
" Nggak mampir dulu? " Kataku basa basi.
" Mmm ... Sudah malam. Kapan-kapan saja, " jawabnya.
Aku hanya mengangguk dan langsung turun. Hyan pun segera melajukan mobilnya tanpa pamit, bikin hati nelangsa aja.
Kulirik jam ditangan sebelum masuk kedalam rumah, ternyata sudah jam 8 malam. Seluruh badan sudah terasa sangat lengket, sudah tak sabar ingin mengguyur nya dengan air hangat.
Sebelum kekamar, aku memutuskan untuk menemui ibu dulu. Namun saat masuk tidak terlihat ibu diruang tv seperti biasa, padahal ini belum terlalu malam. Segera saja aku menuju kamar ibu, kali aja dia sedang beristirahat karena nggak mood nonton.
Tapi saat aku membuka pintu kamarnya, tidak terlihat ibu disana. Aku mencoba memanggil namun nihil, tak ada yang menyahuti. Aku sudah cek hingga kekamar mandi, seluruh penjuru rumah pun sudah kutelusuri, tapi lagi-lagi tak kutemukan ibu dimana pun. Perasaanku mendadak tak enak, aku memanggil Bi Irah pun tak dijawab.
Aku sampai lupa dengan ponsel ku, saking paniknya aku lupa, kenapa tidak menghubungi ibu saja. Saat baru mau mengeluarkan ponsel dari dalam tas, terdengar handle pintu yang dibuka.
Aku menoleh, ternyata Bi Irah. Pantas saja tak ada jawaban darinya, rupanya dia sedang shalat dan sekarang keluar dengan tergesa dan masih mengenakan mukenanya.
" Mbak, maaf ya, tadi bibi sedang shalat. Makanya nggak jawab panggilan mbak, " kata Bi Irah.
" Ibu kemana, Bi? Zia cari dikamar nggak ada, Zia panggil-panggil juga nggak nyaut, dari tadi Zia muter-muter satu rumah, tetep nggak ketemu, "
Tanpa menjawab permintaan maaf dari bi Irah, aku malah menodongnya dengan berbagai pertanyaan.
" Ibu tadi kerumah sakit, mbak, ta ... "
" Kerumah sakit? Ibu kenapa, Bi? Kok bibi nggak ngabarin Zia, sih? Terus kalo ibu kerumah sakit, bibi kenapa malah dirumah, kenapa nggak nemenin ibu? " Tanpa sadar aku berbicara dengan sedikit keras, mungkin karena panik mendengar ibu sakit.
Pantas saja perasaanku dari tadi tidak enak, ya Allah.
Bi Irah terlihat sedikit kaget, sebab baru kali ini aku berbicara dengan nada tinggi padanya.
" Bukan ibu yang sakit, mbak. Tapi mbak Alya. Kata mas Hanan, saat dia pulang dari kantor mbak Alya terlihat lemas, dan juga pucat. Jadi mas Hanan membawanya kerumah sakit, terus menghubungi ibu. Akhirnya ibu nyusul sama mobil mbak, ditemani sama mas Andi, supir tetangga sebelah, ” terang Bi Irah panjang lebar.
Aku menghembuskan nafas lega, dan merasa bersalah karena sudah memarahi Bi Irah.
" Ya ampun, Zia minta maaf, ya, Bi. Zia udah nggak sopan ngomong sama bibi, " sesalku.
" Nggak apa, mbak. Bibi maklum kok, yang namanya anak pasti susah lah ketika mendengar sesuatu terjadi pada ibunya, " Bi Irah memaklumi.
" Kalo gitu Zia nyusulin ibu, ya, " kataku bersiap-siap.
" Ehh ... Jangan mbak, kata ibu kalo mbak sudah pulang disuruh istirahat aja, " bi Irah mencegah ku.
" Lagian mbak mau berangkat pake apa? Mobil kan dibawa ibu, " Bi Irah mengingatkanku.
Aku menepuk kening, ada-ada saja. Karena panik mendadak pikun. Pantas saja tadi digarasi terlihat lapang, ternyata mobilnya nggak ada hihi.
" Yaudah bi, zia keatas dulu, ya. Sekalian hubungin ibu, mau nanya kondisi mbak Alya, " aku pamit pada Bi Irah.
" Iya, mbak. Jangan lupa langsung istirahat, " katanya mengingatkan.
Aku hanya menjawab dengan kata ' oke ' seraya berlalu kelantai atas.
________
Aku segera menghubungi ibu ketika sampai dikamar.
' wa'alaikum salam, Bu, " aku menjawab salam ibu diseberang sana.
