
Ada yang nungguin cerita ini gak? Bantu like dan komen nya gaeess🫶🙏
__________
Aku membuka pintu dan segera menguncinya, kuintip dari balik jendela, mobilnya baru saja berlalu, membuatku mengelus dada.
" Kamu udah pulang? " Aku terlonjak kaget ketika mendengar suara ibu yang tiba-tiba sudah berada di belakang ku.
" Ehh... Kamu ini kenapa, sih? Kayak lagi dikejar setan aja, denger suara ibu aja sampe kaget begitu, " sambungnya,
" Emm... Gak kenapa-kenapa, kok, Bu, " ucapku sambil merangkul ibu dan mengajaknya masuk,
" Ibu ngapain disini? "
" Tadi ibu lagi nonton, terus denger suara mobil, tadi itu kamu dianter Hyan, kan? " Ibu balik bertanya,
" Iya, Bu, katanya dia buru-buru makanya gak mampir, "
" Oh, iya, dia juga bilang makasih udah bikinin bekal, " sambungku.
" Berarti dia suka, dong, " aku hanya mengendikkan bahu dan segera berlalu.
" Kalo gitu, tiap hari aja kamu bawain bekalnya, " sambung ibu lagi membuatku mendelikkan mata.
" Tau ahh ... Emang ibu pikir dia suami Zia? " Cibirku sambil terus berlari menaiki tangga,
" Kan lagi dalam proses, gak lama lagi juga bakal jadi suamimu, " goda ibu setengah berteriak, membuatku tersenyum sendiri.
___________
Ting!
Aku segera membuka ponsel,
' Zi, Lo gak lupa kan, sama hutang Lo ke gue? '
Aku mendengkus membaca isi chat dari Nita, aku baru saja selesai mandi, kuabaikan dulu pesannya, kulanjutkan memakai skincare yang tadi tertunda sebab pesannya.
' P '
' ihh... Kok di read doang, sih? '
' Zi, bener-bener lu, ya? '
' MARYAM SEZIA DIANTA, BALAS NGGAK? '
aku terkekeh membaca isi chat beruntun yang dikirim Nita, sudah bisa kubayangkan ekspresi kesal nya saat ini, sebab pesannya kuabaikan. Akhirnya kusudahi acara skincare an ini, dari pada si manusia kepo ini makin kesal, kan?
' ada apa, sih gerangan? ' balasku dengan setengah bercanda.
' ceritain, tadi pagi Lo dijemput siapa? Pacar Lo? Kok baru kali ini? Jangan-jangan Lo baru jadian, ya? Kenal dari mana sih? Dia punya temen kagak? Kasih gue lah, atu?? '
aku terbahak setelah membaca isi chatnya, malah minta ke gue, emang dah kebelet deh nih anak kayaknya.
Akhirnya aku memutuskan untuk menceritakan semuanya pada Nita, mulai dari pertama ketika ibu memintaku bertemu, hingga akhir.
kami berbalas chat hingga berlarut-larut, dari yang awalnya hanya bercerita, berubah jadi menggibah, yaa ... Begitulah cewek, sehari aja gak menggibah berasa ada yang kurang, gitu.
Satu pesan dari nomer baru mengalihkan perhatian ku, karena penasaran aku pun membukanya.
' besok aku jemput lagi, ' membacanya saja aku sudah tau siapa pengirimnya, siapa lagi kalau bukan si manusia es,
' iya, ' aku membalas pesannya tak kalah singkat, percuma juga panjang lebar, ujung-ujungnya dia bakal balas singkat juga, pesan yang ku balas langsung centang biru saat itu juga, tapi tak terlihat ada balasan lagi, aku segera keluar dari aplikasi hijau tersebut, ku letakkan ponsel begitu saja diatas ranjang, aku pun keluar dan segera turun kebawah.
________
Aku mengambil gelas dan mengisinya dengan air dingin yang kuambil dari kulkas tadi,
" Bi, masak apa malam ini? " Tanyaku pada Bi Irah setelah meneguk habis air dingin tadi,
" Rencananya masak ayam kecap sama sop ayam, mbak, " jawab Bi Irah sambil terus membersihkan ayam,
" Mbak, ada request? " Tanyanya padaku,
" Enggak, Bi, " jawabku,
" Apa lagi yang belum, Bi? Biar Zia bantuin, " tanyaku berniat membantunya,
" Gak usah mbak, semua bumbu udah selesai, tinggal masak nya aja, " jawabnya,
" Biar bibi, aja, " sambungnya lagi,
" Yaudah, kalo gitu biar Zia cuci piring aja, " kataku sambil mendekat ke wastafel.
__ADS_1
" Aduuhh... Mbak Zia, biar bibi aja yang ngerjain, mbak duduk aja dulu, " kata Bi Irah melarangku.
" Gak apa-apa lah, Bi, lagian cucian piring nya gak banyak, kok, " Bi Irah hanya menghela nafas,
" Yaudah, makasih banyak, ya, mbak? Udah mau bantuin kerjaan, padahal kan ini sudah tugasnya bibi, mbak gak perlu repot-repot, " sungkannya.
