Lelaki Dinginku

Lelaki Dinginku
bab 8


__ADS_3

__________


" Tapi apa, sayang? " Tanya Tante Amel.


" Maaf tan, Zia nggak mau dibilang perusak hubungan orang, apa nggak sebaiknya Hyan menikah dengan pacarnya saja? Apalagi, mungkin Hyan menyetujui ini karena terpaksa, mungkin dia nggak mau bikin om dan Tante kecewa, " ucapku,


Semua orang disana terkejut mendengar ucapanku.


" Pacar? Maaf, tapi selama Ini Tante nggak pernah tau kalo Hyan punya pacar, lagian kalo ada nggak mungkin kami mau menjodohkan nya dengan kamu, karena Tante juga sepemikiran dengan ibu mu, pilihan anak yang lebih penting, "


Apa selama ini Hyan tidak pernah mengenalkan pacarnya pada keluarganya? Aku menatap nya, dia tersenyum mengejek kearahku, aku membalasnya dengan tersenyum sinis, lihat saja, akan kubuat dia malu dihadapan keluarganya sendiri!


" Iya tante, kemarin dia jalan sama pacarnya, ketemu nya di cafe dekat kantor Zia, makanya dia nggak bisa jemput Zia, alasannya sih ada 'urusan penting', " aku mengucap kata terakhir dengan sedikit penekanan.


" Kemarin? " Tanya tante Amel, aku mengangguk cepat, Tante Amel malah menahan tawa.


Aku yang bingung melihat kearah Ibu, mbak Alya dan mas Hanan, mereka malah sama bingung nya denganku.


" Itu bukan pacarnya Hyan, tapi... " Tante Amel malah menahan tawa dan melirik kearah Nayna, perasaanku mendadak tak enak.


" Itu Nayna mbak, kemarin memang mas Hyan minta ketemu disana, sama Ayah juga Bunda, terus karena kebetulan Nayna mau berangkat ke kampus, jadi ikut sekalian, jadi... Mbak salah paham, " ucapan Nayna bagaikan petir disiang bolong.


Aku hanya bisa melongo dengan mata melotot, mendengar pengakuan Nayna, sedang yang lain malah meledakkan tawa.


" Makanya dek, Kalo cemburu itu nggak boleh berlebihan, " mas Hanan menggodaku, dan membuat semua tertawa, kulihat Hyan yang tersenyum lebih lebar dari biasanya, tanpa sadar aku juga ikut tersenyum.


" Nggak apa-apa, itu kan tandanya sayang, iya kan? " Makin meledak lah tawa semua orang mendengar kelakar tante Amel.


" Nah, semua kan sudah jelas, jadi bagaimana dengan jawaban tadi? " Tante Amel bertanya setelah semua kembali diam.


" Insyaallah, Zia bersedia, " jawabku sambil menunduk.


Semua orang mengucap syukur, setelah mendengar jawabanku.


" Maaf sebelumnya, tapi aku memiliki satu permintaan, " semua terdiam mendengar ucapan Hyan.


Aku dan mbak Alya saling lirik.


" Silahkan, disampaikan saja nak, "


" Baiklah, jika tidak keberatan, aku meminta Zia resign dari pekerjaan nya, " semua orang terkejut mendengar ucapan Hyan.


Aku menatapnya, mencari keseriusan dari perkataan nya tadi, bagaimana bisa dia berkata seperti itu? Apa aku harus rela, meninggalkan pekerjaan yang sudah aku perjuangkan?


" Resign? Tapi kenapa harus resign? " Mas Hanan menyahut tak terima.


Ibu segera melirik mas Hanan, mencoba menenangkan lewat matanya, dan itu membuatnya mendengus pelan.


" M-maaf, maksud saya kenapa Zia harus resign? Dia sudah berjuang untuk sampai dititik ini, apalagi bulan depan akan diadakan pemilihan manager baru, dan dia terpilih sebagai salah satu nya, jadi apa ini tidak merugikan adik saya? " Sambung mas Hanan menahan emosi agar tidak meluap.


" Maaf mas, tapi semua ini sudah saya pikirkan jauh-jauh hari, bahkan sebelum memutuskan untuk menyetujui perjodohan ini, saya ingin memiliki istri yang diam saja dirumah, yang jika dia bosan pun, saya tidak akan melarang jika dia ingin mencari hiburan, "


" Tapi biarkan Zia berpikir dulu, saya tidak meminta untuk dijawab sekarang, "

__ADS_1


" Dan satu lagi, untuk nafkah dan kewajiban nya pada ibu semasa gadis, akan saya ambil alih, jadi saya pastikan jatah untuk ibu akan tetap berjalan seperti biasa, " sambungnya lagi.


