadi takutnya nggak sempet. Makanya tadi mau jemput, tapi katanya nggak ketemu, terus dia balik deh, '


Nayna menjawab panjang lebar. Apa katanya tadi? Tidak ketemu? Terus dia kira yang ketemu diteras dengannya tadi siapa, demit? Dasar manusia es!


' ohya, Nay. Tadi mbak keluar sebentar, '


' hmm ... Jadi gimana, mbak? Sore ini bisa nggak? '


' sore ini? ' tanyaku memastikan.


' iya, mbak. Nayna sama bunda ikut, kok. ' aku senang mendengarnya, jadi aku nggak akan plonga-plongo nantinya.


' boleh deh, kalo gitu mbak siap-siap dulu, '


Aku mengangguk padahal Nayna tak bisa melihatnya. Aku langsung mematikan panggilan setelah menjawab salamnya.


Aku segera bergegas mandi dan bersiap-siap.


Kedatangan om Hadi dan bunda tadi pagi ternyata untuk membahas tanggal pernikahan kami, mereka maunya dipercepat saja. Dan setelah berembuk antara orang tua Hyan dengan ibu dan juga mas Hanan, akhirnya diputuskan akan diadakan dua minggu lagi. Dan ibu meminta agar diadakan dirumah ini dan secara sederhana saja, awalnya om Hadi dan bunda meminta membuat acara dihotel bintang lima, dan mengatakan seluruh biayanya akan ditanggung mereka. Tapi ibu menolak, katanya ingin yang sederhana saja.


Akhirnya sudah jelas bagaimana rangkaian acaranya, yaitu paginya akad nikah yang hanya dihadiri kerabat dekat saja, kemudian siang sampai malamnya baru resepsi yang akan dihadiri para tamu dari keluargaku dan Hyan, dan mungkin juga teman-teman sekolah dan juga kuliah kami dulu.


Aku sudah selesai, sore ini aku memutuskan memakai gamis berwarna hitam yang aku padukan dengan pashmina berwarna coksu. Setelah menyemprotkan parfum keseluruh tubuh, aku segera meraih tas kecil yang berwarna senada dengan pashmina ku, kemudian aku memasukkan dompet serta ponsel didalamnya.


Aku menuruni tangga satu persatu, sesampainya dibawah, ternyata ibu dan mbak Alya sedang menonton tv. Menantu dan mertua itu bukannya fokus nonton, tapi malah keasyikan bercerita, sampai tak sadar dengan kedatanganku.


Tiba-tiba ...


Huekk huekk ...


Mbak Alya mual-mual dan langsung menutup mulut serta hidungnya, ibu dengan sigap langsung memberikan minyak kayu putih padanya, serta menggosok-gosok punggungnya.


Aku hendak mendekat, tapi mbak Alya mengangkat tangan kearah ku dan menggeleng, aku yang bingung hanya bisa menatapnya dari jauh.


" Kamu pake parfum berapa botol, Anty? " Tanya mbak Alya membuatku melongo.


Ibu tertawa mendengarnya, kemudian mengatakan itu pengaruh dari kehamilan nya.


" Mbak mu kan lagi hamil muda. Jadi memang sensitif dengan bau-bauan gitu, makanya dia nggak mau kamu mendekat, " kata ibu seraya menahan tawa melihatku yang kebingungan.


Aku membulatkan mulut mendengar penjelasan ibu, jadi itu alasan nya. Pantesan, perasaan tadi aku pake parfum nggak banyak kok, cuma 10 kali semprot aja, serius deh!

__ADS_1


Akhirnya aku hanya bisa berbicara pada ibu dari jarak jauh, sebab ibu yang masih menggosok-gosok punggung mbak Alya.


" Bu, Zia pamit ya. Diajakin Hyan fitting baju, " kataku.


" Loh, nggak kesorean? Kenapa nggak besok aja? " Tanya ibu heran.


" Katanya beberapa hari kedepan ini dia sibuk, takut nggak keburu, " sahutku, ibu hanya mengangguk anggukkan kepalanya.


Terdengar bunyi mobil didepan, aku segera pamit pada ibu. Saat ingin mengampiri untuk bersalaman mbak Alya kembali menggeleng kearah ku, akhirnya aku hanya bisa pasrah dan berniat langsung keluar, tapi terdengar mbak Alya bersuara membuat langkahku tertahan.