' ibu kenapa nggak ngabarin Zia, sih? Zia panik loh, dari tadi nyariin ibu. Sampe bi Irah kena semprot saking paniknya, '
' ya kali mas Hanan nggak bawa ponsel? '
' emang mbak Alya kenapa, Bu? Kok sampe dilarikan kerumah sakit? '
' apa?! '
' Alhamdulillah. Bilangin selamat ke mbak Alya, ya, Bu "
__ADS_1
' iya, iya, yaudah. Kalo gitu ibu hati-hati, ya? '
' iya, ini mau mandi dulu. Terus langsung istirahat. Assalamu'alaikum, '
Aku menutup ponsel setelah mendengar salam ibu. Karena badan udah lelah, jadi aku memutuskan segera mandi.
Tanpa berlama-lama dikamar mandi, aku mempercepat ritual mandiku.
Aku keluar dari kamar mandi, berjalan menuju lemari dan mengeluarkan setelan piyama tidur. Setelah itu segera mengenakan nya.
Ting!
Bunyi pesan WhatsApp mengalihkan perhatianku yang tengah memakai skincare. Aku bangkit dari meja rias dan meraih ponsel yang tergeletak diatas ranjang. Aku mengerutkan kening melihat pesan yang masuk, sebab nomor pengirim yang tidak terdaftar diponselku.
@Nayna
' assalamu'alaikum, mbakku, '
' mbak besok nggak ngantor lagi, kan? '
' kata bunda, besok kita makan siang bareng, ya. Ada yang mau diobrolin, '
Aku sudah tahu siapa pengirimnya, dengan hanya membaca isi chatnya saja. Ya! Siapa lagi kalau bukan gadis cantik yang periang itu, Nayna.
Aku segera membalas pesannya.
@Zia
' wa'alaikum salam, cantik '
' iya, sih. Udah nggak masuk lagi, kan udah resign, '
' insyaallah, besok mbak kabari lagi, ya, '
' bilangin bunda, '
@Nayna
Aku senyum-senyum sendiri mendapat pesan balas dari Nayna. Aku tidak membalasnya lagi, dan memutuskan segera tidur saja.
___________
Aku baru saja selesai mandi, rencananya pagi ini aku akan kerumah sakit.
Aku berkemas, baru setelahnya ku hubungi mas Hanan. Ingin mengabari aku akan kesana.
' assalamu'alaikum, mas. Gimana keadaan mbak? '
' oh, udah mau pulang? Padahal Zia baru aja mau kesana. Ini lagi siap-siap, '
' yaudah. Zia bilangin ibu dulu, ya, '
' wa'alaikum salam, '
Aku mendesah sebal, sudah siap-siap. Tinggal jalan, malah nggak jadi. Tapi yaudah deh, yang penting mbak Alya sudah sehat dan boleh pulang.
Aku turun kebawah untuk mencari ibu, mau kasih tau kalo mantu kesayangan nya sudah diperbolehkan pulang.
" Buu ... Ibuu ... " Panggil ku ketika sudah sampai dibawah.
" apa sih, kamu ini? anak gadis kok pagi-pagi ribut. kenapa? " ibu kesal, padahal kan bukan teriak, cuma manggil doang.
aku hanya cengengesan melihat kekesalan ibu.
" maaf, Bu. Zia mau kasih tau, mas Hanan bilang mbak Alya sudah dibolehkan pulang hari ini. sekarang mas Hanan lagi siap-siap, " kataku.
" terus katanya, mbak Alya minta pulang kesini, " aku menyampaikan pesan mas Hanan tadi.
__ADS_1
" beneran? yaudah, kalo gitu kamu suruh bi Irah beresin kamar mbakmu. jangan lupa sprei sama sarung bantalnya diganti baru. terus suruh sapu sama dipel juga lantainya, jangan sampai ada debu, "
aku hanya melongo mendengar perkataan ibu. sebegitu sayangnya kah sama mantunya? padahal kan baru kemarin mbak Alya nginep sini, jadi ya nggak mungkin kotor juga lah kamarnya. tapi karena melihat bagaimana antusias nya ibu ketika mendengar mbak Alya akan kesini, aku jadi terharu. berharap nanti, aku pun bisa diperlakukan seperti ini.
aku mengangguk saja, dan menghampiri Bi Irah di dapur. meminta agar segera mengerjakan yang diminta ibu.
Ternyata bi Irah sedang mencuci piring, dimeja makan juga sarapan sudah terhidang.
" Bi, ibu minta tolong beresin kamar mas Hanan. piringnya biar Zia aja yang lanjutin, " kataku pada Bi Irah.
" biar bibi aja, mbak. habis ini bibi beresin kamarnya mas, " bi Irah menolak ketika aku meminta gantian mencuci piring.