" Ini bukan soal nafkah, saya akui untuk memberi jatah pada ibu, kamu sanggup melebihi kami, bahkan mungkin bisa melebihi nominal yang biasa saya juga Zia berikan, tapi rasanya untuk Zia berhenti dari pekerjaan itu sangat tidak adil untuknya, saya saksi bagaimana usaha adik saya untuk sampai dititik ini, " dengan sedikit emosi mas Hanan kembali menyahutinya.


" Sudah! Sudah! Lebih baik ini diselesaikan dengan kepala dingin, mungkin nak Zia bisa memikirkan lagi permintaan Hyan, jika setuju atau tidaknya bisa disampaikan nanti, " ucap om Hadi mencoba menengahi.


" Kalau begitu kami sekeluarga permisi dulu, terimakasih untuk buk Tari dan keluarga, yang sudah menyambut kami dengan sangat baik, terimakasih juga untuk jamuannya, " sambungnya lagi.


Ibu mengangguk dan tersenyum.


" Iya, mohon maaf pak, buk, jika anak saya terdengar tidak sopan berbicara nya, " ucap ibu tak enak hati.


" Kami juga mohon maaf, buk, "


" Kalau begitu, mari kami antar, "


Ibu menawarkan diri saat para tamu sudah berdiri dan pamit.


Aku menyalami om Hadi, dia menepuk pundak ku, Tante Amel memeluk dan mencium pipi ku, serta meminta maaf atas permintaan Hyan yang tiba-tiba, membuat aku terkejut, setelah itu aku memeluk Nayna, gadis itu berbisik ditelingaku.


" Semoga dilancarkan mbak, Nayna berdoa semoga mbak dan mas berjodoh, " bisik nya sambil tersenyum aku pun membalas senyumnya.


" Amiin, " ucapku juga setengah berbisik.


Kami semua mengantar keluarga Hyan sampai depan, kecuali mas Hanan yang masih berdiam diri disofa, agaknya dia masih sedikit kesal.


Setelah mobil yang mereka kendarai menjauh dari halaman, kami kembali masuk.


" Mas nggak setuju, kalau kamu harus resign dari pekerjaan mu, kamu kerja kan dari sebelum mengenal nya, terus, mentang-mentang dia akan menikahi mu seenaknya saja meminta kamu meninggalkan pekerjaan, dia nggak punya hak untuk itu, dia nggak tau kan, gimana perjuangan kamu selama ini !? "


" Mas, tenang dulu, biarkan Zia berpikir, kalo mas emosi gini, yang ada malah tambah runyam, nanti Zia pasti bakal minta pendapat kita, kok, " mbak Alya mencoba menenangkan mas Hanan, dengan mengusap pelan punggungnya.


Mas Hanan mendengus kasar, dan berlalu kekamar yang biasa dia pakai jika menginap.


Aku hendak mengejar, tapi dicegah oleh ibu dan mbak Alya.


" Anty, biar mbak aja yang susulin mas, kamu lebih baik istirahat dulu, sambil dipikir-pikir bagaimana baiknya, oke? " Mbak Alya menasehati ku, aku tersenyum dan mengangguk.


Mbak Alya berlalu menyusul mas Hanan, semoga saja dia bisa menenangkan suaminya itu.


" Kamu istirahat dulu, jangan dipikirin mas mu, mbak mu pasti bisa mengendalikan nya, " ucap ibu sedikit bercanda membuatku tertawa.


Aku pamit pada ibu, ingin istirahat sebentar.


__________


Ternyata mas Hanan sudah pulang sejak sore tadi, tapi dia tidak pamit padaku samasekali.


" Bu, mas Hanan balik kok nggak pamit sama Zia? " Tanyaku pada ibu saat kami sudah dimeja makan.


" Sebenarnya tadi mau pamit, tapi mbak mu bilang nggak usah, takut ganggu istirahat mu, tapi dia bilangin ibu kok, suruh sampein kalo mereka langsung balik, " ibu menjawab sambil menyendok nasi ke piringnya.


" Biasanya kan mas Hanan nggak kenal waktu, selalu minta Umi nyusulin Zia keatas, minta anter sampe depan, padahal dia tau Zia lagi istirahat, " kataku lagi.

__ADS_1


" ya kamu kan tau, mas mu lagi kesal, " jawab ibu.