" Udah, bibi tenang aja, lagian ngerjain kerjaan rumah kan gak mesti bibi semua yang kerjain, selagi Zia bisa bantu, ya bakal Zia bantu, jadi bibi gak usah sungkan gitu, " aku berucap sambil tersenyum.
" Iya, mbak, makasih banyak ya mbak, " katanya lagi, aku hanya mengangguk sebagai jawaban,
Setelah selesai mencuci piring, aku membantu Bi Irah membawa masakan yang sudah matang ke meja makan, Bi Irah juga sudah menyusun piring, sendok dan air minum.
Aku menyusul ibu yang ternyata sedang asik menonton sinetron ikan terbang, aku pun duduk disamping Ibu,
" Bu, makan dulu, yuk! " Ajakku pada ibu yang masih fokus pada tv yang menayangkan sinetron penuh drama itu.
" Udah selesai? " Tanya ibu tanpa beralih dari layar tv didepannya.
" Udah, yuk, Bi Irah masak ayam kecap sama sop ayam, "
" Ayuk, lah, Bu, Zia udah laperrr, " rengekku membuat ibu tertawa,
" Iya, iya, Ayuk lah, " ucapnya seraya bangkit dan berjalan kemeja makan dan diikuti olehku, tiba dimeja makan kami langsung makan seperti biasa.
Selesai makan malam, aku langsung membereskan meja makan, mengangkat piring serta gelas bekas makan kami tadi ke wastafel dan langsung mencucinya, setelah semua pekerjaan selesai aku kembali kekamar, berniat untuk istirahat dengan merebahkan badan dikasur ehh malah ketiduran beneran.
__________
Pagi ini aku berkemas dengan terburu-buru, sebab baru saja aku dikabari Nita, bahwa hari ini ada meeting penting, segera kuraih tas dan kunci mobil.
Dengan setengah berlari aku menuruni tangga,
" Ibu mana, Bi? " Tanyaku pada Bi Irah yang sedang menyiapkan sarapan dimeja,
" Gak tau mbak, kayaknya diluar, soalnya diteras samping nggak ada, " jawabnya.
" Mbak nggak sarapan dulu, ? Sambungnya,
Aku menggelengkan kepala,
" Buru-buru Bi, " jawabku cepat dan berlalu keluar, ingin pamit pada ibu.
Ternyata ibu sedang menyiram bunga ditaman kecilnya, aku segera mencium punggung tangan serta pipinya dan berpamitan,
" Loh, Hyan nggak jemput? " tanya ibu, ahh aku baru ingat laki-laki itu,
Baru saja aku mau menjawab sudah terdengar klakson mobil didepan sana, Hyan keluar dari mobil, kemudian berjalan kearah ibu dan mencium punggung tangannya.
" Tuh, nak Hyan sudah sampai, " ucap ibu,
" Berangkat bareng aja, " lanjutnya,
" Yaudah, bisa berangkat sekarang? Aku ada meeting penting hari ini, jadi harus segera berangkat, " pintaku pada Hyan,
Dia hanya mengangguk kemudian membukakan pintu mobil untukku, aku pun segera masuk dan disusul oleh Hyan, dia menghidupkan mesin mobil dan mulai melajukannya setelah pamit pada ibu.
_________
" Nit, gue gak telat, kan? " Tanyaku pada Nita saat masuk ruangan,
" Enggak, yaudah, kita keruang rapat sekarang aja, " ajaknya,
" Iya, yuk, " sahutku setuju.
Aku dan Nita berjalan bergandengan menuju ruang rapat.
Rapat berjalan dengan lancar, setelah itu kami semua bergegas keluar dan kembali keruangan masing-masing.
" selamat, yaa, beb, " ucap Nita memelukku dari samping.
" Lo emang pantes, sih, mudah-mudahan Lo kepilih, yaaa, " sambungnya lagi,
aku hanya meng Amin kan, pasalnya saat rapat tadi memang diumumkan, manager bagian keuangan akan resign di bulan depan, dan akan dicari penggantinya dengan memilih beberapa kandidat dan yang terpilih adalah karyawan terbaik, Aku dan 5 orang lainnya dipilih sebagai calon kandidat.
" gue gak yakin bakal kepilih, sih, soalnya kandidat yang lain pada bagus semua, bikin gue gak PD aja, " ucapku jujur.
" Lo gak boleh ngomong gitu, yakin aja bakal kepilih, Lo kan karyawan terbaik di ruangan kita, jadi semangat, " katanya sambil mengepalkan tangan dan mengangkat nya, aku tertawa melihatnya.
" tapi ingat, Kalo Lo kepilih, jangan lupa traktir gue, oke? " sambungnya lagi.
aku memutar bola mata malas, tau ujungnya seperti apa.