" udah nggak apa-apa kok, Bi. mas Hanan lagi siap-siap, kali aja bentar lagi jalan. takutnya nanti keburu mas Hanan sampe, " ucapku.
" yaudah, mbak. ini betul mbak yang lanjutin? kalo nggak ditinggal aja, nanti abis beresin kamar biar bibi yang kerjakan lagi, " katanya.
" biar Zia lanjutin aja, lagian nggak banyak kok, " aku mulai menyabuni piring-piring kotor diwastafel.
" kalo gitu bibi permisi, mbak, " pamitnya, aku hanya mengangguk.
" oiya, Bi. kata ibu jangan lupa dipel juga lantainya, takutnya masih ada debu kalo cuma disapu. soalnya mbak Alya kan lagi kurang enak badan. sama sprei nya juga diganti, ya, bik? " kataku seraya berbalik.
" siap, mbak " sahut Bi Irah sambil mengacungkan jempolnya.
aku melanjutkan pekerjaan, segera menyelesaikan cucian piring. tiba-tiba saja ibu datang dan mengajak sarapan dulu.
aku mengatakan akan menyelesaikan dulu cucian piring, baru setelahnya aku sarapan.
setelah selesai mencuci piring, aku mengeringkan tangan, kemudian menyusul ibu ke ruang makan.
" loh? ibu belum sarapan? " tanyaku ketika melihat ibu belum menyentuh nasi goreng buatan Bi Irah.
" kan nungguin kamu, masak ibu sarapan sendirian, " kekehnya. " udah, yuk. kita sarapan. nanti keburu dingin, bentar lagi mbakmu sampe, " lanjutnya.
kami sarapan seperti biasa, sudah jadi kebiasaan dirumah ini. bahkan sejak masih ada almarhum ayah, meja makan adalah salah satu tempat untuk keluarga saling berbincang sesudah ruang keluarga. yang diperbincangkan pun bermacam hal, seperti mengalir saja jika sudah berkumpul, meski hanya aku dan ibu saja seperti sekarang ini.
Bi Irah keluar dari kamar mas Hanan, sepertinya dia sudah selesai membersihkannya.
" Bu, kamarnya sudah bersih. kalau begitu bibi izin kebelakang dulu, mau ngerjain yang lain, " kata bi Irah.
ibu hanya mengangguk dan mengucapkan terimakasih. Bi Irah berlalu setelah pamit pada kami.
" Zi, telfon mas mu. coba tanyain, mbakmu ada yang lagi kepengen makan apa gitu? biar ibu bikinin, mumpung mereka belum nyampe, " kata ibu ketika kami sudah pindah keruang tv.
" spesial banget, ya, kalo lagi hamil mah, jarang-jarang loh, ada mertua sebaik ibu ini " ucapku seraya terkekeh.
" ya, iya. nanti kalo kamu sudah berkeluarga, insyaallah akan diperlakukan istimewa juga oleh mertuamu, " jawabnya sambil tersenyum.
" aamiin, " sahutku cepat. ibu malah terkekeh melihatku.
" makanya ibu itu begitu menyayangi mbakmu, ibu memperlakukan dia seperti kalian juga, anak kandung ibu. tidak ingin membeda-bedakan nya, karena ibu sadar, anak gadis ibu ini nantinya juga bakal jadi mantu, " aku tersanjung mendengarnya.
" tapi ingat, jangan mentang-mentang diperlakukan istimewa, malah jadi ngelunjak, jadi semena-mena, " ucap ibu.
" iya, Bu. pastilah, dapet mertua baik masa malah betingkah? kan nggak lucu, " kataku.
" lah emang gitu, banyak kok kejadiannya. mentang-mentang mertuanya baik, dia malah seenaknya, nyuruh inilah, itulah. ujung-ujungnya saling dendam, terus bertengkar, akhirnya musuhan, " jelas ibu. sudah kayak alur cerita sinetron ikan terbang aja.
" itu mah di sinetron kesukaan ibu kali, " kataku, ibu malah tertawa mendengar nya.
" udah, ah. telfon mas mu dulu, " perintah nya.
" siap, Ibunda ratu, " kelakar ku.
aku segera menghubungi mas Hanan, setelah dijawab aku menanyakan apa yang ibu suruh tadi, mas Hanan mengatakan mbak Alya minta dibuatkan sop ayam. tapi itu pun jika tak merepotkan.
setelah berbicara dengan mas Hanan, aku segera mematikan ponsel. sedang ibu berlalu kedapur untuk memasak sop ayam untuk sang mantu kesayangannya.
__ADS_1
_________