" Zia tau Bu, tapi karena udah biasa malah jadi janggal aja gitu, kayak ada yang kurang, " ucapku tak bersemangat.


" Udah, kamu tenang aja, mana bisa mas mu kesal lama-lama, ibu kan udah bilang, ada pawang nya yang bakal ngendaliin dia, " kelakar ibu sambil terkekeh, aku pun tertawa mendengar nya.


" Makan dulu, keburu dingin nanti makanannya, " ujar ibu, aku pun mengangguk.


Kami makan malam sambil berbincang seperti biasa, tapi seperti masih ada yang mengganjal hatiku, semoga saja ada jalan terbaik untuk ini.


Selesai makan malam, seperti biasa aku segera mencuci piring, setelah semuanya selesai, aku menyusul ibu yang ternyata sedang asik menonton.


" Ibu, nonton terus, tidur gih, udah malam, loh, " kataku setelah mendudukkan tubuh disampingnya.


" Iya, ibu belum ngantuk, " sahut ibu.


" Kamu sendiri kenapa nggak tidur? Malah ikut nonton, " kata ibu menoleh padaku.


" Hehe, Zia kan mau nemenin Ibu, emang nggak boleh? " Kataku sambil menyandarkan badan pada ibu.


Ibu tertawa dan mencubit pipiku.


" Bu, kira-kira mas Hanan marah nggak, ya, sama Zia? " Tanyaku masih pada posisi menyandar pada ibu.


Ibu mengusap kepala ku.


" Mana pernah mas mu marah, apalagi sama adik yang paling dia sayang ini, mungkin dia hanya sedikit kecewa, dengan permintaan nak Hyan, " ucap ibu.


" Kamu 'kan tau sendiri, mas mu itu yang paling bahagia saat tau kamu diterima kerja, iya, kan? " Sambung ibu, aku hanya mengangguk.


" Jadi, ya wajar saja, jika dia merasa kecewa, tapi ibu juga tidak bisa menyalahkan permintaan Hyan, setiap orang itu pemikiran nya beda-beda, mungkin dia ingin istri yang menyambut nya setiap kali pulang kerja, bukan yang sibuk kerja, "


Kali ini aku hanya diam saja, ingin mendengarkan bagaimana pendapat ibu.


" Istri kerja nggak kerja itu, nggak ada yang salah, meski baiknya memang dirumah saja, ya kembali lagi, sesuai pendapat setiap orang, "


" Kalo kamu yakin Hyan jodoh yang baik, tidak ada salahnya menuruti keinginannya, tapi jika kamu ragu, silahkan disampaikan saja sesuai isi hati, " tutur ibu, sungguh, berbicara seperti ini dengan ibu sudah membuatku sedikit tenang.


" Banyak kok, perempuan diluar sana yang rela meninggalkan pekerjaan nya, meski sudah bertahun-tahun dia mengabdi, tapi demi pernikahan yang diinginkan, mereka rela melepas pekerjaan dan memilih mengabdi untuk suami nya, pernah liat, kan? " Tanya ibu padaku, aku pun hanya bisa mengangguk tanpa suara.


" Nak, mungkin sudah jalannya kamu seperti ini, tidak perlu bekerja dan hanya menunggu nafkah dari suami, "


" Laki-laki tidak mengizinkan perempuan nya bekerja itu, karena alasan mereka mampu menafkahi, dan sedikit banyak nya, perempuan memilih bekerja selepas menikah itu, karena kurangnya nafkah dari suami, jadi mereka memilih bekerja untuk membantu perekonomian keluarga, "


" Ibu harap, kamu paham dengan apa yang ibu sampaikan, " kata ibu.


" Paham kok, intinya, tidak ada yang salah dengan permintaan nya, kan? " Jawab ku memandang ibu.


" Iya, tapi lebih baik kamu pikirkan lagi, menentukan pilihan hidup itu harus dengan keyakinan hati, bukan karena paksaan atau karena merasa tak enak, ya? " Aku hanya mengangguk.


Kali ini pembahasan kami lumayan berat, dan nasehat ibu malam ini benar-benar membantu untukku berpikir ulang, apakah aku harus lanjut dengannya, atau aku menyerah saja?


Kami melanjutkan perbincangan ditemani teh dan cemilan yang dihidangkan Bi Irah, kami saling bertukar pendapat, sedikit banyaknya membuat pikiranku lebih tenang, sebab ada ibu yang selalu mendukung setiap keputusan yang aku ambil.

__ADS_1


_____________


Lanjut nggak gaes?


__ADS_2