" Pantesan mandi parfum, ternyata mau jalan, toh? " Ejek mbak Alya sambil terkekeh.


" Ihh ... Lagi hamil jangan suka ngejek mbak, ntar nurun sifat bapak nya lagi, " mbak Alya dan ibu sontak tertawa mendengar ucapanku.


Saat aku keluar, mobil Hyan sudah menunggu didepan sana. Aku segera berjalan menuju mobil dan membuka pintu penumpang bagian belakang, namun terkunci dan bersamaan dengan itu kacanya diturunkan, terlihat wajah Nayna menyembul dibaliknya dan disampingnya bunda, terus, aku duduk dimana?


" Mbak, duduk didepan aja, " katanya dengan tersenyum manis yang mau tak mau kuturuti.


Aku membuka pintu depan dan langsung masuk. Saat masuk tadi aku sempat melirik Hyan. Dia hanya fokus menatap lurus kedepan tanpa melirik sedikit pun. Aku segera duduk dan memasang seatbelt, tak lama setelahnya Hyan segera melajukan mobil.


selama perjalanan Nayna tak berhentinya berceloteh segala hal dibahasnya, aku dan bunda sesekali menimpali, aku larut dalam pembicaraan bersama Nayna dan Bunda, tak menghiraukan sedikitpun lelaki yang kini sedang fokus menyetir.


berada diantara bunda dan Nayna seperti ini, tak sedikitpun membuatku merasa sungkan atau pun malu, kami saling nyambung jika sudah bercerita.


sedang asyik-asyiknya bercerita tiba-tiba Nayna nyeletuk.


" ternyata mas nggak salah pilih calon istri ya, Bun. udah cantik, terus asik diajak bicara lagi. ehh ... tapi emang udah cantik dari dulu juga, kan? " celetuk Nayna membuatku tersenyum malu.


" bisa aja kamu, Nay. lagian tau dari mana kamu, mbak cantik dari dulu? " kataku seraya menoleh ke belakang.


" dari foto lah mbak, lagian foto mbak jaman masih sekolah dulu, kan banyak dilaptop nya .... "


ciiitt ....


belum sempat gadis itu menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja Hyan menginjak rem secara mendadak, membuat kami semua terhuyung kedepan, untung pake seat belt, kalo enggak sudah pasti bakal kebentur.


kami semua terkejut, aku sempat melihat bunda mengelus dada nya berkali-kali dengan wajah pucat.


aku melirik sekilas kearah Hyan, wajah nya terlihat sedikit tegang. lagian dia kenapa, sih? pake ngerem mendadak gitu.


" ada apa Hyan? " tanya bunda setelah sedikit tenang.


" Emm ... ng-nggak apa-apa, kok Bun. " sahutnya sambil mengusap keringat di dahinya, aku heran didalam mobil ini kan AC nyala, tapi kenapa dia tiba-tiba berkeringat?


dia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan secara kasar. aku meliriknya, sebenarnya dia kenapa?


Hyan menoleh kebelakang, menatap Nayna dengan tatapan tajam.


" Nay, kamu bisa nggak sih, berhenti ngomong, berisik tau nggak?! bikin orang nggak fokus nyetir aja! " dia menegur Nayna dengan sedikit keras.


gadis itu hanya bisa menunduk dan meminta maaf, aku jadi tidak enak karena tadi juga ikut bercerita dengan Nayna, yang mungkin mengganggu ketenangan nya.


" udah, udah. lanjut aja jalannya, nggak usah dibawa ribut, " bunda menengahi.


Hyan hanya mendengus, aku tidak mengerti apa yang membuatnya begitu kesal, nggak mungkin hanya karena celotehan sang adik lantas membuatnya begitu marah.


setelah tenang, dia mulai melajukan mobilnya. kami pun tak ada yang berani berbicara lagi, walaupun aku masih sangat penasaran dengan perkataan Nayna tadi, dia mengatakan melihat banyak foto ku didalam laptop, tapi laptop siapa? ahh nanti saja kutanyakan lagi.

__ADS_1


__ADS_2