" iya, iyaaa, biasanya juga kan, gue sering traktir Lo, " ucapku padanya, kemudian berjalan mendahuluinya menuju ruangan, dan duduk di kursi ku, untuk melanjutkan pekerjaan,
__ADS_1
" tengkyu bebb... Lo janji, yaaa? " ucapnya penuh semangat,
" iya, udah sana, kerja yang rajin, gue mau lanjutin kerjaan, nih, " kataku menepiskan tangan,
" iya, iyaa... " Nita menjawab sambil memanyunkan bibirnya.
_________
aku menguap, sebab pekerjaan yang menumpuk membuatku tak bisa istirahat sejak tadi, bahkan sekedar melemaskan otot-otot pun tak dapat.
" hhhh... " aku menghembuskan nafas lega, karena semua pekerjaan selesai tepat waktu, meski telat setengah jam dari jam pulang biasanya, namun aku bersyukur tidak sampai lembur. aku segera mengemasi barang-barang ku, bangkit dan meraih tas.
" duluan, ya, mas, " pamit ku pada mas Anto, teman satu ruangan yang juga memilih menyelesaikan pekerjaan hari ini juga.
" iya, hati-hati, ya, " sahutnya tanpa menghentikan pekerjaannya.
aku langsung keluar ruangan, keadaan kantor sudah lumayan sepi, karena memang jam pulang sudah berakhir sejak setengah jam yang lalu, namun ada juga beberapa karyawan yang masih terlihat, mungkin juga sedang menyelesaikan pekerjaan mereka seperti ku tadi.
Tiba diparkiran, aku terkejut saat melihat Hyan yang sudah berdiri menyandar di mobil dengan menyilangkan kedua tangannya di dada,
" udah lama? " Tanya ku saat sudah sampai didekat nya,
" Belum, baru 30 menit , " sahutnya ketus membuatku tersenyum geli,
" Maaf, tadi sedang banyak kerjaan, jadi aku memilih mengerjakan nya sekarang, " ucapku pada nya,
" Ya ya... " Dia menjawab kemudian membuka pintu dan segera masuk, aku hanya mendengus pelan.
" Kenapa gak ngabarin kalo udah disini sejak tadi? " Aku bertanya saat sudah berada didalam mobil,
" Ngabarin? Silahkan cek ponselnya, nyonya, " dia berucap dengan nada kesal,
Aku segera merogoh tas untuk menemukan ponselku, saat ku cek, aku terbelalak dibuatnya, sebab ada 10 panggilan dari Hyan, serta 5 pesan WhatsApp yang setelah ku buka juga ternyata dari nya, aku melirik kearahnya dan tersenyum canggung,
" Maaf, tadi aku sengaja mematikan deringnya, takut mengganggu, " lirihku.
Tadi sebelum memulai pekerjaan, ponsel memang sengaja ku silent, takut membuatku tak fokus dan tak bisa segera menyelesaikan kerjaan yang sudah menumpuk dimeja,
" Hhmm... " Dia hanya merespon dengan gumaman, dan mulai fokus menyetir.
________
Mobil berhenti, aku melepas seat belt dan melirik Hyan,
" Nggak mampir dulu? Aku buatkan minum, " tawarku padanya, dia hanya mengangguk sekilas kemudian mematikan mesin mobil dan turun.
" Assalamu'alaikum.... " Aku mengucap salam dan langsung masuk, Hyan mengikuti ku dibelakang,
" Duduk dulu, aku mau kebelakang bikin minum, " kataku padanya,
" Mau kopi atau teh? " Sambung ku,
" Teh saja, " jawabnya singkat,
Aku pun hanya mengangguk dan segera
berlalu ke dapur,
" Bikin apa? " Tanya ibu,
" Ihh.. ibu, bikin kaget aja, " kesal ku,
" Zia lagi bikin teh, ibu temenin Hyan didepan, ya? " Pinta ku pada ibu,
" Ohh, ada Hyan? Yasudah, kamu cepetan bikin tehnya, terus antar kedepan, "
" Ibu temenin Hyan dulu, " aku hanya mengangguk saja,
"Jangan lupa cemilannya Zi, tadi ibu minta Bi Irah bikin brownies, " ucapnya berbalik.
" Iya, Ibuuuu... " Ucapku gemas,
Dua gelas teh sudah selesai, aku meletakkan diatas nampan, ditambah dengan sepiring brownies, aku membawanya keruang tamu, tempat dimana Hyan dan ibu berada,
" Di minum dulu, " kataku setelah meletakkan nampan dimeja,
Hyan meraih gelas dan mulai menyesap isinya,
" Duduk sini, nak, " kata ibu menepuk sofa disampingnya,
" Zia kekamar dulu ya, Bu, udah gerah banget, " izinku pada ibu dan melirik Hyan, tanpa menunggu jawaban ibu aku segera berlalu kekamar.
Setiba nya dikamar aku langsung menuju kamar mandi, cuaca yang begitu terik tadi siang membuat seluruh tubuh terasa gerah dan lengket.
__ADS_1